Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

9 February 2017

[Resensi Buku] The Return of The Young Prince - A.G. Roemmers


Judul Buku : The Return of The Young Prince
Pengarang : A.G. Roemmers
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : 2017
Tebal : 160 hlm.
ISBN : 978-602-03-3807-1


Blurb :

Perilaku Pangeran Muda yang begitu menyentuh perasaan, tergambarkan secara rinci dalam buku ini. Ia membawa kita agar tidak terseret dalam beban masalah. Mengajarkan kita untuk tidak menjadi orang dewasa yang terlalu serius. Melatih kita agar memberikan cinta kasih lebih kepada binatang daripada mobil. Menunjukkan jalan agar kita tidak menggelayuti masa lalu atau masa depan.

Bercerita tentang seorang muda yang menjalani kehidupannya dengan kepolosan, buku ini memberikan gambaran nilai-nilai yang patut kita renungkan. Nilai-nilai yang bahkan sudah ditinggalkan oleh banyak orang dewasa, seperti cinta kasih, kesederhanaan dan kesabaran.

Resensi Buku :


Novel The Return of The Young Prince diawali penuturan A.G. Moemmers yang membahas tentang buku Le Petit Prince karya Antoine de Saint-Exupery di kata pengantar. Ia mengatakan ingin menghadirkan kembali sosok sang pangeran kecil yang polos dalam bukunya dalam format yang lebih remaja. Bagaimana seandainya sang pangeran tetap tinggal di dunia dan apakah kemurnian dirinya tentang hal-hal baik di dunia ini akan tetap ada? Novel ini menggelitik benak saya saat sadar bahwa naskah ini akan memancing rasa penasaran dan perenungan apa makna di balik setiap kisahnya.

Alkisah, aku, seorang pengemudi mobil sampai di sebuah tempat bernama Perugia. Ia menemukan seorang anak lelaki remaja yang berpakaian aneh jatuh tertidur di jalanan dengan pakaian khas pangeran plus jubah biru. Ia pun berinisiatif untuk membawanya ke mobil hingga anak remaja tersebut siuman. Ternyata anak itu adalah seorang pangeran muda yang sendirian di dunia ini. Ia mengisahkan bahwa dirinya kehilangan temannya, sang penerbang, juga teman-temannya seperti rumput, bunga, dan bintang-bintang. Semua yang ia ceritakan terdengar aneh dan membuat lelaki dalam mobil itu bertanya-tanya, apa yang terjadi pada anak ini. Mengapa ia ada di jalanan?

Dalam perjalanan mereka, sang pangeran menanyakan beberapa hal yang ganjil seperti apa itu masalah? Mengapa orang dewasa selalu bersikap serius? Bagaimana agar orang dewasa tidak terlalu serius? Dan banyak hal lain yang ia tanyakan. Pertanyaan memancing pertanyaan berikutnya yang terkesan filosofis sekali.

Bahasanya agak sulit dicerna, saya harus membacanya perlahan agar tidak menghilangkan unsur paling pentingnya yaitu proses memahami hal-hal yang terjadi. Jadi saya tak bisa menskip percakapan di bab-bab awal untuk bisa segera melompat ke bab lain. Saya biarkan diri saya memaknai apa yang ingin disampaikan sang penulis. Dan ya, menurut saya penulis mampu untuk menghadirkan pemahaman baru tentang kehidupan, tentang mengapa ada kebencian, kurang toleransi, solidaritas, sudut pandang dunia yang materialistis, dan faktor negatif dalam perilaku manusia.

Misalnya dalam percakapan ini :

“Bagaimana caraku tumbuh dewasa tanpa menjadi orang yang serius?” 
“Beberapa orang akhirnya meninggalkan mimpi-mimpi mereka yang berharga, dan menambatkan diri pada kemapanan palsu dari pemikiran-pemikiran rasional. Mereka menjadi orang-orang yang serius, dan memuja angka-angka dan rutinitas karena merasa di sanalah sumber kemapanan. Tapi karena memang tak ada apa pun yang sepenuhnya mapan, mereka tak pernah benar-benar merasa bahagia. Mereka mulai mengumpulkan bermacam-macam kepemilikan karena selalu merasa kekurangan sesuatu. ‘Memiliki’ tidak membuat mereka bahagia – karena itu menghentikan mereka dari merasa ‘ada’. Mereka terlalu memusatkan perhatian pada sarana-sarana sehingga lupa dengan tujuan akhir.” (hlm. 79)

Jawaban filosofis ini membuat saya terhenyak. Menyadari bahwa kenyataannya ada banyak orang yang memang lupa untuk bahagia. Karena menyandarkan diri pada pencapaian apapun, termasuk kepemilikan harta. Sehingga lupa bahwa sebenarnya merasa cukup adalah lebih baik. Dibanding mendambakan banyak hal namun merasa selalu kurang.

Ada juga manusia yang terlalu mengejar hal-hal yang harus ia miliki di masa depan hingga lupa untuk merasakan kehidupan itu sendiri di masa kini. Sungguh ironi karena membuatnya selalu memuja angka-angka dan target hidup hingga lupa untuk hidup yang sesungguhnya.

Dalam perjalanan mereka yang hanya tiga hari, sang tokoh aku bisa mendapatkan pelajaran yang bermakna tentang kehidupan dari sosok lugu sang Pangeran Muda. Ia mulai memahami mengapa dunia diisi oleh orang-orang dewasa yang terlalu serius, mengapa hidup dipenuhi dengan materialistis. 

Seperti saat sang tokoh aku bertemu dengan pemilik seekor anjing yang anjingnya ia tabrak. Orang tersebut ingin ia beri uang agar masalah cepat selesai. Padahal jika hal tersebut terjadi, maka kemanusiaan akan hilang. Tak ada lagi orang yang akan peduli pada hewan yang tertabrak dan bahkan tega meninggalkannya begitu saja di tengah jalan dalam kondisi sekarat. Tapi orang itu malah memberi Pangeran Muda seekor anak anjing yang diberi nama Sayap. Anak anjing itu yang akan menjadi teman perjalanan mereka berikutnya.

Ada juga saat si Sayap ditinggalkan begitu saja oleh orang yang dititipi untuk merawatnya di tengah hutan. Ya, lagi-lagi pertanyaan tentang hidup menemukan muaranya. Munculnya rasa benci dan prasangka yang bersemayam jika tanpa mengkonfirmasi ulang kejadiannya akan membuat sebuah pertengkaran. Prasangka mengalahkan logika, yang diawali dari sebuah rasa benci karena melihat sikap yang ditunjukkan pertama kali oleh si kepala keluarga yang dititipi si Sayap.  

“Kebahagiaan sebenarnya bukanlah tujuan akhir, seperti stasiun kereta api dalam sebuah perjalanan. Kebahagiaan bukan perasaan yang pasif. Justru sebaliknya, kebahagiaan membutuhkan perhatian dan usaha setiap hari.” (hlm.133) 
“Jalan paling singkat dan langsung menuju kebahagiaan adalah membuat orang lain di sekitar kita bahagia.” (hlm. 135) 
“Banyak orang yang mengkhawatirkan akhir hidup mereka. Padahal akan lebih baik apabila mereka khawatir tentang memberikan awal yang baik bagi hidup mereka, dan memastikan agar hidup mereka menghasilkan buah.” (hlm. 138) 
“Menjadi terkenal atau kaya tidak berarti apa-apa apabila tidak digunakan untuk melayani orang lain.” (hlm. 138)
Menurut saya novel The Return of The Young Prince ini agak berat, meski jumlah halamannya sedikit. Tapi setiap kalimat dari sang tokoh aku harus dipahami lebih mendalam. Bagi yang ingin menemukan makna hidup yang sebenarnya, tentang mengapa ada kebencian, kurang toleransi, solidaritas, sudut pandang dunia yang materialistis, dan faktor negatif dalam perilaku manusia buku ini bisa dijadikan pilihan bacaan untuk menemani harimu. Overall, 4 bintang untuk novel ini.

1 comment:

  1. Wah! Pas sekali aku menemukan review buku ini di blog Rizky. Beberapa hari lalu aku melihat buku ini di Paper Clip dan penasaran banget sama isinya. Ternyata beneran masih ada hubungannya sama le petit prince ya. Dan ya memang gak heran kalau isinya filosofis karena Le Petit Prince sendiri memang adalah buku yang begitu filosofis.

    Buku ini juga bisa dibilang cukup sukses untuk ukuran seorang penulis Argentina dan sudah diterjemahkan ke dalam sedikitnya 15 bahasa. Dengan ini, aku positif akan memasukkan Return of Young Prince ini ke dalam book wishlist-ku.

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^