Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

4 July 2016

[Review] Sabtu Bersama Bapak - Adhitya Mulya


Judul Buku : Sabtu Bersama Bapak
Pengarang : Adhitya Mulya
Penerbit : Gagas Media
Terbit : Cetakan keduapuluh dua, 2016
Tebal : 278 hlm.
ISBN : 979-780-721-5

Sabtu Bersama Bapak adalah novel dari Adhitya Mulya, suami Ninit Yunita yang merupakan karya best seller dari penulisnya. Awalnya saya beli karena penasaran. Novel ini muncul dengan cover baru yaitu versi filmnya yang akan tayang minggu ini. Saya tertarik membaca karena ada beberapa teman yang merekomendasikan buku ini untuk jadi bacaan di kala senggang.

Novel Sabtu Bersama Bapak berkisah tentang dua anak lelaki yang tumbuh dewasa dengan didikan bapak yang telah tiada. Bapak mewariskan pemikirannya yang ia tuangkan dalam berpuluh-puluh kaset video yang dibuatnya sebelum meninggal. Bapak ingin anak-anaknya tumbuh tanpa kehilangan peran kepala keluarga yang akan mengajari mereka banyak hal tentang kebijakan hidup.

Bapak hanya punya jatah hidup dalam waktu 1 tahun sebelum meninggal. Karena vonis kanker yang dideritanya membuat bapak harus berjibaku mengejar waktu selama satu tahun untuk membuat video-video yang penting bagi kehidupan anaknya kelak. Setelah kematian bapaknya, Satya dan Cakra, kedua anak Bu Itje dan pak Gunardi tumbuh menjadi lelaki cerdas dan mapan. Dua hal yang menjadi masalah kini adalah Cakra yang jomblo akut tak kunjung menemukan jodoh dan Satya yang jadi ayah pemberang membuat ketiga buah hatinya takut padanya.

Satya besar dalam didikan Bu Itje yang berjuang menafkahi hidup dari berjualan makanan di warung makan yang didirikannya. Setiap kali ada orang yang mengganggu warung ibunya, Satyalah yang turun tangan dengan berkelahi. Sebuah selfdefense yang akhirnya membuat Satya menjadi lelaki yang keras dan tak sabaran hingga ia menjadi ayah dan seorang suami. Satya sering memprotes apa saja yang dirasa tidak sesuai dengan keinginannya. Istrinya bahkan mengirimi Satya sebuah email agar ia tidak pulang saja dibandingkan harus melampiaskan marahnya setiap kali pulang ke rumah. Inilah yang membuat Satya berubah dan mulai menonton lagi video-video dari bapak yang dulu ia rajin tonton setiap Sabtu sore.

Di sisi lain, Cakra jatuh bangun merebut hati Ayu, gadis yang ia sukai di kantornya. Sayangnya ada lelaki lain, Salman, yang lebih agresif dibanding Saka(panggilan kecil Cakra) yang membuat ia kalah langkah saat mendekati Ayu. Di lain waktu, Ibu Itje harus menjalani perawatan untuk penyakit yang dideritanya. Bahkan Ibu Itje tidak mau anaknya tahu perihal sakitnya ini. Ibu Itje ingin Saka fokus pada pencarian jodoh yang tak kunjung membuahkan hasil baik. Hingga pilihan untuk menjodohkan Saka dengan anak temannya pun membuat Saka mau tak mau memilih untuk mencoba bertemu muka dengan sang calon.

Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya? Baca aja sendiri di novelnya ya. :D

***

Novel ini membuat saya banyak berpikir dan berkata, “Ah, iya juga ya.” Saking seringnya ada bagian-bagian yang mirip dengan kejadian yang ada di sekitar saya. Ada orang yang dijodohkan seperti Saka karena tak kunjung punya calon mantu. Ada juga yang sedih dan takut setiap kali melihat sosok sang ayah. Adhitya Mulya mengemas cerita ini sehingga dekat dengan realita. Yang terpenting adalah bukan saja sebuah cerita ini bisa diambil hikmahnya tapi juga bisa diterapkan dalam kehidupan para orang tua yang memiliki masalah yang sama.

Tak heran novel ini sudah masuk cetakan ke-22 dan akan ditayangkan dalam bentuk film dalam minggu ini. Saya pikir inilah yang dibutuhkan oleh masyarakat kita saat ini, keteladanan dari seorang ayah yang mau membagi kisah hidupnya semasa muda dengan anak-anaknya. Agak anaknya bisa menemukan sosok yang tepat untuk bisa berbagi cerita baik suka maupun duka.

“Kembangkan bakat kalian, apa pun itu. Luangkan waktu untuk semua itu. Tapi satu aja, jangan lupa sama tiketnya. Jangan lupa belajar. Bapak sayang kalian.” (hlm.52)

Saya jadi ingat obrolan dengan seorang teman yang bilang bahwa sosok ayah kerap hilang dalam masyarakat Indonesia. Orang tua keras mendidik anak perempuannya untuk jadi anak yang berbakti dan calon istri shalihah, tapi ironinya anak laki-laki tak dididik dengan cara yang sama sehingga kelak ia akan tahu kewajibannya. Inilah yang ingin diungkapkan oleh Adhitya Mulya bahwa anak-anak lelaki pun perlu dididik dengan caranya sendiri. Mereka suka main, seperti cerita kepahlawanan yang ditunjukkan Rissa, istri Satya ketika ia mengajak anaknya bermain. Anak-anak lelaki suka main layangan, mereka bisa juga kena bullying dan jika tidak ada basic kedekatan dengan keluarga kelak ia akan menjadi penyendiri, kesulitan menyelesaikan masalahnya dan tidak bisa membela dirinya sendiri jika bermasalah di luar.

Begitu pun yang dilakukan Satya, ia mulai belajar bagaimana caranya berkomunikasi dengan anaknya lewat video-video bapak. Saat bapak kecil ia diajari untuk berkelahi demi membela diri. Bapak juga sosok yang sangat detail mempersiapkan keluarganya. Katanya, sebelum ia meninggal ia harus memastikan bahwa keluarganya tidak akan terlantar dan meminta-minta belas kasihan orang. Itu sebabnya Bu Itje sangat mandiri dalam mendidik anak-anaknya dan sukses menjadi pengusaha warung nasi di Bandung yang sudah memiliki banyak cabang. Anaknya juga dididik untuk bermimpi setinggi mungkin dan merencanakan dengan baik setiap impian tersebut.

“Bapak minta kalian bermimpi setinggi mungkin. Dengan syarat, kalian merencanakan dengan baik. Bapak minta kalian bermimpi setinggi mungkin. Dengan syarat, kalian rajin dan tidak menyerah. Bapak minta kalian bermimpi setinggi mungin. Tapi mimpi tanpa rencana action hanya akan membuat anak istri kalian lapar. Kejar mimpi kalian. Rencanakan. Kerjakan. Kasih deadline.” (hlm. 152)

Saya jadi teringat dengan kisah Cakra yang berdiskusi dengan Ayu tentang empat hal yang dipesankan bapak dalam rumah tangga. Salah duanya adalah dialog ini.

“Pemimpin keluarga macam apa yang minta istrinya percaya sama suami, tapi dia sendiri menyembunyikan nafkahnya. Nafkah suami itu hak keluarga, lho. Di keluarga saya, saat seseorang menjadi kepala keluarga, dia bertanggungjawab lahir batin akan kecukupan dan kebahagiaan keluarga. Sekarang dan nanti.” (hlm. 225)

“Pasangan ideal sih harusnya terbalik. Laki, atau perempuan yang baik itu, gak bikin pasangannya cemburu. Laki, atau perempuan yang baik itu... bikin orang lain cemburu sama pasangannya.” (hlm. 228)

Novel Sabtu Bersama Bapak ini tidak hanya berkisah seputar keluarga namun juga tentang pencarian jodoh. Saya rasa Adhitya Mulya sudah mengonsep kisah ini menjadi lebih baik dibanding novel-novelnya yang lain. Terlihat dari antusiasme pembacanya yang sampai membuat buku ini layak dijadikan film. Yang paling saya suka, selain kisah perjuangan bapak membersamai kedua putranya dan istrinya selepas ia meninggal, novel ini juga disisipi kisah konyol ala-ala Cakra. Meski nggak semuanya layak dibaca sama anak remaja. Soalnya ini ada guyonan 21+. Overall, 4 bintang buat novel ini. Lucu, menghibur dan mendidik. Saya kangen Cakra yang cerdas, lucu tapi gila. Hahaha =))

9 comments:

  1. jd gitu ya, aku jg penasaran sma novel ini. next time cari ah

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh, jiah jadinya udah baca ya? hehe

      Delete
  2. Aku suka banger baca novel ini. Bikin baper.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bun. Novelnya bagus banget. :D

      Delete
  3. Aku penasaran dan pengen baca novel ini mba :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buku bagus, mba Rohmah. Ayo baca :D

      Delete
  4. Hallo, Mbak Ila. Apa kabar? Lama nda BW ke sini. Udah lama gak gabung2 sm anak2 blogger yang lain. Mgkn Mbak Ila udah lupa. Hehe, soalx sy udh lama ngilang. Btw, udah pke domain sndiri ya. Cieee.

    Ttg novel ini, ning juga baru mau nulis, tp lgi baca2 beberapa artikel ttg buku ini sbgi bahan referensi.Eh, dpt blogx mbak Ila.
    Novelnya bagus. Bisalahhh dijadikan bahan referensi utk berumahtangga nanti. Hehe...

    Bgus resensinya, Mbak. Sukaaa... >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, mba Ning, maaf baru baca komentar mba. Alhamdulillah, kabar baik, hehe. Mba ning gimana?:D Makasih udah suka resensiku, semoga bermanfaat ya. Hayuk nulis lagi, mba. Semangatt~ hehe

      Delete
  5. Punya novelnya tapi males bikin sinopsis buat tugas, soalnya ini cerita yg tak bisa terjabarkan dengan kata kata. Keren banget

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^