27 August 2021

[Review Komik] Agen Polisi 212 #Vol12 - Mati Ketawa

 

komik agen polisi 212 volume 12 - mati ketawa


Judul Buku : Agen Polisi 212 Volume #12 - Mati Ketawa

Pengarang : Raoul Cauvin

Ilustrator : Daniel Kox

Penerbit : Bhuana Ilmu Populer

Terbit : Cetakan Pertama, 2010

Tebal : 48 halaman

ISBN : 978-979-074-154-6

Rating : 4/5 bintang

Harga : Rp 30.000

Beli di Gramedia.com

 

Resensi Komik Agen Polisi 212 - Mati Ketawa :


Komik Agen Polisi 212 ini merupakan seri komik yang sudah lama terbit sejak tahun 1990.  Copyrightnya dari Dupuis.com. Sedangkan naskahnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Sadika Nuraini Hamid. Naskah ini merupakan naskah lama, sehingga butuh penyesuaian, maka dilakukan redesain oleh Maria Theresa.

Meski komik Agen Polisi 212 ini terbilang komik lawas, namun rasanya tidak ada gap bahasa. Bahasa komiknya masih bisa dinikmati sekarang, meskipun termasuk komik lama yang terbit tahun 1990 an. Padahal kalau saya baca tahun ini berarti naskah komik ini sudah berusia 31 tahun. Wow, hampir sama dengan usia pembacanya. Wekeke

Ada 18 bab dalam komik Agen Polisi 212 : Mati Ketawa ini. Kenapa judulnya mati ketawa? Ya, karena guyonan ala polisi ini bikin ngakak tapi rasanya kayak kaku gitu. Haha. Jadi, mau diketawain tapi kok ya dark stories banget ya? Lol. Apalagi komiknya tuh bahasnya kasus para polisi yang mana sebenernya aneh juga ya polisi melakukan banyak hal konyol dan tabu lainnya. Kek nggak percaya aja, masa polisi kayak gitu. :p


Di bab 1 yang berjudul Berani Bicara, dikisahkan seorang polisi bernama Arthur bertemu orang di jalan. Ia bertemu lelaki berjaket hijau yang berjalan sambil mengulang-ulang kalimat “Semua polisi adalah babi”. Ya, kalimat seperti itu tentu saja membuat Arthur yang mendengarnya menjadi sensi. Ia pun bertanya, “Apa?” Lalu, orang yang mencaci itu segera mengeluarkan boneka yang ia sebut namanya dengan Alfred.

Saat boneka itu keluar, boneka itu berbicara dan mengeluarkan kata-kata tadi “Semua polisi adalah babi”. Sejenak, Arthur mengira ia sedang bertemu dengan orang yang beratraksi dengan boneka. Istilahnya tuh ventriloquist.

Nah, karena Arthur penasaran, ia malah memanggil rekan kerjanya sesama polisi untuk mendengarkan boneka tadi berkata kasar. Asli, ini lawak banget. Mana mereka malah ketawa-ketawa denger omongan itu. Habis itu, orangnya pergi kan?

Setelahnya, Arthur pun pulang dan pamitan dengan teman seprofesinya sesama polisi. Lalu, di jalan dia bilang, 


“Kalau yang bicara boneka, jadinya lucu... tapi kalau ada orang yang bicara seperti itu.. akan kuhajar!”


Well ya, pada dasarnya komik juga mampu menjadi sarana mengekspresikan kritik sosial pada zamannya. Meskipun eranya sudah berbeda jauh, sudah 31 tahun berlalu sejak naskah komik ini dibuat, tapi masih relevan hingga sekarang.

Apakah semua polisi adalah babi? Ya, itu tergantung siapa aparat yang dimaksud. Tapi kalau lihat orang sekarang pun pada nggak berani ke kantor polisi karena polisi punya kesan sebagai aparat yang justru tidak mengayomi masyarakat, ya... itulah yang kumaksud dengan kritik sosial.

Komik bisa menjadi jembatan untuk mengungkapkan kegelisahan dan masalah yang ada di masyarakat tapi tak berani diungkapkan terang-terangan dalam bentuk protes keras di kantor polisi sambil orasi. Ya, enggaklah ya. Komik punya daya kritik yang meskipun lucu tapi menukik tajam. Bikin senewen? Oh, tentu saja. Hahaha.

Komik Agen Polisi 212 seperti ini di era sekarang mirip dengan meme yang bertebaran di social media. Lucu? Yaa, tentu saja. Tapi juga mengkritik dan menguliti sosok yang dikritik. Dark jokesnya nyentil banget ya, bund~


Baca juga : Review Buku The Best of  Agen Polisi 212 - Cerita Seram


Di Bab 2 yang berjudul Penyalahgunaan Kekuasaan berkisah tentang polisi yang memakai kekuasaannya untuk parkir sembarangan demi menyenangkan istri. Ceritanya, Arthur, si polisi sedang libur hari kerja. Namun, istrinya mengajak pergi belanja dan memintanya memakai seragam polisi miliknya.

Tujuannya? Tentu saja menggunakan kekuasaan yang dimiliki polisi untuk bisa mendapatkan parkir gratis di bawah tanda dilarang parkir. Wkwk.

Asli, ngeselin banget karakter istri Arthur ini. Sampe Arthur bilang gini dong, “Aku merasa bersalah.” Trus, dijawab sama Loulou, istri Arthur gini, “Sudahlah! Aku yakin temanmu juga melakukan hal yang sama.”

Duh ya. Di mana-mana apakah polisi akan melakukan hal yang sama demi istri tercinta? Uhuk, rasanya bab ini menyentil sisi sentimentil pak pulici. Hiks. *pukpuk Arthur yang harus nurut istrinya*

Ending ceritanya gimana? Kurasa Arthur ini dikaruniai istri yang beneran bikin pusing ya. Dituruti keinginannya malah bikin malu sama jabatan. Nggak dituruti maunya, eh... bikin istri sensi. Lol.

Jadi, Arthur ketemu temennya yang mau nilang mobil itu, dan si Arthur jadi salah tingkah karena bingung harus gimana nanggepinnya. Eh tapi malah dia ketemu sama istrinya yang pamer mantel bulu baru yang mahalnya naudzubillah. Hahaha. Akhirnyaaa...

 

“Aku tidak memahamimu. Aku memberi tilang terindah dalam hidupku, tapi kau sama sekali nggak tertarik.”

“Ah, aku sangat tertarik kok! Bener deh... hehehe...”

“Tapi... tapi, Sayang! Kau gila ya? Ini mobilku...”

“Diam Bu, saya tidak mengenal Anda!”

“Ah? Ini... ini... mobil Anda?”

“ Ah! Anda... Anda...”

 

Wkwk. Bener-bener deh ya, sepasang suami istri ini absurd banget. Mana ke mall cuma buat beli mantel bulu, eh... malah harus bayar tilang gara-gara istri yang ngotot markir sembarangan. Lol

Bab lain ada lagi pas Arthur malah rajin banget berangkat ke kantor sambil melaporkan ratusan surat tilang yang dibuatnya. Ajegile dah ya. Ni bapak pulici rajin bener nilang orang bahkan anjing sekalipun juga ditilang. Wkwkwk. Jadi dia kek sembarangan ngasih surat tilang. Makanya dia ditegur atasannya, jangan sampai seharian itu dia ngasih surat tilang banyak banget. Dia hanya boleh ngasih satu surat tilang dengan tingkat pelanggaran yang super berat.

Nah, gara-gara tugas itu, Arthur malah nilang pejabat dari negara Timur Tengah yang nggak bisa bahasa sana. Haha. Duh laah... rasanya semua yang dilakukan Arthur serba salah ya, nggak ada yang beres dan selalu bertentangan dengan nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi oleh polisi sebagai aparat negara yang harusnya mengayomi masyarakat. *uhuk*

Ya, namanya juga komik ya, buat lucu-lucuan dan ketawa. Emang sih ceritanya agak berat, tapi masih bisa bikin ngakak lihat tingkah konyol Arthur bareng istri dan teman-temannya sesama polisi. Seru dan bikin ngakak deh. :D

Coba aja kamu baca sendiri komik Agen Polisi 212 ini ya! Sekarang komik ini sudah terbit 12 judul buku lho~

Nah, selamat membaca dan ketawa bersama komik Agen Polisi 212! ;)

1 comment:

  1. Kalo baca ulasannya, saya justru tertarik dengan konsep komik polisi untuk menyentil polisi di negara kita, yang aneh-aneh. Nah karena lagi viral soal mural, gimana ya kalo komik ini dialih ke mural di suatu tempat, pasti viral lagi. Hehehe

    Saya penasaran dengan tingkah polah polisi, yang seperti di cerita pertamanya, sensitif, untung saja tidak spontan main sikat, bisa kacau...

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^