Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

22 October 2015

Resensi Buku : Gege Mengejar Cinta - Adhitya Mulya


Judul Buku : Gege Mengejar Cinta
Pengarang : Adhitya Mulya
Penerbit : Gagas Media
Terbit : Cetakan ketujuh, 2014
Tebal : vi + 262 hlm.
ISBN : 979-780-692-8

“Cowok lebih memilih kepada siapa cinta akan mereka berikan, hingga mampu mengejarnya. Cewek lebih baik menunggu atau memberi “kode” cinta.”

Jatuh cinta sejak pertama kali bertemu, bagi Gege sebuah anugerah. Namun sayangnya ia harus memendam perasaan itu sendirian karena tahu bahwa orang yang ia suka sudah punya pasangan. Caca, gadis pindahan yang Gege sukai itu membuat hidup Gege berada di pusaran yang sama. Hanya terus-menerus memikirkan Caca yang ternyata tak pernah memandangnya sedikit pun. Sifat Gege yang pemalu dan lebih memilih diam itu, membuat ia hanya menjadi penonton. Kalau Caca lagi ketemu dengan pacarnya, Gege hanya bisa memandanginya dari jauh, karena mereka tetangga, maka Gege makin tersiksa karena hal ini.

Hingga bertahun-tahun lamanya, Gege baru sadar bahwa ia tak pernah memperjuangkan rasa suka yang ia rasakan. Ibaratnya, Gege lebih suka memendam perasaan dibanding harus keringat dingin menghadapi penolakan dari Caca. Masalahnya adalah Caca sama sekali tidak memandang Gege karena kenal saja tidak. :P Jadi, setelah ada kejadian yang membuat Gege melihat Caca setelah sekian lama tidak bertemu, ini membuat Gege mau untuk pdkt dengan Caca. Kalau Caca nolak? Gege akan berjuang sekuat tenaga untuk membuat Caca menerimanya.

Gege yang terkenal sebagai produser radio Heits FM sedang didaulat sebagai pembuat cerita drama. Cerita akan disiarkan selama beberapa minggu menjelang Perayaan Kemerdekaan RI. Akhirnya, Gege pun terinspirasi untuk membuat cerita drama silat dengan latar belakang zaman kerajaan dengan memakai nama Caca dan Ujang Gege sebagai tokohnya. Suatu hari Gege benar-benar memberanikan diri untuk mengejar cintanya dengan mendatangi Caca dan mengajaknya berkenalan. Caca yang sama sekali nggak ingat siapa itu Gege hanya tahu bahwa sosok yang ada di depannya itu bisa jadi tameng untuk lepas dari godaan Mas Joko tanpa D.

Di sisi lain, ada seorang gadis bernama Tia yang suka dengan Gege namun tidak dipandang oleh Gege. Hanya dianggap sebagai partner dalam membuat project drama radio. Berbagai perubahan dibuat oleh Tia, namun tetap tidak meluluhkan hati Gege. Tia dan Caca membuat hati Gege dilema. Siapa yang akan ia pilih? Akankah Caca menerima cinta Gege? Bagaimana nasib Tia?

***

Sejak baca judulnya saya penasaran dengan novel komedi ini. Adhitya Mulya yang saya kenal lewat Jomblo itu memang gokilnya nggak ketulungan. Soalnya ia mampu membuat candaan yang meski terkesan garing pada awalnya tapi tetap nyambung dengan isi cerita. Meski ada juga guyonan di beberapa scene drama yang terkesan apa banget deh. :P

Buku yang saya pegang ini adalah cetakan ketujuh. Kalau di awal-awal cerita disuguhkan gimana baper(bawa perasaan) Gege melihat Caca selalu menjadi primadona dan ia hanya bisa melihatnya dari jauh. Setelah scene berpindah ke bagian di mana Gege dan Caca berdialog tentang masa depan, saya jadi ikutan baper. Haha. Soalnya ada bagian yang saya suka dari diskusi Caca dan Gege.

Seperti di bagian ini,

“Pria itu pemimpin keluarga. Tugasnya melindungi, membina dan mencukupi. Mereka bangga kalo mereka bisa mencukupi istri dan anak.” (hlm. 176) 

“Semua pria dalam kadar yang berbeda mencari tempaan ya, Ca. Pria itu membutuhkan pencapaian. Supaya mereka bisa yakin sama diri sendiri. Dan bisa ngeyakinin wanita bahwa dia layak dicintai.” (hlm. 177) 

“Gege juga tahu sih bahwa wanitah pada dasarnyah memang suka dikejar. Tapi wanitah tidak suka dipaksa berjalan lebih cepat dari yang merekah inginkan dan bahwa wanitah menyukai ketika mereka memegang kontrol atas setiap pendekatan.” (hlm. 133)

Yah, ternyata si Gege ini rada minderan karena belum punya pencapaian menakjubkan. Itu sebabnya ia menunda berkenalan dengan Caca hingga bertahun-tahun lamanya. Duh, puk-pukin Gege. xD

Btw, saya agak terganggu awalnya dengan cara bicara Gege yang selalu berakhiran huruf h. Hhaha. Hanya saja setelah dilihat-lihat baru nyadar kalau ini memang ciri khasnya. Truus, endingnya gokil banget. Hahaha. Bagian kejar-kejaran di jalan menuju bandara dan drama di bandara itu kok malah ngingetin saya dengan kisah Kakang di novel Testpack-nya Ninit Yunita ya? :D Kayaknya ini suami istri setipe deh jalan pikirannya termasuk plotnya juga. Wekeke. :P *asal nebak* Overall, suka dengan komedi ala Adhitya Mulya di novel ini. 4 bintang dari saya. ;)


6 comments:

  1. Pengen baca deh mbak. Tapi katanya garing kriuk2 ya jokenya?

    ReplyDelete
  2. Masih blm move on dari sabtu bersama bapak..
    Hihi..
    Adithya mulya oke oke bukunya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, aku malah belum baca, mba :D Malah penasaran hehe

      Delete
  3. tokoh Joko tanpa D adalah tokoh paling nyebelin menurut saya. hahahaa. btw novel adhitya mulya emang banyak quotes ciamik ya dari dulu ._.

    ReplyDelete
  4. Baca bukunya bertahun-tahun lalu, jadi kangen baca lagi :D

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^