Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

7 November 2018

[Resensi Buku] Muslim Hebat by Abu Umar Abdillah




Judul Buku : Muslim Hebat : Mengubah Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa
Penulis : Abu Umar Abdillah
Penerbit : Penerbit Ar-risalah
Terbit : 2018
Tebal : 305 hlm.
ISBN : 978-602-14183-2-1
Rating : 5 bintang


Resensi Buku :


Menjadi manusia sempurna memang tidak mungkin. Tetapi menjadi manusia yang mampu menjadii rujukan manusia di zamannya dan generasi setelahnya tidaklah mustahil. Bukan untuk keren-kerenan, namun demi teraihnya nilai plus di sisi Allah. Sejarah Islam demikian kaya akan lembaran-lembaran yang mencatat manusia hebat yang menjadi rujukan dalam kebaikan bagi orang-orang setelahnya.

Menjadi muslim itu hebat dan sudah selayaknya seorang muslim memiliki cita-cita yang luhur dan berkeinginan untuk mendapatkan derajat yang tinggi dalam ilmu dan takwa. Benar, karena seseorang akan bergerak, berkarya, dan beraktivitas  sesuai dengan target yang hendak diraihnya. Tak ada alasan untuk pesimis, karena sarana yang telah Allah berikan kepada kita, sama dengan apa yang telah dikaruniakan kepada para ulama kita. Potensi yang kita punya, sama dengan potensi yang mereka punya. Dan kita memulai dari start yang sama dengan mereka.

Imam Syafii tidak lahir dalam keadaan telah hafal Juz Amma. Imam Ahmad tidak pula lahir dalam keadaan hafal hadits Arba’in. Mereka lahir dalam keadaan tidak tahu apa-apa, sebagaimana juga kita. Lalu Allah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati, kita pun diberi oleh-Nya. Lalu mereka menyukuri nikmat tersebut, menjaganya, memanfaatkan sebagaimana mestinya, hingga mereka menjadi muslim Hebat.

Dari sini kita akan berusaha mengubah pribadi biasa menjadi luar biasa.

Ada 6 bagian dalam buku ini yaitu : potensi dan cita-cita, kendala diri, bekal diri, karakter, prestasi, pengusir penat.

Dalam bab pertama yaitu membahas potensi dan cita-cita, penulis membahas tentang kedudukan para pencari ilmu di mata Allah. Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu disebabkan ilmu yang mereka miliki dan amalkan.

“Sejarah mencatat, kesungguhan semangat dan tingginya cita-cita telah mengangkat derajat orang-orang biasa menjadi istimewa. Bahkan menobatkan para budak dan rakyat jelata menjadi lebih mulia dari para raja.” (hlm. 13)

Dalam hal bersegera untuk mencari ilmu, orang boleh iri dengan orang-orang semacam ini. Karena membuat kita ikut tergerak untuk menjadi lebih baik dan lebih banyak mencari ilmu seperti mereka. Seperti dalam hadits:

“Tidak ada iri kecuali terhadap dua orang : orang yang dikaruniai harta oleh Allah lalu dia belanjakan di jalan kebenaran dan seseorang yang diberi hikmah (ilmu) oleh Allah sedangkan ia mengamalkan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam sejarah Islam, kita mengenal mana Imam Ahmad bin Hambal. Beliau mampu menghafal satu juta hadits seperti yang diutarakan ar-Raazi. Padahal, pada zaman beliau, hadits-hadits yang dibukukan masih terbilang langka. Referensi yang menghafalnya rata-rata masih disimpan ‘fish shudur’ (dihafal para muhaditsin), sehingga para pemburu hadits harus mendatangi langsung orang-orang yang menghafal hadits. Pun begitu, beliau mampu menghafal hadits sebanyak itu.

“Cita-cita besar akan membuahkan karya besar, meskipun minim sarana penunjang. Ibnul Qayyim yang hidup di awal abad 8 hijriyah pernah membaca tidak kurang dari 20.000 jilid. Padahal adakah  hari itu mesin photo copy atau mesin cetak seperti sekarang ini? Bagaimana beliau mendapatkan bukunya? Siapapun yang bermujahadah di jalan Allah, niscaya Allah akan menunjukkan jalannya. (hlm. 24)

Begitu pula dengan para sahabat yang bercita-cita besar. Mereka saling mengungkapkan cita-cita mereka sehingga saling mengaminkan doa sahabatnya.

“Antara cita-cita dan angan-angan itu berbeda. Barangsiapa yang tidak mengolah tanah tidka menaburinya dengan benih, namun dia menunggu datangnya panen, maka dia hanyalah penganda yang terpedaya dan bukan orang yang bercita-cita. Karena orang yang bercita-cita itu adalah orang yang mengolah tanah, menaburinya dengan benih, mengairinya dengan air dan melakukan sebab-sebab yang logis untuk ikhtiar, lalu selebihnya dia berharap kepada Allah agar menghindarkan dari segala hama dan memberikan karunia panen raya.” (hlm. 34) 
“Cita-cita hanyalah milik orang yang beriman saja. Setinggi apapun target yang hendak diraih oleh orang kafir, meski akhirnya mereka berhasil menggapainya, sebenarnya dari sejak semula, keinginan mereka hanyalah angan-angan semata.” (hlm. 35)

Kita juga wajib memaksimalkan potensi diri, lalu menyumbangkan kontribusi secara nyata. Karena, setiap jiwa, seperti kara Rasulullah, ibarat barang tambang yang memiliki unsur potensi sendiri-sendiri.

Misalnya Syaikh Hasan Al Banna yang lebih potensial dengan mendidik kader dibanding menulis buku. Karena ia ingin mencetak manusia secara langsung lewat sikap dan perilaku yang dilakukan olehnya. Berbeda dengan Ibnu Khaldun yang setelah gagal menjadi politisi, ia berfokus menulis buku mengenai ketatanegaraan yang sangat terkenal berjudul Al Muqadimah. Karya ini paling mashyur dalam bidang tata negara dan konsep pemerintahan.  (hlm. 53)

Tahukah kamu bahwa setiap sahabat yang hidup di zaman Rasulullah dan para ulama yang lahir setelah zaman tersebut telah menghabiskan banyak waktu, tenaga, biaya, dan tak sedikit pula yang harus berkorban untuk memburu ilmu dari kota ke kota lain menempuh jarak yang jauh. Mereka tidak kenal lelah untuk mencari ilmu karena paham bahwa kedudukan para pencari ilmu akan ditinggikan derajatnya oleh Allah. Mereka juga melalui proses yang panjang untuk memperoleh ilmu.

Al Bukhari yang terkenal dengan hafalannya juga sangat bersungguh-sungguh berproses dalam mencari ilmu. Ia memberi resep agar hafalannya kuat yaitu, “dengan mengulang membaca buku.”

“Ada yang lebih mudah menghafal dengan cara mengulang-ulang membaca, ada yang lebih mudah jika degan mendengar, dan ada lagi yang merasa lebih cepat ‘nyantol’ jika disertai dengan menulis sesuatu yang hendak dihafal.” (hlm. 72)

Imam Syafi’i juga pernah mengalami masa-masa sulit menjaga hafalannya. Lalu ia mengadukan pada  gurunya.

“Aku mengadu kepada Waki’ akan buruknya hafalanku. Iapun menunjukkan kepadaku untuk meninggalkan maksiat. Karena ilmu adalah cahaya, sedang cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.” (hlm. 73)

Imam Malik takjub akan kecerdasan dan kekuatan hafalan Imam Syafi’i.

“Sesungguhnya aku melihat Allah telah memancarkan cahaya (ilmu) di hatimu, maka jangan padamkan ia dengan gelapnya maksiat.” (hlm. 73)

Bagaimana jika ada orang yang ‘rajin’ bermaksiat, tapi ternyata memiliki banyak ilmu dan hafalan?

“Wallahua’lam, bisa jadi, ilmu yang dimiliki itu ilmu ghairu  nafi’, ilmu yang tidak bermanfaat. Mungkin secara dzatnya bukan ilmu yang bermanfaat, atau sebenarnya yang dimiliki adalah ilmu yang bermanfaat, hanya saja pemiliki ilmu tidak mengambil manfaat dari ilmunya, sehingga dikatakan ilmu ghairu nafi’, ilmu yang tidak bermanfaat.” (hlm. 109)

Di bab berikutnya ada bahasan tentang hambatan. Ketika ada hambatan di jalan, rintangan yang menghalangi cita-cita mulia bahkan musibah yang datang tiba-tiba itu hanyalah ujian yang justru akan menguatkan kita. Allah telah mengukur kemampuan kita sebelum membebani kita.

Salah satu kunci sukses adalah fokus pada tujuan dan berusaha setia serta komitmen terhadap apa yang telah direncanakan. Jika kita fokus pada cita-cita untuk meraih surga yang dirindukan yang akan diberikan oleh Allah bagi hamba pilihannya, maka tidaklah patut kita berleha-leha karena surga harus didapatkan dengan penuh perjuangan. Nah, jika ingin beribadah di malam hari, maka harus ada persiapan sebelumnya yaitu di siang hari dengan tidur sejenak sekitar 20 menit untuk memulihkan tenaga.

“Ketika Hasan Al Bashri melihat orang-orang di pasar tak ada satupun yang menyempatkan tidur siang, beliau mengatakan, “Saya mengira, malam mereka adalah malam yang buruk’, yakni tidak melalui malamnya dengan amal shalih, karena tiadanya persiapan berupa tidur di siang hari.” (hlm. 141)

Untuk mendapatkan ilmu, kita harus mencarinya dan mengikatnya dengan menulis, karena seperti yang dipesankan oleh Imam Syafi’i,

“Ilmu adalah buruan, sedangkan catatan laksana tali pengikat. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Adalah tindakan bodoh jika kamu menangkap merpati lalu kamu membiarkan ia terlepas bersama kawanannya.” (hlm. 158) 
Jika ilmu syari diibaratkan hujan, maka kita manusia adalah tanahnya. Mari kita renungkan, tipe tanah yang mana kita ini? Untuk meraih sesuatu yang besar harus memulai dari yang kecil, lalu secara bertahap meningkatkan pengetahuan dan keahliannya secara kontinu. (251) 
Betapa pentingnya amal, hingga ulama belum menyematkan gelar ‘alim’ kepada seseorang yang meskipun sudah memiliki banyak ilmu tapi belum mengamalkan ilmunya. Syair mereka adalah “Innamal ‘aalim man ‘amila bimaa ‘amila.”, orang alim itu hanyalah orang yang sudah mengamalkan ilmu yang diketahuinya. (hlm. 266)

Allah akan mengangkat derajat para ulama melebihi yang lain. Mereka adalah pewaris Nabi, dan tak ada warisan yang lebih berharga dariada warisan para Anbiya’ Nabi shallallahu alaihi wasalam menggambarkan keutamaan mereka.

“Dan sesungguhnya keutamaan ulama dibanding ahli ibadah seperti keutamaan bulan saat purnama di atas bintang-bintang.” (HR. Abu Dawud.)

Mengapa diumpamakan seperti cahaya bulan saat purnama? Karena keutamaan ahli ibadah untuk dirinya sendiri sedangkan para ulama mampu memberikan ilmunya untuk orang lain.

Nilai ibadah para ulama sebanyak ibadah semua orang yang mendapatkan manfaat dari ilmunya, ditambah ibadahnya sendiri. Karena orang yang menunjukkan pada kebaikan, ia mendapat pahala orang yang melakukannya tanpa mengurangi pahala orang yang melakukannya. (hlm. 281)

Awal membeli buku Muslim Hebat ini hanya karena penasaran saja, jadi saya tak punya ekspektasi apapun dengan buku tersebut. Namun, seperti di labelnya yang menyebutkan buku ini adalah buku best seller, saya pun mengamini, ternyata anggapan awal saya salah. Buku ini bagus sekali bahkan meskipun ada buku-buku motivasi islam lainnya, namun dari buku Muslim Hebat ini kita bisa belajar bagaimana para sahabat nabi dan ulama terdahulu berusaha untuk mencari ilmu, karena ilmu syari adalah warisan para nabi, maka barangsiapa yang mencarinya dengan sungguh-sungguh ia akan beruntung.

Di buku Muslim Hebat ini penulis banyak mengisahkan tentang kisah para sahabat dan tabiin bagaimana mereka berusaha susah payah dan bagaimana karakter mereka terbentuk lewat ilmu yang dimiliki. Juga kebiasaan mereka yang membutuhkan fokus tingkat tinggi untuk mencari ilmu, dengan menempuh jalan kaki menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya yang tak sedikit. Bahkan meskipun harus dilalui dengan jarak tempuh yang jauh mereka rela karena tahu keutamaan orang berilmu dibanding yang tidak.

Ilmu tidak akan diperoleh dengan berleha-leha, oleh karenanya tabiat ilmu adalah dengan mendatangi sumber ilmu. Dengan bersungguh-sungguh meniatkan apapun ilmu yang kita peroleh demi kebaikan kita. Lalu mencatat, mengamalkan, dan mengajarkannya. Jadi tidak hanya berhenti di titik sudah mendapatkan ilmu, namun harus juga dengan amal dan menyebarkannya kembali. Sehingga kebaikan tersebut akan meluas ke seluruh penjuru negeri.

Nah, menurut saya buku ini sangat bagus mengulas kisahnya, karena saya belum pernah membaca kisah-kisah perjuangan para sahabat dan ulama terdahulu untuk mencari ilmu. Overall, 5 bintang dari saya untuk buku ini. Nah, selamat membaca ya! ;)


No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^