Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

27 December 2016

[Resensi Buku] Love in London - Silvarani


Judul Buku : Love in London
Pengarang : Silvarani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : 2016
Tebal : 206 hlm
ISBN : 978-602-03-2967-3

Baca via Scoop Premium

Sinopsis Buku :

Apa yang menarik dari London?

Di kota ini, masa lalu bisa beriringan dengan masa depan. Bangunan-bangunan kuno zaman Victoria berjajar indah dengan gedung-gedung futuristik pencakar langit.

Paling tidak, begitulah pendapat Bintang Ilham Prayoga. Jurnalis muda ini merasa London serupa dengan kepribadiannya. Menghargai masa lalu sebagai pembelajaran masa kini agar tak mengulangi kesalahan yang sama.

Bermula dari tragedi diputuskan sepihak oleh sang mantan Bintang bangkit dari keterpurukan dan berhasil meraih beasiswa S2 di kota Ratu Elizabeth ini. Prestasi yang tak terbayangkan olehnya, yang sejatinya justru merupakan cita-cita sang mantan.

Ternyata, London menyeret Bintang ke pusaran masa lalu. Di sana dia dipertemukan kembali dengan sang mantan. Sementara, ada dua gadis lain yang diam-diam mencuri perhatiannya.

Mampukah Bintang menghadapi masa lalunya? Kepada siapa akhirnya Bintang memercayakan hati dan masa depannya?

Resensi Buku Love in London :


Novel Love in London karya Silvarani ini merupakan novel pertama karya penulis yang saya baca. Juga novel kedua seri Around the World yang saya habiskan dalam tiga hari. Sebelumnya saya sudah baca Love in Pompeii karya Indah Hanaco. Trus, kira-kira saya suka nggak dengan novel series Around the World terbitan Gramedia ini? Suka kok, hanya sajaaa, ada tapinya. Hehehe. :D Namanya novel pasti punya plus minus di mata pembacanya ya dan saya berusaha menunjukkannya lewat ulasan resensi ini. Semoga nggak ada yang baper yak, baik penulisnya maupun pembaca lainnya yang ngefans sama novel ini. :D

Novel Love in London mengusung tema kekuatan impian dan penyelesaian masa lalu. Setting tempatnya di London sepenuhnya dan di akhir cerita ada setting di Indonesia juga. Jadi sebagai pembaca saya diajak jalan-jalan keliling kota di London. Apa saja tempat wisatanya? Ada banyak banget. Misalnya Old Posh, Craven Street, Benjamin Franklin House, Museum Florence, sudut kota tempat Bintang dkk tour Jack The Ripper, dll.

Craven Street, London (doc : https://thumbs.dreamstime.com/z/craven-street-london-26527871.jpg)


Novel Love in London berkisah tentang hidup Bintang usai mengalami trauma lantaran diputuskan kekasihnya secara sepihak. Alena, mantannya menikah dengan orang lain, meninggalkan dia yang potensinya untuk kuliah ke London meredup. Alena menganggap bahwa siapapun yang akan jadi suaminya kelak harus bisa ke London untuk studi, jadi dia juga bercita-cita yang sama. Kuliah S2 dan S3 di London. Sayangnya impian Alena hanyalah tinggal angan. Dia bisa ke London tapi hanya suaminya yang sibuk kuliah S3, sedangkan dia belum juga meneruskan kuliah. Malah sibuk mengurus Ando, putranya.

“Aku tahu kalau di London ini yang sibuk itu kamu. Yang punya kegiatan itu kamu. Sementara aku? Aku cuma jaga rumah, jaga Ando, nyusuin Ando, nonton tv, masak, cuma gitu-gitu aja. Nggak. Aku cuma pengin Mas Heru tuh sadar aku juga butuh refreshing . Jalan0jalan ke supermarket sebentar aja kamu udah nyariinnya sampai kayak begitu.” (hlm. 174)

Di sisi lain, Bintang sedang dekat dengan dua perempuan yang dia sukai saat bertemu kembali dengan Alena. Jadi dia mulai bimbang bagaimana masa lalunya silih berganti muncul dalam ingatannya lagi. Padahal dia sudah mulai lupa bagaimana sakitnya dia ditinggal Alena saat itu.

Di London, Bintang berkenalan dengan Fitri, mahasiswa pengurus HPI dan Diva, temannya selama di London selain Zain dan Udjo. Zain yang suka mabuk sangat kontra dengan Udjo yang alim. Diva yang suka dugem dengan Zain juga membuat saya terperangah dengan kehadiran tokoh ini. Agak heran juga dengan apa yang terjadi pada kisah hidup Diva, tapi di balik itu semua ada alasan yang dia simpan.

Dalam banyak scene, ada beberapa percakapan seputar jalan hidup sebagai orang Islam. Misalnya kenapa nggak mau makan daging haram, kenapa nggak mau salaman dengan perempuan, kenapa ada banyak teroris yang dianggap islam radikal, dll. Sebenarnya ada banyak kontradiksi di novel yang bisa dibilang series novel yang mengusung tema agak keislamian. Tapi malah isinya saya pertanyakan kok beda ya dengan konsep yang saya pikirkan. Hmm... Misalnya seperti di percakapan ini.

“Emang sih waktu motong daging sapinya belum tentu ngucapin bismillah, tapi bagaimana dagingnya kan tetap daging sapi.” (hlm. 30)

Tanggapan : Saya pengen uyel-uyel si Diva waktu dia bilang gitu. Wekeke. Sebel sih, soalnya halal dan haram nggak semudah itu dihilangkan dari kehidupan muslim. Makanan haram akan tetap haram, toh? Meskipun itu daging sapi yang notabene sebenernya boleh dimakan. Tapi daging sapi juga nggak boleh dimakan kalau nggak nyebut bismillah waktu dipotong. Untungnya Bintang tetap nggak mau makan daging tersebut. (catatan saya ini untuk memperjelas aja apa yang ingin disampaikan lewat sikap Bintang kenapa dia menolak soal daging sapi yang ditawarkan Diva)

Trus ada juga guyonan Zain yang ngledekin Udjo waktu Udjo janjian ketemu sama mas Heru di British Library. Soalnya ada dialog-dialog guyonan Zain yang menjurus ke LGBT. Duh, saya sedih deh pas baca ada percakapan itu. Harusnya sih nggak ada dialog itu juga gpp ya. Nggak ngefek juga dengan jalan ceritanya. :(

british library reading room, London

Ya, walau ada juga yang saya suka dari novel ini misalnya : detail setting di sudut-sudut kota London yang menyatu dengan jalan cerita, dan detail kegiatan tokohnya yang berhubungan dengan kehidupan para mahasiswa di kota London ini.

Quote yang saya suka dari novel Love in London karya Silvarani ini antara lain :

“Itulah kenapa aku senang jadi wartawan, Bin. Kita bisa mengendalikan pikiran orang dan mengubah dunia dengan tulisan-tulisan yang kita buat.” (hlm. 25) 
“Life isn’t about waiting for the storm to pass, it’s about learning to dance in the rain. Right?” (hlm. 34) 
“Yang nggak boleh dalam Islam itu justru selingkuh. Pelaku selingkuh itu dianggap pezina. Hukumannya bisa dirajam. Posisi selingkuh justru lebih hina daripada poligami karena di dalam perselingkuhan, semua yang dilakukan kedua belah pihak tidak didasari dengan  tanggung jawab. Kalau ada apa-apa, satu pihak bisa ninggalin begitu aja dan merugikan pihak lainnya.” (hlm. 96) 
“Apa yang saya lakukan selama ini semata-mata untuk membuat keluarga saya, khususnya bapak saya untuk selalu bangga dan senang punya anak seperti saya. Jadi, saya nggak ngebayangin kalau saya jadi orang yang justru akan membuat bapak kecewa dan sakit hati sama saya.” (hlm. 183)
Saya paham bahwa kemungkinan pengarangnya menyasar segmen pembaca novel yang nggak gitu paham Islam dan ingin memberikan wacana baru tentang Islam. Tapi wacananya lewat novel yang nggak melulu menggurui. Misalnya dengan memunculkan tokoh utama yang nggak selalu sempurna seperti Bintang jika dibandingkan dengan Fahri di novel Ayat-ayat Cinta. Tapi rasanya kok jadi malah ambigu ya di beberapa sikap Bintang pada Diva. :-?

Well ya, buat saya novel ini sudah cukup bagus menggambarkan setting kota-kota di London yang mampu membangkitkan kenangan akan impian yang belum tercapai bagi para pemburu beasiswa S2 London. Jalan cerita yang mudah ditebak membuat saya kurang gregetan dengan endingnya, tapi tetap penasaran dengan masa lalu Bintang dan Alena. Ketegasan sikap Bintang untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan masa depannya patut diacungi jempol karena sulit juga untuk lepas dari bayang-bayang masa lalu. Overall, 3 bintang untuk novel ini.



7 comments:

  1. Jadinya bintang pilih mana nih? Pilih wanita atau karir dulu? :)
    Btw dalam novel ini ada info atau diulas juga gak cara dapat beasiswa ke Negara itu Mbak Ila?

    ReplyDelete
    Replies
    1. pilih yang mana yaaa :D
      nggak dibahas, teh Okti. yang dibahas tentang kegiatan kemahasiswaan di HPI. mereka sibuk organisasi ngapain aja. jadi bener2 udah setting di London sebagai mahasiswa

      Delete
  2. Jadi gimana, Bintang balik dengan Alena nggak? hihihi. Senangnya kalau baca novel setting luar negeri itu, kita jadi bisa membayangkannya meski belum pernah ke sana ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe, sayangnya masing2 udah punya pilihan sendiri, makin dilema deh :D
      iya, mba Lianny. banyak setting yang baru aku tahu di Love in London ini.

      Delete
  3. Btw ini Novel sama sama pelem yang aku tonton kemaren ga ya.
    Perasaan sama deh ceritanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda, teh Nchie. yang udah difilmkan judulnya London Love Story, hehe

      Delete
  4. ga balika sama alena kan? jangan, udah jadi istri orang :D

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^