16 August 2021

Review Buku Komik Pulang (Kompilasi Komik)

 

Kompilasi komik pulang - matto haq

Judul Buku : Pulang (Sebuah Kompilasi Komik)

Pengarang : Matto Haq, dkk

Penerbit : Koloni Komik Indonesia

Terbit : Cetakan Pertama, 2017

Rating : 4/5 bintang

Harga : Rp 55.000

 

Review Buku Pulang :
 

Pulang.

Apa yang terpikir tentang kata pulang di benakmu? Pulang bagi sebagian orang berarti pulang ke rumah, bisa juga pulang ke kampung halaman. Pulang ke tempat yang paling membuat kita nyaman. Bertemu dengan orang yang paling kita cintai.

Saat saya membaca buku Pulang, sebuah kompilasi komik dari penerbit Koloni ini, saya tertegun karena takjub dengan cara para komikus mengemas kisah ini.

Tema pulang -yang sangat spesifik- tak membuat kisah ini klise, tapi mereka justru membuatnya menjadi lebih menarik. Tema pulang dibuat menjadi lebih kaya rasa dan makna. Tak hanya menyoal soal kampung halaman, tapi juga pernak pernik yang menyertainya.

Spektrum rasa di dalam komik ini membuat saya yakin bahwa ada banyak bibit unggul komikus yang bisa dikembangkan untuk jadi komikus tingkat internasional. Mungkin kamu menganggapnya berlebihan. Tapi, saat saya membaca kisah pulang di komik ini, dada saya serasa ikut sesak dan mempertanyakan makna pulang itu sendiri. Pembaca diajak untuk menyelami lagi makna pulang lebih jauh, lebih dalam.

Ada 6 kisah di buku kompilasi komik ini yaitu : Mulih, Kampung Halaman, Home Sweet Home, Pressure, Kembali pada Kenangan Kita, dan Kucing Imut dan Geng Jahil. Keenam kisah ini dituliskan oleh komikus yang berbeda. Pun sama halnya dengan gaya sketsa komik yang dipakai juga sangat berbeda jauh, tidak ada yang mirip sama sekali. Jadi bisa dibilang kompilasi komik ini justru menampilkan keragaman sketsa komik dan gaya cerita juga.

Kisah Mulih di bab pertama membuka cerita Pulang yang menakjubkan. Pulang bagi sebagian orang berati pulang pada orang tua di kampung halaman. Pulang untuk bisa memeluk lagi kedua orang tua di rumah. Di kampung halaman yang sudah ditinggalkan sekian tahun lamanya.

Komik Mulih berkisah tentang Abdi, seorang anak laki-laki yang pulang ke kampung halaman setelah bertahun-tahun menjadi TKI. Abdi tak mau pulang sebelum sukses menjadi orang di tempat kerjanya. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa menjadi seorang lelaki yang sanggup membiayai diri dan keluarganya dengan gaji yang besar.

 

“Rasanya bahagia bisa kembali berkumpul bersama keluarga seperti ini. Aku tidak pernah pulang kalau belum sukses karena takut dicibir dan ditertawakan. Kalau bapak hanya akan lebih marah padaku dan membenciku. Ternyata kekhawatiranku tak beralasan. Seharusnya aku memberanikan pulang dari dulu.”

 

Abdi pun pulang ke pelosok desa yang terletak di kaki gunung. Desa itu hanya bisa didatangi menggunakan kendaraan umum seperti bus. Saat Abdi turun dari bus, ia bilang pada sopir bus ingin berhenti di desa.

Masalahnya, Abdi mengira desa yang akan ia datangi masih seperti dulu. Namun, tiba-tiba Abdi bertemu dengan orang tuanya dan mereka bahagia. Hingga ia tersadar ia terkejut karena merasa tiba-tiba di dalam pikirannya penuh dengan bayang-bayang desa yang tenggelam terkena banjir dan longsor.


Tak disangka, pak sopir bus terakhir itu menyusul Abdi ke desa itu. Dan terjadilah hal yang tak mungkin terjadi. Abdi ditemukan pingsan dan mengigau tentang desa yang terkena banjir dan longsor. 


Sebelumnya, Abdi datang ke desanya yang kini sudah jadi desa kosong alias sudah tak ada penghuninya. Desa itu telah hilang karena banjir bandang yang terjadi tiga tahun lalu. Orang tua Abdi telah meninggal bersama korban-korban lainnya. Lalu, siapa yang ia temui saat magrib itu? Apakah arwah orang tuanya atau siapa?


Pas saya baca komik Mulih ini, rasanya merinding banget. Komik Mulih ini membuat rasa ingin pulang ke kampung halaman akan semakin menggebu bagi para perantau. Ya, komik ini bikin saya merinding karena eksekusi ide pulang itu terasa mengaduk-aduk emosi.


Tak hanya Abdi yang merasakan kehilangan, tapi pembaca juga ikut merasakan sesak dan rasa sedih yang menyayat hati. Saat seharusnya pulang menjadi sebuah kepulangan yang menyenangkan, namun justru berakhir dengan kenyataan yang menyedihkan.

 

Ada lagi komik Pressure yang berkisah tentang seorang pengacara perempuan yang kehilangan idealismenya saat menangani kasus korban tabrak lari. Ia ingin pulang ke kampung sejenak untuk mendinginkan pikirannya yang sedang ruwet karena kasus pengadilan.


Ia memutuskan pulang sebentar ke rumahnya. Yang membuatnya tertegun adalah saat orang tuanya menyambutnya seolah ia adalah orang yang sukses dan pantas untuk dibanggakan. Padahal ia sendiri menangis karena apa yang ia perjuangkan di pengadilan ternyata justru jauh dari kata idealis. Ia menghalalkan segala cara agar kasus yang dipegangnya dapat dimenangkan, agar ia dapat kucuran dana besar dari klien yang diurusnya.

 

“Aku sudah melenceng jauh... Aku sudah berubah menjadi sosok orang yang kubenci. Sekarang aku hanya seorang pembohong licik yang lemah...”

“Banyak sekali tekanan yang kudapat di pekerjaan ini. Tapi semua itu nggak sebanding dengan penyesalanku sendiri... Aku sudah melawan prinsipku sendiri dengan bekerja seperti ini. Kemana pun aku melangkah, semua seakan mengingatkanku akan kesalahan yang sudah kubuat. Rasanya seperti terjebak dalam lilitan rantai yang tak sengaja aku ciptakan sendiri.”

“Aku bahkan sampai terlalu takut untuk menghadapi bapak dan ibu... takut membuat kalian kecewa...”

 

Sejujurnya, saat membaca komik Pressure ini megingatkanku dengan banyak idealisme yang kadang bertentangan dengan pekerjaan. Dalam bidang apapun, kita pasti pernah bertemu dengan dilema seperti yang dialami oleh tokoh Dian, si pengacara perempuan ini. Ya, Dian yang justru tak bisa menjadi penerang dalam jalan yang ditempuhnya.

 

Dian dilema dengan pilihan karirnya sendiri. Namun, demi memenuhi janji pada orang tuanya, ia pun kembali ke kota untuk menyelesaikan tugasnya. Ia menyelesaikan kasus yang dipegangnya dengan baik. Tak lagi ada kebohongan karena pemalsuan dokumen untuk membuat kliennya lolos dari jerat hukum.

 

Baca komik Pressure ini bikin saya jadi bertanya-tanya, idealisme seperti apa yang sanggup bertahan di tengah badai apapun? Nyatanya begitu sulit untuk menjadi orang yang benar-benar jujur dan terpercaya seperti yang ingin Dian wujudkan; menjadi pengacara terbaik yang mengungkap kasus dengan lugas dan blak-blakan. Hingga tak ada lagi klien yang suka bermain suap dan tipu-tipu untuk menghindar dari hukum.

 

Ada lagi komik berjudul Kampung Halaman yang membuat saya jadi bertanya-tanya apa arti kampung halaman jika kita tak punya tempat untuk dituju?


Di komik Kampung Halaman, ada Usha yaitu seorang anak remaja yang tak memiliki kampung halaman di luar angkasa. Sejak dulu, Usha telah menetap di luar angkasa karena ia termasuk golongan penduduk terakhir yang terkena dampak dari perang yang terjadi di bumi. Tak ada wilayah di bumi yang mau menerima kelompok pengungsi. Akhirnya, mereka mengungsi di luar angkasa.


Bagi Usha, luar angkasa terasa sama saja, baik bentuk, orang maupun interiornya. Sampai Usha dan temannya pun berkeliling di luar angkasa demi merasakan atmosfir kampung halaman.

 

“Entah kenapa aku merasa nggak nyaman waktu tahu Usha nggak punya tempat buat pulang. Rasanya aneh aja, nggak ada tempat yang bisa dipulangin atau dikangenin.”

“Apa cuma aku aja ya? Mungkin Usha nggak merasa... tapi, luar angkasa itu bikin bingung, lho... Semua tempat rasanya sama. Semua orang selalu datang dan pergi. Rasanya... nggak ada yang bisa dipegang, dan bumi juga begitu jauh...”

“Mungkin benar kata Usha, kampung halaman itu bukan masalah di mana. Tapi siapa yang ada di sana. Mungkin selamanya aku nggak akan merasa luar angkasa itu kampung halamanku. Tapi, ini kan kampung halamannya Usha. Jadi, bukan tempat yang buruk untuk tinggal, kan?”

 

Pas baca kisah Usha yang nggak punya kampung halaman karena seumur hidupnya harus dihabiskan di luar angkasa. Saya jadi teringat dengan para korban perang yang harus mengungsi ke negara lain. Sayangnya, negara ketiga alias negara tetangga kadang tak mau menampung pengungsi. Alasannya tentu saja karena pengungsi bisa jadi momok yang menakutkan, bisa menjadi masalah di kemudian hari karena kesenjangan sosial dan perbedaan budaya, plus masalah lainnya yang bisa timbul di negara mereka tinggal. Apalagi status pengungsi itu tak punya legal apapun, jadi serba salah juga.

 

Jadi, waktu penulis komik mengarahkan kisah Usha ini menjadi pengungsi luar angkasa, saya jadi terpikir... Alangkah mengerikannya jika suatu saat hal itu terjadi. Bumi yang dulu ditempati, tak lagi menjadi kampung halaman. Berubah menjadi luar angkasa, di mana semua hal tidak bisa dipegang dan tak bisa dianggap sebagai kampung halaman. Tak ada tempat untuk dirindukan. Ya, tapi kata-kata Usha yang bilang bahwa ia tak masalah menganggap luar angkasa sebagai kampung halaman karena yang terpenting keluarganya ada di dekatnya.

 

See? Komik Pulang ini sungguh menakjubkan karena ide-idenya sangat unik dan menyentil sisi sentimentil pembacanya. Overall, 4/5 bintang untuk komik Pulang ini. Selamat membaca ya! ;)

 

2 comments:

  1. Pas baca ulasan cerita pertama yang judulnya Mulih, bikin merinding. Karena melibatkan fenomena alam gaib. Tapi muatan moralnya mengena sekali. Benang merah komik ini begitu menyentil. Jadi bikin saya bertanya-tanya, "Kenapa malas sekali pulang ke rumah, padahal rumah tempat paling sempurna menerima kita apa adanya?"

    ReplyDelete
  2. Pulang. Sebuah kata yang bikin saya selalu merasa bimbang.

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^