Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

7 October 2014

Resensi Buku : For One More Day - Mitch Albom


Judul : For One More Day (Satu Hari Bersamamu)
Pengarang : Mitch Albom
Penerbit : Gramedia
Terbit : Cetakan keempat, Juli 2014
Tebal : 248 halaman
ISBN : 978-602-03-0655-1

Pernahkah kau kehilangan seseorang yang kausayangi dan kau ingin bisa bercakap-cakap dengannya sekali lagi, mendapatkan satu lagi kesempatan untuk menggantikan waktu-waktu ketika kau menganggap mereka akan selalu ada selamanya? Jika pernah, maka kau pasti tahu bahwa seberapa banyak pun kau mengumpulkan hari-hari sepanjang hidupmu, semuanya takkan cukup untuk menggantikan satu hari itu, satu hari yang ingin sekali bisa kaumiliki lagi.

Charles “Chick” Benetto, seorang mantan pemain bisbol yang memiliki riwayat hidup nan rumit. Buku ini berisi tentang kisahnya dengan sang ibu. Kasih sayang abadi seorang ibu saat ia mendapatkan satu hari bersamanya lagi. Dan pertanyaan berikut ini : Apa yang akan kaulakukan seandainya kau diberi satu hari lagi bersama orang yang kausayangi, yang telah tiada?

Chick dibesarkan di Pepperville Beach dengan menjadi anak ayah. Pilihan yang ia dapatkan saat itu adalah, “Kau bisa jadi anak mama atau anak papa. Tapi tidak keduanya.” (halm. 31) Maka ia memilih ayahnya, memujanya – namun sang ayah pergi begitu saja ketika ia menjelang remaja. Dan Chick akhirnya dibesarkan oleh ibunya, seorang diri. Meski seringkali ia merasa malu akan keadaan ibunya serta merindukan keluarga yang utuh.

Bagi Chick, bermain bisbol mengingatkannya pada ayahnya. Ia menjadi pemain profesional hingga tingkat dunia, namun akhirnya di saat pensiun, ia mengalami masalah besar dalam hidup. Dunianya berantakan, istrinya bercerai darinya, ibunya meninggal dan anak perempuannya menikah tanpa meminta restu darinya. Chick hanya mendapat foto pernikahan puterinya yang sudah dicetak, itu membuat ia merasa tersisih. Terasing, tak ada kedekatan dengan siapapun.

Ketika kau membusuk dari dalam dirimu, kau membusuk di hadapan semua orang, bahkan di depan orang-orang yang kausayangi. (halm. 14)

Bertahun-tahun kemudian, ketika hidupnya hancur oleh minuman keras dan penyesalan, Chick berniat bunuh diri. Tapi gagal. Namun, yang ia rasakan justru ia kembali ke rumahnya yang lama dan menemukan hal yang mengejutkan. Ibunya – yang meninggal delapan tahun silam – masih tinggal di sana, dan menyambut kepulangannya seolah tak pernah terjadi apa-apa.

***

Buku Mitch Albom ini adalah buku ketiganya yang telah saya baca. Bagi saya, buku ini membuka mata saya lebar-lebar tentang banyak hal dalam hidup. Yang tak pernah terbayangkan selama ini. Naik turun perjalanan hidup yang dialami Chick bisa saja dialami oleh siapapun. Tapi pernahkah terbayangkan apa yang akan terjadi jika dihadapkan pada pilihan seperti Chick. Menjadi anak ayah baginya adalah sebuah representasi kebanggaan. Konsep hidup yang ditanamkan ayahnya lebih kuat dari yang dibuat ibunya. Ibunya yang membuatnya jatuh cinta pada buku, harus tersisih dengan kecintaannya pada bisbol.

Karirnya berhenti saat ia tak mampu lagi mengayun pemukul bisbol karena usianya yang sudah tidak memungkinkan. Perjalanan hidupnya seperti atlet-atlet kita yang lainnya, tenggelam dalam kehidupan nyata yang jauh lebih keras dari arena pertandingan. Sebab, di sanalah ada banyak hal yang harus dilakukan, bukan hanya tentang fokus saja seperti yang dilakukan oleh Chick untuk mencapai target saat bertanding. Seorang Chick harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ujian kehidupan memberinya banyak warna yang tak pernah ia tahu.

“Percaya, kerja keras dan cinta—kalau kau punya hal-hal ini, kau bisa melakukan apa pun.” (halm. 202)

Ia harus berjibaku menginvestasikan uang yang ia miliki, namun penjualan yang ia lakukan tak berhasil.

Yang membuat saya terpana adalah saat Micth Albom mengatakan bahwa tulisan dalam buku ini adalah kisah nyata seorang atlet. Seperti yang dikisahkan oleh Chick, Mitch menceritakan ulang dari sudut pandang Chick langsung. Bagaimana cara Chick bertemu lagi dengan sang ibu dan mengalami banyak hal dalam satu hari yang ia miliki. Ada banyak jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam hidupnya yang akhirnya ia temukan saat ia bersama ibunya. Chick juga dikisahkan membuat daftar berisi hal-hal di mana : saat-saat ketika ibu membelaku dan saat-saat ketika aku tidak membela ibu. Dua daftar itu membuka memorinya tentang sang ibu.

Ibunya membuka apa yan selama ini tak terlihat oleh Chick, beberapa kisah dirinya yang tak pernah ia kisahkan pada anaknya. Yang terpenting dalam segala hal yang ia alami selama hidupnya, ia memiliki Chick dan Roberta sebagai alasan untuk terus menjalani hidup, meski tak mudah. 

“Aku melakukan apa yang penting bagiku,” katanya. “Aku menjadi seorang ibu.” (halm.165)

Buku ini akan membuatmu meneteskan air mata karena merindukan ibumu. Percayalah, bahwa satu hari bersamanya tak akan pernah cukup bila kau tahu apa yang banyak ia korbankan untukmu. 

“Berbagi kisah tentang mereka yang telah pergi adalah cara kita menjaga supaya tidak benar-benar kehilangan mereka. Dan satu hari yang dilewati bersama seseorang yang kausayangi bisa mengubah segalanya.” (halm. 245)

4 comments:

  1. Ketika kau membusuk dari dalam dirimu, kau membusuk di hadapan semua orang, bahkan di depan orang-orang yang kausayangi >> jleb banget mbak

    ReplyDelete
  2. Wah, aku baca resensinya aja udah sedih mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Walo sedih tapi bisa memotivasi, mba. :D

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^