Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

2 April 2014

[Resensi Buku] Resep Panjang Umur by Muhammad bin Ibrahim An Naim


Judul Buku : Resep Panjang Umur
Penulis : Muhammad bin Ibrahim An Naim
Penerbit : Qaula (Smart Media)
Terbit : November 2009
Tebal : 230 halaman
ISBN : 978-979-1082-89-1
Rating : 4/5

 “Jika umur seseorang mencapai enampuluh tahun. Maka separuhnya berlalu pada waktu malam (untuk tidur) dan separuhnya lagi berlalu tanpa diketahui. Sedangkan sisanya berisi kebingungan dan kesibukan.“

Benarkah umur seseorang dapat bertambah? Sebuah pertanyaan krusial yang membuat saya berpikir lama saat membaca sinopsis di belakang buku ini. Apalagi umur bukankah memang sebuah ketetapan yang sudah digariskan oleh Allah? Maka, apa maksud dari judul buku ini?


Umur seseorang setiap tahun berkurang seiring waktu. Selain kesibukan yang bertambah, bertambah pula pemahaman dan pengalaman hidup. Namun pemahaman hidup pun belum tentu bisa membekali diri kita dengan sesuatu yang berarti. Di sinilah urgensi sebuah amalan yang dilakukan selama kita hidup yang membuat diri kita lebih bermanfaat. Dalam hal ini, anggap saja usia kita dengan orang lain sama, misal 40 tahun. Ada yang usianya sama dengan kita namun produktif berkarya, ada juga yang hanya menjalani sisa hidupnya dengan hal yang sia-sia.

Buku ini lebih menitikberatkan pada amalan yang membuat kita mendapat umur panjang, umur yang meski hitungan angkanya sama namun dalam segi kualitas jelas lebih baik. Umur panjang bisa didapat dengan empat resep utama yaitu akhlak mulia, beramal dengan pahala yang berlipat ganda, amal yang berpahala terus mengalir setelah wafat dan memanjangkan usia dengan efisiensi waktu.

Resep pertama yaitu akhlak mulia. Akhlak mulia membuat manusia berbeda dengan makhluk Allah yang lainnya. Akhlak yang baik lagi mulia akan membuat kita disenangi makhluk Allah di langit dan di bumi. Apa saja yang harus dilakukan? Yaitu silaturahim, perangai baik, dan baik pada tetangga.

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka sambungkanlah silaturahim.” (HR Abu Hurairah)
“Lakukanlah silaturahim walau hanya sekadar mengucapkan salam.”(HR At Thabrani dan Baihaqi)
“Malaikat Jibril senantiasa berwasiat-agar senantiasa berbuat baik– kepada tetangga, sampai-sampai aku menyangka tetangga termasuk kepada ahli waris.” (HR. Bukhari)

Resep kedua yaitu beramal dengan pahala yang berlipat ganda. Yaitu : shalat, haji dan umrah, menjadi muadzin dan menjawab adzan, shaum, menggapai lailatul qadar, jihad, beramal shalih pada sepuluh hari bulan Dzulhijah, membaca al Qur’an, istighfar dan membantu orang lain. Kita seringkali menganggap bahwa shalat, puasa, haji, dll itu adalah sebuah kewajiban. Sebenarnya ada hikmah-hikmah dari setiap ibadah itu bila kita mengamatinya. Misalnya saja, haji dan umrah dapat menghilangkan dosa dan kefakiran dalam diri kita.

Lalu, dalam shalat ada pula hal yang tidak saya tahu sebelumnya. Bahwa ada ampunan Allah dalam ucapan “aamiin” yang diucapkan saat imam mengucapkan itu. Bila ucapan “aamiin” tadi berbarengan dengan “aamiin”-nya para malaikat, maka dosa kita yang telah lalu akan diampuni.

Begitu pun dengan keutamaan shaf pertama dalam shalat.

“Sesungguhnya Allah dan malaikat bershalawat kepada (jamaah) yang berada di shaf pertama.”  Para sahabat bertanya,“Bagaimana dengan shaf kedua, ya Rasulullah?” Rasul saw menjawab, “Sesungguhnya Allah dan malaikat bershalawat kepada (jamaah) yang berada di shaf pertama.”  Para sahabat bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan shaf yang kedua?” Rasul saw menjawab, “Dan bagi shaf yang kedua.” (HR. Ahmad)

Resep ketiga adalah sedekah, mendidik anak shalih, dan mengajarkan pengetahuan pada orang lain. Resep keempat adalah melakukan efisiensi waktu agar banyak hal dapat dikerjakan semasa hidup, hingga bekal di dunia untuk kembali ke akhirat pun akan banyak dipanen setelahnya. Efisiensi waktu bisa berjalan dengan baik manakala kita sering bertaubat pada Allah, hingga akhirnya menyadari bahwa hidup di dunia hanya sebentar saja.

Lalu, dalam buku ini juga diajari bagaimana membuat usia produktif kita menjadi lebih bermakna. Kita harus menyadari ada hal yang sering menjadi penghancur kebaikan, misalnya saja ujub dan sombong, mendzalimi hak-hak orang lain dan kejahatan abadi yang akan membuat manusia sengsara. Bukankah lebih menyenangkan bila saat kita meninggal, maka terhenti pula dosa yang kita lakukan?

Buku ini memberikan pemahaman baru bagi saya tentang urgensi umur panjang. Penulisnya menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami,. Bahwa umur panjang pun bisa kita usahakan dengan membekali diri dengan kebaikan-kebaikan berlimpah dan menghindari dosa. Maka, jika amalan ini dilakukan, hidup akan lebih indah, berwarna dan tentu saja bermanfaat bagi sesama. Kekurangan yang saya rasakan hanya di bagian cover yang kurang soft, terlalu abstrak dan warna yang terlalu gelap sehingga kurang menarik bagi saya sebagai pembaca. Overall, 4 bintang untuk buku bermanfaat ini.

4 comments:

  1. Replies
    1. Iya, Mak Hana. Minjem di perpus, terbitan lama. Hehe. :D

      Delete
  2. kalau terbitan lama, kira2 masih ada gak ya di toko buku? Semoga masih :)

    ReplyDelete
  3. tersentuh sob:)
    salam kenl deh,
    follback ya..

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^