Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

1 February 2017

[Resensi Buku] Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam by Shabrina Ws


Judul Buku : Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam
Pengarang : Shabrina Ws
Penerbit : Quanta (Imprint BIP)
Terbit : 2013
Tebal : 175 hlm.
ISBN : 978-602-02-2389-6


Resensi Buku : 


Danum lahir dan besar di rumah betang (rumah adat di Kalimantan). Dia jatuh cinta pada dayung sejak pertama kali memilikinya. Bersama Dehen sahabatnya, mereka menyusuri sungai-sungai, beradu kecepatan.

Atlet nasional! Keliling dunia! Dan mengibarkan merah putih di negeri orang! Keinginan Dehen menular padanya. Tapi semua tak semudah yang dia bayangkan. Ketika Dehen telah sampai di Pelatnas, Danum harus menerima kenyataan berkali-kali gagal di tingkat daerah. Hingga ketika kesempatan itu datang, waktu justru mempertemukannya dengan berbagai pilihan. Tetap tinggal demi orang yang dicintainya, atau pergi demi cita-citanya?

Memelihara benci pada sosok yang telah meninggalkannya, atau memaafkannya dan mengambil ladang surga?

Menyimpan rapat perasaan yang telah mengendap di hatinya atau melihat sahabatnya terluka? Dia pernah berkali-kali gagal. Dia pernah berkali-kali kehilangan. Pada akhirnya waktu memberinya pelajaran, bahwa hidup sempurna bukan berarti semua berjalan sesuai keinginannya.

***

Novel Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam karya mba Shabrina Ws ini merupakan karya kesekian darinya yang saya baca. Sebelumnya ada novel Pelari Cilik yang bertema olahraga juga dan ada novel Always be in Your Heart yang bertema romantis. Kali ini novel ini seperti perpaduan kedua novel tersebut. Novel yang romantis dengan latar alam, juga olahraga dipadukan menjadi satu kesatuan.

Tak disangka novel ini membuat saya jatuh cinta dengan karakter Dehen dan Danum. Juga tidak membenci Sallie, meski sebenarnya ia bisa saja dijadikan orang ketiga *eh. Untung mba Shabrina membuat karakter Sallie tetap baik sepanjang cerita. Jadi nggak ada deh drama yang gimana gitu. Hehe. Apalagi mereka kan sama-sama satu tim. Nggak kebayang ending pertandingan kalau ada drama di timnya. :D

Danum, Sallie, dan Dehen sama-sama atlet di pelatnas. Sebelum masuk ke pelatnas, Danum dan Sallie sama-sama ada di Pelatda untuk latihan hingga akhirnya mereka berhasil mendapatkan medali emas pertama yang mereka perjuangkan bersama sebagai tim. Sallie yang unggul di 250 k kedua, dan Danum yang gesit di 250 k pertama membuat saya seperti melihat atlet dayung berlaga. Terbayang hanya sebentar mereka bertanding tapi latihannya berat dan dilakukan berbulan-bulan lamanya. Kalau Dehen memang sudah menjadi atlet pelatnas lebih dulu dan menjadi unggulan karena sering mendapatkan medali emas untuk pertandingan yang diikutinya.

Ada tokoh lain juga yang membuat saya suka dengan novel ini Karakter Kai (kakek Danum) dan Arba (kakak Danum) yang setia menjalani hidup di rumah Betang. Awalnya saya mengira betang hanya bisa ditempati oleh satu keluarga saja. Tapi melihat penjabarannya saya jadi paham bahwa rumah ini bisa diisi oleh beberapa keluarga sekaligus. Juga di rumah Betang, Kai sengaja membuat tempat khusus untuk mandi. Karena dulu biasanya orang-orang mandi di sungai, tapi sejak Danum remaja Kai membuatkan tempat mandi khusus.

Kai yang bijak dengan petuah-petuahnya membuat saya kagum. Rasanya seperti memiliki kakek lagi. Hehe. Arba yang bawel tapi jenius. Ya, pas awal baca novel ini saya kira dia itu cewek. Hahaha. Ternyata cowok ya. Soalnya dia yang mengurus rumah betang, memasak, bercocok tanam lalu menjual hasil kerajinan lewat online. Cowok bisa masak? Keren amat. Wekeke. :P

Kalau melihat masa lalu Arba saya mungkin akan tak percaya orang sepertinya bisa berubah drastis. Mengingat Arba tumbuh besar dengan ikut ayahnya yang menjadi pencuri kayu. Rasanya kok saya jadi bertanya-tanya darimana dia bisa mendapatkan pengetahuan tentang banyak hal ya? Meski ada internet sih. Tapi pengetahuan Arba pesat sekali untuk ukuran anak daerah. Bahkan bisa berjualan dengan online di pedalaman Kalimantan. Amazing. :D Tapi Arba menjadi sosok idaman yang luar biasa bagi Danum.

Kisah cinta dan kekeluargaan dalam novel Betang ini tidak banyak unsur kejutannya, tapi kisah cintanya manis banget. Dan buat yang suka dengan karakter Danum, pasti makin suka juga dengan olahraga dayung yang diusung oleh novel ini. Karena novel ini tak sekadar membahas perihal impian Danum untuk menjadi atlet nasional namun juga mengandung unsur islami. Jadi ada beberapa bagian yang diselipkan tentang kebiasaan penghuni rumah Betang. Seperti Kai yang suka shalat tahajud dan mendoakan keberhasilan cucunya, juga Arba yang menasihati untuk tidak jatuh cinta sebelum waktunya. Seru kisahnya, dan maniiis. Quotenya juga keren.

“Tak masalah duduk di haluan atau di buritan, asal kau, tetap menggerakkan dayungmu.” 
“Kita harus menghargai Tatu Hiang, leluhur kita. Bukan sekadar mengingat tapi melakukan apa yang bisa kita lakukan. Bukan sekadar memanfaatkan, tapi juga mengganti apa yang kita ambil dari alam.” (hlm. 28) 
“Kalah itu perlu, agar kau tahu dunia bukan milikmu.” (hlm. 52)

Well ya, saya suka dengan novel ini dan merasakan aroma tanah Borneo yang indah. Melihat dayung diayunkan di sungai, berburu buah ulin, dan melihat pengembangbiakannya di hutan Kalimantan. Bisa mengetahui budaya dan kehidupan orang Dayak di rumah Betang seperti apa rasanya lewat novel ini. Semoga saya bisa singgah ke sana suatu saat nanti. Melihat anggrek hitam, anggrek mutiara, kayu ulin dan mencicipi kuliner khas Dayak yang lezat. Overall, 4 bintang untuk novel ini. :D


1 comment:

  1. Nama tokohnya unik ya kak. Tema yang berkaitan dengan alam itu bikin seger..

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^