Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

1 October 2014

Resensi Buku : Gua Seribu Mata - Ary Nilandari


Judul Buku : Gua Seribu Mata
Pengarang : Ary Nilandari
Penerbit : Talikata Publishing House
Terbit : Cetakan Pertama, Juni 2011
Tebal : 128 halm.
ISBN : 978-602-8906-78-4

Gua seribu mata membetot Ilya seperti magnet menarik besi. Sekalipun gua itu memancarkan cahaya aneh setiap bulan purnama. Sekalipun ada makhluk bermata seribu yang bersarang di dalamnya. Sekalipun penduduk dengan keras melarang : Jangan dekati gua itu, jangan masuk ke sana, pokoknya jangan! Kamu akan dibawa makhluk itu dan tak bisa pulang lagi. Seperti kejadian yang menimpa ibu Mawar lima tahun lalu.

Novel petualangan anak ini dimulai dari sebuah gua yang terletak di tepi sungai Comal, Pemalang. Ilya, Mawar dan Langlang adalah anak-anak pemberani yang memulai petualangannya lewat sebuah kisah yang beredar di dusun tanpa pemuda itu. Kisah gua seribu mata dan mitos tentang Gendrungkeluwe.

Mawar, gadis cilik sepupu jauh Ilya, sebenarnya bernama Ela. Ia tinggal bersama mbah Kun. Ibunya meninggal saat banjir bandang melanda desa. Namun simbahnya mengarang cerita tentang Gendrungkeluwe yang diidentikkan dengan makhluk halus. Padahal itu hanya kisah fiktif.

Langlang, anak SMP yang biasa disuruh membantu simbah di dusun tanpa pemuda. Dusun itu sepi. Hanya Langlang yang sering disuruh membetulkan sumur, membagi surat-surat, termasuk mencari anak hilang bila simbah-simbah yang sudah tua itu kehilangan cucunya. Langlang berjerawat karena mengalami masa puber.

Ilya masih penasaran dengan gua yang memancarkan sinar kala purnama. Ia ingin ke sana, tapi bunda melarangnya. Simbah-simbah itu apalagi.

“Mbah diamanati bundamu untuk menjaga Mas Ilya. Tolong jangan ke sana lagi. Mbah nggak percaya dengan omongan orang soal Gendrungkeluwe. Tapi tempat itu bukan tempat main anak-anak. Berbahaya kalau pergi ke sana. Kalau terjadi apa-apa sama Mas Ilya, Mbah Tin nanti harus bilang apa pada bundamu?” (hlm. 79)

Tapi Ilya tidak asal nekad mendekati gua itu. Ia ingin membantu Mawar yang merasa kehilangan, dan terus berharap suatu saat ibunya akan pulang. Bersama Langlang, Ilya menemukan bukti untuk mengungkap misteri dan keanehan seputar Gua Seribu Mata. Tapi bukti itu malah menyebabkan Mawar menghilang dari rumahnya, malam-malam saat hujan angin.

***

Gua Seribu Mata membuat saya takjub karena penulisnya berhasil membuat saya penasaran hingga akhir. Pemilihan judulnya sejak awal membuat saya penasaran dengan definisi seribu mata. Apalagi dikaitkan dengan mitos yang memang sering beredar di orang jawa yang sudah sepuh, tentunya membuat buku ini menjadi istimewa karena mengetengahkan kisah petualangan berbalut mitos, tapi pemecahannya dengan sains.

Tak banyak buku yang seperti ini, makanya saya salut bagaimana penulisnya, Ary Nilandari memaparkan dari sisi anak-anak yang memang hobi penasaran tentang suatu hal baru. Kalau yang di buku ini, segala apa yang dipertanyakan di awal kisah, pada akhirnya menemukan jawaban logis dan di sini pula sisi empati perihal kehidupan anak-anak desa dijabarkan dengan luwes. Saya berharap ada novel seperti ini lagi, petualangan yang tak sekadar memancing rasa penasaran tapi juga memberi pemahaman tentang dua sisi yang harus diperhatikan oleh anak-anak. Dari sisi orang tua, dan dari sisi anak muda yang penuh gejolak rasa penasaran. Sukses selalu, Bunda. :D

3 comments:

  1. Jangankan anak-anak saya juga ikut penasaran pengen baca, Mbak. Moga2 ada di Gramed ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru ceritanya, mba. Ada sains dan petualangan. ^^
      Kalo di Gramed mungkin udah habis, mba Evi. Ini terbitan 3 tahun lalu, hehe :D

      Delete
  2. terima kasih :)
    selalu terharu baca tanggapan pembaca, berulang-ulang, menguatkan, menyemangati....

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^