Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

2 August 2016

[Resensi Buku] The Architecture of Love - Ika Natassa


Pengarang : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : 2016
Tebal : 304 hlm.
ISBN : 978-602-03-2926-0

Sinopsis :

New York mungkin berada di urutan teratas daftar kota yang paling banyak dijadikan setting cerita atau film. Di beberapa film Hollywood, mulai dari Nora Ephron's You've Got Mail hingga Martin Scorsese's Taxi Driver, New York bahkan bukan sekadar setting namun tampil sebagai "karakter" yang menghidupkan cerita.

Ke kota itulah Raia, seorang penulis, mengejar inspirasi setelah sekian lama tidak mampu menggoreskan satu kalimat pun.

Raia menjadikan setiap sudut New York "kantor"-nya. Berjalan kaki menyusuri Brooklyn sampai Queens, dia mencari sepenggal cerita di tiap jengkalnya, pada orang-orang yang berpapasan dengannya, dalam percakapan yang dia dengar, dalam tatapan yang sedetik-dua detik bertaut dengan kedua matanya. Namun bahkan setelah melakukan itu setiap hari, ditemani daun-daun menguning berguguran hingga butiran salju yang memutihkan kota ini, layar laptop Raia masih saja kosong tanpa cerita.

Sampai akhirnya dia bertemu seseorang yang mengajarinya melihat kota ini dengan cara berbeda. Orang yang juga menyimpan rahasia yang tak pernah dia duga. 


Review Buku :

Raia menemukan New York sebagai tempat pelariannya dari rasa frustasi saat mengerjakan proyek novelnya. Ia tak pernah bisa menuliskan kalimat satupun setiap kali ia berusaha menulis. Padahal sudah dua tahun ia vakum sejak terakhir kali launching novel. Raia bukan penulis biasa, karena setiap karyanya selalu best seller. Satu hal yang mengusik hatinya adalah saat suaminya menceraikannya karena alasan yang membuat Raia tidak berani menuliskan lagi segala sesuatu yang berhubungan dengan suaminya. Baginya, suaminya adalah “Muse” seseorang yang memberinya inspirasi untuk berkarya. Namun, bagaimana ia bisa berkarya kembali jika hatinya hampa?

Sahabatnya, Erin menerima kedatangan Raia yang ingin menyepi untuk menulis di tengah hiruk pikuk kota New York. Suatu hari menjelang tahun baru, Raia bertemu dengan seorang lelaki bernama River di sebuah pesta  di apartemen Aga, teman Erin. Siapa yang menyangka pertemuan tak sengajanya membuat mereka berdua kembali bertemu dan menjadi teman dekat karena kesamaan nasib, mencari inspirasi di tengah gedung-gedung bertingkat kota New York.

New York yang bagi sebagian besar pendatang adalah American dream untuk ditaklukkan, nyatanya membawa Raia dan River menyelami karakter masing-masing. Raia selalu memulai ritual menulisnya saat ia menemani River mencari gedung-gedung yang akan digambarnya. Di sanalah ia mendapati bahwa inspirasi bisa datang dari seorang lelaki asing yang diajaknya berpetualang mengunjungi beragam landmark New York dari gedung, kedai kopi, taman hingga toko buku. Akankah Raia mendapatkan kembali inspirasi yang membuatnya bisa menerbitkan buku lagi?

Di sisi lain, seorang River pun tengah membuat dirinya sendiri tenggelam dalam riuhnya kota New York. Ia mengalami trauma yang membuat suara-suara jahat dalam dirinya sering menikam hatinya. River tak pernah bisa tidur dengan nyenyak, bahkan ia sering merokok setiap kali menunggu Raia turun dari apartemennya. Lelaki yang menyukai memakai kaus kaki hijau ini membuat Raia ingin mengenalinya lebih jauh. Raia tanpa sadar mengingatkan River akan sebuah kehangatan cinta yang pernah ia rasakan tiga tahun lalu. Raia dan River, dua orang yang saling kesepian namun mencari apa makna dirindukan. Dapatkah Raia menemukan “muse”-nya kembali? Akankah River bisa menyembuhkan trauma terbesarnya?

Novel The Architecture of Love merupakan novel kedelapan karya Ika Natassa. Sebelum membaca novel ini saya sudah membaca novel Critical Eleven. Jadi pas saya nemu ada tokoh yang muncul juga di novel ini rasanya kayak reunian sama tokoh-tokoh sebelumnya. Hehe. Seperti Paul yang pernah membuat rumah buat Ale dan Anya ternyata adalah sahabat River. Harris dan Ale juga ternyata sepupu Raia. Dunia ternyata sesempit itu ya. :P Kesan saya buat novel ini keren banget, apalagi emosinya dapet banget pas bagian masa lalu masing-masing diungkapkan. Ternyata buat seorang Raia Rasjad menuliskan sebuah novel bukan sebuah hal yang mudah. Ia harus bisa menulis dengan mencari inspirasi.

Saya seperti melihat sosok Ika Natassa dalam diri tokohnya, Raia. Seperti saat Raia mencari inspirasi saat stuck nulis, saat ia deg-degan setiap kali buku barunya terbit, saat ia surprise menuliskan tanda tangan di banyak buku Open Order. Ada juga saat Raia jatuh bangun menyelesaikan deadline menulisnya hingga pagi menjelang. Buat seorang Raia, menulis adalah napasnya. Jika ia tak bisa menulis selama 2 tahun itu artinya ia telah kehilangan separuh jiwanya. Sampai ia menemukan River.

Saya ngerasa kenapa sosok River ini mirip sama Nicolas Saputra ya. Hihi. Soalnya sama-sama suka arsitektur dan New York, dan sosoknya misterius. Saking misteriusnya Raia sampai menjuluki River sebagai puzzle yang wajib dikumpulkan satu per satu hingga tersusun gambaran detailnya. Bahkan hingga bagian terkecil sekalipun Raia ingin menemukan kepingan puzzle itu agar bisa membentuk kesatuan hingga ia bisa menemukan jawaban “kenapa”.

Di novel ini, Ika menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu yang membuat saya jadi tahu kenapa si tokoh berbuat ini dan itu. Meski terkesan janggal karena kebanyakan masalahnya jadi lebih mudah ditebak arahnya kemana, tapi jadi lebih mendalami sisi yang belum tersentuh oleh gaya berbicara si tokoh selama berbincang. Fyi, novel ini merupakan proyek #PollStory di twitter yang membuat Ika bisa mematahkan stigma bahwa social media adalah musuh terbesar para penulis yang ingin produktif berkarya. Nyata justru pembaca jadi lebih bisa diajak menentukan bagaimana kisah akan bergulir di tiap episodenya. 

Saya salut dengan cara bercerita Ika Natassa saat mengisahkan bagaimana kesedihan masing-masing tokoh, mendorong mereka ke tengah masalah hingga membuat mereka mencari tahu bagaimana menyelesaikannya dengan cara mereka sendiri. Ika berkisah tanpa menggurui dan buat saya endingnya manis banget. Nggak banyak kisah cinta yang bikin saya keinget terus sama jalan ceritanya. Tapi The Archictecture of Love ini mampu meramu bumbu romantis, triller dan komedi menjadi satu. Bahkan bagian kisah River tentang masa lalunya saya jadi ngerasa itu nyata banget. Ada dialog yang saya suka di novel ini

“You know what is wrong about always searching for answers about something that happened in your past? It keeps you from looking forward . It distracts you from what’s in front of you, Ya. Your future. “ (hlm. 237)

Di antara semua bangunan kota New York, saya paling pengin dateng ke Grand Central Terminal  sama toko buku di mana Raia menghabiskan waktu bersama River. Kayaknya feelnya dapet banget antara kisahnya dengan bangunan tersebut. Jadi nggak hanya sekadar asal nempel. Seperti kata River, “arsitektur adalah pertemuan antara cinta, pikiran dan alasan.“ Overall, 4 dari 5 bintang buat novel ini. Psst, novel ini buat pembaca berusia 21 plus ya. :D

Postingan ini diikutsertakan dalam Project Battle Challenge #31HariBerbagiBacaan 


19 comments:

  1. emang ada adegan apanya mbak kok utk 21+? :D *kepo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan adegannya sih, cha. tapi dia nyebut nama penulis yang "kontroversial". :D

      Delete
  2. Aku suka banget karya ika natasha dan baru tahu kalau beliau bankir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bankir, mba Liza. Seingetku dulu dia pernah diundang di acara Kick Andy juga. :D

      Delete
  3. Semenjak baca Critical Eleven aku jadi penasaran sama buku-bukunya Ika Natassa termasuk The Architecture of Love. Baca resensinya jadi tercerahkan deh dan pengen beli bukunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayuk baca, mba Ratna. Bukunya bagus :D

      Delete
  4. Waah novel dan buku pun ada batasan usia nya juga ya mba..

    Baru tahu euy...kupikir hanya sekedar pembagian genre anak, remaja, dan dewasa gt aja tanpa batasan umur.
    Btw ceritanya seru...jd pingin ke new york

    ReplyDelete
    Replies
    1. Disebut batasan usianya karena dia nulis nama seseorang penulis yang karyanya kontroversial, mba. hihi, takutnya yang baca penasaran ama karya si penulis itu. Selain ada adegan kissing jg sih. :D

      Delete
  5. Mungkin emang River adalah Rangga (Nicolas Saputra), kan dulunya pamit ke Cinta mau kuliah di US :))

    #kidding

    Nice review mbak jd penasaran sama bukunya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, kayaknya iya, mba. Soalnya si penulis ada bahas Dian Sastro pula xD

      Delete
  6. Mba Ila... Aku jd penasaran sama novelnya.. Reviewnya oke banget :D

    ReplyDelete
  7. ecieeee 21+ hhahaha tapi kalau beli di tokbuk belum 21+ juga paling dibolehin beli :D
    aku juga ngebayanginnya Nicolas kwkwkw
    makasih reviewnya Beb, jadi tahu kisahnya bagaimana

    ReplyDelete
  8. Jadi penasaran dengan bukunya Ika Natassa. Biasanya saya jarang beli novel, tapi sekarang novel-novel Ika Natassa, masuk list untuk dibeli nih!

    ReplyDelete
  9. Saya sempat baca kisah Raia dan River ini waktu di twitter. Tapi pas episode terakhirnya malah ga baca lagi. Mau beli buku ini jadu ragu karena sebagian cerita udah dibaca. Ogah rugi. Hehehe...

    ReplyDelete
  10. Wuaam bisa reunian sama tokoh2 di cerita lalu pasti seru ya mba.. bacanya juga pasti lebih kena karena sudah berasa dekat.. :-)

    ReplyDelete
  11. bagus resensi kamu. salam kenal ya. blogku banyak info tentang buku dan penerbitan lho

    ReplyDelete
  12. berarti novel ini kuat di plot dan setting nya ya
    covernya bagus

    ReplyDelete
  13. Jadi makin penasaran sama buku ini. Aku udah beli tapi belum dibuka segelnya dan dibaca. Nunggu waktu yang senggang banget biar mood bacanya enak. Soalnya sayang kalo baca bukunya Ika Natassa cuma sepintas lalu.

    ReplyDelete
  14. saya malah baru baca nih buku xd salam kenal http://www.reviewdansinopsis.com/

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^