5 March 2021

[Resensi Buku] Chronicle of a Blood Merchant by Yu Hua

 

Chronicle of a Blood Merchant - Yu Hua

Judul Buku : Kisah Seorang Pedagang Darah

Judul Bahasa Inggris : Chronicle of a Blood Merchant

Pengarang : Yu Hua

Penerjemah : Agustinus Wibowo

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Terbit : Cetakan pertama, 2017

Tebal : 288 halaman

ISBN : 978-602-03-3919-1

Rating : 4/5 bintang


Sinopsis Buku Chronicle of a Blood Merchant: 

Sebagai pendorong kereta di pabrik sutra dengan upah yang sangat rendah, Xu Sanguan mencoba mencari tambahan uang dengan sering menjual darahnya. Ia berjuang menafkahi istrinya dan tiga putranya di masa Revolusi Kebudayaan, tanpa menghiraukan nyawanya semakin terancam. 

Ia terguncang ketika mengetahui putra kesayangannya ternyata terlahir sebagai hasil perselingkuhan antara istrinya dan seorang tetangga. 

Kewibawaannya tercederai, sementara istrinya dihukum oleh masyarakat sebagai pelacur. Meskipun kemiskinan dan pengkhianatan rezim Mao telah memeras habis segalanya, Xu Sanguan akhirnya menemukan kekuatan dalam ikatan darah keluarganya.

Dengan intensitas emosional yang luar biasa, penggambaran tempat dan waktu apa adanya yang mencekam, serta pemahaman yang sangat jelas, Yu Hua mengisahkan seorang laki-laki yang akrab dengan kehidupan yang sulit setiap harinya. 


Resensi Buku Chronicle of a Blood Merchant : 


Xu Sanguan bekerja sebagai pengantar kepompong di pabrik sutra. Ia mendapat kabar dari Paman Keempatnya bahwa ia bisa menjual darah untuk mendapatkan uang. Jual darah dapat membuat Xu Sanguan berkecukupan tanpa perlu capek bekerja. Uang itu bisa pakai untuk mahar pernikahan dan membuat rumah. 


“Apa benar orang yang tidak jual darah itu badannya tidak mungkin kokoh?”

“Tentulah. Kamu tadi dengar mamanya Guihua bilang apa? Di sini, laki yang tidak pernah jualan darah tidak bakal bisa dapat bini.” 

“Aturan apa ini?”

“Aturan apa aku juga tidak tahu. Yang jelas orang yang badannya kuat dan kokoh pasti jual darah. Sekali jual darah dapat 35 yuan, kamu kerja di sawah setengah tahun juga baru bisa dapat duit segitu. Darah di badan orang sama seperti air di daam sumur. Kaau kamu tidak ambil airnya, air di dalam sumur tetap tidak tambah-tambah. Tapi, kalau tiap hari ambil airnya, air di dalam sumur ya tetap saja segitu banyaknya.” (hlm. 8)



Xu Sanguan jatuh cinta dengan Xu Yulan, gadis yang diberi julukan Putri Cakwe karena sangat terkenal di kota tempat tinggalnya. Xu Yulan adalah primadona di kalangan pemuda di sana. 


Saat Xu Yulan memutuskan menerima lamaran Xu Sanguan, ia memberinya syarat. Xu Sanguan harus membantu melakukan tugas rumah tangga di rumah, termasuk juga memberinya waktu untuk istirahat jika dia datang bulan. 


Xu Sanguan memiliki tubuh yang kuat dan sanggup bekerja keras di pabrik meskipun gajinya terbilang kecil. Namun, demi menghidupi keluarganya, ia pun melakukan jual darah di rumah sakit terdekat. Ia jual darah bersama a Fang dan Gerlong. 


Sebenarnya, Xu Yulan sudah punya pacar yaitu He Xiaoyong. Namun, Xu Sanguan menawarinya sesuatu yang membuat Xu Yulan dilema.


"Kamu cuma punya satu anak perempuan Xu Yulan. Xu Yulan kalau kawin dengan He Xiaoyong garis keluargamu terputus, anaknya nanti tak peduli laki atau perempuan, tetap saja marganya He. Tapi kalau dia kawin denganku, margaku aslinya sudah Xu, jadi anak yang lahir tak peduli laki atau perempuan marganya sudah pasti Xu. Dupa marga Xu kalian tetap tersambung, dijamin ada keturunan yang bakar dupa buat leluhur kalian. Aku kawin dengan Xu Yulan, sebenarnya sama-sama kalian dapat mantu yang rela masuk ke keluarga kalian. Bukan anak perempuan kalian yang dikasih ke keluarga orang." (Hlm. 31)


Akhirnya, Xu Sanguan menikah dengan Xu Yulan sebulan kemudian. Dari pernikahan keduanya, terlahir tiga anak laki-laki yaitu Xu Yile (Senang Satu), Xu Erle (Senang dua), dan Xu Sanle (Senang tiga). 


Suatu hari, saat Xu Yile sudah lebih besar badannya, Xu Sanguan makin sering mendengar desas-desus tentang siapa ayah kandung Xu Yile. Wajah Xu Yile makin mirip dengan He Xiaoyong, mantan pacar Xu Yulan. Inilah yang membuat Xu Sanguan marah. Ia tak percaya bahwa anaknya justru bukan anak kandungnya, karena mengalir darah He Xiaoyong. Lelaki itu marah dan membuat Xu Yulan menjadi makin sengsara. Xu Sanguan berselingkuh, bahkan ia pun membuat keributan dengan para tetangga. Aib keluarga itu menyebar dengan cepat ke seluruh kota. 


Xu Yile yang tak tahu menahu tentang insiden yang dialami ibunya sebelum melahirkan dirinya, membuat ia sedih.  Xu Sanguan tak mau menganggapnya sebagai anak. Bahkan, ia pun dikucilkan. 


Bayangkan, saat kedua saudaranya diajak ke restoran untuk makan makanan enak, Xu Yile harus menahan lapar dan hanya makan ubi bakar yang dibayar dengan uang seadanya. Xu Sanguan merasa rugi selama ini anak yang dianggapnya sebagai kebanggaan karena lahir dari darah dagingnya, ternyata adalah anak hasil hubungan gelap istrinya dengan lelaki lain. 


Xu Sanguan merasa malu dan kecewa. Seisi kota telah mengetahui aib keluarganya. Namun, He Xiaoyong tak mau menganggap Xu Yile anaknya. Bahkan, saat Xu Yile bertengkar dengan anak lain hingga kepalanya berdarah dan dilarikan ke rumah sakit, He Xiaoyong tak peduli dengan biaya berobat yang harus ditanggung untuk menolong anak yang cidera karena perbuatan Xu Yile. 


“Kalian bilang Xu Sanguan bakal bayar?”

“Tidak mungkin.”

“Dulu Xu Sanguan tidak tahu sudah sembilan tahun jadi pecundang, dibodohi dan dibohongi ya sudah biasa saja berlalu. Tapi, sekarang dia sudah tahu, kala sudah tahu masih bayar juga, ini apa lagi namanya kalau bukan habiskan duit demi jadi pecundang?” (hlm. 66)


Demi membayar biaya pengobatan anak Fang si tukang besi yang masuk rumah sakit karena perbuatan Xu Yile, Xu Sanguan pun berpikir akan menjual darah. Tanpa pikir panjang, ia ke rumah sakit untuk menjual darah.  Kalau tidak begitu, barang-barang yang disita oleh A Fang akan tergadai dan tak bisa dikembalikan ke rumahnya. 


Sebelum menjual darah, ada ritual yang biasa dilakukan oleh Xu Sanguan dan teman-temannya, yaitu meminum banyak air hingga bermangkuk-mangkuk. Setiap air yang diminum akan membuat darah lebih encer dan darah yang diambil jadi lebih banyak. Bisa dijual hingga 3 mangkuk darah. 


Namun, ada patangan yang tak boleh dilakukan yaitu tidak boleh minum terlalu banyak air karena akan membuat kantung kemihnya rusak. Selain itu, jual darah hanya boleh 3 bulan sekali, bukan setiap bulan sekali. Karena kualitas darah akan makin bagus setiap pergantian 3 bulanan. Selain itu, setelah darah diambil, Xu Sanguan harus minum arak kuning yang dipanaskan dan hati babi goreng di retoran kemenangan untuk memulihkan kesehatannya. 


Sayangnya, rezim Mao membuat kekacauan di Tiongkok, hingga keluarga Xu Sanguan dan xu Yulan menjadi sengsara. Mereka harus mengalami bencana kelaparan, bahkan berbulan-bulan hanya bertahan dengan makan bubur jagung yang diencerkan. Benar-benar bencana kemiskinan dan kelaparan yang membuat tubuh anak-anaknya menjadi sangat kurus dan tak terawat. 


Selain itu, Rezim Mao juga meminta setiap anak laki-laki di keluarga untuk dikirim ke desa untuk bekerja keras bagi negara. Bahkan, yang paling parah, tak ada makanan yang layak untuk dimakan. Xu Yile yang dikirim ke desa pun sakit, bahkan ia yang harusnya bisa makan pakai beras yang dimasak, sayangnya beras itu menjadi berlumut karena diletakkan di kotak kardus yang basah.


Kelaparan membuat segalanya menjadi cukup sulit. Bahkan, Rezim Mao tidak peduli apakah orang-orang yang dikirim ke desa masih hidup dalam keadaan sehat ataupun tidak. Itu sebabnya, Xu Sanguan berusaha agar anaknya dapat segera dikembalikan ke kota dan tinggal dengannya.  


Suatu hari, Xu Yulan bahkan harus menjalani hari-hari yang menyedihkan karena kekejaman Rezim Mao. Rezim Mao ini menggayang perempuan yang dianggap pelacur, lalu meminta Xu Yulan untuk berdiri di rapat atau jalan raya dengan papan di dadanya bertuliskan statusnya sebagai perempuan yang tidak baik. Itulah kekejaman Rezim Mao yang membuat Xu Yulan makin sengsara. 


Namun, di antara semuanya, yang paling menyedihkan adalah saat Xu Sanguan mendapati anaknya, Xu Yile sakit parah hingga harus dilarikan ke rumah sakit di Beijing. Namun, uang yang ia miliki tak ada. Hingga ia harus masuk ke rumah-rumah tetangga untuk meminta sumbangan dan meminjam uang demi kesembuhan anaknya. 


Saat sakit Xu Yile makin menjadi, Xu Sanguan pun terpikir untuk menjual darah. Namun, ia tak bisa menjual darah lagi di kota itu, karena Li Petugas Rumah Sakit tidak mau menerima jual darah yang berisiko membuat penjual darah itu mati karena kehabisan darah. 


Sudah tahu kan bahwa ada pantangan tidak boleh jual darah dengan selang waktu yang berdekatan alias harus dijarak selama 3 bulan sekali. Karena akan berdampak pada kesehatan orang tersebut. Badannya bisa soak(rusak) dan tidak dapat sehat kembali. Itu alasan Li tidak mau menerima darah dari Xu Sanguan. 


Xu Sanguan pun mengambil jalan ekstrim yaitu ia pergi ke Beijing pakai kapal dan perahu, dan setiap kali kapal singgah ke kota lain, ia akan berhenti untuk jual darah. Jual darah kali ini sangat berisiko karena membuat tubuh Xu Sanguan menjadi menggigil dan hampir pingsan. Namun, ia tetap berusaha untuk bisa mengumpulkan pundi-pundi uang demi kesembuhan anaknya, Xu Yile. 


Saat proses jual darah di rumah sakit setiap kota yang disinggahinya itu, Xu Sanguan bertemu dengan orang-orang yang menolongnya. Di titik inilah ia baru paham, bahwa meskipun Xu Yile bukan anak kandungnya, namun ikatan kekeluargaan yang terjalin tak akan mampu membuat ia tega membiarkan anaknya menjadi mayat. 


“Yile, kamu sudah jauh mendingan. Warna mukamu sudah bukan abu-abu lagi. Suaramu juga sudah keras lagi. Kau kelihatan punya semangat sekarang, tapi pundakmu masih saja kurus. Yile, tadi waktu aku masuk dan lihat ranjangmu kosong, aku kira kamu sudah mati...” (hlm. 272)


“Xu Sanguan, kamu kenapa menangis lagi?” 

“Aku tadi menangis karena kira Yile sudah mati. Aku sekarang menangis karena lihat Yile masih hidup.” (hlm. 272)


Chronicle of a Blood Merchant mengisahkan tentang perjuangan Xu Sanguan untuk menghidupi keluarganya dari jual darah. Setiap jua darah, ia mendapat uang 35 Yuan. Uang yang cukup besar untuk biaya hidup hingga berbulan-bulan. Itu sebabnya, Xu Sanguan merasa bahwa pekerjaan jual darah dapat membuat keluarganya makmur. Namun, siapa sangka ia harus menjual darah untuk menolong anaknya sendiri. 


***
Menurut Saya : 


Novel Chronicle of a Blood Merchant ini membuat saya ternganga karena kisah keluarga Xu Sanguan dan Xu Yulan sungguh tragis. Kalau kamu merasa hidupnya sekarang sengsara karena pandemi COVID-19, ya kurang lebih sama ya. Sama-sama dilanda kelaparan dan kesulitan uang, meskipun kita lebih beruntung karena masih bisa hidup sampai sekarang.


Hidup pada zaman Rezim Mao di Tiongkok sangat berisiko. Karena rezim Mao meminta semua rakyat untuk tunduk dan patuh pada perintah. Satu komando, satu aksi. Karena itu tidak ada yang mau membantah karena rezim ini sangat kejam. 


Yang bikin saya terkejut adalah karena detail kisah novel Chronicle of a Blood Merchant mampu membawa pembaca untuk ikut larut dalam kisah Xu Sanguan dan keluarganya. 


Mereka hanyalah keluarga kecil yang berusaha bertahan hidup di tengah Rezim Mao yang sangat tidak manusiawi. Selain meminta Xu Yulan, istri Xu Sanguan untuk menjadi simbol perempuan tidak baik dengan menggunduli separuh rambut di kepala, rezim itu juga meminta 3 anak laki-laki Xu Sanguan dan Xu Yulan untuk bekerja bagi pemerintah, namun tidak dibayar dengan layak. Bahkan karena itu mereka jadi sakit dan kurus. 


Yang bikin saya terkaget adalah rezim komunis ini membuat semua orang kelaparan. Bayangkan saja, Xu Sanguan harus berhemat demi bisa makan. Bahkan Xu Yulan yang sudah mempersiapkan persediaan beras yang dia simpan selama ini pun, masih tidak bisa membuat keluarganya jauh-jauh dari kemiskinan dan kelaparan yang sangat menyiksa. 


Jadi, kalau ada yang bilang perut yang lapar adalah sumber dari kejahatan, itu benar. Hanya saja, Xu Sanguan masih sanggup untuk bertahan hidup dengan keluarganya lewat jual darah. Meskipun harus mengorbankan nyawanya sendiri, bahkan jika nyawanya harus ditukar dengan uang, ia pun rela. 


Wabah kelaparan yang melanda membuat saya sedih karena kisah kemiskinan di zaman Rezim Mao Tiongkok ini ternyata sangat miris. Bayangkan saja, di kota pun orang-orang mulai mengubah penampilannya dengan menggunakan ikatan kain merah di lengan. Tujuannya agar tidak dianggap menentang rezim yang berkuasa saat itu. 


Selain itu, mereka keluar masuk rumah untuk merampas semua bahan makanan. Itu sebabnya, Xu Yulan hanya bisa memasak dengan bahan makanan yang ia simpan di tempat tersembunyi. Ia masih bisa makan dengan beras sisa itu bersama keluarganya. 


Namun, setelah bahan makanan habis, jika ingin makan, maka keluarganya harus mengantri di kantin besar kota yang sudah dibangun oleh pemerintah Rezim Mao. Mereka tidak boleh masak sendiri, namun rezim membuat kantin besar di beberapa tempat seperti kuil dan gedung yang dialihfungsikan sebagai kantin. 


Misalnya saja: ada tiga kantin besar yang digunakan yaitu : kuil kedamaian langit satu, gedung pertunjukan, dan pabrik sutra yang berubah menjadi kantin. 


Cara Xu Yulan menyimpan beras patut dicontoh nih. Setiap kali akan masak, Xu Yulan akan selalu menyisihkan beras sebesar satu genggam kecil yang disimpan di tempayan kecil. Jika sudah banyak akan dipindah ke tempayan besar. Jika sudah penuh, maka ia akan menjualnya, lalu uangnya ditabung. 


“Setiap orang kalau makan lebih banyak satu suap tidak merasa. Lebih sedikit satu suapan juga pasti tidak akan merasa.” (hlm. 127)


Inilah cara Xu Yulan mengirit pengeluarannya untuk makan sehari-hari. Hingga ia mampu menyimpan sisa berasnya untuk dijual lagi dan dijadikan cadangan beras saat dibutuhkan. 


Saya rasa, kekejaman era Rezim Mao ini yang paling bikin rakyat di Tiongkok sengsara. Bahkan sampai saat ini pun aturan sama rata sama rasa masih berlaku, dan membuat berbagai perbedaan yang sangat mencolok antara Tiongkok dan negara lainnya. Meskipun begitu, kadarnya tidak separah saat pertama kali diberlakukan sih. 


Hingga kini Tiongkok pun masih membatasi berbagai kegiatan diplomasi dengan negara lain, bahkan yang paling terbaru adanya pembatasan kerjasama dunia entertainment antara Tiongkok dengan negara lain. Jadi, saya rasa, kisah dalam novel Chronicle of a Blood Merchant Yu Hua ini masih sangat relevan dengan kehidupan sekarang. Meskipun dalam kadar yang lebih sedikit  ya. 


Novel Chronicle of a Blood Merchant karya Yu Hua ini juga sudah diadaptasi menjadi film Korea dengan judul yang sama, namun kisahnya sedikit berbeda ya karena menyesuaikan dengan budaya Korea dan situasi Korea yang menjadi setting cerita saat itu. 


Kalau kamu ingin nonton film Korea Chronicle of a Blood Merchant pun sudah bisa kamu tonton di aplikasi VIU Premium. So, selamat menikmati ceritanya ya! Semoga makin menambah rasa simpati dan melembutkan hati kita terhadap penderitaan orang lain. :)

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^