Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

13 April 2014

Resensi Buku Backpacker Surprise by Gol A Gong dan Tias Tatanka



Judul  Buku : Backpacker Surprise
Penulis : Gol A Gong dan Tias Tatanka
Penerbit : DAR! Mizan
Terbit : 2010
Tebal : 168 halaman
ISBN : 978-979-066-315-2
Rating : 3,5/5

Dinamika remaja menjalani kehidupannya akan selalu menarik untuk disimak dan diambil hikmahnya. Novel ini pun berkisah tentang perjalanan seorang Larasati mencari jati diri dalam hidupnya.

Larasati adalah siswi SMU di kota Solo yang masih memiliki darah keturunan keraton. Baginya, hidup sebagai seorang siswi dengan dinamika kehidupan mulai dari masalah percintaan, konflik dengan teman di sekolah, dan hal-hal lain yang dialaminya sangat umum dialami oleh remaja lain. Kisah cinta segitiganya yang rumit antara dirinya, Chandra dan Boni membuat Laras sering berseteru setiap kali bertemu. Di sekolah pun Laras berkenalan dengan Darmanto, lelaki yang merupakan anak petugas kebersihan sekolahnya. Darmanto memiliki karakter kuat dan mandiri yang membuat Laras tertarik pada lelaki itu.
 
Ayah Laras orang biasa, sedangkan ibunya punya garis keturunan keraton. Ini yang membuat keduanya dikatakan sebagai pasangan yang tak sepadan. Eyangnya tak pernah menyetujui pernikahan orangtua Laras, itu sebabnya ia harus rela keluarganya hidup terpisah dan Laras tidak terlalu mempermasalahkan ini. Sampai suatu hari datang kabar itu, orangtuanya resmi bercerai. Laras terombang-ambing antara kenyataan di depan matanya. Keluarganya sudah tak seperti dulu lagi. Meski ayah dan ibunya pisah rumah, tapi selama ini ia masih bisa bertemu dan menghabiskan waktu dengan ayahnya.

            Laras terbiasa memandang kehidupan dari sisi yang unik, menyenangkan menemukan hal baru yang tak membosankan. Hidupnya serasa lebih berwarna dengan teman-temannya. Bosan ditambah penat karena masalah orangtuanya, akhirnya membuat ia memilih untuk melakukan perjalanan dadakan dengan menggunakan motornya.

Dari Solo hingga ke Klaten dan Jogja, Laras mendapatkan banyak pelajaran tentang kehidupan. Jalanan mengajarkan tentang arti hidup yang sesungguhnya. Ia mulai memindai hikmah dari setiap peristiwa yang dialami selama perjalanan, mulai dari solidaritas Mioners, perjalanannya selama menemani peneliti di Candi Prambanan, acara Sekaten, hingga tragedi yang membuatnya harus kembali kepada kehidupannya. Dapatkah Laras menjadi remaja yang memaknai kepingan kehidupan dengan cara yang Tuhan ajarkan lewat masalah-masalahnya? Baca saja buku ini. ;)

***

Buku yang diangkat dari cerita bersambung di sebuah tabloid remaja GAUL ini merupakan cerita berseri. Ini buku yang pertama, bertema “namaku Larasati”. Membaca bagian pembuka novel ini yang bersetting kota Solo, saya mengapresiasi penulisnya karena bisa menggambarkan Solo dengan detail, mulai dari budayanya, kondisi jalanannya, kulinernya, dll. Setting tempat di kota Solo, Klaten dan Jogja yang cukup kuat memang merupakan kekuatan dari novel ini. Ditambah lagi ada hikmah yang memang ingin disampaikan oleh penulisnya untuk memberi gambaran pada remaja apa yang ada di kehidupan mereka tentang memaknai cinta yang sebenarnya, cinta yang sakral, juga tentang arti keluarga, sahabat, indahnya berbagi dan mandiri saat backpackeran.

“Nggak baik pagi-pagi sudah marah, apalagi belum sarapan. Energimu habis nanti!” (Halaman 95)

Petualangan demi petualangan dimulai oleh Laras. Berbekal berkendara dengan motor matiknya, ia menyusuri jalanan yang pernah dilewatinya dengan ayahnya yang seorang traveller. Sayangnya, saya cukup kaget dengan perpindahan alur yang cukup cepat ditambah logika cerita yang sering membuat tokoh Laras secara “tanpa sengaja” bertemu dengan orang-orang yang ia kenal. Jadi seperti mimpi saja, misal Laras di rumah sakit ketemu dengan Eyang dan Om. Di Galabo ketemu Chandra dan Boni. Serasa dipaksakan ada tokoh-tokoh itu agar jalan cerita tetap bisa berjalan. Padahal terlalu banyak kebetulan juga tak bagus menurutku.

Ada juga yang membuat saya bingung. Laras dikatakan memiliki darah keraton di isi bukunya.

“Kamu itu putri keraton, Laras. Dalam darahmu mengalir darah para raja dan ratu, yang pernah memerintah tanah ini. Eyang berharap, selama kamu di sini bisa belajar banyak hal tentang etika dan tata karma bagi putri keraton.” (halaman 130-131)

Kira-kira, keraton mana ya? Ini yang masih samar, saya tidak menemukan keterangan keraton yang dimaksud di buku ini. Antara keraton Solo dan Jogja jelas beda kebijakan terhadap penghuni keraton. Tapi saat saya baca sinopsis belakang buku ditulis, ibu Laras hanya seorang abdi dalem keraton Jogja. Abdi dalem dengan darah keraton asli berbeda jauh maknanya. Sebab yang saya tahu, biasanya abdi dalem digaji dengan bayaran sedikit sebab pekerjaan mereka lebih bersifat pengabdian, ini yang saya tahu saat datang ke keraton Solo. Padahal digambarkan di bukunya, Laras memiliki Eyang yang rumahnya lumayan besar dan cukup berada, sebab di rumahnya ia dibantu oleh dua pembantu, seorang tukang kebun dan seorang supir. (halaman 129) Mungkin info yang benar Laras keturunan darah biru asli kali ya? Inkonsistensi antara isi buku dan sinopsis di back cover itu yang membuat saya bingung.

Lalu ada lagi kejanggalan yang saya temukan, Darmanto mengenalkan dirinya secara personal pada Laras dengan nama “Anto” (halaman 30). Tapi sampai cerita selesai di akhir, tak pernah saya baca nama Anto disebut lagi. Alih-alih dipanggil Anto, lelaki itu malah dipanggil “Dar” oleh Laras. Jadi seperti mubazir saja adegan pengenalan diri ini. Sebab ternyata info nama itu tak dipakai sama sekali di adegan berikutnya.

Buku ini meski segmennya remaja namun membidik kritik sosial sebagai kunci dari cerita utama tokoh Larasati. Sebagai anak dari trah keraton, unggah-ungguh dan segala hal yang beraroma adat istiadat wajib dijaga olehnya. Perpindahan cerita ditandai dengan puisi di awal bab membuat cerita terasa romantis dan sendu. Buat penyuka bacaan romantis, baca deh buku ini. Dijamin suka dengan puisi-puisinya. Overall, 3,5 bintang untuk novel ini. :)

Diciptakan cinta
pun pada pahatan waktu
agar kau dan aku mengerti
hakikat tubuh dan rasa

Maka kutitipkan setitik cinta
pada cahaya hidup
biar berpendar tanpa pudar
menuju abadi yang dijanjikan

4 comments:

  1. aku pernah baca ceritanya ini dr tabloid *tapi gak ngikutin terus sih*
    enak dibaca sih yah ka, cuma ya itu bnyak yg agak kurang ngeh kitanya yah..

    truskan ayahnya ya yg org biasa? biasanyakan yg kuat darah dr ayah, tapi ini lebih ditonjolkan kuat dr dari ibu yg turunan darah biru, hihi

    ReplyDelete
  2. Baca resensi begini jadinya kita sebagai penulis makin berusaha untuk menjelaskan secara detil apa yang kita tulis yak, hehe

    ReplyDelete
  3. Hmmm.... kok editornya tidak menangkap inkonsistensi itu ya? Penulis & editor perlu kerjasama yang erat, karena kadang saking tekunnya si penulis, justru banyak detil yang goyah. Tapi sebagai penulis, ini catatan untuk makin menjiwai naskah.

    ReplyDelete
  4. Pas banget nih cerita anak remaja,,, cocok seusia saya hehehee

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^