19 November 2021

[Resensi Buku] Sang Keris - Panji Sukma

 

Novel sang keris - novel sejarah dan budaya Indonesia
Sang keris


Judul : Sang Keris 

Pengarang : Panji Sukma

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Terbit : Cetakan Pertama, 17 Februari 2020 

Tebal : 110 halaman

Genre : novel sejarah & budaya

ISBN : 9786020638560

Rating : 4/5 ⭐

Harga buku : Rp 65.000

Baca ebook di aplikasi Gramedia Digital


❤️❤️❤️


Sinopsis Buku Sang Keris - Panji Sukma : 


Kejayaan hanya bisa diraih dengan ilmu, perang, dan laku batin. Sedangkan kematian adalah jalan yang harus ditempuh dengan terhormat. Matilah dengan keris tertancap di dadamu sebagai seorang ksatria, bukan mati dengan tombak tertancap di punggungmu karena lari dari medan laga. Peradaban telah banyak berkisah tentang kekuasaan. Kekuasaan melahirkan para manusia pinilih, dan manusia pinilih selalu menggenggam sebuah pusaka.


Inilah novel pemenang kedua sayembara menulis paling prestisius. Cerita sebuah keris sekaligus rentetan sejarah sebuah bangsa. Sebuah keris yang merekam jejak masa lampau, saksi atas banyak peristiwa penting, dan sebuah ramalan akan Indonesia di masa depan.


🌼🌼🌼


“Novel beralur non-linier ini memecah dirinya dalam banyak bab panjang dan pendek, beberapa dapat berdiri sebagai cerita tersendiri ... memperlihatkan keberanian untuk menguji-coba bentuk dan isi.”


—Pertanggungjawaban Juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019


“Sang Keris karya Panji Sukma akan dibaca, dicerna, dan dinikmati masyarakat secara luas, akan masuk pada kelompok novel unggulan Indonesia.”

—Ahmad Tohari


“Pembaca akan dihantarkan dalam alur cerita dan ruang kosmis, serta tanpa sadar dituntun masuk dalam ruang kedalaman semadi.”

—Basuki Teguh Yuwono


🌼🌼🌼


Resensi Buku Sang Keris - Panji Sukma : 


"Apa yang akan kamu lakukan saat kamu berubah wujud menjadi sebuah keris dan dapat berpindah melintasi zaman ke zaman?"


"Apa yang akan kamu lakukan saat memiliki kekuatan mahadahsyat dari sebuah keris yang bisa membuatmu melakukan apa saja?"


Membaca sebuah novel dengan tokoh utama berupa keris ternyata membawa suasana baru bagi pembaca seperti saya. Pasalnya, sebuah kebaruan membuat novel ini menarik karena cara menyajikan ceritanya berpindah dari zaman ke zaman. 


Novel Sang Keris merupakan novel pemenang kedua lomba Novel DKJ 2019 karya Panji Sukma. Jadi kalau kamu suka dengan novel yang anti mainstream, ya... novel ini akan memenuhi ekspektasimu. 


Hanya saja, novel Sang Keris ini menurut saya terburu-buru dalam hal perpindahan karakter dan latar cerita. Jadi tahu-tahu pindah aja gitu ke setting lainnya. Padahal saya baru kenal dan merasa dekat dengan tokohnya, tahu-tahu sudah ganti pemeran. Serasa ditinggal pas lagi sayang-sayangnya kan? πŸ˜›


Novel Sang Keris ini menurut saya memenuhi ekspektasi sebagai pemenang kedua sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2019. Karena diksinya bagus dan budaya yang ditampilkan dalam novel ini akan membuat pembaca makin tahu kekayaan khasanah budaya dan sejarah di Jawa. 


Setting utamanya ada di pulau Jawa ya, terutama di zaman kerajaan kuno seperti Majapahit, lalu berpindah-pindah alur waktu hingga masa penjajahan, masa kemerdekaan hingga masa modern. 


Tokoh dalam novel ini terbilang banyak, jadi serasa kurang dieksplore aja. Dengan jumlah halaman di tiap cerita kadang dikit banget, misalnya 2 halaman aja, kadang banyak sampai puluhan halaman. 


Saya berharap buku ini bakalan dibikin versi yang lebih detail, pasti lebih bagus deh. Jadi setiap tokoh didetailkan lagi kisahnya. Hehe


Baca juga : Resensi Buku Wesel Pos by Ratih Kumala 


Buat saya yang pernah datang ke museum budaya, saya jadi tahu, "oh ternyata kisah dalam setiap benda-benda pusaka itu menyimpan cerita tersendiri ya". 


Tokoh sang keris bernama Kyai Karonsih ini berawal dari sebuah pernikahan antara seorang dewi dan seorang empu di Jawa. 


Saat itu, sang empu bernama Maha Empu Jati Kusuma jatuh cinta dengan Dewi Sasmitarasa, dewinya para dewi, hingga ia berani menyusulnya ke Kahyangan Segara Madu. (Hlm. 36)


Sang empu yang memiliki keris sakti diminta oleh Dewi untuk menyingkirkan keris itu. Kenapa? Karena sang dewi cemburu dengan keindahan keris itu. Dududuu~



"Aku takut keindahan dhuwung Kakang akan mencari madu lain dalam hangat basahnya cinta kita."    

"Apa gerangan maksud, Dinda Dewi?"

"Lepaskan dhuwung Kakang. Yakinkan Dinda jika Dinda adalah satu-satunya keindahan yang Kakang miliki." (Hlm. 39)


Namun, sang Maha Empu berkata :


"Tetapi, Dinda. Ada yang perlu Dinda ketahui. Karonsih memiliki kekuatan yang mahadahsyat, Kakang takut jika Karonsih jatuh di tangan orang yang salah akan menimbulkan malapetaka." 


"Jangan cemas, Kakang. Di bawah sana ada anak seorang empu yang sedang menempa dhuwung, titipkanlah kesaktian Karonsih pada dhuwung pemuda itu." (Hlm 40)


Jadi, kisah kesaktian Karonsih berawal dari sebuah dhuwung yang diciptakan Maha Empu Jati Kusuma. Dalam dhuwung tersimpan kekuatan mahadahsyat yang diturunkan dari maha empu itu. 


Setiap orang yang memegang keris berdhawung itu, maka akan mendapatkan kekuatan yang tak tertandingi. 


Mau tahu siapa pemuda yang beruntung memiliki Karonsih itu? Ya... nama pemuda ini adalah Arya Matah, seorang anak empu tersohor di sebuah kerajaan.


Baca juga : Resensi Buku Gadis Kretek by Ratih Kumala


Sejak kehadirannya di muka bumi, keris Karonsih telah berpindah tangan ke banyak orang. Melakukan banyak kejahatan dna kebaikan sesuai dengan keinginannya, bahkan kadang menyesuaikan dengan laku pemiliknya. 


Kalau pemiliknya baik, maka dia akan menjadi baik, namun saat pemiliknya memiliki nafsu untuk menguasai dunia, maka Karonsih membuat keributan. 


Bagian paling bikin merinding itu pas Keris Karonsih yang diletakkan dalam tempat penyimpanan pusaka kerajaan malah membuat onar. Jadi dia adu kesaktian dengan pusaka-pusaka lainnya. Hawa panas langsung menyebar di gedhong pusaka. Akhirnya, gudang penyimpanan pusaka itu hangus terbakar, dan yang selamat ya cuma keris Karonsih ini. 


Plus yang bikin saya merinding itu kemampuan keris Karonsih untuk nyirep orang-orang di sekelilingnya. Ini tuh bikin apa ya... Horor aja. Jadi inget ajian-ajian yang muncul di film kolosal Indosiar. Ya, kalo kamu pernah nonton film kolosal kerajaan itu, kira-kira gitu deh. 😁


Dalam novel ini kental sekali dengan unsur budaya dan sejarah Jawa. Jadi ada beberapa bagian yang mengisahkan kisah Jawa tempo dulu. Misalnya saat kekuasaan Majapahit jatuh hingga terbentuknya kerajaan lain di jawa dengan Islam sebagai agama utamanya. 


Dulu waktu Majapahit kan masih hindu, nah... Saat anak raja itu memeluk Islam sebagai agama yang dibawa para wali, saat itu sang raja justru memerintahkan orang kepercayaannya untuk membantunya pindah ke daerah lain, untuk membangun peradaban baru. 


Dari situlah muncul kerajaan baru, dan yang bikin seru tentu saja karena keris ini juga diikutsertakan dalam penobatan raja baru itu. 


Ibaratnya nih... Keris ini sebagai pusaka yang memang turun temurun di kerajaan, tapi karena satu dan lain hal... Keris ini berpindah tangan dari satu orang ke orang lain. Bahkan dari maha empu, senopati, berandal, penari, anak empu, sampe ya... Akhirnya dia ada di museum. 


Pemilik kerisnya juga banyak banget ya, karena keris ini pindah dari zaman ke zaman. Misalnya aja : Pulanggeni, Patih Lokajaya, Ki Ageng Mangir, Sonosewu, Ki Konang, Ki Anggaspati, dll. 


"Bagaimana wujud kerisnya?"

"Ampun, Ki Ageng. Keris luk tiga dengan pamor Karonsih, bilahnya memancarkan cahaya yang sangat silau."

"Tidak salah lagi, Kanjeng Kyai Karonsih, pusaka Panembahan Senapati. Mereka pasti utusan  dari Mataram." (Hlm. 71)


Kalau menurut saya, novel ini nggak bisa hanya sekali baca, karena ada banyak istilah budaya dan sejarah Jawa yang perlu pemaknaan lebih jauh, plus kisah perjalanan keris Karonsih sangat padat untuk dimasukkan dalam 110 halaman di novel ini. 😁


Jadi kalau mau paham lebih jauh, sepertinya harus baca lagi ya, karena alur novelnya juga maju mundur, bikin bengong dan bingung. Haha. Ibarat pecahan puluhan puzzle, ini harus disatukan biar paham deh. πŸ˜„


Oiya, buat yang nggak berasal dari Jawa, kamu masih tetap bisa menikmati alur novel ini. Soalnya udah disediain footnotes. Meskipun banyak banget ya, wekeke. Sampe 90 footnotes dong. Rajin amat mas penulisnya... πŸ˜‚


Btw, saya penasaran kira-kira apa yang ditulis penulis di endingnya, bakal terjadi nggak yaa? Hehe


Overall, saya suka dengan novel Sang Keris karya Panji Sukma ini. 4 bintang untuk kisahnya yang seru dan unik. Ditunggu karya lainnya ya! 😍

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^