Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

18 April 2014

Resensi Buku Waktu Queen Dijodohkan by Yenny Fyfy


Judul Buku : Waktu Queen Dijodohkan
Penulis : Yenny Fyfy
Penerbit : Sheila(Andi Publisher)
Terbit : 2011
Tebal : 240 halaman
ISBN : 978-979-29-2677-4
Rating : 3,5/5

“Then tell me about your life, honey? Well, masih betah aja ngejomblo? Udah hunting belum?”

“Ya masih gini-gini aja deh, San. Kerja, kerja, dan kerja. Tapi, aku enjoy kok sama pekerjaanku itu. Kalo masalah status, kamu ga perlu khawatir. Detik kapan pun aku ganti status menjadi not available, kamu lah orang pertama yang kutelpon.”

            Queen Primaesa Valentina yang biasa dipanggil Queen oleh sahabat dan keluarganya punya masalah besar terkait statusnya yang masih single dan available. Kebayang kan di usianya yang sudah masuk usia harus menikah, gadis workaholic ini masih sibuk mengurus pekerjaannya dibanding hunting calon suami. Hasilnya, sang Mama pun turun tangan langsung. Mama yang nggak tahan melihat putri kesayangannya tanpa calon akhirnya mencarikan pasangan. Seorang laki-laki yang teramat sempurna untuk seorang Queen bernama Raditya, seorang petinggi di bank daerah Batam, anak kenalan mamanya.

            Queen nggak minat dijodohkan, ia memilih untuk cari cara agar bisa kabur dari rencana perjodohan itu. Syarat dari Mama yang mengharuskannya sudah punya lelaki calon suami, membuat Queen pun mau menerima penawaran dari Park Jeoung Jun, laki-laki yang dikenalnya playboy agar pura-pura sebagai pacarnya.

            Jeoung Jun yang pernah bekerja bersama Queen saat mengaudit kantor Queen, Mc Netric, ternyata makin bikin Queen senewen dengan tingkah bule Korea yang aneh itu. Awal perkenalan lelaki itu memang akrab, tapi sejak menanyakan tentang status Queen, mereka pun seakan mengibarkan bendera perang. Queen nggak mau statusnya diungkit dan jadi bahan ejekan. Dan sejak penawaran Jeoung Jun diterima Queen, mereka makin dekat. Ditambah ternyata kakaknya, Kak Dityo yang kuliah S2 di Korea ternyata pacaran dengan Yoo Mi, adik Jeoung Jun. Perfect! Dunia sempit sekali!

            Sania sahabatnya dan Ray teman sekantornya sering meledek Queen. Mungkin memang sudah saatnya Queen untuk serius dengan lelaki yang dikenalkan padanya. Tapi Jeoung Jun? Laki-laki itu tak masuk daftar kriterianya. Tak disangka ternyata Radit yang awalnya ditolak Queen, malah jadi kekasihnya.

            Setiap perempuan pasti mendambakan seorang lelaki yang bisa mencintai dengan tulus dan tanpa kepura-puraan. Cinta yang sebenar-benarnya cinta, bukan menjadikannya sebagai boneka. Di hadapan Radit, Queen memang menjadi bonekanya. Sempurna, seperti Amanda, mantan tunangan Radit yang bisa menemani Radit dan mengimbangi gaya hidup lelaki itu. Tapi, Queen ternyata merasakan rasa yang berbeda saat bersama Radit dan Jeoung Jun. Radit cuek, Jeoung Jun care meski rese dan kadang bikin Queen naik darah saking seringnya berantem.

            Meski Radit jarang ada waktu untuknya, tapi lelaki itu sosok yang sempurna. Apa benar cinta sudah hadir dalam hidup Queen? Lalu, siapa lelaki yang akan jadi pendamping hidupnya nanti? Baca aja buku ini. ;)

***

        Kisah cinta ala metropop seringkali menjadi bahasan yang mengasyikkan. Apalagi temanya yang nggak jauh-jauh dari masalah lelaki dan perempuan single yang ribet cari jodoh. :p Kalo dipikir kisah cinta semacam ini sering lho, terutama memang booming di kalangan kaum workaholic yang demen banget lama-lama di kantor sampai overtime dan menghabiskan waktu hanya demi dedikasi pekerjaan semata. Pressure kerja yang tinggi membuat mereka susah untuk cari waktu luang buat sekadar berkenalan dan cari calon yang tepat. Kalo bukan dikenalkan ya paling banter teman sekantor. Well, nggak salah ya kalo akhirnya sering denger kan ada affair di kantor?

            Kalo menurutku, novel ini sudah menggambarkan apa yang ingin disampaikan tentang tema inti yang jadi akar masalahnya. Pencarian jodoh para lajang kaum ekonomi menengah ke atas. Dengan karakter yang kuat dan cenderung perfect, saya malah membayangkan kalau kedua calon Queen itu terlalu sempurna. Apalagi penggambaran Jeoung Jun yang sudah mapan dengan memiliki sejumlah apartemen dan mobil mewah. Juga kebiasaannya yang sering gampang sekali pergi ke sana kemari dari Batam, Singapura dan Seoul, menggunakan pesawat. Bisa dibilang, kerja mapannya sebagai auditor sudah menghasilkan, di usianya yang ke-29 tahun.

          Gambaran Queen sebagai worker, financial analysist, perempuan muda yang galau karena tak kunjung mendapat pasangan, membuat saya mengernyitkan dahi. Ya, meski laki-laki seperti Jeoung Jun yang tampan dan mapan bisa menarik perhatiannya, tapi apa tak aneh ya. Melihat cinta itu buta. Queen dengan mudah menerima cinta yang disajikan di hadapannya hanya karena lelaki itu romantis(?). Bukan karena lelaki itu bisa dipercaya menjadi lelaki yang bertanggungjawab. Man with two faces seperti Jeoung Jun malah bikin saya jadi bertanya-tanya apa benar ada playboy yang bisa punya dua wajah di hadapan adiknya dan kekasihnya?

            Gaya menulis penulisnya ringan dan ceria, jadi saya bisa cepat selesai membacanya dalam sekali duduk. Menggunakan bilingual di bagian percakapan(Inggris dan Indonesia, sesekali menyisipkan kata-kata berbahasa Korea juga), buku ini tetap bisa diikuti. Perpindahan alurnya meski agak lambat di awal tapi ceritanya tetap seru untuk dinikmati. Settingnya kuat di kota Batam mulai dari kawasan industrial sampai Batam Centre, kata penulisnya sih dia ambil dari tempatnya kerja dulu, jadi gambarannya memang terasa lebih hidup.

            Karakter tokoh yang lain seperti Mama, Papa, Kak Dityo, Yoo Mi, Sania, dan Ray serasa ada orangnya dalam kehidupan nyata. Mungkin inspirasinya dari orang terdekatnya ya? Bagian karakter Radit kurang dieksplore. Sisi Korea hanya dimunculkan sesekali terutama di bagian ending, jadi semacam bumbu saja yang membedakan buku ini dengan metropop sejenis. Yang bikin saya surprise bagian wisata di jembatan air mancur di Korea (halaman 210) dan gambaran aliran sungai Han(halaman 234). Belum pernah saya baca di novel lainnya. Menurut saya, buku ini sepertinya memang harus dilabeli “dewasa” ya. Soalnya ada beberapa bagian yang harus disensor. Sayangnya penerbitnya hanya melabeli “fiksi” saja di back cover. Overall, 3,5 bintang untuk novel ini. 

1 comment:

  1. Berarti si laki2 punya dua karakter ya mbak

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^