Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

11 December 2017

[Resensi Buku] Remember When by Winna Efendi


Judul Buku : Remember When
Pengarang : Winna Efendi
Penerbit : Gagas Media
Terbit : Cetakan ketujuh, 2012
Tebal : 252 hlm
ISBN : 979-780-487-9
Rating : 3/5 bintang

Blurb :


Apa pun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya.

Bagi kita, senja selalu sempurna, bukankah sia-sia jika menggenapkan warnanya? Seperti kisahmu, kau dan dia, juga kisahku, aku dan lelakiku. Tak ada bagian yang perlu kita ubah. Tak ada sela yang harus kita isi. Bukankah takdir kita sudah jelas?

Lalu, saat kau berkata,”Aku mencintaimu” aku merasa senja tak lagi membawa cerita bahagia. Mungkinkah kata-katamu itu ambigu? Atau, aku saja yang menganggapnya terlalu satu?

“Aku mencintaimu,” katamu. Mengertikah kau apa artinya? Mengertikah kau kalau kita tak pernah bisa berada dalam cerita yang sama, dengan senja yang sewarna?

Takdir kita sudah jels. Kau, aku, tahu itu.

Resensi Buku :


Moses, Adrian, Gia dan Freya, keempat anak remaja itu menjalani lika-liku masa sekolah dengan penuh dinamika. Moses dan Freya yang jatuh cinta karena sama-sama menyukai sains dan segala hal berbau akademik, sedangkan Adrian dan Gia saling jatuh cinta karena mereka berteman di klub basket.

Di hari pernyataan cinta, Moses dan Adrian bertaruh siapa yang ditolak harus lari keliling lapangan sepuluh kali sambil meneriakkan nama cewek yang mereka suka. Sialnya, meski keduanya diterima, mereka tetap melakukan hal gila itu di depan siswa-siswa lainnya. Teriak sambil lari-lari geje di lapangan. Sungguh hal absurd di masa putih abu-abu. xD

Tak ada masalah rumit yang terjadi. Kehidupan berjalan sebagaimana mestinya hingga semuanya terasa nyaman dan menyenangkan. Moses dan Freya yang terus melaju di bidang akademik, bahkan sudah mempersiapkan untuk proses seleksi di universitas pilihan, sedangkan Gia dan Adrian masih tetap aktif di klub basket.

Namun, sebuah pertemuan tak sengaja yang terjadi antara Adrian dan Freya mengubah segalanya. Freya yang biasanya hanya menjadi anak baik-baik di mata Moses, kini mau berkisah hal-hal lain di luar kebiasaannya pada Adrian. Hingga label anak cupu pun lepas dari pikiran Adrian tentang cewek ini. Cewek yang ternyata bisa bercerita banyak hal-hal unik yang tidak akan ia kisahkan pada orang lain. Cewek yang diam-diam membuat Adrian jatuh cinta pada caranya berkisah dan menjalani hidup.
 
Hingga suatu hari, mama Adrian meninggal dalam kecelakaan tragis yang membuat Freya pun turun tangan untuk membantu menenangkan Adrian yang sedang berduka. Tak ada kesedihan di mata Adrian, yang ada hanya hampa karena kematian mendadak yang menyisakan luka mendalam. Herannya, Adrian tidak bisa bercerita sebagaimana ia berkisah pada Freya tentang perasaan sedihnya ditinggal sang mama. Ia menganggap Gia hanya mengasihaninya karena duka mendalam akibat kehilangan sosok penting dalam hidupnya.

Lalu, sebuah pengakuan pun meluncur dari mulut Gia. Yang membuat persahabatan keempatnya menjadi di ambang perpecahan. Akankah semuanya kembali seperti semula? Bagaimanakhir persahabatan mereka? Baca aja di buku ini ya!

***

Novel Remember When ini merupakan karya ketiga yang saya baca dari Winna Efendi.  Novel ini bertema remaja metropolitan banget ya. Pergaulannya pun ya khas anak-anak Jakarta. Masalah yang timbul pun nggak hanya sekadar pacaran trus putus blablabla, tapi ada masalah berat yang dimunculkan. Sebenernya saya nggak sreg dengan kemunculan masalah yang dialami Gia ini. Sungguh bikin ilfill pas bacanya. Kenapa Winna mengangkat masalah ini ke permukaan? Entahlah. Padahal masih banyak masalah remaja yang bisa digali lebih dalam, dibanding masalah Gia ini.

Novel Remember When mengisahkan masa-masa putih abu-abu yang tak terlupakan. Kalau diliat secara detail, terasa sekali bahwa Winna memasukkan pengalaman pribadinya ke dalam novel ini. Seberapa banyak unsur personalnya, entahlah ya. Tapi saya ngerasa hal itu memang lebih personal, juga memang Winna sendiri yang menyebutkan dalam pengantar novel ini.

Ada masa-masa yang memenuhi memori dan akan kita ingat selamanya. Itu sebabnya Winna menyebutkan bahwa masalah dalam novel ini berisi kenangan yang akan diingat sepanjang hidup para tokohnya. Masa persahabatan putih abu-abu, masa pencarian jati diri, masa jatuh cinta pertama kali saat SMA, lalu berantem ngerebutin pacar, mewujudkan mimpi, kehilangan orang yang dicintai, dll.

Masa muda saat SMA akan terasa membekas di hati karena kisah tersebut terjadi saat masa transisi dari anak-anak ke orang dewasa. Masa remaja yang masih labil dan mencari jati diri dengan melakukan hal-hal konyol dan gila. Saya suka bagian Freya bertumbuh di tengah keterbatasan saat ia harus tetap berprestasi meski ia sudah bukan lagi anak orang kaya. Freya yang sangat kuat menghadapi ujian hidup, bahkan harus belajar menerima orang baru sebagai pengganti ibunya.

Ada juga bagian saat Moses harus berkompromi terhadap persahabatan mereka. Rasanya itu kayak ya... patah hati yang bikin pengin nangis. Dia tahu sahabatnya berkhianat, tapi dia tahu hanya dengan memaafkan dia bisa menjalani persahabatan itu lagi. Cara Winna Efendi mengisahkan jalinan persahabatan Moses dan Adrian ini kerasa banget feelnya deh. Ceritanya sederhana namun mengena di hati.

“Aku termenung. Teringat Moses. Tangannya yang dingin, tapi tak akan melepaskan genggaman dengan mudahnya. Moses yang juga senantiasa tampak kesepian. Kita semua manusia-manusia kesepian. Butuh seseorang untuk mengisi hati yang hampa.”

Bagian paling bikin saya mewek waktu Winna mengisahkan kematian mama Adrian, dan gimana Adrian menghadapi hidup sesudahnya. Awalnya saya kira Adrian bakal jadi robot yang anti ngomong apa-apa tentang kesedihannya. Nyatanya nggak, dia menemukan kenyamanan yang dia dapatkan di diri Freya.

“Pernah sekali, gue coba cerita tentang rasa kehilangan gue, tapi yang gue lihat di matanya cuma satu : kasihan. Simpati. Cuma itu. Gue tahu dia ingin memeluk gue dan bikin semua kesedihan gue lenyap, tapi dia sama sekali nggak ngerti.” (hlm. 117)

Saya baru sadar “Oh, gitu ya rasanya kehilangan orang yang dicintai?”. Seseorang yang sedang kehilangan orang yang dicintai akan merasa sebal ketika banyak pandangan mata mengasihani dirinya, tapi dia akan merasa related dengan orang lain ketika orang tersebut memberinya pemahaman bahwa “Kamu nggak sendiri kok. Saya juga pernah ngalami kehilangan semacam itu.”

 “Sampai kapan pun, luka dari kehilangan seseorang mungkin nggak akan sembuh, Gi.” (hlm. 152)

Anyway, ada satu tokoh yang dikisahkan juga di novel Remember When ini, namanya Erik. Erik ini sahabatnya Freya. Awalnya saya ngira dia suka sama Freya, tapi ternyata bukan. Lol. Jadi selama setengah buku saya salah ngira kisahnya bakal kemana. Wkwk. Duh, salah prediksi deh. :p

Perubahan haluan tujuan hidup Erik ini menurut saya cukup drastis, nggak ada angin nggak ada hujan tahu-tahu dia bilang suka sama Gia. What? Kok aneh sih? Saya rasa ada yang ganjil di sini. Winna mungkin pengin ceritain peran Erik lebih detail dengan mengambil alih bagian penting saat Moses dan Adrian nggak bisa menyelesaikan masalah Gia, tapi jadinya malah aneh sih menurut saya. Erik kan sebelumnya diceritain selalu bareng sama Freya, tapi pas tahu Gia ada masalah kok tahu-tahu dia jadi kayak pahlawan kesiangan gitu yak. -_-“ Sungguh karakter yang absurd dan labil.

Hmm, selebihnya saya suka sih. Tapi menurut saya, saya lebih suka karakter yang ditulis Winna di buku-bukunya yang terbit tahun 2017. Kerasa ada perubahan yang lebih matang dalam setiap tulisan barunya. Kalau yang ini kesan remajanya yang yaa gitu deh, labil dan susah ambil keputusan. Mungkin karena saya bacanya juga pas udah usia dewasa kali ya. Jadi nggak terlalu related sama cerita masa putih abu-abunya. Overall, 3 bintang untuk novel ini. ;)

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^