9 October 2021

Resensi Buku Funiculi Funicula (Before The Coffee Gets Cold) by Toshikazu Kawaguchi

 

Ebook funiculi funicula


Judul  Buku : Funiculi Funicula

Judul Asli : Kohii No Samenai Uchi Ni (Before The Coffee Gets Cold)

Pengarang : Toshikazu Kawaguchi

Alih Bahasa : Dania Sakti

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Terbit : Cetakan kedua, Mei 2021

Tebal : 224 halaman

ISBN : 9786020651927

Genre : Novel Fantasi - Jepang

Rating : 4/5 bintang

Harga Buku : Rp 70.000

Baca via Gramedia Digital

 

Sinopsis Buku Funiculi Funicula - Toshikazu Kawaguchi :

 

Di sebuah gang kecil di Tokyo, ada kafe tua yang bisa membawa pengunjungnya menjelajah waktu. Keajaiban kafe itu menarik seorang wanita yang ingin memutar waktu untuk berbaikan dengan kekasihnya, seorang perawat yang ingin membaca surat yang tak sempat diberikan suaminya yang sakit, seorang kakak yang ingin menemui adiknya untuk terakhir kali, dan seorang ibu yang ingin bertemu dengan anak yang mungkin takkan pernah dikenalnya. Namun, ada banyak peraturan yang harus diingat.

Satu, mereka harus tetap duduk di kursi yang telah ditentukan. Dus, apa pun yang mereka lakukan di masa yang didatangi takkan mengubah kenyataan di masa kini. Tiga, mereka harus menghabiskan kopi khusus yang disajikan sebelum kopi itu dingin.

Rentetan peraturan lainnya tak menghentikan orang-orang itu untuk menjelajahi waktu. Akan tetapi, jika kepergian mereka tak mengubah satu hal pun di masa kini, layakkah semua itu dijalani?

 

Resensi Buku Funiculi Funicula - Toshikazu Kawaguchi :

 

Sebuah cafe kecil di bawah tanah kota Tokyo telah menggemparkan dengan berita urban legend yang bikin horor sekaligus penasaran. Pasalnya, orang yang datang ke cafe itu bisa mengunjungi masa lalu maupun masa depan untuk bertemu orang yang mereka inginkan.

Meskipun begitu banyak peraturan yang harus dijalani, bahkan bisa membahayakan nyawa mereka. Namun, rasa penasaran telah membuat orang berani untuk duduk di kursi istimewa cafe itu, demi kembali ke masa lalu sebelum kopi yang disajikan berubah menjadi dingin.

 

“Kau bilang kenyataan tidak akan berubah, kan?”

“Ya, betul.”

“Lalu, selanjutnya bagaimana?”

“Maksudmu?”

“Setelah ini... apa yang akan terjadi di masa depan?”

“Masa depan belum tiba, jadi, semua tergantung padamu.”

 

Ada 4 bagian dalam novel Funiculi Funicula ini yang dibagi berdasarkan kisah setiap tokohnya. Siapa saja tokohnya? Simak ya!

 

Di kisah pertama, ada Fumiko dan Goro yang saling jatuh cinta tapi tidak kunjung menikah. Mereka berpisah di cafe Funiculi Funicula itu saat Goro memutuskan untuk pergi ke Amerika selama 3 tahun. Fumiko penasaran apakah ia akan bertemu Goro lagi di cafe itu jika ia kembali ke masa lalu. Lalu, apa yang akan ia katakan pada Goro tentang keinginannya agar Goro tetap tinggal di sisinya?

 

Bagian kedua adalah tentang Fusagi dan Kotake yang saling jatuh cinta dan sering menghabiskan waktu mereka di cafe itu. Namun, karena penyakit Alzeimer yang dialami oleh Fusagi, ia jadi kehilangan ingatan tentang Kotake, istrinya.  Itu sebabnya, Kotake ingin kembali ke masa lalu untuk bertemu dengan Fusagi agar ia bisa mendapat surat yang selalu dipegang oleh Fusagi. Ia ingin membaca surat yang dituliskan oleh lelaki yang dicintainya. Apakah surat itu sangat berharga, dan kenyataan di masa depan bisa berubah?

 

Bagian ketiga adalah saat Hirai ingin bertemu dengan Kumi, adik perempuannya yang sering datang ke cafe demi bisa membujuk kakaknya untuk pulang ke rumah. Hirai telah pergi dari rumahnya sejak 13 tahun lalu. Hampir setiap bulan Kumi datang ke cafe itu untuk mencari Hirai, namun Hirai selalu menghindar. Namun, suatu hari usai pulang dari cafe itu, Kumi meninggal karena kecelakaan mobil. Inilah yang membuat Hirai menyesal karena tak punya banyak waktu untuk berbincang dengan adiknya.  Hirai ingin bertemu dengan Kumi, meskipun sebentar saja. Seperti yang disebutkan oleh Kazu dan Nagare, sebelum kopi yang disajikan dingin, Hirai harus segera kembali ke masa depan.

 

Bagian keempat adalah tentang Kei, istri Nagare, pemilik cafe Funiculi Funicula itu yang ingin bertemu dengan anaknya di masa depan. Kehidupan Kei sangat complicated karena ia sejak kecil sering sakit-sakitan akibat jantungnya yang lemah. Sejak bertemu dengan Nagare di rumah sakit, Kei jatuh cinta dengan Nagare. Mereka pun menikah. Namun, saat Kei sedang hamil muda, ia harus memilih antara menyelamatkan bayinya ataukah menggugurkannya karena kehamilannya sangat berisiko. Inilah yang membuat Kei penasaran ingin datang ke masa depan, di mana ia bisa bertemu dengan anak yang tak akan pernah ia temui karena ia keburu meninggal saat melahirkannya. Lalu, apa yang ingin Kei katakan pada anaknya?

 

Akankah kehidupan mereka yang pernah duduk di kursi istimewa cafe itu akan berubah setelah kembali memutar waktu? Ataukah mereka akan terjebak pada kenyataan pahit yang harus dijalaninya? Buat yang penasaran baca saja novel Funiculi Funicula ini ya!

 

***

 

Menurut Saya :


Awal saya baca novel Jepang berjudul Funiculi Funicula karya Toshikazu Kawaguchi ini karena penasaran dengan covernya yang cantik banget. Plus sinopsisnya juga bikin penasaran sih. Jadi, saya pun beli buku fisiknya. Baru baca di bab awal, saya agak kurang tertarik karena alur novelnya sangat lambat. Bahkan nggak kelihatan sebenarnya apa yang akan terjadi dengan para tokohnya karena di awal novel penulis lebih fokus pada pengenalan tokoh.

 

Saking banyaknya tokoh saya jadi bingung, ini tokoh yang mana, tujuannya apa, trus hubungannya apa. Karena di awal novel penulis mengisahkan scene di cafe itu ya seperti kalau kita ke cafe. Cafenya penuh dengan orang, pelayannya sibuk ini itu, dan sepertinya waktu yang diberikan sangat sedikit.

 

Urban legend yang dikisahkan di awal novel justru bikin saya bertanya-tanya, ini apa menariknya ya? Kan kalau kita kembali ke masa lalu atau masa depan, kenyataan tetap tak akan berubah? Tapi kok masih ada orang yang mau menunggu si hantu yang duduk di kursi istimewa untuk pergi ke toilet. Di saat itulah kursi itu kosong dan bisa ditempati oleh orang yang ingin kembali ke masa lalu dan masa depan.

 

Urban legend ini tuh kayak bikin penasaran. Kenapa kok orang mau memutar waktu ke masa lalu meskipun nggak akan mengubah apapun. Ya gimana mau berubah ya, karena waktu yang dikasih aja sangat sedikit. Kalau saya bayangkan sekitar 10-15 menit saja sebelum kopinya dingin.

 

Selama waktu yang singkat itu apa yang bisa diubah oleh seseorang? Bahkan saking shocknya, orang itu belum tentu bisa mengingat bahwa ia harus kembali ke masa kini. Jadi, gimana dong? Apakah kembali ke masa lalu akan se-worth-it itu?

 

Inilah yang bikin saya masih berusaha menamatkan novelnya. Saya baca dialog demi dialog para tokohnya yang menggambarkan kegelisahan mereka. Sebagaimana novel Jepang pada umumnya, novel Funiculi Funicula ini nggak akan bisa dimengerti hanya dengan sekali baca saja. Jadi harus baca sambil dipikir. Hehe. Bahkan novel ini saya cicil sampe 3 kali saking lamanya. Wkwk.

 

Nah... jadi dulu saya baca novel fisiknya pertama kali dan berhenti di bab awal. Trus lanjut nonton filmnya, trus berhenti juga. Nggak sampe selesai, baru sepertiga film deh. Lalu, akhirnya saya lanjut baca ebook novel Funiculi Funicula ini di aplikasi Gramedia Digital. Setelah 3 bagian selesai, saya baru melanjutkan baca pakai buku fisiknya lagi. Ribet ya? Wkwk. Begitulah. :p

 

Novel Funiculi Funicula ini sebenernya idenya ringan. Tapi penyampaiannya yang nggak seringan itu. Huhu. Jadi, ide utamanya tentang kembali ke masa lalu dan masa depan meskipun kenyataan tidak akan berubah.

 

Yang bikin unik tentu saja aturan seperti :

1.       Kursi istimewa itu diduduki hantu perempuan yang tidak boleh diusik sama sekali.

2.       Hantu itu akan terus duduk dan membaca buku hingga mengabiskan kopinya. Saat ia ingin ke toilet, itulah waktu yang digunakan orang lain untuk kembali ke masa lalu.

3.       Orang lain boleh duduk di kursi istimewa untuk kembali ke masa lalu atau masa depan. Pokoknya selama kopi yang disajikan Kazu belum dingin. Kalau sudah dingin, si hantu bakal balik ke kursi itu dan akan menyuruh orang untuk berdiri dari kursinya.

4.       Minum kopi sebelum kopinya dingin, jika tidak kau akan terjebak dalam pusaran waktu dan akan menjadi hantu

5.       Jika hantu itu dipaksa untuk pergi dari kursinya, maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Pokoknya mengerikan deh

6.       Nah, kalau sudah kembali ke masa lalu atau masa depan, nggak akan ada yang bisa berubah. Jadi kayak cuma ketemu bentar doang sama orang yang ingin ditemui.


Meskipun aturannya sangat ribet, tapi toh ya masih banyak orang yang putus asa dan ingin kembali ke masa lalu.

 

Di antara segala keunikan kisah urban legend cafe ini, saya sebenarnya penasaran dengan kisah hantu itu, tapi sayangnya nggak dikisahkan dengan detail. Atau saya yang kelewat ya. Hehe.

 

Oiya, ada lagi sih, yang bikin saya tak habis mengerti adalah kenapa orang yang membayangkan waktunya bisa salah waktu. Seperti yang dilakukan oleh Kei. Kei ini nyasar di waktu yang salah. Dia pengin datang ke waktu di mana 10 tahun ke depan pukul 15 sore. Tapi malah datang di waktu 15 tahun ke depan pukul 10 pagi. Jadi kayaknya tergantung pikiran orang yang duduk di kursi itu.

 

Ada juga kisah Kotake dan Fusagi yang bikin saya nangis. Ini tuh kisah cinta yang bikin terharu karena kehidupan keduanya berubah saat Fusagi sakit. Jadi, Fusagi bikin surat ini buat istrinya, sayangnya dia nggak berani ngasih. Setelah Kotake kembali ke masa lalu, ia baru bisa membaca surat dari suaminya.

 

Kisah Fusagi ini ribet juga, hehe. Jadi karena Fusagi nggak bisa baca tulis, selama berkenalan lewat surat dengan Kotake, dia cuma bisa baca beberapa kata aja yang ditulis sama Kotake. Huwaaa, gimana ga mewek ya. 😭

 

“Kau perawat, jadi mungkin kau telah lebih dulu menyadari bahwa aku mengidap penyakit yang akan membuatku melupakan semua hal. Karena itu, apapun yang mungkin akan kukatakan atau kulakukan, kau akan tetap tenang menghadapiku layaknya seorang perawat, bahkan saat aku tidak bisa mengingat dirimu sekalipun. 

Tetapi, aku ingin kau selalu ingat satu hal. Kita suami-istri. Jika di kemudian hari kau merasa hidup sebagai istriku terlalu berat, aku ingin kau meninggalkanku. Kau tidak perlu tetap berada di sisiku sebagai perawat.

Jika kau beranggapan aku bukan lagi suami yang baik, akan kurelakan kau pergi. Yang kuminta hanya kau melakukan semua yang mampu kau lakukan sebagai istriku. Karena bagaimana pun, kita suami-istri. Meskipun ingatanku hilang, aku ingin kita hidup bersama sebagai pasangan. Aku tak ingin kita tetap bersama hanya karena simpati.

Aku tidak akan sanggup mengatakannya secara langsung kepadamu, karena itu aku menulis surat ini.” (bagian 2, halaman 110)

 

Nah, setelah baca surat ini saya jadi paham. Oalaaaah, Fusagi sama Kotake ini suami istri tapi komunikasinya agak ribet. Trus juga beberapa kali saya baca nama Fusagi kirain siapa. Ternyata Fusagi ini nama keluarga suami. Jadi, kalau di Jepang itu istri bakalan ganti nama dengan nama suaminya setelah mereka menikah. Sejak Fusagi hilang ingatan, praktis pemakaian nama ini bikin rancu dong. Kenapa kok manggil Kotake sebagai Fusagi, padahal ingetnya nggak ada hubungan suami istri. Nah lho, puyeng kan? Wkwk. Jadi sejak itu dipakailah nama gadisnya saja, yaitu Kotake, bukan Nyonya Fusagi lagi.

 

Bahkan yang bikin sedih itu waktu Kotake melihat catatan Fusagi yang menandai tempat-tempat yang mereka kunjungi. Ternyata, itu adalah bentuk perlawanan Fusagi agar tidak melupakan Kotake.

 

Penulis novel funiculi funicula
Toshikazu Kawaguchi - penulis novel Funiculi Funicula yang difilmkan tahun 2018



KōhΔ« Ga Samenai Uchi Ni (γ‚³γƒΌγƒ’γƒΌγŒε†·γ‚γͺいうけに) atau Before the Coffee Gets Cold menjadi buku debut Kawaguchi dan sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Hal ini juga membawanya menjadi penulis buku terlaris Internasional pada tahun 2019. Kesuksesan dari 4 cerita keajaiban yang menghangatkan hati di coffee shop ini juga menghasilkan film adaptasi yang berjudul sama pada tahun 2018.


Overall, novel Funiculi Funicula ini bagus dan menarik. 4 bintang untuk novel jepang ini.

 

Nah, kalau kamu gimana? Berminat untuk kembali ke masa lalu? Atau malah ingin mengintip masa depan di ujung pelangi? :D


Quotes Favorit Buku Funiculi Funicula :

 

“Kembali ke masa lalu tidak akan mengubah kenyataan dan pergi ke masa depan hanyalah kesia-siaan.” (hlm 177)

 

“Kekuatan hati cukup bagi seseorang untuk melewati kenyataan yang dihadapinya, sepahit apa pun kenyataan itu. Meskipun tak bisa mengubah kenyataan, asalkan masih ada hati yang tergerak untuk berubah, selama itu pula kursi tersebut istimewa.” (hlm. 223)

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^