Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

10 October 2018

[Review Buku] Monyet Mike by Enid Blyton (Seri Si Kumbang)




Judul : Monyet Mike (Seri Si Kumbang)
Pengarang : Enid Blyton
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Cetakan keempat belas, Agustus 2018
Tebal : 192 hlm.
ISBN : 978-602-03-3010-5
Rating : 4/5 bintang


Resensi Buku :


Kumpulan cerita  Monyet Mike merupakan salah satu judul buku anak  dari seri Si Kumbang karangan Enid Blyton. Enid Blyton merupakan penulis anak kenamaan yang sudah menghasilkan karya terbaiknya yaitu Seri Lima Sekawan. Kini, saya akan membahas tentang kumcer berjudul Monyet Mike. Ada 8 kisah yang disajikan oleh penulis, yaitu : Monyet Mike, Si Mata Jeli dan SI Mata Rabun, Beruang yang Tua Renta, Bila Pak Kurcaci Marah, Sally SI Tukang Menjerit, Yang Mana Dia?, Tuan Budiman, dan Kebakaran.

Jika dilihat dari judul kisah di buku Monyet Mike ini, tak terlihat keunikannya, namun cobalah kamu baca kisahnya, kamu akan menemukan kekhasan cerita ala Enid Blyton. Penulis ini mampu meramu kisah anak menjadi cerita yang asyik, seru, dan menegangkan. Tidak membosankan sama sekali. Bahkan meski dibaca oleh orang dewasa sekalipun seperti saya.

Well ya, Enid Blyton membuat alur cerita yang khas anak-anak bagaimana mereka bermain bersama teman, juga keluarga dan lingkungan sekitar. Kekhasan Enid Blyton di buku seri si Kumbang ini adalah ia menekankan pada character building agar anak-anak bisa meniru perilaku terbaik apa yang dituliskan oleh penulisnya.

Enid Blyton memberi gambaran bagaimana jika sebuah sifat yang melekat pada diri anak-anak akan membuat mereka menjadi orang baik atau orang jahat. Semua kisah yang disajikan tentu saja masih dalam batasan yang wajar, meskipun di seri ini ada unsur sihirnya ya. Ya, nggak terlalu diperlihatkan sih, hanya digambarkan ada tokoh nenek sihir yang membuat mantera dan tokoh Pak Kurcaci, meskipun tak menggunakan unsur sihir karena semua masih bisa dilogika. Hanya saja ya bagi saya yang orang Islam tentu sihir tidak boleh dipercaya ya. Walaupun Enid menekankan di sini adalah karakter si anak yang memang jelek dari sananya. Gimana caranya si anak berubah perilakunya?

Seperti dalam kisah Sally Si Tukang Menjerit. Sally sangat senang menjerit, ia selalu merengek pada ibunya ketika keinginannya tidak terpenuhi. Karena sering menjerit, seorang nenek sihir akhirnya menarik Sally keluar dari rumahnya. Ia membawa Sally menuju rumah tuanya yang jelek dan hampir roboh. Ia memaksa Sally agar menjerit, sehingga rumahnya bisa roboh.

“Kalau kau menjerit sekeras itu, aku takut rumahmu runtuh, Nak. Kulihat langit-langitnya sudah hampir jatuh. Mari, ikutlah aku! Kuajak kau ke rumah yang sudah setengah runtuh. Siapa tahu kau bisa membantuku meruntuhkannya sama sekali. 
“Aku takkan berteriak-teriak lagi. Aku takkan menjerit sampai rumahmu roboh. Keluarkan aku. Aku takkan menjerit lagi.” 
“Sungguh?” 
“Kalau kau tak mau menjerit lagi, tak ada gunanya kau kukunci di dalam. Maksudku mengunci di dalam situ, supaya kau menjerit-jerit  hingga rumahku roboh. Tapi, kalau kudengar kau menjerit-jerit lagi, Nak—akan kubawa lagi kau ke sini.” 
“Berarti aku tak boleh lagi menjerit-jerit bila sedang marah atau keinginanku tidak dikabulkan ibu. Pokoknya, aku tak mau diajak lagi ke rumah yang mengerikan itu. Aku takut kejatuhan atapnya.” (hlm. 120)


Ada lagi kisah dua anak yang mirip, meski bukan saudara kandung. Nama kedua anak itu adalah Polly dan Sally. Jika dilihat sekilas, Polly dan Sally sangat mirip hingga sulit dibedakan. Karena itu kedua anak tersebu sering bertukar peran. Namun, sifat keduanya sangatlah berbeda. Polly penyabar dan tekun, sedangkan Sally kebalikannya. Ia ceroboh, tak sabaran, terburu-buru dan mudah putus asa.
Suatu hari keduanya mengunjungi rumah nenek sihir karena ingin meminta mantera penyubur tanaman, namun rumah itu sepi hingga tidak ada yang membukakan pintu. Sally tak sabaran hingga ia mengetuk jendela dan pintu berkali-kali sampai membuat kegaduhan. Polly meminta Sally untuk bersabar, namun tak dihiraukannya. Hingga kemudian datanglah nenek sihir membuka pintu rumahnya. Ia marah-marah karena keduanya tak ada yang mau mengaku siapa yang telah membuat kegaduhan.

“Nah, siapa yang bernama Sally? Apakah kalian tak punya mulut? Lalu, apa tujuan kalian datang ke sini kalau bicara saja tidak bisa?”

Lalu Sally dan Polly menceritakan bahwa mereka ingin meminta mantera penyubur tanaman.

“Kuberi kalian masing-masing sebuah jigsaw. Selesaikan permainan ini sebelum mempelajari mantera yang akan kuberi.” (hlm. 136) 
“Aku tak bisa! Pasti yang ini tak bisa dikerjakan. Nenek memberi Polly yang lebih mudah.” (hlm. 142) 
“Ah, keduanya sama persis. Lihatlah, Polly sudah hampir selesai!  Nah, kau bisa membaca manteranya di situ, Polly.” 
“Mantera penyubur bunga tak pantas diberikan kepada anak yang tidak sabaran seperti Sally sebab ia akan menggunakannya terlalu cepat atau terlalu banyak hingga bunga-bunganya malah akan menderita. Mantera penyubur bunga hanya patut diberikan kepada orang yang bisa menggunakannya dengan lembut dan sabar. Dan sekarang, aku tahu mana yang Sally dan mana yang Polly! Kaulah yang bernama Sally—anak tak penyabar yang selalu terburu-burum yang tak bisa mengerjakan teka-teki jigsaw-ku, yang mengetuk pintuku keras-keras, dan yang berani mengintip dari jendela!” (hlm. 145)

Ada lagi kisah Monyet Mike. Monyet yang diperoleh Mike merupakan hadiah dari pamannya. Ia sangat senang karena monyet itu meniru setiap perilakunya. Namun, sikap inilah yang membuat ibu marah besar karena Mike tidak bisa memberi contoh yang baik bagi monyetnya.

Ibu meminta Mike agar mengubah perilakunya agar monyetnya tidak meniru hal-hal buruk yang dilakukannya. Misalnya, merusak boneka pelaut dan kereta-keretaan, mencoret coret pintu lemari tempat mainannya, merobek buku, merusak bunga di taman, dll. Sifat nakal Mike membuat ibu tak suka. Maka, ia harus mengubah sikapnya, agar monyetnya tidak dibuang.

“Kuberi kau kesempatan sekali lagi, Mike. Kalau kau benar-benar menyayangi monyetmu dan tak mau berpisah dengannya, kau tentu tahu apa yang boleh dan apa yang tak boleh kaulakukan. Semuanya ibu serahkan kepadamu. Tinggalkan kebiasaan burukmu merusak segala sesuatu itu, Mike. Ibu yakin monyet itu pun takkan melakukannya.” (hlm. 26) 
“Oh, aku berjanji, Bu! Aku berjanji!” 
“Tapi ingat, kalau sekali lagi kau merusak dan monyet itu meniru—Ibu akan membuang monyetmu. Ibu akan melihat dari jauh apakah kau benar-benar menyayangi monyetmu.”(hlm. 26) 
“Semula aku tak tahu bahwa merusak itu perbuatan yang jelek. Sekarang aku tahu, karena kau menunjukkan kepadaku betapa jeleknya perbuatan itu, Monyetku! Kau jangan berbuat begitu lagi ya? Aku akan mencoba berbuat baik setiap hari, hingga walaupun kau meniruku, Ibu takkan mengusirmu.” (hlm. 28)

Ada lagi kisah Si Mata Jeli dan Si Mata Rabun. Keduanya memiliki sifat yang berbeda itu sebabnya mereka mendapat julukan yang berbeda. Si Mata Jeli senang mengamati hal-hal detail yang dia lewati di sepanjang jalan.

Berbeda dengan si Mata Rabun yang sering tidak tahu apa saja yang ia lewati di jalan menuju rumahnya dari sekolahnya. Karena kejelian yang dilakukan oleh si Mata Jeli ketika melintasi rumah Nyonya Williams, ia membantu perempuan tua itu untuk membukakan pintu persimpangan kereta. Saat itu Nyonya Williams sakit sehingga tidak bisa membukakan pintu persimpangan kereta. Jika terlambat sedikit saja, akan terjadi kecelakaan besar.

“Bagaimana kau bisa tahu Nyonya Williams memerlukan bantuan, Mata Jeli?”
 
“Cuma karena kulihat cerobong asapnya tidak mengeluarkan asap, Pak. Saya jadi bertanya-tanya. Lalu saya hampiri rumah Nyonya Williams, dan melihat apa yang terjadi.” 
“Oh—sekarang kalian bisa lihat perbedaan si Mata Jeli dan si Mata Rabun, bukan? Karena menggunakan mata dan otaknya, Tom telah menyelamatkan kereta api ekspress dari kecelakaan. Tim tidak tahu apa-apa. Kau berhak mendapat tanda penghargaan, Tom. Sikapmu sangat terpuji.” (hlm. 55)

Masih ada 4 kisah lainnya yang sarat makna dan hikmah. Bagi anak-anak, mereka bisa belajar bahwa sifat dan perilaku akan mempengaruhi lingkungan dan kehidupan sosial yang mereka jalani setiap hari. Ajari anak-anak sejak dini tentang apa sikap yang boleh dan tidak boleh dilakukan, agar mereka paham batasannya. Karena jika bukan orang tua yang mengajarinya, anak-anak tidak akan pernah tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Itulah yang membuat buku ini istimewa, karena Enid Blyton menuliskan kisahnya dengan bagus, dan tanpa menggurui. Karena anak diajak untuk berpikir juga bagaimana agar mereka bisa bersikap baik tanpa merasa dihakimi. Overall, 4 bintang untuk Monyet Mike karya Enid Blyton ini. ;)



No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^