Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

23 October 2018

[Resensi Buku] Anak Dalam Cermin by Enid Blyton



Judul : Anak dalam Cermin
Pengarang : Enid Blyton
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Cetakan kelimabelas, Agustus 2018
Tebal : 192 hlm.
ISBN : 978-602-03-2988-8


Rating : 4/5 bintang

Buku kumcer Anak Dalam Cermin karya Enid Blyton ini berisi 8 kisah anak dengan judul antara lain : kue kismis bu topple, dolly pembuang waktu, kesalahan teddy, karena malas, anak dalam cermin, anak yang terbelakang, gara-gara jinky, dan kalau suka berbohong.

Cerpen berjudul Kue Kismis Bu Toppie berkisah tentang anak bernama Pop yang sangat rakus. Ia memakan semua makanan yang ada di hadapannya. Tak hanya satu kue, tapi banyak sekali. Hingga suatu hari Bu Toppie membuat kue khusus untuknya agar Top berhenti dari kebiasaan buruknya tersebut.

“Apa? Kue Kismis?” 
“Ya, kue kismis. Bila seseorang memakan tiga buah, maka ia tak perlu kuatir apa-apa. Tetapi, bila seseorang memakan empat buah, tubuhnya akan bengkak. Bila memakan lima buah, pakaiannya mulai sobek. Bila memakan enam buah, ia mulai merasa seperti balon. Aku tak tahu apa yang akan tejadi bila seseorang makan tujuh buah. Selama ini belum ada orang yng memakan sebanyak itu. Kalau sampai ada yang makan tujuh buah, kupikir ia akan meletus.” (hlm. 16)

Tak disangka, Pop memakan tujuh buah kue kismis hingga ia pun terbang ke udara dan tak bisa turun lagi. Kebiasaan tamak yang dilakukan Pop, harus dihentikan. Jika tidak, ia akan menjadi seperti balon dan tak akan kembali lagi.

Ada lagi kisah Dolly dalam kumcer berjudul Dolly Pembuang Waktu. Ibunya seorang wanita yang sibuk, sehingga jika ia sangat marah jika Dolly mengulur waktu. Sang ibu berkata, jika Dolly tidak bergegas datang, ia hanya akan memanggilnya satu kali. Tak disangka justru dari sinilah masalah muncul. Dolly selalu sial ketika tidak mengindahkan panggilan ibunya. Padahal ada banyak kesempatan yang datang padanya. Bahkan Dolly ketinggalan jamuan minum teh bersama ibunya.

“Aku kehilangan kesempatan menikmati banyak hal cuma karena mengulur-ulur waktu bila dipanggil ibu. Betapa bodohnya aku ini. Mulai sekarang aku akan datang dan patuh bila dipanggil ibu.” (hlm. 46)

Ada lagi Kisah Teddy yang hobi marah-marah. Ia selalu judes dan merusak mainan temannya setiap hari, itu sebabnya Teddy dijauhi teman-temannya di sekolah. Suatu hari teman-temannya berniat memberi Teddy hadiah, namun mereka menyembunyikan rencana itu dari Teddy.

Karena sikap pemarahnya itu, Teddy melakukan kesalahan besar yang membuatnya malu. Ia merusak hadiah yang diberikan oleh temannya. Hanya karena ia menganggap bahwa hadiah itu milik salah seorang temannya. Padahal hadiah itu dikumpulkan dengan susah payah dan diberikan padanya sebagai hadiah ulang tahun.

Karena malu, Teddy kembali ke rumah dan mengadu pada ibu. Ibu memberi saran agar Teddy mengajak mereka ke rumah untuk merayakan ulang tahun, dan dengan uang tabungannya Teddy harus membelikan teman-temannya hadiah sebagai tanda penyesalan. Adakah anak yang seperti Teddy? Hobi marah-marah dan merusak barang?   

“Lebih enak jadi orang yang baik dan bermurah hati daripada jadi orang yang pemarah, bukan, Teddy? Dengan kehilangan hadiahmu, kau jadi tahu bagaimana senangnya bisa menyenangkan orang lain, dan bukannya menyakiti hati mereka. Ibu senang kau akhirnya sadar akan sifat-sifat burukmu, Teddy.” 
“Aku juga begitu, Bu. Aku berjanji akan mempertahankan yang baik dan membuang kebiasaanku yang jelek.” (hlm. 70)

Kisah paling favoritku di buku Enid Blyton ini adalah kisah pak Malas. Ia sangat malas sampai membuat dirinya selalu terkena sial. Bukannya menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, pak malas selalu punya alasan untuk menundanya. Suatu hari ia menunggu paket ban yang akan dikirim ke rumahnya. Namun paket itu tak kunjung dikirim.

Suatu malam yang gelap, pak Malas melihat gerobak kurir pos meninggalkan sebuah paket besar di jalan. Ia tak sempat melihat nama yang tertera di atas paketnya, namun karena malas, ia pun memilih meninggalkan paket itu di jalan. Ternyata itu paket milik pak Malas yang sudah lama dinanti. Beruntung ada peri yang datang mengambil paket itu dan mengantarnya ke rumah. Pak malas pun segera bergegas untuk memasang ban itu pada sepedanya agar bisa hadir pada acara pesta. Namun sayang, ternyata waktunya tak cukup. Ia pun terlambat mendatangi pesta.

“Ah, dasar lagi sial. Mengapa tak daritadi kau antarkan paket ini, Cherry?” 
“Loh, kok tanya aku—tanyakan pada dirimu sendiri, mengapa kau tak mau bersusah-susah sedikit melihat alamatnya ketika melihat bungkusan itu terjatuh dari gerobak. Itu namanya bukan sial – tapi memang sudah sepantasnya terjadi pada orang yang semalas kau! Salahmu sendiri, kau terlihat malas! Sekarang, rasakan sendiri akibatnya – kau telah menghukum dirimu sendiri. BAGUS!” (hlm. 92)

Ada lagi kisah Jinky, berjudul Gara-gara Jinky. Ia merasakan sebuah keajaiban berkat membantu sesamanya. Saat itu Jinky membantu bu Tip Tap untuk mencangkulkan kebunnya, hingga kemudian tanaman itu tumbuh subur dan menjadi makanan lebah. Lalu dihasilkanlah madu dari kebun itu, hingga kemudian muncullah keajaiban berikutnya, Jinky mendapatkan hadiah karena menemukan perhiasan ibu kaya.

Ternyata, kebaikan yang dilakukan Jinky berputar-putar di sekelilingnya hingga kembali kepadanya dalam bentuk kebaikan lagi. Jadi, kebaikan akan melahirkan kebaikan pula. Jinky merasa beruntung, padahal itu bukan keberuntungan tapi kebaikan yang dihasilkan dari panen kebaikan sebelumnya.

Buku Enid Blyton ini meski ditujukan untuk anak-anak, namun kisahnya tidak membosankan. Banyak kejadian yang membuat mata saya kembali terbuka untuk melihat kekurangan diri, ikut berkaca dari kisah para tokoh di buku Anak dalam Cermin ini. Karena rasanya seperti disentil oleh para tokohnya sehingga mau mengakui bahwa ya, ada satu dua sifat jelek yang dimiliki yang mirip seperti si tokoh di buku ini. Saya jadi ingat cerita pak Malas. 

Kebayang ga sih kalau hanya karena malas lihat paket eh ternyata rezekinya hampir saja hilang. Ya, hanya karena malas saja. Bisa sefatal itu akibatnya. Yang bikin nyesek itu pas lihat ekspresi pak Malas yang menganggap dirinya sial. Ya, kamu ga sial kok, cuma malas aja. Wehehe. Jadi kurangilah malasnya itu, biar bisa panen kebaikan.

Nah, berminat membacanya? Kisah manakah yang menjadi favoritmu di buku Anak Dalam Cermin? Share dong di komentar. ;)

3 comments:

  1. Duh, jadi pengen baca bukunya. Moga ada rezeki untuk beli buku Enid Blyton ini. Bagus, tuh, cuplikan kisah yang dipaparkan teh ila bisa ngasi gambaran kelebihan Enid sebagai pendongeng piawai. Dulu pertama baca kisahnya di serial LIMA SEKAWAN kala SD. Itu tahun '80-an. :D

    ReplyDelete
  2. Ya, malas memang musuh terbesar dari diri kita. Kehilangan kesempatan juga bisa dikarenakan malas.

    ReplyDelete
  3. Anak yg suka marah-marah ya, ada kayaknya

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^