5 March 2021

[Resensi Buku] Selamat Tinggal - Tere Liye

 

resensi novel selamat tinggal  tere liye

Judul Buku : Selamat Tinggal

Pengarang : Tere Liye

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Terbit : Cetakan Pertama, 2020

Tebal : 360 halaman

ISBN : 9786020647821

Rating : 4/5 bintang

Harga : Rp. 85.000

Download ebook Selamat Tinggal Tere Liye pdf di Google Play Book

 

Sinopsis Buku Selamat Tinggal – Tere Liye :

Kita tidak sempurna. Kita mungkin punya keburukan; melakukan kesalahan, bahkan berbuat jahat, menyakiti orang lain. Tapi beruntunglah yang mau berubah. Berjanji tidak melakukannya lagi memperbaiki, dan menebus kesalahan tersebut.

Mari tutup masa lalu yang kelam, mari membuka halaman yang baru. Jangan ragu-ragu. Jangan cemas. Tinggalkanlah kebodohan dan ketidakpedulian. “Selamat Tinggal” suka berbohong, “Selamat Tinggal” kecurangan, “Selamat Tinggal” sifat-sifat buruk lainnya.

Karena sejatinya, kita tahu persis apakah kita memang benar-benar bahagia, baik, dan jujur. Sungguh “Selamat Tinggal” kepalsuan hidup.

Selamat membaca novel ini. Dan jika kamu telah tiba di halaman terakhirnya, merasa novel ini menginspirasimu, maka kabarkan kepada teman, kerabat, keluarga lainnya. Semoga inspirasinya menyebar luas.

 

Resensi Buku Selamat Tinggal – Tere Liye :


Sintong Tinggal seorang pemuda yang berasal dari Medan. Ia kuliah di sebuah kampus ternama. Namun, selain menjadi mahasiswa, ia juga menjadi penjaga toko buku bajakan. Toko buku yang dijaganya bernama toko buku Berkah, milik pakdhenya.

 

Suatu hari, saat sedang menjaga toko buku bajakan, Sintong bertemu dengan dua gadis bernama Jes dan Bunga. Jess anak orang kaya, sedangkan Bunga adalah sahabat Jess. Jess dan Bunga membawa banyak perubahan pada sikap Sintong.


"Di toko yang dia jaga ini memang banyak logika yang tidak berlaku. Lihat saja, nama tokohnya Berkah, entah kesambet setan mana dulu pemiliknya punya ide nama tersebut. Di mana coba berkahnya ilmu yang diperoleh dari buku bajakan?" (hlm. 13)

 

Awalnya, Sintong sangat ogah-ogahan untuk menyelesaikan skripsi, namun demi mengejar tenggat waktu dan juga simpati dari Jess, Sintong pun mulai melakukan banyak perubahan. Perubahan itu dimulai saat Sintong mengobrol dengan Jess soal keinginan Jess dan Bunga belajar menulis pada Sintong. Tak disangka, kecintaan Sintong pada hobi menulis pun kembali menyala.

 

Sintong ingin memperjuangkan skripsinya yang diambang waktu pengumpulan. Jika ia tidak lulus, maka ia akan drop out karena sudah tahun ke tujuh kuliah. Bahkan Dekannya pun meminta Sintong untuk serius menyelesaikan skripsinya, mengingat pemuda itu dulunya termasuk orang yang sangat bertalenta.

 

Sintong Tinggal pernah menjadi redaktur di majalah kampusnya, bahkan ia juga kerap menulis opini ke surat kabar untuk mengcounter isu-isu sosial yang sedang muncul di masyarakat. Itulah alasan Dekan mau memberinya tambahan waktu agar Sintong bisa segera menyelesaikan kuliahnya.

 

Namun, satu yang membuat Sintong tetap merasa menyesal adalah kisah cintanya yang kandas dengan gadis bernama Mawar. Mawar adalah perempuan yang pertama kali ia cintai, sejak masa sekolah dulu. Mawar menjadi satu-satunya gadis yang ia cintai, meskipun kisah cintanya harus kandas karena Mawar menikah dengan orang lain yang lebih memiliki karir cemerlang.

 

Tak disangka, suatu hari takdir membawa Sintong untuk bertemu lagi dengan Mawar, namun dalam kondisi yang sangat jauh berbeda. Mawar dituduh melakukan tindakan pemalsuan obat-obatan sehingga dijebloskan ke penjara. Ia bahkan menjual obat-obatan itu dengan distribusi yang sangat masif. Itulah yang membuat Sintong terkejut, mengingat dulu Mawar adalah orang yang sangat ia cintai, sekaligus gadis baik-baik. 


Sintong tak menyangka bahwa Mawar akan melakukan pemalsuan obat-obatan itu. Kejahatan yang memang layak untuk dijatuhi hukuman yang setimpal karena efeknya mengenai banyak orang yang memakai produk obat palsu.

 

Suatu hari, saat Sintong Tinggal akan mengajukan tema baru untuk skripsinya, ia menemukan buku karya Sutan Pane. Buku yang sangat langka karena merupakan salah satu masterpiece dari Sutan Pane. 


Sutan Pane dulu sering menulis di media di tahun 60 an. Namun, ia menghilang dan tak ada yang tahu kemana ia berada saat ini. Sintong menggunakan buku Sutan Pane untuk dijadikan bahan penelitian skripsi, selain itu, ia juga harus mencari tahu fakta-fakta dan keberadaan buku Sutan Pane lainnya sebagai referensi bukunya.


"Saya percaya padamu. Buku itu berjodoh dan menemukanmu, maka kliping ini juga berjodoh. Tuliskanlah tentang Sutan Pane. Warisi semangatnya. Keberaniannya. Visinya. Netralitasnya. Kamu bisa menjadi penulis seperti seorang Sutan Pane." (hlm. 95)


Tulisan Sutan Pane sangat memengaruhi pola pikir masyarakat pada saat itu. Ia mampu membuat pemikirannya menjadi lebih netral dan jernih. Tidak memihak pada siapapun. Sutan Pane mampu menjadi penulis yang produktif dan menghasilkan karya yang sangat dibutuhkan oleh zamannya. Menyuarakan keberanian dan idealisme yang dipegang teguh olehnya. 


"Dia terus menulis dengan netral, objektif, karena dia mencintai negeri ini. Dia tida perlu berpikir dua kali untuk mengkritik kelompok mana pun. Baginya, kekuasaan selalu temporer. Firaun sekalipun, yang mengaku Tuhan, tetap tumbang tapi sebuah bangsa harus dirawat ratusan tahun kemudian agar rakyatnya sejahtera, hukum dan keadilan ditegakkan." (hlm. 137)


Lalu, bagaimana Sintong dapat menyelesaikan skripsinya? Kemana buku Sutan Pane lainnya yang belum ditemukan?

 

***

Menurut Saya :

 

Di novel Selamat Tinggal karya Tere Liye ini, penulis yaitu bang Darwis Tere Liye menggunakan bantuan dari co-writer yang bernama Saepuddin. Jadi, bisa dibilang novel Selamat Tinggak ini bukan karya Tere Liye sepenuhnya. Namun, saya merasa sah-sah saja penulis menggunakan co-writer mengingat Tere Liye memiliki beberapa project menulis yang harus diselesaikan dalam waktu yang berdekatan.

 

Salah satu karya Tere Liye yang kejar tayang adalah series Bumi yang sudah sampai 9 judul diterbitkan dalam bentuk buku cetak. Novel Bumi series ini sangat laris dan menjadi best seller. Selain itu, ada juga novel Pulang Pergi Series juga membuat Tere Liye lumayan kewalahan untuk menulis dalam waktu yang relatif singkat.

 

Oiya, novel Selamat Tinggal ini merupakan karya dari Tere Liye yang sangat bagus menurut saya. Novel ini menyoroti tentang isu pembajakan karya. Novel ini mengingatkan pembaca tentang betapa pentingnya untuk menghargai karya orang lain, salah satunya adalah membeli produk asli, bukan bajakan. Semisal : menonton film legal dengan berlangganan bayar, menonton film di bioskop, membeli novel dan buku original bukan bajakan, membayar royalti untuk lagu yang digubah dan diuplad kembali di youtube, dsb.

 

Soal kekayaan hak intelektual ini memang sangat rumit ya, mengingat di Indonesia masih sedikit orang yang concern tentang HAKI, terutama yang berhubungan dengan buku, perhiasan, fashion, tas, film, lagu, dll. Masih banyak kan yang jual produk KW atau tiruannya tanpa membayar royati kepada pemegang brand asli?

 

Saat ini masih banyak orang yang bahkan senang membeli buku bajakan karena tergiur dengan harganya yang murah. Padahal, penulis sudah bersusah payah menulis dan hanya mendapatkan uang royalti sangat sedikit. Hanya 10% dari harga jual bukunya. Namun, itu pun sudah dipotong dengan pajak 15%. Jadi, jangan bayangkan uang penulis itu banyak ya. Hehe

 

Untuk mendapatkan royalti ratusan juta rupiah, penulis harus menjual hingga puluhan ribu eksemplar buku. Itu sebabnya, buku bajakan amat sangat merugikan penulis, dan orang-orang di balik layar penerbitan, mulai dari penerbit, editor, distributor, toko buku, dll. Jadi, amat wajar jika Tere Liye juga merasakan kejamnya industri buku bajakan ini. Ia sangat sebal dan gelisah ingin menuangkannya dalam bentuk novel. Tujuannya apa? Agar banyak orang sadar bahwa mengonsumsi produk bajakan itu sangat merugikan bagi orang lain.

 

Di kisah Sintong Tinggal ini, beberapa kali Tere Liye menyindir tentang penggunaan produk bajakan yang sangat merugikan orang lain. Misalnya : Sintong yang menjual buku bajakan kepada para mahasiswa. Bahkan Sintong juga turut membantu membuat toko online di marketplace yang menjual produk bajakan. Inilah yang disindir oleh Tere Liye.

 

Selain itu, beberapa tokoh di novel Sintong Tinggal ini juga memiliki masalah tentang bajakan. Misalnya saja, dua gadis yang sedang dekat dengan Sintong yaitu Jess dan Bunga. Saya terkejut dengan plot twist yang dihadirkan lewat dua tokoh gadis ini. Saya pikir, mereka orang baik. 


Well ya, di novel Selamat Tinggal ini memang Tere Liye menampilkan para tokohnya dengan sifat-sifat dan karakter yang jauh dari kata sempurna. Jadi, jangan berharap lebih ya. Hehe. Cukup dinikmati dan dihayati saja, karena manusia memang tak ada yang sempurna, karena kamu bukan Dewa 19. :p 

 

Oh iya, soal cerita buku bajakan yang dijual di toko Berkah milik Pakde Sintong, saya tergelitik dengan ceritanya. Memang sekarang orang sangat mudah menjual apa saja di marketplace. Bahkan, tak peduli apakah itu produk bajakan atau asli, semua bisa dijual. Itu sebabnya, gerakan para penulis yang memprotes penjualan buku bajakan di marketplace agak susah mendapat respon yang tegas dari pihak marketplace.

 

Ya, tahu sendiri dong, kalau protes tentang buku bajakan diiyakan, lalu produknya ditake down, berarti semua yang palsu alias branded KW akan terkena dampaknya. Dan itu berarti bisa jadi separuh dari isi marketplace itu sendiri.

 

Di marketplace, penjualan novel bajakan termasuk novel sangat marak. Novel bajakan itu beredar dengan harga yang sangat murah 20-30 rb saja per buku. Padahal buku asli itu bisa sampai 80-90 rb. Jadi, jangan terkecoh dengan harga yang murah ya. Bisa jadi itu buku bajakan.

 

Salah satu ciri buku bajakan adalah jenis kertas yang jelek dan ternyata pakai tinta yang beraroma nyegrak. Tinta ini bisa berbahaya jika dihirup oleh orang. Bahkan, tulisan kertas di bukunya kadang tidak bisa terbaca dengan jelas apalagi kualitas kertasnya yang sangat jauh dari kata bagus.

 

Jika demikian, apa gunanya membeli buku bajakan yang kualitas cetakannya sangat jauh dari standar percetakan penerbit besar? Itulah yang membuat pembeli buku bajakan juga rugi.

 

Saya sendiri pernah melihat adik saya mendapat buku bajakan. Awalnya, dia beli karena dipikir harganya memang murah. Setelah diterima ternyata bukunya bajakan dan gampang brodol. Makanya habis itu bukunya bingung mau diapakan. Dibakar, dibuang, disobek atau diapain enaknya? Kan kalau dibaca juga bikin sakit mata karena hurufnya pada ilang. 


Saya juga pernah beli buku yang ternyata repro. Padahal saya kira itu buku asli, karena harganya nggak jauh beda. Sekitar 70 rb an. Duh, abis itu saya bingung mau diapain bukunya. Hiks

 

Well ya...sebelum beli, tanyain lebih dulu ya untuk memastikan, apakah buku yang dijual asli atau palsu. Karena yang asli itu ya tetap ada yang harga murah kok, bahkan ada yang dijual obral. Tapi ya... ada juga penjual yang menjual buku bajakan tapi ngakunya buku itu original. Padahal buku tersebut repro alias dicetak ulang kaya di percetakan foto copian. Sangat disayangkan sih, karena kualitas kertasnya tentu saja jelek sekali.

 

See? Novel Selamat Tinggal ini bener-bener menggelitik saya untuk komentar banyak di postingan ini. Semoga aja semua yang baca novelnya terketuk ya untuk mau mulai sedikit demi sedikit beralih ke buku asli, bukan bajakan. Sayang kan kalau penulisnya mogok nulis novel bagus. Trus, nanti kamu baca buku apa dong, kak? :p

 

Quotes Novel Selamat Tinggal - Tere Liye : 


"Setiap kita berharap mendapatkan sesuatu, maka bersiaplah melepaskannya. Karena di dunia ini, bahkan yang sudah jadi milik kita bisa hilang, apalagi yang belum." (hlm. 270)


"Seharusnya aku menoleh, lantas menyadari bahwa ada orang yang sangat pantas, yang bahkan pantas bagiku menghabiskan seluruh hidupku untuknya. Seseorang yang selalu menyayangiku, apa pun yang terjadi. Termasuk menerima kesalahan dan kekuranganku." (hlm. 304)


"Jangan berkecil hati, Kawan. Jika hari ini kepal jemarimu masih lemah. Jangan berkecil hati, Kawan, jika hari ini suaramu jauh dari lantang dan didengarkan. Sungguh jangan berkecil hati, Kawan, jika dirimu belum mampu mengubah situasi. Ayo, mari berdiri bersamaku. Kita akan melangkah bersama. Saling menguatkan, saling mendukung."

 

"Ayo mari kita memperbaiki. Kita mulai dari diri kita sendiri, dari keluarga sendiri, esok lusa kita akan menyaksikan perubahan telah datang. Saat itu tiba, suara-suara kita akan membahana terdengar. Kepal tinju kita akan menggetarkan gunung-gunung. Percayalah." (hlm. 321)

 

Overall, rating dari saya 4/5 bintang untuk novel Selamat Tinggal karya Tere Liye ini. Yukk cuss yang mau baca, buruan deh! Bukunya bagus dan bikin mikir, hehe. Selamat membaca yaa!

 

1 comment:

  1. Seperti ya buku ini jadi daftar buku yang wajib dibeli. Ulasan lengkap. Jadi tertarik.

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^