Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

29 November 2017

[Resensi Buku] Saga No Gabai Baachan - Yoshichi Shimada


Judul Buku : Saga No Gabai Baachan
(Nenek Hebat Dari Saga)
Penulis : Yoshichi Shimada
Penerbit : Pustaka Inspira
Terbit : Juli 2013
Tebal : 255 hlm.
ISBN : 978-602-97066-2-8

Rating : 4/5 bintang

Sinopsis :


Akihiro yang kehilangan ayahnya setelah Hiroshima dibom, terpaksa berpisah dari ibu untuk tinggal bersama neneknya di Saga. Meskipun keluarganya hidup prihatin, namun kehidupan di Saga satu peringkat lebih miskin. Tetapi sang nenek selalu punya ratusan akal untuk meneruskan kehidupan dan membesarkan cucunya.

Dengan ide-ide cemerlang sang nenek, kehidupan selalu mereka jalani penuh tawa. Sulit memang, tapi menarik dan mengasyikkan. Namun waktu terus berjalan dan tibalah hari ketika Akihiro harus mengambil keputusan. Dia harus memilih antara nenek dan Saga yang dia cintai atau mengejar mimpi-mimpinya.

Diterjemahkan langsung dari Bahasa Jepang oleh Indah S. Pratidina, buku ini akan membuat kita tersenyum, terenyuh, dan mungkin berpikir ulang tentang nilai-nilai kesederhanaan.

Dalam waktu kurang dari satu tahun, buku ini telah terjual 100.000 eksemplar di negeri asalnya. Kisah Nenek Hebat dari Saga begitu terkenal sehingga diadaptasi dalam bentuk film, layar lebar, game maupun manga.

Resensi Buku : 


“If you wanna be happy, be happy NOW.”

Prinsip hidup itu yang melekat pada karakter Nenek Osano, nenek dari seorang anak lelaki bernama Akihiro. Akihiro dikirimkan oleh ibunya ke rumah neneknya di Saga karena mereka miskin. Saking miskinnya, ia dijaga oleh induk semang setiap kali ibunya bekerja memenuhi kebutuhannya. Mereka tidak punya tempat tinggal yang layak, hanya sebuah kontrakan yang dibayar tiap bulannya.

Saat di kereta menuju Saga, Akihiro menangis atas sikap ibunya yang mendorongnya masuk ke dalam kereta. Padahal ia mengira bahwa ia hanya mengantar bibinya untuk pulang. Namun saat Akihiro sampai di Saga, ia harus cepat belajar beradaptasi dengan kehidupan miskin yang dijalani neneknya.

Akihiro tinggal di gubuk yang reot dan minim penerangan saat malam hari. Ia masuk ke dalam kehidupan miskin yang setingkat lebih rendah dari kehidupannya di Hiroshima dulu. Bagi penduduk Saga, Hiroshima merupakan kota metropolitan. Akihiro yang dulu memakai sepatu kulit bagus, beberapa waktu setelahnya ia harus memakai sandal  karena sepatu kulitnya cepat rusak.

Neneknya memiliki banyak pemikiran ajaib terkait dengan bagaimana cara mereka menjalani kehidupan mereka yang miskin. Kalau sejak dulu miskin, mereka hanya punya pilihan untuk menjadi miskin dengan cara yang lebih menyenangkan. Miskin yang ceria.

“Ada dua jalan buat orang miskin. Miskin muram dan miskin ceria. Kita ini miskin yang ceria. Selain itu karena bukan baru-baru ini saja menjadi miskin, jadi kita tidak perlu cemas. Tetaplah percaya diri. Keluarga kita memang turun-temurun miskin.”

Banyak barang yang tidak perlu mereka beli karena sudah tersedia di “supermarket” ajaib di depan rumah. Supermarket yang dimaksud bukan pasar swalayan yang sesungguhnya, melainkan sebuah sungai yang aliran airnya menghanyutkan beberapa barang, termasuk makanan persembahan di dalam perahu yang dilarungkan, sayur mayur, udang karang, ikan, bahkan sandal. Iya, sandal. :p 

Si nenek memiliki keyakinan bahwa jika ada orang yang kehilangan satu sandalnya, maka dalam 3 hari jika tidak ditemukan, akhirnya orang itu akan membuang bagian sandal satunya ke sungai. Jadilah mereka pun punya sepasang sandal yang sebenarnya masih bagus. xD Sungguh pemikiran pelit bin medit. Hahaha.

“Pelit itu payah, hemat itu jenius.”

Ada satu lagi ide nenek Osano yang membuat Akihiro terheran-heran. Pasalnya, si nenek selalu pergi kerja sambil mengenakan tali yang ujungnya ditempeli magnet. Jadi, jika magnet itu menempel pada sampah logam, maka pulangnya si nenek bisa menjual besi itu ke pengumpul besi. Uangnya bisa digunakan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Hebat ya pemikirannya. xD

“Sungguh sayang kalau kita sekadar berjalan. Padahal kalau kita berjalan sambil menarik magnet, lihat, begini menguntungkan.” 
“Menguntungkan?” 
“Kalau kita jual, sampah logam lumayan tinggi harganya. Benda yang jatuh pun kalau kita sia-siakan, bisa dapat tulah.”

Ada pemikiran sang nenek yang sungguh aneh. Karena ia bisa mendaur ulang barang sampai tidak bersisa. Misalnya : tulang ikan yang biasanya hanya dibuang, ia gunakan untuk sop.

“Terkadang, ada tulang yang sangat keras, yang tak mungkin aku kunyah. Ikan kembung rebus kecap asin pun, sehabis dimakan tulangnya akan dimasukkan  ke mangkuk lalu disiram air panas. Dengan begitu, kami pun mendapatkan pengganti sup. Tapi ide nenek tidak berakhir di sini. Tulang yang tersisa akan dijemur hingga kering, untuk kemudian dicacah halus dengan pisau hingga menyerupai bubuk, selanjutnya dijadikan pakan ayam. Selain tulang, kulit apel ataupun bagian sayur yang agak cacat pun, dijadikan pakan ayam.” (hlm. 71) 
“Benda yang didapat dari memungut sekalipun, belum tentu pantas dibuang.” (hlm. 71)

Ya jadi si nenek akan berusaha untuk mendaur ulang apapun yang ada di alam dan di sekitarnya. Ia tidak perlu mengeluarkan uang, justru alamlah yang memberinya segala hal.

Selain tentang idenya untuk berhemat demi memenuhi kebutuhan hidup, Nenek Osano juga sering memberi nasihat ajaib untuk Akihiro. Seperti saat ia ingin berolahraga namun tidak memiliki uang untuk beli baju dan peralatan olahraga. Maka sang nenek justru memberi saran agar Akihiro berlari saja. Hemat dan tidak perlu bayar. Ada lagi saat kejadian si nenek pengin beliin sepatu Spike termahal sampe eyel-eyelan sama penjualnya. Duh, bikin mewek tapi juga pengin ketawa. Wkkwk. Si nenek ada-ada aja. xD

Nah, ini adegan yang epic dari dialog dengan si nenek ajaib. ;))

“Nenek, aku tidak mengerti Bahasa Inggris.” 
“Kalau begitu, tulis saja ‘Saya orang Jepang’” 
“Aku juga tidak suka huruf kanji...” 
“Tulis saja ‘Aku hidup dengan Hiragana dan Katakana.” 
“Sejarah juga? Tulis ‘Saya tidak suka masa lalu!’”

Kehidupan Akihiro di sekolah berjalan lancar, ia menjadi kapten tim baseball seiring berjalannya waktu. Banyak kejadian lucu, menggelitik, dan terharu berhubungan dengan teman-temannya. Meski ia anak orang miskin, namun ikatan pertemanan mereka begitu erat. Mungkin karena prinsip hidup untuk saling menolong satu sama lain saat ada yang kesulitan membuat ia lebih dekat dan loyal dengan teman-teman lelakinya. Bahkan ada temannya yang rela membawakan mochi, kentang dan bawang bombay demi bisa memberi makanan lezat bagi sahabatnya, sampai dimarahi oleh guru karena tasnya penuh dengan bahan makanan.

“Dulu moci, sekarang kentang. Sebenarnya apa tujuanmu ke sekolah?” 
“Tokunaga-kun bilang dia belum pernah melihat kentang dan bawang bombay, Sensei, jadi saya bawakan.” 
“Kalau hanya ingin memperlihatkan, kau cukup membawa sebutir, bukan?” 
“Tokunaga-kun bilang dia mau melihat berbagai jenis kentang dan bawang bombay memang punya wajah yang berbeda-beda, bukan?”

Saat ada teman perempuan yang menyukainya, Akihiro malah tidak berpikir tentang konsep cinta saat remaja. Saking nggak sempetnya mikirin soal cinta-cintaan. Hahaha. Pantes aja dia lebih berfokus ke prestasi olahraganya dibanding mikirin perempuan yang naksir dirinya.

***

Anyway, buku ini berupa memoar yang dituliskan oleh Akihiro sendiri. Dituturkan dengan gaya bahasa anak-anak yang polos dan lucu, membuat saya ketawa setiap kali ada adegan ajaib antara si nenek dan Akihiro, juga betapa polosnya Akihiro menjadi anak-anak di zamannya. Saya jadi bisa belajar bagaimana kesederhaan mampu membuat hati kita bahagia.

Saat membaca buku ini saya diajak untuk menyelami lagi kehidupan masyarakat tanpa gadget, seperti di era tahun 90 an. Banyak anak lebih memilih bermain bersama temannya, menjalin pertemanan yang sesungguhnya. Jika dipikir-pikir saat itu pun kehidupan orang Indonesia masih banyak yang di bawah garis kemiskinan. Jadi kalau bisa makan dengan enak itu ya pasti anak orang kaya.

Tentang Akihiro dan neneknya yang punya sungai sebagai supermarket, saya jadi ingat sungai dekat rumah nenek saya yang airnya dulu masih jernih. Bahkan anak-anak sering main air di sungai dan mencari ikan-ikan kecil untuk dibawa pulang. Ya, miskin atau pun tidak, tergantung bagaimana cara kita menyederhanakan prinsip hidup. Menjalani kehidupan dengan lebih banyak bersyukur agar bahagia. Mengambil apa yang ada di alam, untuk kemudian mendaur ulang agar tidak merusaknya. 

Dan perihal persahabatan Akihiro dan Nenek dengan orang-orang di sekitarnya membuat saya paham bahwa orang baik ada di mana-mana. Meskipun miskin, tapi nenek memilih tidak meminta-minta. Ia mengusahakan hidup yang layak dengan tetap bekerja dan mengambil dari alam apa saja yang bisa didaur ulang. Bikin terharu deh. :’)

Bayangin aja sayur yang biasa kita buang karena busuk sedikit, buat mereka bisa dipotong yang busuk saja, sisanya yang masih bagus bisa dimasak. Saya kepikiran soal ini deh. Betapa banyak barang mubazir yang kadang suka dibuang hanya karena sudah tidak bisa dipakai. Padahal bagi orang lain yang membutuhkan barang itu berharga sekali.

Banyak kebaikan yang dialirkan pada nenek dan Akihiro lewat tangan orang-orang yang baik, bahkan seperti kebaikan yang diberikan tukang tahu. Saya jadi mewek bacanya pas tau apa yang dilakukan tukang tahu agar sang nenek bisa tetap beli dagangannya tersebut setiap hari.

Overall, 4 bintang untuk buku biografi ini. ;)


No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^