Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

11 April 2014

Resensi Buku Safe Secret Deposit Box by Izzati


Judul Buku : Safe Secret Deposit Box
Penulis : Izzati
Penerbit : DAR! Mizan
Tebal : 204 halaman
Terbit : Cetakan Ketiga, Agustus 2010
ISBN : 978-979-066-116-5
Rating : 4/5

Resensi Buku :

Yang penting, kamu ingat saja. Semakin besar ukuran rahasiamu, kamu harus semakin pandai mengunci mulut. Makin besar rumah dan makin banyak harta, makin besar pintu dan kuncinya. Kira-kira seperti itulah.


            Sharafina Labiba, siswa kelas 9, yang biasa dipanggil Sher sering menjadi tempat curhat temannya. Curhatan itu bersifat rahasia ala anak remaja dan itu artinya Sher harus mau berjanji untuk menyimpannya seorang diri agar tak ada orang lain yang tahu hal itu. Dia dipercaya teman-temannya untuk menyimpan rahasia, menjadi bank rahasia terbesar bagi mereka mulai dari rahasia umum, rahasia kecil sampai rahasia megabesar. Bayangkan bila akhirnya suatu hari Sher harus menjaga rahasia seseorang yang paling menyebalkan menurutnya. Apakah dia akan bisa menjaganya?

Orang yang membuat Sher selama ini sebal adalah adiknya sendiri, Soraya alias Aya. Aya siswa kelas 7 hanya berjarak dua tahun dari usia Sher. Tapi dari perkembangan kepribadian, Aya jauh melampaui pencapaian kakaknya. Itu sebabnya Sher merasa minder sekaligus bingung menghadapi adiknya. Aya tipe sensible : bijaksana, berpikiran sehat, selalu melakukan hal positif, tapi juga membosankan menurut Sher. Adiknya bukan tipe pengacau sepertinya, jadi Aya susah diajak main. Lebih tepatnya, Aya dewasa sebelum waktunya. Ini yang membuat Sher gelagapan karena dia sebagai seorang kakak jadi tak tahu bagaimana harus memperlakukan seorang Aya.

“Untuk apa kau merasa takut kepada adikmu sendiri? Kau harusnya percaya diri pada potensi yang kau miliki, bukannya malah minder melihat apa yang kau tidak punya.” (halaman 193)

Aya tahu bagaimana memanfaatkan liburan untuk hal berguna, bergabung dengan klub bahasa Inggris. Beda dengan Sher yang terpaksa harus menurut pada mama. Mama menyarankan Sher agar mengambil pekerjaan yang ditawarkan oleh Tante Frenda di sebuah perpustakaan miliknya. Di sana Sher bisa membaca buku untuk mempersiapkan ujian sekolahnya sekaligus melakukan kegiatan yang menyenangkan. Di sana, Sher berkenalan dengan teman baru bernama Titani dan juga bertemu dengan seorang anak laki-laki bernama Vivaldi (Valdi).

Tak disangka, saat liburan itulah Aya mulai menunjukkan perubahan dalam dirinya, dia terlihat seperti bukan Aya yang selama ini dikenal Sher. Sering menelepon malam-malam, bahkan sibuk dengan gadget. Kakaknya, Lintang juga sedang sibuk menghadapi seleksi untuk mendapatkan beasiswa. Hingga suatu hari, Sher tahu apa rahasia yang disimpan Aya. Meski Aya meminta Sher bersumpah untuk menyimpan rahasia itu, dapatkah Sher benar-benar berjanji menepatinya?

***

Buku seri Pink Berry Club ini merupakan karya Izzati. Setelah baca di bagian biodata buku, saya baru tahu bahwa buku ini cetakan ketiga di tahun 2010. Sebuah pencapaian yang cukup wow ya untuk seorang penulis anak. Apalagi dia sudah menulis 13 buku.

Novel yang dilengkapi dengan ilustrasi ini, ide cerita yang diangkat oleh penulisnya memang unik. Apalagi seperti yang kita tahu, dunia anak remaja memang penuh dengan dinamika. Mereka mengalami transformasi dari anak-anak menjadi remaja. Belum masuk ke tahapan orang dewasa, tapi di sinilah masa pencarian jati diri dimulai.

Anak remaja di masa puber akan mulai mencari figur siapa yang akan dia ikuti sebagai seorang idola. Semacam sebentuk kekaguman yang normal untuk seusia mereka. Tapi bagaimana bila kekaguman itu muncul bersamaan dengan ketertarikan secara fisik dan juga kepribadian? Misalnya saja seperti yang disebutkan di buku ini. Aya diam-diam menyimpan perasaannya pada Vivaldi alias Valdi. Kagum itu muncul karena Valdi tampan dan juga cerdas. Di sinilah, penulis memberi penjabaran ide cerita menjadi lebih matang dan terkonsep. Anak remaja menemukan kekaguman pada diri lawan jenisnya, dan ada peran seorang kakak untuk bisa memantau transformasi sang adik.

Warna persahabatan yang tulus dimunculkan lewat karakter Sher dan Titani membuat cerita jadi menarik. Titani membiarkan Sher menjadi dirinya sendiri, tidak menghakimi juga bijak dalam bersikap. Sher yang ceplas ceplos sukses menjadi kakak yang mulai berubah dimulai dari perubahan sikapnya terhadap Aya. Dia mulai memahami tanggungjawab seorang kakak.

“Memang jangan langsung minta maaf, padahal kau baru mengalami perang mulut yang hebat. Beri dia waktu untuk menenangkan diri. Kalau kau buru-buru mau menyelesaikan masalah, padahal Aya masih kesal, dia jadi makin marah kepadamu, lho.” (halaman 84)

Penulisnya juga memberikan gambaran seperti apa anak remaja yang seharusnya. Penuh prestasi, disiplin tinggi, aktif, dan penuh rasa ingin tahu. Jika demikian, jika orang tua tahu potensi remaja tadi, maka mereka bisa diarahkan menjadi pribadi yang lebih baik. Penulisnya juga mengambil setting yang tak biasa, yaitu perpustakaan yang tak sekuno yang dibayangkan. Tujuannya mengajak anak untuk mulai menyukai perpustakaan. Di akhir cerita juga ada peran seorang ibu yang menjadi tempat paling nyaman bercerita anak-anaknya.

           Secara ide, cerita ini terkemas dengan rapi. Konfliknya juga terjaga ritmenya dari awal hingga akhir, membuat saya mau menamatkan buku ini dalam waktu singkat. Padatnya ide yang ingin disampaikan penulis tak membuat saya bosan justru kagum dengan idenya yang antimainstream. Salut! Empat bintang untuk novel ini. ;)

3 comments:

  1. sebagai ortu yang punya calon anak remaja..
    kudu menjadi contoh yang baik ya, biar jadi tokoh idola anaknya :D

    makasih ila ripyu nya :)

    ReplyDelete
  2. wah, kayaknya layak baca nich

    ReplyDelete
  3. Teh Ila keren nih disini buku semua isinya hehe

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^