Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

20 April 2014

Resensi Buku Beasiswa Erasmus Mundus The Stories Behind


Judul Buku : Beasiswa Erasmus Mundus : The Stories Behind
Penulis : Dina Mardiana, dkk
Penerbit : Nulisbuku.com
Terbit : 2011
Tebal : 193 halaman
ISBN : 978-602-99349-2-2
Rating ; 4/5


       Beasiswa seringkali menjadi idaman bagi mahasiswa yang ingin mendapatkan kesempatan belajar dengan biaya gratis. Bisa dibilang, setiap kesempatan pasti selalu ada sepanjang tahun. Hanya saja, apa kita siap untuk mengambil kesempatan yang berserakan itu? Impian akan menjadi kenyataan jika diiringi dengan usaha dan juga doa. Sama halnya dengan yang dialami oleh para mahasiswa yang tergabung dalam alumni Erasmus Mundus(EM). Mereka membagikan pengalamannya selama belajar dan menyerap budaya di negara-negara Uni Eropa lewat buku Beasiswa Erasmus Mundus : The Stories Behind ini.

           Bagi orang yang pernah merasakan interaksi dengan warga negara asing saat liburan di luar negeri, akan sangat berbeda jauh jika kita tinggal di sana dalam rangka belajar. Sebab lebih banyak adaptasi yang harus dilakukan demi berlangsungnya pendidikan hingga program selesai, sekitar dua tahun. Budaya, bahasa, culture shock, dan serangkaian kisah menarik lainnya saat berburu beasiswa Erasmus mundus bisa didapatkan di buku ini. Mulai dari pengalaman berburu beasiswa, menghadapi perkuliahan, menjelajah kuliner Eropa yang enak sampai yang ekstrim seperti makan tiram hidup-hidup, menyetir di kursi kemudi yang berbeda dengan di Indonesia, menyaksikan pertandingan bola di Milan, mencicipi Churros, membagi waktu antara kuliah dengan mengurus keluarga, sampai bertemu mantan sekjen PBB, Kofi Annan. Semua pengalaman itu dibagikan oleh ke limabelas penulis di buku ini.

       “Beasiswa buat saya lebih dari sekadar pengalaman satu atau dua tahun hidup dan menabung di luar negeri. Bagi saya, beasiswa adalah sebuah masa pembelajaran, tidak hanya sebatas pembelajaran akademik tetapi juga pembelajaran dan pembentukan karakter. Persiapan memperoleh beasiswa tidak terbatas pada mengumpulkan dokumen dan menulis motivation letter, melainkan semuanya berawal dari penanaman konsep yang dilakukan oleh orangtua saya selama bertahun-tahun, bahwa pendidikan adalah kunci untuk keluar dari kemiskinan, merupakan sebuah investasi  yang mahal tetapi tidak akan merugi, yang harus dikejar dengan ketekunan, keberanian, tanpa patah semangat dan banyak berdoa.” (halaman 36)

            Nominal beasiswa program Erasmus Mundus ini memang terbilang besar dibandingkan beasiswa sejenis, sehingga terlihat tinggi prestisenya dan tingkat kesulitannya untuk masuk dan bisa menembus seleksi termasuk ketat. Menyasar warga negara dunia ketiga, beasiswa ini memang ditujukan untuk warga negara berkembang, seperti Indonesia. Nah, diharapkan ilmu yang didapat bisa digunakan untuk mengembangkan pengetahuan yang ada di negara asalnya setelah program selesai.  

        Perlu diperhatikan juga saat mengisi motivation letter, “Seringkali banyak pelamar beasiswa menuliskan hal yang muluk-muluk di motivation letter yang justru membuat aplikasi mereka kelihatan tidak realistis.” (halaman 30) Di perkuliahan, ada sistem konversi pula dari SKS ke ECTS, seperti pengalaman yang dialami Yansen Darmaputra. Ia sudah menempuh S1 sebanyak 144 sks di Indonesia, sedangkan standar S1 di Eropa adalah 180 ECTS. Sebab itu perlu dilakukan konversi dari SKS ke ECTS untuk memastikan bahwa ia mempunyai gelar S1 yang diakui Italia sehingga layak untuk diberikan gelar S2 bila lulus nanti. (halaman 182)

            Beasiswa EM mencakup biaya kuliah, biaya hidup dan keperluan pindah negara selama periode studi sebesar kurang lebih 24 ribu euro/tahun. Untuk beasiswa ini memang memungkinkan mahasiswa untuk bisa belajar di dua atau tiga negara selama program. Jadi, satu semester dilakukan di satu universitas negara yang tergabung dalam konsorsium, lalu semester selanjutnya akan dilakukan di negara lainnya. Ada yang mengambil di negara Jerman, Belanda, Belgia, Italia, dll. Sistem belajar di Eropa membuat mahasiswa harus pro-aktif untuk menjalani studi.

            Buku ini memang berisi pengalaman para alumni yang sudah menjalani program EM yang ditulis dengan gaya bahasa unik setiap penulisnya. Ada yang menulisnya dengan gaya santai, ada pula yang mirip esai. Namun, kembali kepada konsep awal buku ini, beasiswa ini hanya akan didapat oleh orang yang siap menerimanya dengan segala persiapan yang matang. Nah, siap berburu beasiswa EM? Baca saja buku ini. ;)

4 comments:

  1. Wah... buku yang harus dibaca para mahasiswa pemburu beasiswa. Ada gak ya beasiswa buat emak-emak. Heheheh... kangen sekolah lagi nih. TFS. ^^

    ReplyDelete
  2. Hai Ky.. maaf baru bisa balas dan datang berkunjung :D
    Apa Kabar??

    ReplyDelete
  3. seneng banget kayaknya kalau dapet beasiswa. Saya jadi kangen sekolah hihi

    ReplyDelete
  4. uedan bisa belajar di dua atau tiga negara? itu rezeki luar biasa. saya suka kutipan2nya :D thx sharingnya

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^