Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

24 August 2016

[Resensi Buku] Dua Belas Pasang Mata - Sakae Tsuboi


Judul Buku : Dua Belas Pasang Mata
Pengarang : Sakae Tsuboi
Judul Asli : Nijushi no Hitomi
Penerjemah : Tanti Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : 2013
Tebal : 248 hlm.
ISBN : 978-602-03-0024-5

Sinopsis :
Sebagai guru baru, Bu Guru Oishi ditugaskan mengajar di sebuah desa nelayan yang miskin. Di sana dia belajar memahami kehidupan sederhana dan kasih sayang yang ditunjukkan murid-muridnya. Sementara waktu berlalu, tahun-tahun yang bagai impian itu disapu oleh kenyataan hidup yang sangat memilukan. Perang memorak-porandakan semuanya, dan anak-anak ini beserta guru mereka mesti belajar menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Resensi :
Dua belas Pasang Mata berkisah tentang anak-anak sekolah tanjung yang diajar oleh Bu Guru Oishi yang dijuluki Oishi-Koshi. Sejak awal Bu Guru Oishi yang bertubuh mungil ini banyak menarik rasa penasaran anak-anak juga seluruh penduduk desa tanjung karena penampilannya yang kebarat-baratan. Dahulu kala di sana belum ada modernisme sehingga memakai pakaian gaya barat dan menggunakan sepeda dianggap sebagai kebarat-baratan. Bu Guru dikucilkan oleh warga tanjung, bahkan tidak disapa hingga akhirnya mereka mulai menyadari bahwa guru ini bisa membawa perubahan pada anak-anak. Siapa lagi yang akan mengajar kedua belas anak yang masuk kelas 1 jika bukan perempuan itu? Maka dimulailah kisah ini.

Bu Guru Oishi menjalani kehidupannya sebagai guru dimulai dari pagi hari saat ia melintasi jalanan yang berkelok-kelok. Jalanan dari desanya di desa pohon pinus ke desa tanjung dekat teluk terletak sejauh 8 km dilalui bolak balik setiap hari. Ia terpaksa menggunakan sepeda untuk mempercepat waktu agar ia sampai di sekolah lebih awal, bukan karena ia kebarat-baratan. Karena kebiasaan bersepeda ini, tanpa sadar telah membuat anak-anak desa tanjung segera berlari setiap kali melihat sepeda bu guru melintas di jalanan desa menuju sekolah.

Dua belas anak yang diajar bu Guru Oishi memiliki julukan masing-masing. Bahkan mereka mulai merasa nyaman dengan gurunya karena sang guru senang mengajar musik. Banyak kejadian lucu dan seru yang terjadi selama bu Guru Oishi mengajar di kelas mereka.  Kadang pelajaran ada di luar ruangan seperti pantai dekat teluk. Sayangnya kejadian tidak mengenakkan datang, kaki bu guru Oishi cedera hingga ia tak bisa pergi kemana-mana. Akhirnya ia dibebastugaskan dari tugas mengajar. Kelas digantikan oleh kepala sekolah.

Karena sakit, bu guru Oishi tidak bisa mengajar berbulan-bulan. Atas inisiatif seorang anak, mereka berdua belas pergi menuju desa pohon pinus yang jaraknya jauh sekali. Mereka mengira jaraknya dekat karena pohon pinus tampak jelas di desa tanjung. Tak disangka inilah pengalaman paling berharga yang dimiliki anak-anak tentang gurunya itu. Mereka mengingat dengan jelas bagaimana jalanan itu tampak teramat jauh dijangkau oleh kaki-kaki kecil mereka. Mereka juga mengigat dengan jelas rasa bakmi yang diberikan oleh ibunya ibu guru Oishi, juga rasanya berfoto pertama kali dengan wajah tegang.

Tahun-tahun berlalu, kehidupan tak semudah yang dibayangkan. Ada banyak hal yang harus terjadi seperti depresi yang melanda warga di desa seluruh Jepang termasuk di desa tanjung dan desa pohon pinus. Semua orang mengalami hal yang menakutkan setiap hari. Laki-laki ditugaskan untuk berangkat ke medan perang sedangkan perempuan kehilangan anak laki-laki dan suami mereka hingga menjadi janda.

Semua orang mengalami musim paceklik hingga harus merasakan makan roti gandum yang ditumbuk sendiri. Bahkan ikan tidak mudah didapat di saat-saat sulit. Penyakit merajalela hingga merenggut nyawa salah satu murid dan anak bu Guru Oishi. Dokter sulit dicari. Bahkan ada anak yang dijual kepada orang kaya demi agar bisa mendapatkan uang. Semua kengerian itu bermula dari serangan udara yang dilancarkan pihak asing hingga masa-masa perang berlangsung lama. Apakah ini akan berlangsung lama? Bagaimana anak-anak desa tanjung bisa terus melanjutkan pendidikan mereka? Apa yang terjadi pada kehidupan bu guru Oishi setelah perang?

***

Sepuluh bab dalam novel ini membuat kisah ini menjadi lebih menyentuh sisi kemanusiaan. Novel ini diklaim sebagai novel anti perang yang tidak ingin menonjolkan sisi-sisi kelam perang. Ia hanya menunjukkan bagaimana pengaruh perang terhadap kehidupan orang-orang setelahnya. Bahkan meski perang sudah usai, semua hal yang sudah terjadi selama perang mengubah banyak hal termasuk masalah pendidikan dan kesehatan.

Sakae Tsuboi menuliskan kisah ini dalam sudut pandang kanak-kanak yang polos dan guru yang anti perang sehingga terasa jelas bagaimana anak-anak menjalani hari dengan riang dan bahagia meski perang berlangsung. Kedua belas anak mencerminkan anak-anak dengan beragam latar belakang keluarga. Ada yang anak nelayan, anak orang kaya, tukang kayu bahkan pengangkut barang. Semuanya berkumpul jadi satu dalam satu kelas. Sakae Tsuboi ingin memberikan gambaran bagaimana hidup semasa perang tidaknya semudah yang dibayangkan. Ia tak ingin perang berlangsung lagi di kehidupan baru nanti.

“Apa sebenarnya Merah itu? Kenapa aku dianggap Merah, padahal aku tidak tahu apa-apa tentang Komunisme?” (hlm. 160) 
“Lebih baik membuka toko permen murah, atau apalah, daripada mengajar. Aku sudah muak dengan pendidikan sekolah yang jingoistik.” (hlm. 161) 
“Coba lihat diriku. Aku sudah mengajar murid-muridku sejak kelas satu, tapi sekarang lebih dari setengah murid lelaki malah ingin menjadi tentara. Kalau begitu, apa gunanya mengajar.” (hlm. 161) 
“Perang dengan China telah berkobar; Pakta Anti-Komitmen antara Jepang, Jerman, dan Itali telah terbentuk. Gerakan yang disebut “Mobilisasi Semangat Nasional” telah berlangsung; orang-orang diajar untuk tidak membicarakan politik waktu sedang tidur sekalipun, melainkan untuk menghadapi peperangan itu dengan gagah berani dan meyakini tujuan mulianya, serta membuktikan diri sepenuh jiwa-raga ke dalamnya Mereka terpaksa berbuat demikian, sebab akan sangat sulit menyembunyikan dan berusaha menyisihkan ketidakpuasan mereka sendiri.” (hlm. 174)

Dari berbagai dialog yang terjadi antara Mrs. Oishi dengan anak-anak didiknya dan keluarganya, beberapa menyentak nurani. Bahasan tentang perang terasa memilukan bagi orang yang pernah ada di tengah perang. Sakae Tsuboi menulis kisah ini tahun 1952 setelah ia pindah ke Tokyo. Sedangkan perang yang dimaksud di novel ini baru berakhir setelah terjadi bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang membuat Kaisar menyerah pada pihak asing tahun 1945. Perang yang dimaksud di Jepang juga berpengaruh pada Indonesia. Hanya saja penulisnya tidak membahas tentang ini. Ia lebih berfokus di kisah tentang anak-anak desa tanjung dan bu guru Oishi.

“Ibu, kita kalah perang. Ibu belum dengar beritanya di radio?” 
“Ibu sudah dengar. Tapi pokoknya perang sudah berakhir. Bukankah itu bagus?” 
“Walaupun kita kalah?” 
“Ya. Mulai sekarang, tidak akan ada lagi yang mati di medan perang. Orang-orang yang masih hidup akan pulang.” (hlm. 199)

Novel yang ditulis Sakae Tsuboi ini membuat pembacanya larut dalam kisah anti perang dan kisah pendidikan anak-anak desa tanjung. Meski alurnya agak membosankan karena berjalan lambat tapi cara bercerita Sakae Tsuboi membuat saya jadi lebih paham bagaimana karakter para tokohnya. Deskripsi tempatnya juga detail. Novel ini bahkan telah diadaptasi menjadi film pada tahun 1954, tapi sayangnya saya belum nemu filmnya di youtube. Dan untuk menghormati karyanya, Prefektur Kagawa menetapkan Sakae Tsuboi Prize untuk anak-anak dari prefektur tersebut.

Twenty Four Eyes Movie (Doc : http://i2.listal.com/image/5275622/600full-twenty--four-eyes-screenshot.jpg)
Foto Sakae Tsuboi (doc : http://soukovs.review/ebook/5259548-dua-belas-pasang-mata.html) 

Saya baru tahu bahwa Jepang sebegitu besarnya menghargai para guru usai perang selesai setelah membaca novel ini. Karena di tangan para gurulah kehidupan anak-anak sekolah dimulai kembali. Pendidikan akan mengembalikan apa saja  selain nyawa manusia yang telah direnggut paksa oleh kekejaman saat perang berlangsung. Overall, 4 bintang untuk kisah di novel ini.

Postingan ini diikutsertakan dalam Project Battle Challenge #31HariBerbagiBacaan

18 comments:

  1. Guru di Jepang sangat dihargai ya mbak perjuangannya, pantes mereka lebih "menghargai" akan proses ya :)

    ReplyDelete
  2. Wah, menyentuh sekali mbak ila, padahal baru baca sinopsis nya aja. Aku udah lama banget ga baca buku

    ReplyDelete
  3. Melihat foto terakhir dan kisah ibu guru ini. Yang terbayang latar setting cerita di novel mirip serial Oshin hihihi...gitu kah mba? #cmiiw

    ReplyDelete
  4. Aduh, mba kiky rajin baca euy. Aku jd malu, hihi. Ini mba bilang alur ceritanya lambat tp ttp dibaca sampe habis. Kalo aku pas pingin baca, dpt buku yg alurnya lambat, biasanya berenti :D

    ReplyDelete
  5. wow ikut challenge 31 hari berbagi bacaann yah Mbak Kiky? Keren!

    taste bacannya juga keren:D

    Da aku mah apa atuh senengnya baca noval pop romance hehehe. Semoga sukses yah menyelesaikan challengenya mbak:D

    ReplyDelete
  6. menarik sekali novelnyamba. Novel seperti ini bisa memacu semangat anak2 untuk giat belajar dan tahu tentang sejarah ya

    ReplyDelete
  7. Wah, novelnya bagus banget, Mba Ila. Jadi ingin punya bukunya dan menyelam di dalam arus bacaannya. :)

    ReplyDelete
  8. Jepang sangat menghrgi guru, seingetku pernah bca saat perang usai yg pertama kali dilakukan pemerinth Jepang adalah mengumpulkan para guru yang tersisa.
    Jd penasaran sama bukunya TFS :)

    ReplyDelete
  9. ceritanya lengkap Ila, bacanya ampe panjaang..
    iya bener seorang guru di jepang begitu dihargai, jadi penasaran sama sosok nu bu guru yang kebarat-baratan ini.

    ReplyDelete
  10. Huhu, envy sama Mba Ila yang masih punya target baca buku T.T

    Jadi ini udah ada filmnya juga ya Mba? Pengen nonton deh. Tapi kok nggak ada di Youtube ya, apa udah ditarik apa gimana ys?

    ReplyDelete
  11. cerita yang menyentuh, aku ga suka kekerasan, perang dan lain2 yang ada pertumpahan darahnya :(
    semoga bumi bebas dari perang.

    ReplyDelete
  12. Bagian sakit kakinya jadi inget Alm. Mamaku.. mamaku guru juga, sebelum meninggal kakinya cidera sampe gak masuk berhari-hari, ternyata baru ketauan kalau patah tulang.. *jadi curhat* :D

    ReplyDelete
  13. Baca sinopsisnya jadi penasaran seperti apa kehidupan guru di Jepang sama kehidupan di desa-desa di Jepang. Karena selama ini yang banyak tahu Jepang itu negara maju dengan segala gemerlapnya khususnya di Tokyo.

    ReplyDelete
  14. Aku pernach dpet spoiler ttg cerita ini. Tpi blum bca keseluruhan ceritnya. Pnasaran sma B guru Oishi..
    TFS ya mbak. ... hee

    ReplyDelete
  15. waah cerita bagus, seru, dan inspiratif yaa...tandain ah! Bu guru Oishi keyeen

    ReplyDelete
  16. Sepertinya menarik banget!

    aku jadi bayangin kek Indonesia mengajar dan program2 mengajar di daerah tertinggal gitu Mba.. ^^

    ReplyDelete
  17. baca resensinya sdh cukup menghanyutkan rasaku.. paling suka sama.cerita yg terwarnai antara guru dan murid kaya Toto Chan gitu

    ReplyDelete
  18. Dduh, resensinya bikin sedih. Jadi kepengen beli bukunya.

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^