Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

1 October 2014

Resensi Buku : Misteri Gua Cadas Sumbing - Firma Sutan

Judul : Misteri Gua Cadas Sumbing
Pengarang : Firma Sutan
Penerbit : Talikata Publishing House
Terbit : Cetakan pertama, Juni 2011
Tebal : 128 halm.
ISBN : 978-602-8906-77-7

Empat sekawan yang terdiri dari Badil, Dita, Aan dan Angga, anak kelas 5 SD Desa Cepit, mengisi liburan dengan main ke pondok tua dekat desa mereka. Sebelum sampai di pondok, terlihat ada beberapa orang asing dengan pakaian rapi khas orang kota sedang berbisik-bisik. Dari gelagat yang terlihat sepertinya niat kehadiran mereka bukan hal yang baik. Bisa jadi mereka adalah penjahat.

Tanpa sengaja, Badil mematahkan ranting dekat kakinya. Seorang dari rombongan itu mengejar keempat anak itu hingga mereka terpisah menjadi dua. Angga dan Badil terjebak di dalam Gua Cadas Sumbing. Sedangkan Dita dan Aan entah ada di mana. Tersesat di gua membuat Badil dan Angga kelaparan. Mereka pun makan gula merah, bekal yang dibawa Badil saat berangkat tadi.

Angga dan Badil berjalan hingga mereka menemukan peti-peti harta karun yang ditutup terpal di dalam gua tersebut. Menemukan peti itu membuat mereka yakin bahwa ada yang tak beres dengan orang-orang tadi. Barangkali peti itu sengaja disimpan di sana. Tapi, bagaimana mencari barang bukti kejahatan dan menangkap penjahatnya?

Suatu hari, paman Aswan, paman Angga yang merupakan seorang polisi singgah ke rumah Angga, sembari melakukan tugas dari kantor. Kata Paman Aswan, di dekat desa itu, ada sebuah galeri yang dirampok. Headline artikel koran menyebutkan bahwa  telah terjadi perampokan benda-benda seni bernilai sejarah. Ia ditugaskan untuk menyelesaikan kasus itu.

Tak disangka, ternyata, orang yang diduga sebagai penjahat menggunakan mobil pick up. Barang yang dirampok tidak diketahui di mana, sehingga sulit melacak penjahat. Para penjahat itu berpura-pura sebagai penjual barang keliling. Mereka menggunakan metode hari pasar tiap desa, lalu berjualan baju-baju di pasar dadakan tersebut.

Pak Dadang seorang lelaki berkacamata hitam dan berjaket kulit yang bertemu dengan orang desa saat ronda dan mengaku mobilnya mogok. Dita mengira Pak Dadang berkomplot dengan penjahat. Ia pun menguntit penjahat dari jendela kamar yang berseberangan dengan tempat pak Dadang tinggal kini. Rumah itu adalah rumah pak Usin yang tidak terpakai. Saking penasaran, Dita menelepon Mila, anak Pak Usin untuk bertanya tentang siapa pak Dadang. Betulkah peti-peti itu berisi harta karun sisa peninggalan Jepang? Adakah hubungan antara misteri gua cadas sumbing dengan kejadian yang dialami Angga dan kawan-kawannya selama ini?

***

Kisah petualangan anak-anak desa Cepit membuat pembaca mampu berkonsentrasi sejak paragraf pertama. Awalnya, kisah ini terasa seperti kisah empat sekawan yang ditulis Enid Blyton. Tapi seiring waktu, penulis akhirnya membawa kisah ini melebur menjadi sebuah kisah yang sungguh berbeda dibandingkan dengan penulis kelahiran Inggris itu. Unsur lokalitas yang kuat dari novel ini terasa saat penulis menjabarkan unsur seperti ronda, makanan tradisional semisal ubi, gula jawa, dan tak lupa, hari pasar di mana hal ini hanya ada di daerah-daerah tertentu.

Kekhasan unsur lokal Nusantara membawa suasana pedesaan terasa alami dan mengajak pembaca untuk sejenak mengikuti kisah hingga akhir. Untuk unsur petualangan, seri ini cukup menegangkan karena memberikan suspend yang agak berbahaya sebab sampai ada adegan penculikan, tapi di luar itu, saya menikmati membaca kisah anak-anak ini. Overall, 4 bintang untuk novel anak ini. 

5 comments:

  1. lagi hobi baca yang genre kayak gini ya Mbak? :), resensi saya mandek nih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, iya, mba Nurin. Aku selang-seling sama genre lain biar ga bosen, mba. Ayo dilanjut ngeresensinya. Semangat! ^^

      Delete
  2. kalau novel anak kebanyakan tentang petualang ya Mbak, dulu juga punya buku empat sekawan, entah sekarang di mana :((

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada juga yang ga, mba. aku baru baca the railway children itu semi petualangan, tapi menurutku banyakan sisi keluarga yang dijabarkan.

      Delete
  3. wah, senang banget menemukan resensi ini. terimakasih sudah meluangkan waktu membaca dan meresensinya :)

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^