Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

17 August 2016

[Resensi Buku] Revolution 2020 - Chetan Bhagat


Judul Buku : Revolution 2020
Pengarang : Chetan Bhagat
Penerbit : Bentang Pustaka
Terbit : 2013
Tebal : 436 hlm.
ISBN : 978-602-7888-70-8


Sinopsis :

Gopal dan Raghav adalah sahabat masa kecil yang berjuang bersama meraih impian mereka. Keduanya mencintai wanita yang sama. Namun, takdir membawa mereka ke jalan berbeda. Gopal mengejar ambisinya untuk menjadi kaya. Raghav mengobarkan revolusi untuk melawan korupsi yang merajalela.

Di Varanasi, jalinan kisah ini bermula. Tentang impian yang harus diperjuangkan sepenuh hati. Tentang kisah cinta berliku yang terbentang di sepanjang ghat Varanasi. Tentang ambisi yang terus merongrong tak ada habisnya. Dan, tentang betapa kotornya birokrasi di kota yang dianggap suci ini.
Dari penulis novel berbahasa Inggris terlaris sepanjang sejarah India, Revolution 2020 merupakan sebuah kisah menawan langsung dari jantung India.

Review Buku : 

Kisah ini bermula dari obrolan Chetan Bhagat dengan seorang direktur muda belia dari Institut GangaTech, Gopal Mishra. Chetan yang diundang menjadi pembicara di acara penting kampus itu bertatap muka dengan direktur seusai memberikan ceramah motivasi di Varanasi. Tak disangka ada insiden saat Chetan diajak minum bersama sang direktur. Direktur itu pingsan hingga dilarikan ke rumah sakit. Sang direktur terus saja bertanya pada Chetan, “Apakah menurut anda saya ini orang yang baik, Chetan-ji?” hingga Chetan memutuskan untuk mendengarkan penuturan lelaki muda itu tentang kisah hidupnya yang kelam. Kisah pun mengalir selayaknya air sungai Gangga yang menuju muara.

Gopal, Aarti dan Raghav tumbuh bersama di kota kecil yang suci bernama Varanasi. Kota yang membuat orang-orang datang untuk mensucikan diri di sungai Gangga. Varanasi menjadi kota yang amat diminati pengunjung karena pesona peribadatan yang kental di sana. Suatu hari, Gopal  kecil mencuri bekal kue tart Aarti. Memotongnya dengan penggaris hingga ia ketahuan dan dihukum guru selama pelajaran berlangsung. Namun sejak kejadian itu mereka menjadi akrab dan bersahabat.

Di penghujung SMA, Gopal, Aarti dan Raghav harus berjibaku menyelesaikan studi mereka di sekolah untuk menyambung nasib berjuang di ujian AIEEE dan JEE. Kedua ujian itu penting agar bisa masuk salah satu kampus bergengsi seperti IIT yang mencetak insinyur muda. Gopal berjibaku untuk menyelesaikan ujian, namun ia tidak lolos. Baba depresi karena hanya ini jalan satu-satunya agar anaknya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.

Baba bahkan berani meminjam uang pada rentenir untuk membayar biaya les dan biaya hidup Gopal selama di Kota. Padahal mereka tak punya sepeser pun uang untuk membayar hutang itu selain rumah tua yang ditinggalinya. Ayahnya memiliki tanah pertanian warisan kakek yang dijadikan sengketa karena pamannya berlaku curang, menggadaikan sertifikat tanah kepada bank untuk meminjam uang. Baba tak mau menjual tanah dengan harga yang ditawarkan sang kakak. Karena itu status tanah menggantung hingga bertahun-tahun.

Baba memaksa Gopal untuk mengulang ujian tahun depan. Gopal pun harus keluar dari Varanasi menuju Kota demi bisa belajar di bimbel ternama yang akan membawanya menembus peringkat AIEEE tahun depan. Gopal bekerja keras dengan emosi yang naik turun setiap kali melihat teman-teman lainnya berjuang di tes bimbel. Jauh dari keluarga, jauh dari harapan. Gopal ingat penghuni kamar sebelumnya yang meninggal karena gantung diri akibat tidak lolos ujian. Ia pun mulai memperbaiki cara belajarnya. Di saat itulah ia kehilangan Aarti, gadis itu jatuh cinta dengan Raghav yang diterima di IIT-BHU Varanasi.

Ujian kedua, Gopal tetap gagal. Ia kehilangan segalanya, termasuk kehilangan Baba. Baba meninggal karena sakit. Sejak itu hidup Gopal berubah. Ia dikejar-kejar rentenir karena hutang Baba yang menumpuk. Di sisi lain Pamannya menawari uang  jatah tanah agar bisa menyelesaikan sengketa tanah. Di saat itulah Gopal paham bagaimana kerasnya hidup membawanya menjadi orang yang berbeda.

Takdir membuat Gopal mengenal seorang pejabat tinggi bernama Shukla-ji. Shukla-ji si pejabat korup ingin membantu Gopal menyelesaikan sengketa tanah dan berniat membangun sebuah universitas demi ambisinya mencalonkan diri di pemilihan berikutnya. Tak disangka inilah yang membawa Gopal dari seorang tak berpunya hingga ia memiliki segalanya. Shukla-ji mengajari Gopal memainkan trik curang untuk menyuap orang-orang demi bisa mengubah tanah pertanian itu menjadi perguruan tinggi.

Tiga tahun berselang, kehidupan mengubah banyak hal, Gopal memperjuangkan kampus yang ia dirikan dengan uang Shukla-ji. Dan Raghav telah lulus dan siap bekerja. Sayangnya Raghav tidak ingin memanfaatkan gelar insinyurnya. Ia bahkan lebih memilih bekerja menjadi wartawan untuk mewujudkan cita-citanya melakukan revolusi di kota Varanasi. Skandal demi skandal korupsi dibongkar Raghav hingga Gopal dan Raghav harus berada di persimpangan jalan. Akankah cinta membuat keduanya menjadi dua lelaki yang saling bertikai?



***


                Revolution 2020 merupakan karya kedua yang saya baca dari Chetan Bhagat, penulis best seller India. Sebelumnya saya membaca Two States yang juga membahas tentang pendidikan dan cinta, tapi kali ini Revolution 2020 mengisahkan bagaimana pergulatan hidup antara cinta, korupsi dan ambisi membawa pelakunya menjadi pribadi yang berbeda. Raghav dengan perjuangan revolusinya, Gopal dengan masa lalunya yang kelam dan ambisi menjadi kaya, dan Aarti dengan kegalauan tentang cinta segitiga.

Setelah membaca novel ini dalam waktu 3 hari, saya tertegun membaca ending yang menggantung. Bisa dibilang Chetan tidak ingin melabelkan apakah Raghav adalah orang baik ataukah Gopal adalah orang jahat. Keduanya jadi terasa manusiawi ketika Chetan memberikan pemaparan yang detail pada alasan setiap tokoh melakukan tujuan hidupnya hingga membuat saya larut dalam kisah cinta berbalut intrik politik ini.  Seperti novel sebelumnya, novel ini juga kaya diksi, setting kota yang detail dan mampu membawa saya kembali ke masa kanak-kanak dan kadang terasa guyonan ala-ala Chetan yang romantis seperti di film 3 Idiots yang diadaptasi dari novelnya juga.

Apa yang saya bayangkan saat selesai membaca novel ini? Saya sempat bertanya-tanya pada diri sendiri. Apakah kisah ini nyata? Apakah tokoh-tokohnya benar-benar ada? Ataukah ini hanya rekaan dari seorang penulis saja? Chetan mampu membawa saya berkeliling Varanasi dan Kota, mengajak saya menyelami kisah hidup tokoh-tokohnya. 



Saya ikut sedih ketika Gopal kehilangan Baba. Saat juga ikut terluka saat Gopal teringat wajah Baba ketika ia bertemu lelaki tua bersama anak kecil di kantor Raghav. Saat Gopal jatuh cinta hingga mampu berlari 5 km hanya untuk mencari wartel untuk menelepon Aarti. Saat Gopal sedih dan terluka terhadap penolakan Aarti dan patah saat ia tak lolos ujian. Juga saat Aarti galau memilih cinta di antara dua pria yang ia sukai. Bahkan hingga Raghav yang terlihat menggebu-gebu dalam perjuangannya melawan pejabat korup di kota Varanasi. Perjuangan Raghav tak mudah, bahkan ia rela kantornya dihancurkan oleh mafia hingga komputer dan mesin cetaknya rusak parah. Korannya berhenti cetak karena dibredel paksa. Raghav hampir kehilangan masa depannya. Dua dialog ini mampu memaparkan bagaimana Revolution 2020 rancangan Raghav yang dia buat untuk Varanasi.

Varanasi nan suci (doc : https://imghtlak.mmtcdn.com)
“Revolution 2020. Itulah tujuannya. India harus mengalami revolusi total selambat-lambatnya tahun 2020. Kekuatan berada di tangan generasi muda. Kita akan melucuti sistem lawas yang korup dan menggantinya dengan yang baru. Anak-anak dari kota besar terlindungi dari buruknya sistem. Mereka kuliah di perguruan tinggi bagus, memperoleh kesempatan emas. Revolusi harus dimulai dari kota kecil.” (hlm. 287) 
“Kita semua harus mengerjakan bagian masing-masing. Untuk berubah, kita perlu revolusi. Revolusi sejati hanya mungkin terjadi ketika orang-orang bertanya kepada diri sendiri-apa pengorbananku?” (hlm. 384)

Revolution 2020 memberi saya pandangan baru bagaimana wajah India di mata seorang penulis India. Wajah India yang coreng moreng dengan korupsi yang merajalela di setiap lini kehidupan. Bahkan seorang sopir saja bisa bertindak korup karena ingin mengutip biaya kos yang besar. Wajah India yang suram karena terjadi kenaikan indeks pencemaran air di sungai Gangga yang suci, karena praktek pelarungan abu jenazah.

Bayangkan kalau gadis ini adalah Aarti. Cantik, (doc : Pinterest.com)
Varanasi, Ganges Which is actually the most sacred place in all of Hinduism, but they also drop people's ashes and even dead bodies into the river. (doc : pinterest.com)
para turis di ghat Varanasi (doc : Pinterest.com)
Saya membayangkan apakah Chetan benar-benar ingin mengubah sungai Gangga menjadi lebih bersih lewat wacana dalam novel ini? Bukankah ia juga orang India yang tentu saja tahu bahwa di India orang lazim melarungkan abu ke sungai Gangga karena itu bagian dari ritual keagamaan? Lalu bagaimana kalau tradisi itu dihilangkan? Apakah agamanya akan berganti? Bagaimana sistem pendidikan dan pemerintahan di India bisa berubah jika semua pejabatnya korup? Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengusik saya sepanjang membaca novel ini hingga tuntas.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bobroknya sistem pemerintahan India dan sistem pendidikan yang ada di sana. Sebegitu parahnya kah hingga tak ada yang tersisa dari kewarasan orang-orang? Saat melihat Raghav saya membayangkan apakah nanti Raghav juga akan tertelan sistem yang korup jika ia masuk dalam politik? Saya juga sempat tertegun saat melihat bagaimana rasanya melihat orang seperti Gopal yang harus menerima kenyataan hidup yang  tak adil.

Saya membayangkan Baba dan Gopal di wajah orang-orang ini

Di India orang baru bisa dibilang sukses jika ia lulusan IIT, menjadi insinyur, bekerja menjadi PNS. Ada banyak Gopal-Gopal lainnya yang akan berjibaku setiap tahun untuk menaklukkan sistem pendidikan di India, memulai kehidupan dengan perasaan was-was karena masa depannya sesuram nilai ujian. Bahkan saking suramnya bisa membuat depresi hingga bunuh diri, seperti yang terjadi pada orang yang ada di kos Gopal. Begitu pula bobroknya bisnis bimbel di Kota yang membuat saya ternganga. Memang ada ya yang seperti itu? Mencari siswa dengan menawarkan harga diskon yang unreasonal. Tak peduli apakah nanti si anak akan bisa lulus ujian atau tidak.

Indonesia sama seperti India. Saya melihat wajah India yang merupakan negara berkembang. India dan Indonesia sama-sama sedang berjuang menata pemerintahan dan sistem pendidikan di negerinya.  Dan apakah yang akan terjadi jika revolusi didengungkan dan menjadi kenyataan? Kita lihat nanti.

Ada dialog yang saya suka di novel ini, seperti :
“Tiada yang lebih menyayangimu daripada orangtuamu.” (hlm. 77)
“Kalau ingin jadi orang besar, aku harus  melakukan hal-hal besar.” (hlm. 188)
“Ketidaksabaran, sifat jelek pertama anak-anak muda.” (hlm. 201)
“Jatuh cinta itu menakjubkan. Perasaan yang bahkan lebih dahsyat daripada menemukan panggilan jiwa.” (hlm. 217)
“Jatuh cinta hanya terasa menakjubkan ketika pihak satunya lagi membalas cinta kita.” (hlm. 217)
“Aku mengkhawatirkan Raghav. Kuharap dia tidak gagal dalam hidup.” (hlm. 294)
“Kau sahabatku. Aku bisa menjadi diri sendiri saat bersamamu.” (hlm. 318)
“Bahkan, gadis yang sederhana membutuhkan cinta, jaminan keamanan, perhatian, dukungan, benar? Si gadis sederhana akan menikah suatu hari nanti. Dia harus tahu apakah suaminya mampu membangun rumah tangga bersamanya.” (hlm. 323)
“Tidak mudah menjadi perempuan. Kami merasa bersalah atas segala macam hal.” (hlm. 329)
“Saat kehidupan menamparku berkali-kali dan mengenyahkan kepolosan dari dirimu, aku pun membunuh Keshav-ku, sebab dunia tidak peduli pada manisnya sifatku. Kalau begitu, kenapa aku tidak memberi Raghav pukulan telak kemarin? Barangkali Keshav yang itu belum mati. Barangkali bagian yang polos dan baik dalam diri kita tidak pernah mati—kita semata menginjak-injaknya untuk sementara.” (hlm. 390)
“Terkadang dalam hidup ini yang penting bukanlah keinginan, melainkan keharusan.” (hlm. 390)
“Hidup mungkin takkan memberimu kesempatan yang sama dua kali.” (hlm. 420)

Novel ini sarat dengan intrik politik, ambisi, dan kisah cinta yang membawa para pembaca  masuk ke dalam hidup pelakunya. Overall, saya suka bagaimana Chetan Bhagat meriset novel ini dengan detail dan membuat kisahnya tak terasa membosankan. 4/5 bintang untuk novel ini.

Postingan ini diikutsertakan dalam Project Battle Challenge #31HariBerbagiBacaan 

4 comments:

  1. Hai Mbak Ila, lama gak maen, berasa laen ya, tampilan baru ya Mbak? *maafkeun lama gak berkunjung nih, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, mba Nurin. Hehe, iya, ganti template lama jadi lebih sederhana. Biar mudah diakses, mba. :D

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^