Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

16 September 2016

[Resensi Buku] Kastil Es & Air Mancur Yang Berdansa - Prisca Primasari



Judul Buku : Kastil Es & Air Mancur Yang Berdansa
Pengarang : Prisca Primasari
Penerbit : Gagas Media
Terbit : 2012
Tebal : 292 hlm.
ISBN : 979-780-589-1


Blurb :


Vinter
Seperti udara di musim dingin,
Kau begitu gelap, muram, dan sedih
Namun, pada saat bersamaan, penuh cinta berwarna putih.
Bagaikan di Honfleur yang berdansa diembus angin

Florence
Layaknya cuaca pada musim semi
Kau begitu tenang, cerah, dan bahagia
Namun, pada waktu bersamaan, penuh air mata tak terhingga
Bagaikan bebungaan di Paris yang terlambat berseri

Resensi :


Florence jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang lelaki di kereta saat ia sedang kabur dari rumah. Florence tak mau dipaksa bertemu dengan seorang lelaki hanya untuk memenuhi ajakan kencan buta yang diajukan orang tuanya. Gadis dengan dandanan aneh itu berkenalan tak sengaja dengan Vinter Vernalae, lelaki yang memberinya tawaran untuk pentas di rumah Zima, lelaki misterius yang aneh. Florence mau menerima tawaran itu hanya karena ia tak punya tujuan saat kabur dari rumah, jadi ia ingin mencari tempat berlindung sejenak dari kejaran orang suruhan orang tuanya.

Florence tak menyangka jika akhirnya ia terlibat hal-hal di luar prediksi saat bertemu Zima. Lelaki sedingin salju itu bahkan pernah memiliki riwayat buruk memperlakukan para seniman yang bekerja dengannya. Para seniman itu tak memenuhi kriteria karya yang diinginkan Zima hingga mereka tak dibayar atas hasil kerjanya. Lukisan dibuang, kritikan pedas atas karya, dll. Florence mengiyakan untuk menunjukkan 4 karyanya yaitu membaca puisi, melukis, menampilkan drama, dan bermain musik sendirian. Awalnya Zima tak percaya bahwa perempuan itu mampu melakukan semuanya sendiri. Tapi bagi Florence yang dulu kuliah di jurusan seni, melakukan keempat hal itu bisa saja terjadi. Tapi drama? Bagaimana dengan drama yang dipertunjukkan sendiri?

Di antara kebimbangan itu, Florence pun akhirnya pentas di panggung yang diberikan Zima. Florence menampilkan karya sebuah lukisan yang menampilkan sebuah kereta kuda yang sangat indah di tengah hamparan salju dan pohon-pohon pinus. Hanya saja tidak ada kuda yang menariknya. Kereta itu sendirian, seakan terasing dan terbengkalai. Pewarnaannya menyampaikan suasana dingin dan kesepian. Judul lukisannya Un Chariot en Hiver. Florence bukan hanya menampilkan sebuah karya, tapi ia memberi makna filosofi dari karya yang dibuatnya.

“Kereta seindah apapun tidaklah berguna bila tidak mempunyai kuda yang menariknya. Lama-lama akan terbengkalai dan terpendam salju. Sama halnya dengan manusia, yang tidak bertahan lama bila tidak ada yang mendukung atau mendampinginya; betapapun hebatnya, mereka pasti akan terlupakan.” (hlm. 41)

Pentas kedua tentang membaca puisi. Florence membacakan sebuah puisi kelam yang mengisahkan tentang ratapan seorang lelaki yang begitu menikmati tenggelam dalam kerinduan dan kesakitan karena kehilangan kekasihnya. Penghayatan yang dilakukan gadis itu sangat magis sehingga mampu membawa penonton yaitu Zima, Vinter dan Getrude, pelayan Zima berdecak kagum. Pentas ke tiga berlangsung indah, Florence bisa memainkan komposisi yang diinginkan Zima, namun pentas keempat ia tak dapat melakukannya. Zima menolak membayar hasil kerja Florence.

Gadis itu pun pergi dari rumah Zima. Saat itulah muncul Celine, sahabatnya yang ternyata bisa mengejarnya sampai ke rumah Zima. Florence tak ingin ditemukan oleh Celine hingga terjadilah aksi kejar-kejaran antara mereka. Tak disangka, antara Vinter Vernalae dan Florence terjadi ikatan yang begitu kuat. Pesona Vinter yang sedingin es mampu membius Florence hingga gadis itu mau menceritakan kisah kelam hidupnya. Begitu pun Vinter. Lelaki itu memiliki masa lalu yang tak bisa ia pisahkan dari kehadiran Zima juga. Zima lah yang membuatnya memiliki keinginan untuk terus berkarya lewat seni. Saat itu Vinter menjadi panitia pentas seni yang dihadiri Zima. Tak disangka Zima pingsan hingga akhirnya membuat ia ingin memesan pertunjukan yang dipentaskan di rumahnya sendiri.  Sejak saat itu, kisah cinta antara Florence dan Vinter pun dimulai. Kisah yang berawal dari sebuah air mancur yang berdansa dan kastil es.

***

Awal membaca novel Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa ini saya tak punya ekspektasi banyak. Mengingat saya sudah lama tidak membaca romance jadi saya pikir lebih baik membaca saja tanpa perlu memikirkan plot dan hal-hal teknis penulisan. Saya menikmati membaca novel karya Prisma Primasari ini. Seperti tersesat di negeri dongeng yang penuh kejutan dan tentu saja ada banyak hal yang mustahil terjadi dalam waktu sesingkat itu. Hanya 2-3 hari sejak Vinter dan Florence berkenalan mereka sudah semakin dekat dan mengenal satu sama lain.

Saya pikir si Florence ini memang tipe perempuan yang mudah jatuh cinta pada pandangan pertama. *uhuk* :P Ya, nggak bisa dibayangkan deh, kalau hanya karena satu project bersama bisa membuat mereka jadi dekat. Dan sebegitu berartinyakah Vinter sampai ia rela memisahkan diri dari Celine untuk makan bersama berdua saja. Huwaa, cinta memang buta. :P

Jujur, novel ini mengingatkan saya pada buku Prisca yang lain yaitu Eclair. Semanis kisah itu, tapi kali ini alurnya teraca cepat. Jadi saya membacanya dengan ringan. Sehari langsung kelar. Hanya nama-nama ala Rusia dan Paris membuat saya jadi harus belajar melafalkannya. Susah dihafalin euy. :D  
Trus ada banyak tempat yang rasanya jadi begitu dekat karena dideskripsikan dengan detail di novel ini. Saya jadi kepengin main ke Honfleur untuk menyinggahi tempat-tempat yang didatangi oleh Vinter dan Florence. Duduk di kursi salju, mencicipi kopi di cafe kesukaan, dan menonton pentas drama favorit. Penasaran juga dengan bentuk kastil es dan air mancur yang berdansa.  Karya Vinter yang berupa es-es pahatan sangat cantik, nggak kebayang kalau jadi Vinter dan harus mengurusi pesanan Zima yang aneh-aneh. Misalnya saja bentuknya yang harus seperti permintaannya. Kurang satu cm saja bisa diminta direvisi. Hahaha.

Ada kejutan di akhir cerita yang akan membawa saya kembali mengingat kisah Florence dan Vinter ini dari sudut pandang Vinter Vernalae. Vinter yang ternyata memiliki masa lalu sekelam itu membuat saya jadi trenyuh. Duh, usap air mata. Nggak nyangka kamu bisa setegar itu, Vinter. *puk-pukin Vinter* Rasa bersalah yang dirasakannya membuat ia menjauh dari lingkungan sekitar, ia memilih menyendiri dan bergelut dengan rasa sakitnya sendiri. Yang pada akhirnya membuat ia jadi semacam masokis. Ya, sengeri itu. Makanya salut dengan Vinter yang akhirnya bisa bangkit meski harus jatuh berkali-kali dan mencoba bangkit.

Ada banyak pengetahuan tentang seni dari beragam seniman yang ditampilkan karyanya di novel ini. Hal inilah yang membuat novel karya Prisca ini unik. Kayaknya belum ada deh yang membahas dar sudut pandang karya seni yang dibawa orang-orang Rusia dan Prancis sedetail Prisca menggambarkannya. Selama ini Prancis dan Rusia hanya dijadikan setting tempat tanpa membawa unsur seninya yang unik. Inilah yang membuat saya jatuh cinta pada karya indah ini. Endingnya tak terlupakan. Yeah! Jadi saya bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kenapa yang muncul saat membaca kisahnya di awal cerita.

Quotes yang saya suka dari novel ini antara lain :

“Bagaimana mungkin aku melupakan wanita yang telah mengingatkanku bagaimana cara tertawa... dan bahagia?” (hlm. 227)

“Perasaan yang muncul ketika karyamu dikagumi orang, sungguh tak tergambarkan.” (hlm. 250)

“Kau takkan pernah bisa bahagia sebelum memaafkan, memberi kesempatan, dan menyayangi dirimu sendiri. Itulah masalahku dan masalahmu. Kita belum bisa melakukan ketiganya.” (hlm. 277)

Overall, 5 bintang buat kisah ini.


Postingan ini diikutsertakan dalam Project Battle Challenge #31HariBerbagiBacaan

6 comments:

  1. Romantiss, mbak..
    Coba aku cari bukunya di toko buku ntar, semoga ada ��

    ReplyDelete
  2. aku lho penasaran bgt sm novel ini mbak..

    ReplyDelete
  3. Aq belum pernah baca tulisan Prisca satu pun euy, boleh lah ntar cari dulu hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. apik2, mba. khasnya negeri dongeng gt, hihi

      Delete
  4. Aku suka banget sama novel2 karyanya Prisca PRimasari, mbak.
    Aku jga inget klo novel e-clair blum slesai kubaca... hueheeee
    Ciri khas PRisca Primasarai, pembaca bisa dapetin bonus kosakata yg bisa jadi pengetahuan baru. hueheee

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^