Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

30 December 2014

40 Romantisme ala Nabi Muhammad SAW


Judul : Malam Janganlah Cepat Berlalu, Mentari Perlahanlah Sejenak
Penulis : Hatta Syamsuddin, lc. 
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Terbit : Agustus 2013
Tebal : 344 halm.
ISBN : 978-602-1614-04-4

          Seorang teman yang baru menikah selama dua tahun mengeluh tentang pernikahannya. Bayang-bayang pernikahan yang menyenangkan sirna sudah seiring dengan lamanya pernikahan. Ada keluhannya yang membuat saya mengerutkan kening. Pasalnya dulu sebelum nikah, ia sangat menggebu dalam hal cinta. Kini katanya, ”Cinta itu sangat jarang dibicarakan saat kamu sudah menikah. Jika dihitung kamu akan membicarakan cinta mungkin seminggu cuma sekali dan itu mungkin tidak lama dari satu jam.

           Saya tertegun saat melihat ia begitu. Lain pasangan, lain pula penampilan. Seorang teman yang sudah menikah lima tahun berkata, “Kami selalu berusaha untuk menjadi pengantin baru.” Dua kasus yang jelas jauh berbeda. Yang satu bahagia, yang satu merana. Mengingat banyaknya hal yang merampas kebahagiaan, kadang hal-hal kecil yang sepele bisa menjadi pemicu keretakan hubungan. Komunikasi tak lancar, dan menjadi hambar. Benarkah cinta telah hilang seutuhnya?

       Saya belum menikah. Tapi melihat dua pasangan yang berbeda memaknai dan menjalani pernikahan itu membuat saya bertanya, apa benar pernikahan seseram yang dibayangkan oleh teman saya yang pertama? Apa cara yang dilakukan agar cinta tumbuh meski di tengah prahara? Membersamai dalam langkah yang sama tentu bukan hal mudah.

           Dalam buku “Malam janganlah cepat berlalu, mentari perlahanlah sejenak”, sang penulis mengungkap 40 cara romantisme yang dilandaskan dari hadist Nabi Muhammad SAW. Romantisme ala Nabi yang membuat jiwa serasa muda, meski raga sudah menua. Dalam 8 bab, dijabarkan perihal apa saja yang bisa dilakukan pasangan yang sudah menikah agar pernikahannya langgeng. Romantisme perlu dibangun dengan kebiasaan-kebiasaan bersama pasangan. Seperti dalam bab “Bersama Cinta, Tiada Lagi Kesendirian”, pasangan bisa melakukan hal seperti : berduaan yang sunnah, melakukan pekerjaan bersama-sama, jajan dan belanja bersama, dan sehat yang romantis.

Ada pula di bab  “Ibadah dan Dakwah : Puncak Inspirasi Romantis Kita”, di mana disarankan untuk melakukan shalat berjamaah untuk mengeratkan ikatan pernikahan. Bayangkan bila dalam sehari shalat berjamaah antara suami istri dilakukan dalam minimal 3 kali yaitu saat shubuh, maghrib, dan isya, karena dhuhur dan ashar dilakukan di kantor. Kedekatan jiwa dalam balutan ibadah menjadikan langkah untuk mewujudkan rasa nyaman bahwa pasangan selalu ada bersama akan timbul dengan sendirinya. Ada pula malam-malam mengharukan dua jiwa di mana pasangan saling mengingatkan untuk shalat tajahud berdua. Lebih mesra bersama Al Qur’an pun bisa dilakukan dengan saling mendengarkan hafalan qur’an, maupun mengaji bersama.(hlm. 276)

“Dari Aisyah ra, dia berkata, “Nabi saw. Biasa meletakkan kepalanya di pangkuanku walaupun aku sedang haid, kemudian beliau membaca Al-Qur’an”(HR. Abdurrazaq)

Nah, romantis yang halal, kan?

Romantis memang butuh kreativitas, penulis mengisahkan ada beberapa cara untuk menguatkan ikatan pernikahan dalam romantisme yang sederhana namun mengena. Seperti, nonton bareng, saling bertukar kisah, maupun merangkai kata mesra.

“Dari Aisyah ra. Dia menceritakan : “Ketika itu Hari Ied, orang-orang Sudan bermain dengan perisai dan pedangnya, (Aku lupa) apakah aku yang meminta, ataukah Rasulullah yang menawarkan, “Apakah engkau berhasrat menontonnya?” Maka aku berkata, “Ya”. Lalu beliau mendirikan aku di belakangnya, dan menempelkan pipiku dengan pipinya. Dan Rasul bersabda kepada mereka, “teruskan wahai Bani Arfidah!” Hingga aku merasa bosan, beliau berkata, “Sudah cukup bagimu?” Aku berkata,”Ya”. Lalu beliau bersabda, “Maka menyingkirlah.”(HR. Bukhari(949) dan Muslim)

Lihatlah, cara nabi membangun perasaan nyaman agar istri merasa dihargai sungguh sesuatu yang sederhana. Tapi seringkali luput oleh perhatian pasangan yang sudah mulai tergilas lamanya pernikahan. Hal sederhana itu mungkin terlupa, padahal mudah untuk dilakukan. Hanya mendekatkan pipi dengan pipi sang istri, sentuhan kecil itu membangkitkan perasaan dihargai dan dicintai. 

        Penulis juga membahas tentang taaruf kedua yang bisa berbuah cinta selamanya. Seperti : parade silaturahim, kebiasaan mendatangi undangan baik undangan makan maupun menghadiri pernikahan sahabat dan kerabat secara bersama, seperti yang dilakukan nabi dan Aisyah. Ada pula kebiasaan Nabi yang saling memandang untuk menentramkan hati.

Dari Abu Said al-Khudry ra., Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya seorang lelaki jika memandang istrinya dan istrinya pun memandang kepadanya, maka Allah akan memandang kedua insan itu dengan pandangan rahmat. Kemudian jika dia (laki-laki itu) memegang telapak tangan (istri)nya maka dosa-dosa kedua insan itu akan berjatuhan dari sela-sela jemarinya.”(HR.Maisarah dan Imam ar-Rafi’i)

           Buku yang membahas tentang romantisme ala nabi ini didasarkan pada hadits yang merujuk pada kebiasaan nabi dalam rumah tangganya bersama para istri. Pernikahan yang langgeng dapat terjadi bila keduanya saling berbenah meningkatkan kualitas sekaligus kuantitas ungkapan cinta, lewat sapa maupun canda. 

        Buku ini berbahasa lugas namun tidak vulgar. Terbilang santun, sehingga membuat pembaca tidak merasa risih. Buku ini bisa dibaca oleh orang yang akan menikah maupun sudah menikah. Merawat romantis dan menjaga cinta sebagus dan sesering mungkin diperlukan oleh pasangan yang sudah menikah. Semoga cinta yang ada dalam pernikahan melangitkan keduanya hingga ke surga.

2 comments:

  1. ini ada di gramed g mbak??penasaran bangettt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada, mb. Atau bisa pesan lewat penerbitnya langsung. Biasanya juga ada diskon, mba.

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^