Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

23 October 2014

Resensi Buku : The Railway Children - Edith Nesbit


The Railway Children (Anak-Anak Kereta Api)
Pengarang : Edith Nesbit
Alihbahasa : Widya Kirana
Penerbit : Gramedia
Terbit : Cetakan kedua, Juni 2010
Tebal : 312 halm.
ISBN : 978-979-22-5257-6

Roberta. Peter, dan Phyllis hidup bahagia di Vila Edgecombe, tapi mereka tidak menyadari betapa bahagianya mereka sampai sesuatu terjadi... sesuatu yang memaksa mereka menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda.

Ketika Ayah terpaksa pergi beberapa lama, ketiga anak itu bersama Ibu meninggalkan rumah mereka di London dan pindah ke pondok kecil di pedesaan. Anak-anak itu mencari hiburan di stasiun kereta api dekat pondok mereka dan berkawan dengan Pak Perks, portir stasiun, dan bahkan juga dengan Kepala Stasiun. Tapi satu hal tetap merupakan misteri : ke manakah Ayah dan akankah ayah kembali?

***

Novel klasik yang ditulis Edith Nesbit ini awalnya saya beli karena penasaran dengan label klasik bergambar mawar. Saya pernah membaca buku klasik era Victoria dan tak pernah selesai membacanya. Karena penasaran, saya menghabiskan buku ini dalam beberapa hari. Seperti yang seorang teman sarankan, jika buku klasik terasa sulit dipahami, saya harus membacanya pelan-pelan, memberi jeda agar paham maknanya.

Edith Nesbit mengisahkan Anak-anak Kereta Api. Bukan anak-anak yang bekerja di kereta api, tapi anak-anak yang sering bermain di sekitar rel. Pusat kehidupan bermula dari kisah yang dituliskan di tambang batubara kereta api. Di sanalah Edith mengisahkan anak-anak yang kehilangan hidup nyamannya, mencari apa saja yang bisa membuat mereka bisa bertahan hidup dengan keterbatasan.

Bobbie, Peter dan Phyllis adalah tiga anak yang harus tinggal di pondok tiga cerobong dekat rel kereta api, di sebuah bukit bersama ibunya karena sang ayah menghilang. Dugaannya, ayah pergi ke London. Tapi sang ibu tak pernah mengatakan ayah ke mana, meski seringkali anak-anak mengantarkan surat ibu untuk ayah ke kantor pos.

Peter pernah tertangkap oleh Kepala Stasiun karena mengambil batubara untuk mengisi perapian rumahnya. Ia mengira rel kereta api adalah tempat menambang batubara secara gratis. Setelah tahu kesalahan yang dibuatnya, Peter minta maaf pada Kepala Stasiun. Namun, sejak itu Peter merasa bersalah, kedua saudaranya juga kadang mengungkit masalah itu hingga suatu hari Peter bertemu dengan Kepala Stasiun. Lelaki itu memaafkan Peter dan tak mengungkit hal itu lagi. Peter pun ceria lagi.

Anak-anak pondok tiga cerobong yang dikenal pemberani, mengalami banyak hal selama tinggal di daerah yang sunyi itu. Mereka berkenalan dengan Pak Tua, membantu menghentikan kereta api yang hampir bertabrakan, memberi bantuan pada Tawanan Rusia yang tersesat, juga seekor 'anjing berkaus merah'.  

14 bab di novel ini memberi makna tentang kebijaksanaan hidup lewat cara pandang anak-anak. Penulisnya bahkan menyelipkan tentang bagaimana cara agar anak-anak bisa belajar bersimpati pada tahanan dan korban ketidakadilan. Suatu tema yang ‘ekstrim’ menurut saya karena biasanya tema seperti ini cukup berat dijabarkan. Namun di tangan Edith Nesbit, novel ini memberi penyegaran bagaimana memberi tahu anak-anak perihal situasi yang rumit namun dengan cara yang halus.

Anak-anak pun jadi lebih tahu tentang seluk-beluk kereta api, menulis dan kedokteran yang dijelaskan lewat pertemuan ketiga anak itu dengan tokoh-tokoh lainnya. Anak-anak bisa belajar tentang kemandirian, keberanian, kejujuran, harga diri, arti persahabatan dan saling memaafkan.

“Kita tidur di rumah baru, ya kan? Ingat, nggak? Tak ada pelayan, dan sebagainya. Yuk, bangun. Kita tunjukkan bahwa kita anak-anak yang bisa diandalkan. Kita turun pelan-pelan, merayap tanpa bunyi seperti tikus. Kita bereskan dan kita siapkan semuanya sebelum Ibu bangun. “ (hlm. 33)

“Nah, dengar, Sayang. Kita memang miskin, tapi kita masih punya cukup uang untuk hidup. Kalian tidak boleh menceritakan kesulitan kita pada siapa pun – itu keliru. Dan kalian tidak boleh, sama sekali tidak boleh, meminta sesuatu pada orang asing yang tidak kalian kenal. Ingat kata Ibu! Janji?” (hlm. 79)

“Anda tak perlu menyuap kami agar kami mau tutup mulut!” (hlm. 264)

“Tidaklah lebih baik kalau kita bayangkan diri kita sebagai tokoh-tokoh cerita yang ditulis oleh Tuhan? Kalau Ibu yang menulis cerita, mungkin Ibu akan membuat kesalahan. Tapi kalau Tuhan yang jadi Sang Pengarang, Tuhan tahu bagaimana mengakhiri sebuah cerita dengan sebaik-baiknya – yang terbaik bagi kita semua.” (hlm. 284)

Dari sudut pandang yang diambil oleh Ibu, pembaca bisa belajar menjadi ibu yang bijak dengan segala kebaikan hati dan kelebihannya. Ibu pandai bercerita, menulis, berbahasa asing dan berpantun. Hal yang menjadi kelebihan dari tokoh Ibu ini, karena biasanya ibu-ibu jarang ada yang bisa kan ya :D hehe. Overall, 4 bintang untuk kisah petualangan yang mengagumkan. ;)

2 comments:

  1. Suka banget dengan quote terakhir, La. Dengan kelebihannya, si ibu bisa menyisipkan nilai-nilai yang baik untuk anak-anaknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mba Phie. Bukunya bagus. Jadi pengen koleksi buku klasik lainnya, hehe

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^