Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

30 May 2015

[Resensi Buku] 30 Paspor Di Kelas Sang Profesor (Jilid 1)

Judul : 30 Paspor Di Kelas Sang Profesor (Jilid 1)
Penulis : JS Khairen, dkk
Penerbit : Noura Books
Terbit : Cetakan ketiga, Desember 2014
Tebal : 328 hlm.
ISBN : 978-602-1306-73-4
Harga : Rp 64.000
Buku bisa dibeli di Bukupedia.com

Bepergian ke tempat baru dengan informasi, uang, waktu, dan pengetahuan terbatas sesungguhnya bisa mengubah nasib manusia. Keterbatasan itu belum tentu membuat kita tersudut tanpa kemampuan keluar dari kesulitan sama sekali. Rhenald Khasali memaksa para mahasiswanya di kelas Pemasaran Internasional (Pemintal) untuk keluar dari zona nyaman mereka. Sang profesor menyuruh anak-anak muda itu untuk menjelajah negeri baru yang bahasa dan budaya berbeda dengan Indonesia sebagai bagian dari tugas kuliah.

Dengan berbekal paspor, ketiga puluh mahasiswa berjuang untuk terus menyelesaikan misi mereka di negara tujuan masing-masing. Buku ini adalah jilid pertama yang berisi 15 kisah perjalanan para mahasiswa yang melakukan perjalanan ini tersasar di empat benua. Pilihan yang berat adalah saat seorang mahasiswa hanya memilih satu negara, jika seorang temannya sudah memilih negara tersebut tidak boleh dipilih oleh yang lain. Perebutan negara tujuan pun menjadi sebuah ajang pertaruhan karena inilah yang akan membuat perjalanan menjadi berbeda.

Banyak mahasiswa yang menemukan pengalaman unik dan mendebarkan. Mulai dari kesulitan mengurus paspor, ketinggalan pesawat, digoda kakek-kakek genit, kena tipu pengemis, hingga hampir saja kehabisan uang dan menggelandang di bandara. Segala pengalaman itu tidak akan terjadi jika perjalanan ini penuh perencanaan. Faktanya, anak-anak muda sering dibiarkan bersantai hingga orangtua lebih suka mengambil alih tanggungjawab mereka. Ini yang melatarbelakangi Rhenald Khasali untuk meminta para mahasiswa merasakan moment bepergian ke negara asing sendirian. Agar tahu bagaimana rasanya mengambil alih keputusan untuk diri sendiri. Selfdriving, not passenger.

“Dalam keterasingan, bagus bagi anak muda untuk membangun diri. Dialog diri ini akan menimbulkan self awareness (kesadaran diri) untuk membentuk karakter yang kuat.”

Dari kelima belas kisah, ada beberapa yang saya suka seperti kisah Ragil yang menikmati perjalanan ke negeri es, Islandia. Ia mengalami sendiri merasakan keterasingan yang sangat kental karena tidak ada satu orang pun yang ia kenal di negeri es tersebut. Berbekal kenekatan karena penasaran dengan Islandia, ia melakukan perjalanan seorang diri hingga menjelajahi satu persatu museum dan tempat wisata lainnya di Islandia. Ada pula pengalaman seorang barber shop bernama Egi yang mengalami banyak hal menarik. Seperti menunggu antrian di barber shop ternama di seluruh dunia yang dikenal di Belanda hingga berfoto dan bertukar cinderamata dengan para barber shop tersebut.

Ada pula pengalaman Ismi di Laos yang merasakan perkenalannya dengan pemilik hostel yang ramah. Mereka saling bertukar cerita seputar negara baik budaya, politik maupun ekonominya. Pengalaman tersasar memang akan selalu membekas, yang paling penting adalah kenangan yang diperoleh darinya. Hikmahnya para mahasiswa jadi belajar untuk mandiri dengan mengandalkan keputusan yang diambil diri sendiri. Bukan dari teman, dosen, atau orang tua.

“What we learn with pleasure, we never forget.” – Alfred Mercier

Membaca jilid 1 ini, saya diajak untuk berputar keliling empat benua. Rasanya masih banyak rasa penasaran yang belum terselesaikan. Perjalanan yang kaya dengan hikmah dan nuansa yang berbeda dibandingkan jika saya membaca buku traveling yang ditulis para traveler tulen. Kota yang dikunjungi pun kebanyakan kota yang belum banyak disinggahi para pelancong. Di setiap tulisan para mahasiswa juga disisipi nasihat-nasihat dari Rhenald Khasali. Bahasa yang digunakan pun khas para mahasiswa, walau dikompilasi oleh JS. Khairen, namun setiap orang punya keunikan gaya bertutur dan hikmah kisah masing-masing. Buku ini juga detail dan disertai dengan foto di setiap cerita. Sehingga pembaca bisa ikut merasakan petualangan para rajawali muda yang belajar mengepakkan sayap ini.

Saya juga jadi tahu bedanya perjalanan yang direncanakan dengan matang dan yang hanya asal jalan. Jika direncanakan dengan matang, perjalanan akan terasa lebih berisi dan berhikmah. Namun jika asal jalan akan ada banyak hal yang merintangi yang akan membuat nyali ciut untuk menyelesaikan perjalanan. Bagaimana pun, perjalanan tetaplah milik para pejalan itu sendiri. Karena perjalanan adalah menemukan diri sendiri dengan bantuan Tuhan di setiap langkah kaki kita.  Overall, 4 bintang untuk buku ini. 

Postingan ini diikutsertakan dalam Nonfiction Reading Challenge 2015
dan Lomba Resensi Bukupedia

3 comments:

  1. kebetulan memang pengen baca buku ini ^__^ resensinya enak dibaca, jadi makin pengen beli. terima kasih ya ^__^

    ReplyDelete
  2. Woo ini kisah beneran tho, kirain fiksi

    ReplyDelete
  3. Semakin penasaran pengen baca buku ini. Makasih sudah meresensi!

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^