14 June 2021

[Resensi Buku] Teka-teki Rubi Merah - Fayanna


Novel anak detektif cilik - teka-teki rubi merah


Judul buku : Teka-teki Rubi Merah (Seri Kecil-kecil Jadi Detektif)

Pengarang : Fayanna Ailisha Davianny

Penerbit : DAR! Mizan

Terbit : Cetakan pertama, 2015

Tebal : 92 halaman

ISBN : 978-602-242-664-6

Rating : 4/5 bintang

Harga buku : Rp 5.000

Beli di Shopee 


Sinopsis Buku Teka-Teki Rubi Merah: 


Tiga Sekawan yang terdiri atas Tasya, Fifi, dan Ahmad berlibur ke rumah Pakde Marno di Desa Orleans. Di sana mereka mengalami kejadian-kejadian seru. Mereka menemukan batu rubi merah di bebatuan pinggir sungai dekat air terjun. 

Pada hari yang sama, Bude Marno kehilangan batu rubi merah miliknya yang merupakan permata langka. 

Ketika Tiga Sekawan menyerahkan batu rubi merah temuan mereka kepada Bude Marno,  ternyata permata itu palsu. Waaah... 

Tiga Sekawan tertantang untuk menyelidikinya. Satu per satu mereka memeriksa orang-orang terdekat dengan Pakde dan Bude Marno yang patut dicurigai. 

Siapa sajakah orang-orang itu? 

Apakah Tiga Sekawan berhasil menemukan kembali batu rubi merah milik Bude Marno?


Resensi Buku Teka-teki Rubi Merah :

 

Baca novel anak bertema detektif yang ditulis oleh anak SD kelas 4 itu rasanya bikin saya takjub. Nggak banyak anak yang bisa menuangkan idenya ke dalam sebuah tulisan, apalagi ide tulisan itu runut dan dijadikan sebuah buku.

Novel anak Teka-teki Rubi Merah ini menurut saya sudah termasuk novel detektif yang bikin pembacanya jadi ikutan mikir, jadi label novel kecil-kecil jadi detektif bukanlah isapan jempol belaka. Karena pembaca memang disuguhi teka-teki tentang hilangnya rubi merah.


Baca juga : Resensi Buku Serikat Sapta Siaga by Enid Blyton


Pembaca anak diajak untuk mencari tahu bagaimana teka-teki itu bisa dipecahkan melalui clue-clue yang sudah dicari oleh para tokoh dalam novel Teka-teki Rubi Merah ini. Misalnya saja saat harus mencari kira-kira siapa saja orang yang tahu letak batu Rubi itu sebelum hilang, mereka mencari dengan menuliskan beberapa nama yang berhubungan dekat dengan korban, yaitu Budhe Marno yang memiliki batu Rubi merah itu.

 

“Bude, apakah bude tahu, kapan lemari ini dirusak? Kapan bude mengetahui lemari sudah rusak? Siapa saja yang tahu kalau Bude punya batu rubi merah dan disimpan di sini?” (Hlm. 46)

 

Setelah itu, penulis mengajak pembaca untuk melanjutkan pencarian dengan menggunakan logika. Misalnya : apakah orang yang dicurigai itu memang ada motif untuk mencuri? Jika iya, penelusuran bisa dilanjutkan lagi, jika tidak nama tersebut akan dicoret dari daftar calon tersangka.

 

“Ahmad, gimana menurutmu? Apakah Mbak Iyah tetap mungkin mengambil  batu rubi merah itu?

“Hm, kalau menurutku sih, sepertinya nggak mungkin dia yang melakukan, deh! Dari sikap dan gerak-geriknya, dia orang jujur dan polos. Apalagi dia enggak punya motif mengambil batu rubi merah. Untuk apa? Benar, enggak, Fi?”

“Iya, aku seuju. Menurutku juga gitu. Kalau gitu, kita coret saja nama Mbak Iyah dari daftar orang yang mungkin mengambil batu rubi merah itu.” (Hlm. 50)

 

Ya, kedengerannya gampang ya. Tapi nyari motif pelaku untuk mencuri Batu Rubi itu juga bukan hal yang mudah. Karena anak-anak juga nggak tahu yang mana aja yang punya niat jahat. Jadi Trio Sekawan satu per satu mendatangi tempat yang dicurigai sebagai tempat pelaku mencuri atau menyimpan batu tersebut.

 

Misalnya pas Rubi merah itu ditemukan di batu sekitar air terjun, tapi ternyata batunya palsu. Padahal mereka mengira batu itu asli. Tapi, siapa yang sengaja menjatuhkan batu rubi palsu di sekitar air terjun? Apa motif mereka menjatuhkannya di situ? Apalagi mereka bertemu seseorang yang mencurigakan yaitu pak Didit yang mengaku sering main ke sekitar air terjun itu.

 

“Ngapain ya kemarin dia ke sini, lalu sekarang sudah ke sini lagi? Jangan-jangan, dia menyimpan suatu rahasia. Misalnya, dia yang membuang batu rubi merah palsu ke batu-batu di sini. Bisa saja, kan? Soalnya, menurutku sikapnya aneh, deh! Kayak orang bingung gitu.”

 

“Iya, aku juga heran. Apa mungkin dia yang mengambil batu rubi merah? Atau dia yang membuat batu rubi merah palsu yang dibuang di sini agar perbuatannya mengambil batu rubi merah tidak ketahuan? Atau sebenarnya yang mengambil batu rubi merah dan yang membuang batu rubi merah palsu adalah dua orang yang berbeda? Duh, binguuung!” (Hlm. 57)

 

Endingnya beneran surprise sih kalau ada udang di balik batu. Ada alasan kenapa si pencuri ambil batu itu, dan anehnya tetep aja nggak dipanggilin polisi. Wekeke. Tapi buku anak ini seru karena mengajak anak-anak untuk jadi detektif. Lumayan kan jadi tahu kerjaan detektif bukan hanya asal nebak-nebak buah manggis tapi nebaknya pakai mengamati alibi si pelaku, ngumpulin berbagai macam bukti, bahkan mencatat semuanya di notes apa aja hal-hal yang mencurigakan. Jadi, pekerjaannya detektif memang lebih kompleks. :D


Baca juga : Resensi Buku Naura & Genk Juara 


Overall, novel Teka-teki Rubi Merah ini baguuss. Alur ceritanya meskipun sedikit ketebak tapi tetap bikin penasaran sampai akhir cerita. Ratingnya 4/5 bintang untuk novel Teka-teki Rubi Merah ini.

 

Kalau kamu gimana? Punya kesan pas baca novel detektif juga? Atau punya novel detektif favorit? Share dong di komentar. ;)

 

Buku anak ini masuk dalam list Children’s Literature Reading Projects


No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^