Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

25 September 2014

Resensi Buku : Ruang Temu – Antara Denting dan Rahasia


Judul Buku : Ruang Temu – Antara Denting dan Rahasia
Pengarang : Maradilla Syachridar
Penerbit : Bukune
Terbit : Cetakan pertama, Mei 2012
Tebal : iv +244 halm.
ISBN : 602-220-050-4

Mungkin, di antara cinta yang terlihat dan yang terlambat, selalu ada ruang temu rahasia. Dan dia cukup memejamkan mata untuk sampai di sana.

Deanna, Mielka, dan Rajasa. Dua lelaki dan satu perempuan yang memiliki kehidupan masing-masing. Deanna mahasiswa tingkat akhir di jurusan Sastra Jerman, UPI. Mielka, pelukis yang disewa oleh Rajasa untuk menyelesaikan proyek lukisan hotel Rajasa. Rajasa, kekasih Deanna yang hobi mengoleksi wine, lengkap dengan katalog dan juga mempelajari cara menyesapnya seperti para raja.

Deanna seperti perempuan lainnya sering mudah jatuh cinta pada lelaki yang ia temui. Jika hal itu terjadi, ia sulit mengendalikan perasaannya. Awalnya ia jatuh cinta pada Bian, lalu saat Rajasa menyatakan cinta, De- panggilan Deanna- seketika itu juga luruh pada pesona Rajasa. Begitu pun saat Mielka hadir di antara De dan Raja. Mielka diam-diam memendam perasaannya pada De yang sering menemaninya melukis. Lukisan yang sering berawal dari kesannya terhadap suatu mimpi. Baginya, mimpi bisa jadi sumber ide yang kaya arti. Warna yang dilukiskannya pun seiring dengan warna yang melingkupi mimpinya.

Mielka yang habis patah hati, menyatakan cinta pada De saat ia merasa kesunyian memberinya harapan semu pada sosok De. De yang nyambung dalam segala obrolan dengannya membuat Mielka membangun sebuah ruang temu yang ia sebut Absurd Paradiso, ruang di alam mimpi yang hanya bisa didatangi oleh keduanya, lewat lucid dream. Dalam lima kali, Mielka dan De merasakan pergolakan batin atas pilihan mereka mengkhianati persahabatannya dengan Rajasa. Raja tak pernah tahu apa yang ada di antara keduanya, mengira bahwa interaksi yang terjadi adalah wajar. Ia hanya mengira De terobsesi pada sebuah sosok di luar jendela kamarnya. Sosok semu yang sebenarnya adalah Mielka, di absurd paradiso.

“Ketika  dua orang sahabat menikah, mereka nggak perlu lagi mengkhawatirkan apa yang akan terjadi di hari selanjutnya. Rasa sayang akan semakin tumbuh. Lalu, ketika percikan itu redup, mereka tidak akan menganggap itu adalah sebuah masalah karena mereka selalu bekerja sama, dan menjalin pertemanan dengan baik.” (hlm. 235)

Hingga suatu hari terjadi apa yang ditakutkan oleh De. Dunia yang ia bangun runtuh ketika Mielka menghilang perlahan. Bayangannya tak bisa tersentuh lagi di alam mimpi. Akankah keduanya menjadi satu, saling mengutuhkan dalam ruang temu?

***

Novel ini awalnya sungguh sangat sulit saya pahami. Apalagi penuh dengan filosofi yang digunakan penulisnya untuk melukiskan perasaan ketiga tokohnya. Sangat absurd menurut saya. Sama halnya sebuah lukisan surrealis yang ilustrasinya sulit kita terka apa maknanya, begitulah yang saya rasakan saat membaca halaman awal novel ini. Tapi, buat saya pantang untuk menutup buku ini sebelum selesai. Apalagi saya membelinya karena keinginan saya sendiri, sayang aja kan kalo duitnya jadi mubazir. :p *pikiran emak irit, haha* Duh, padahal menghabiskan halaman demi halaman sambil menebak keinginan penulis itu susah sekali, saya kok jadi serasa masokis ya. Nyiksa diri sendiri. Wkwk. Mending deh kalo kamu nggak kuat baca buku ini, segera tutup bukunya. :))

Dalam pengantar novel ini, penulis mengungkapkan bahwa kisah ini adalah sebuah kisah paralel dari Turiya. Nah, Turiya itu apa dong ya? Karena penasaran saya akhirnya googling trus nemu di goodreads. Tapi malah nemu penjelasannya di bab buku ini. Ternyata Turiya adalah sebuah eksibisi kenangan. Coba deh baca kalimat ini, mungkin bisa menggambarkan apa itu Turiya.

“Setiap orang memiliki kisah absurd paradiso yang berbeda dengan versi mereka masing-masing. Pada akhirnya, mungkin ini hanyalah satu dari sekian fase, yang akan segera terhapus oleh fase-fase berikutnya. Jika kemudian  sang waktu menjadi pengingat, suatu hari nanti, kita akan menganggap segala yang terjadi hari ini- dan semua yang kita yakini- tak lebih sebagai kenangan masa lalu yang selalu bisa diam-diam kita tertawakan. (hlm. 239)

                Awalnya, penulis sudah menyelesaikan Turiya sebagai sebuah buku, diterbitkan indie sih kayaknya. Nah, dari Bukune meminta dibuat versi paralel dari kisah Turiya. Yang artinya akan ada kisah yang hampir sama, dengan ujung yang sama tapi rasa yang berbeda. Ya, gitulah kurang lebihnya. Kisah intinya sih hanya seputar kegalauan De dan Mielka yang merasa cinta di belakang Rajasa itu menyiksa. Trus mereka bikin ruang rahasia dalam alam mimpi. Buat saya, konsep ini unik. Beda aja gitu dibanding novel-novel lainnya, apalagi diksinya sebenernya bagus. Hanya saja, karena menggunakan penjabaran dengan gaya filosofi gitu, saya jadi tertegun lama, trus mikir. Baca, mikir lagi. Haha. Jadi kelar bacanya pun sekitar satu harian. Tidak seperti novel populer dari Bukune yang lainnya yang mudah dihabiskan dalam 3 jam saja. :D Anyway, 3 bintang untuk novel ini, meski menghabiskannya sungguh menyiksa. =))

5 comments:

  1. Hastagaaa berarti ini termasuk novel yang nyastra ya, banyak filosofi.

    ReplyDelete
  2. wah.. bacaan berat kalo di saya mah

    ReplyDelete
  3. wah bacaanya berat seperti badan sayah yg berat...btw berapa lama ngabisin bacaan yg super inih?

    ReplyDelete
  4. kalau baca novel ini harus bener-bener paham artinya......

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^