Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

1 July 2014

Resensi Buku Tips Belajar Para Ulama - Dr. Aidh Al Qarni


Judul : Tips Belajar Para Ulama
Judul Asli : Kaifa Tathlubu’l –ilm Adabu Tholibi’l-‘ilmi
Penulis : Dr. Aidh Al Qarni, Ma dan Dr. Anas Ahmad Karzun
Penerbit : Wacana Ilmu Press (WIP)
Terbit : Juli 2008/Rajab 1949 H
Tebal : 200 halaman
ISBN : 978-979-1135-21-4


“Aku tidak pernah kenyang menelaah buku. Bila aku mendapatkan sebuah buku yang belum pernah aku lihat, maka seolah-olah aku mendapatkan harta karun.” (Ibnul Jauzi)

Belajar ilmu syar’i merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim. Namun, di tengah-tengah menggeliatnya semangat menuntut ilmu syar’i dewasa ini ternyata masih ada sebagian penuntut ilmu yang berpaling dari mengikuti etika-etika salafush sholih dalam menuntut ilmu. Padahal, mereka adalah contoh bagi kita dalam mencari ilmu.

Dalam buku ini, Dr. Aidh Al Qarni, Ma dan Dr. Anas Ahmad Karzun mencoba membimbing kita dalam proses meraih warisan para nabi. Sekaligus memberikan catatan merah terkait dengan sikap maupun sifat yang seharusnya dihindari pencari ilmu secara khusus, dan kaum muslim secara umum. 

Keutamaan ilmu dan ulama

“... Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Q.S Az Zumar(39) : 9)

Jika mengkaji ayat tersebut, maka kita akan mengetahui bahwa kedudukan seorang yang berilmu di mata Allah adalah sebuah kedudukan yang sangat istimewa. Allah memberi derajat yang lebih tinggi jika orang tersebut mempunyai ilmu dan mengamalkannya. Sebab, ilmulah yang akan menjaga pemiliknya dari fitnah dunia. Pemiliknya pun bisa mendapatkan kemuliaan dunia dan akhirat jika menggenggam ilmu seperti seseorang yang takut bila ilmu itu diambil dari sisinya. Apakah itu dirasakan juga olehmu?

“Ilmu itu lebih baik dari harta. Sebab, ilmu akan menjagamu, sedangkan kamu yang akan menjaga harta. Ilmu sebagai hakim (pemutus perkara), sedangkan harta adalah yang diputuskan perkaranya (maksudnya yang dikelola). Para penjaga harta akan mati, sedangkan para penjaga ilmu akan tetap hidup. Jasad mereka memang mati, tetapi kepribadian mereka akan tetap ada dalam hati.” (Ali bin Abi Thalib)

Etika yang harus dipegang dalam proses mencari ilmu.

Dari Malik bin Anas bahwasanya ibunya pernah berkata kepadanya,”Pergilah kepada Rabi’ah dan pelajarilah etikanya sebelum mempelajari ilmunya.” (hlm. 26)

Sebelum mencari ilmu, ada etika yang harus dimiliki. Karena, jika ia memiliki ilmu namun sikap dan sifatnya tidak bersesuaian dengan ilmu yang dimilikinya, maka ia akan menjadi orang yang sungguh merugi.

Lalu, apa saja etika dalam proses mencari ilmu?

Ikhlas, beramal dengan ilmu dan menjauhi kemaksiatan, tawadhu, menghormati ulama dan majelis ilmu, zuhud dan sabar dalam menuntut ilmu, berlomba dalam menuntut ilmu, jujur dan amanah, dan mau menyebarkan ilmu dan mengajarkannya.

Para pencari ilmu juga harus mampu mengoptimalkan waktu, mendiskusikan ilmu agar tidak lupa, menjaga wibawa dan rasa malu. Ia juga harus menjaga persahabatan yang baik dengan sesama pencari ilmu dan juga para ulama.

Sifat dan sikap yang harus dihindari seorang pencari ilmu

Saling berbantahan, sembarangan berfatwa, senang mengeblok pada kumpulannya sendiri, bersifat negatif dan muram. Juga perumpamaan seperti ini : “Sebagian orang ibarat lalat yang hanya hinggap pada bagian luka saja.” Sebaliknya, seharusnya seorang pencari ilmu harus mencari di kedalaman hingga ilmu ia kuasai secara penuh. Jika demikian, maka ilmu yang ia dapatkan akan bisa ia manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Apa saja tips mempelajari ilmu syar’i?
  1. Bergaul akrab dengan perpustakaan
  2. Memiliki agenda  praktis setiap hari dengan pembagian sesuai dengan penanda setelah shalat wajib dilakukan. Misal, setelah shubuh untuk menghafal, setelah dhuhur untuk menelaah buku sejarah dan sastra, setelah ashar untuk menelaah kitab induk syar’i, setelah magrib untuk mengulang hafalan baik Al Qur’an, hadits, dan matan setelah isya membaca buku.
  3. Memiliki perpustakaan audio dan kaset rekaman
  4. Memiliki teman untuk mengecek hafalan
  5. Saling berkunjung pada para pemilik ilmu, agar mendapat kedalaman ilmu yang luas dan berkah
  6. Membaca secara urut, bukan acak. Dimaksudkan agar mendapatkan hasil maksimal.
  7. Membaca biografi orang-orang  sholih agar bisa meneladaninya.

“Ilmu adalah pengganti setiap kelezatan dan pemuas dari setiap syahwat. Barangsiapa yang menyendiri dengan ilmu, niscaya ia tidak akan kesepian. Barangsiapa yang berhibur dengan kitab, niscaya ia tidak akan kehilangan kenyamanan. Tidak ada kawan yang seakrab ilmu. Dan, tidak ada penolong yang seperti sikap santun.” (hlm. 81)

Dhohak bin Muzahim ra berkata, “Pintu pertama dari ilmu adalah diam, yang kedua mendengarkannya, yang ketiga mengamalkannya, yang keempat menyebarkan dan mengajarkannya.” (hlm. 104)

Dengan mencontoh cara belajar para ulama, paling tidak kita mampu merasakan apa yang telah mereka rasakan, sekaligus memberikan semangat baru dalam meniti jalan para pewaris nabi. Selamat membaca. :)

3 comments:

  1. “Ilmu adalah pengganti setiap kelezatan dan pemuas dari setiap syahwat. Barangsiapa yang menyendiri dengan ilmu, niscaya ia tidak akan kesepian...."

    aku suka sekali kalimat ini... :-)
    memang buku itu menghibur sekali yah,,,
    thanks for sharing mbak Ila..

    ReplyDelete
  2. Ilmu yang membuat kedudukan seseorang dalam masyarakat berbeda kelasnya ... nice :)

    ReplyDelete
  3. ini yang perlu di contoh cara belajarnya para ulama, bagimana mereka bisa menjadi hebat-hebat dalam penguasaan ilmu

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^