17 March 2020

Resensi Buku Autumn in Paris by Ilana Tan




Judul buku : Autumn in Paris
Pengarang : Ilana Tan
Penerbit : Gramedia
Terbit : Juli 2007
Tebal : 272 hlm.
ISBN : 978-979-22-3030-7
Rating : 4/5 bintang


 Sinopsis Buku Autumn In Paris :


Tara Dupont menyukai Paris dan musim gugur. Ia mengira sudah memiliki segalanya dalam hidup... sampai ia bertemu Tatsuya Fujisawa yang susah ditebak dan selalu membangkitkan rasa penasarannya sejak awal.

Tatsuya Fujisawa benci Paris dan musim gugur. Ia datang ke Paris untuk mencari orang yang menghancurkan hidupnya. Namun, ia tidak menduga akan terpesona pada Tara Dupont, gadis yang cerewet tapi bisa menenangkan jiwa dan pikirannya... juga mengubah dunianya.

Tara maupun Tatsuya sama sekali tidak menyadari benang yang menghubungkan mereka dengan masa lalu, adanya rahasia yang menghancurkan segala harapan, perasaan, dan keyakinan. Ketika kebenaran terungkap, tersingkap pula arti putus asa... arti tak berdaya... kenyataan juga begitu menyakitkan hingga mendorong salah satu dari mereka ingin mengakhiri hidup...

Seandainya masih ada harapan – sekecil apa pun – untuk mengubah kenyataan, ia bersedia menggantungkan seluruh hidupnya pada harapan itu.

Novel Autumn in Paris  karya Ilana Tan
versi cover terbaru.
Bisa diakses di Google Play Book atau Gramedia Digital


Resensi Buku  Autumn in Paris :  


Tara seorang penyiar radio di Paris, memiliki penggemar baru. Ia tidak tahu bahwa ada seorang lelaki yang diam-diam mengamatinya dari jauh. Lelaki itu pula yang membawanya pada kisah cinta yang rumit. Tara awalnya tidak tahu bahwa email Tatsuya Fujisawa yang berkisah tentang gadis yang ia kagumi -yang ditujukan ke radionya- adalah tentang dirinya. Ia mengira itu hanya cerita iseng saja yang tidak berhubungan dengan dua email sebelumnya. Namun, Tatsuya mengatakan gadis itulah yang ia temui di bandara, yang menyenggol kopernya dengan sembarangan, yang ia temui di bar, juga gadis yang membuat matanya tak beralih karena meliat siluet wajah yang mengagumkan.

“Gadis itu... posisi duduknya... kaca jendela besar... sinar matahari menyinarinya... Aku terpesona melihat kombinasi semua itu. Dengan sinar matahari dari luar, sosok gadis itu menjadi agak kabur, gelap, dan memberikan kesan misterius. Aku bisa saja memandangi gadis itu kalau saja aku tidak menyadari bahwa aku sudah punya janji bertemu seseorang hari itu.” (hlm. 29)

Elise, penyiar radio di kantor Tara rutin menerima surat-surat via email radio itu. Ia membacakannya pada pendengar radionya. Semakin hari kisah yang diceritakan Tatsuya makin seru, tapi benarkan ini semua tentang Tara? Gadis yang membuat Tatsuya mulai menyukai Paris dan musim gugur? Gadis yang membuat ia tidak lagi merasakan kegetiran kota Paris yang mengingatkannya pada seseorang?

“Kalau boleh jujur, dulunya aku sama sekali tidak suka Paris. Aku juga benci musim gugur. Tetapi, akhir-akhir ini aku merasakan sesuatu yang aneh sedang terjadi. Paris berubah menjadi kota yang indah tepat di depan mataku dan musim gugur juga mulai terasa menyenangkan.  Gadis itu yang membuat segalanya berubah. Dia sangat suka kota ini dan sangat suka musim gugur. Mengherankan sekali... Aku tidak pernah menganggap diriku gampang dipengaruhi, tetapi kenapa gadis ini dengan mudahnya membuatku berubah pikiran? Gadis Musim Gugur, bukankah kau sudah  janji mau menerima ajakan kencanku? Kau punya waktu hari ini?” (hlm. 83)

Tatsuya datang ke Paris bukan tanpa sebab. Ia menjelajahi Paris untuk bertemu seseorang. Seseorang yang mengungkap masa lalu ibunya. Seseorang yang membuat ia harus menerima kenyataan yang menyakitkan. Benarkah ia adalah anak kandung dari lelaki Prancis itu? Benarkah ibunya memberikan kenyataan yang sebenarnya?



Tatsuya masih tak habis pikir dengan kenyataan bahwa ia adalah anak dari seorang lelaki Prancis yang dicintai ibunya saat muda dulu. Surat dari ibunya yang membawanya ke Paris. Ia harus bertemu lelaki itu untuk mengonfirmasi kebenaran itu. Tapi takdir berkata lain. Saat Tatsuya sudah tahu kebenaran itu, ia jusru harus merelakan kisah cintanya berakhir. Tara, gadis yang ia cintai ternyata adalah anak dari laki-laki Prancis itu.

Kenyataan demi kenyataan yang menyakitkan membawa Tara dan Tatsuya pada kisah cinta yang memilukan. Tatsuya tidak mau meyakini bahwa gadis yang ia cintai ternyata adalah saudaranya. Tara pun sempat depresi dan histeris saat mendengar pernyataan itu dari ayahnya sendiri. Ia hampir saja bunuh diri dengan terjun ke sungai Shein jika tidak dicegah Sebastien, sahabatnya.

“Apakah ada yang tahu bagaimana rasanya mencintai orang yang tidak boleh dicintai? Aku tahu.” (hlm. 233) 
“Hidup ini sungguh aneh, juga tidak adil. Suatu kali hidup melambungkamu setinggi langit, kali lainnya hidup mengempaskanmu begitu keras ke bumi. Ketika aku menyadari dialah satu-satunya yang paling kubutuhkan dalam hidup ini, kenyataan berteriak di telingaku, dia juga satu-satunya orang yang tidak boleh kudapatkan. “ (hlm. 235)

 Lalu, bagaimana akhir dari kisah cinta Tara Dupont dan Tatsuya Fujisawa ini?

***

Review menurut saya :


Jujur, saya penasaran kenapa novel Autumn in Paris ini termasuk novel laris sepanang masa. Pasalnya, seri 4 musim ini digadang-gadang akan dibuat filmnya, menyusul novel Winter in Tokyo yang membuat saya jatuh cinta dengan cara bertutur Ilana Tan dalam novelnya. Ilana Tan mengisahkan kisah cinta dengan cara yang manis sekaligus pahit. Terkadang lucu, tapi juga ada nuansa sendunya. Saya tahu novel ini sejak pertama kali terbit, tapi belum berminat untuk membaca, sampai akhirnya beberapa hari lalu saya memutuskan untuk membacanya.

Well ya, kesan pertama tetap sama. Kisah cinta yang ditulis Ilana Tan sungguh manis. Too good to be true. Saya pengin bahas juga gimana cara penulis menggambarkan karakter Tara Dupont dengan apik. Ilana Tan menggambarkan Tara Dupont sebagai gadis cantik yang energik, cerewet dan punya rasa ingin tahu yang besar. Berbanding terbalik dengan Tatsuya Fujisawayang misterius. Justru saya heran ketika membaca surat Tatsuya karena merasa, kayaknya orang Jepang nggak seterbuka ini deh sama orang lain. Hehe. Apalagi sampai nulis kisah cintanya di email lalu dibacakan seantero Paris. Ya kali yaaa. Hahaha :D

Tapi, herannya sang penulis yaitu Ilana Tan serasa ingin membuktikan bahwa Tatsuya adalah keturunan separuh Paris (Western) dan separuh Jepang (Asia) yang bikin karakternya juga lebih terbuka. Tapi dia kan hidup di Jepang selama ini, rasa-rasanya kok ya aneh aja jadi seterbuka itu dengan orang yang baru dikenal. Okelah, anggap aja emang Tara bisa bikin Tatsuya nyaman sampai akhirnya ia seneng banget curhat di radio. Sampai ia lupa kalau ia setengah berdarah Jepang. Lol. :p

Saya juga bisa membayangkan angin musim gugur yang membelai lembut di ujung hidung ketika Ilana Tan melukiskan musim ini dalam sebuah percakapan antara Tara dan Tatsuya.

“Hari yang indah sekali. Lihat, daun-daun sudah mulai berwarna cokelat. Bagus sekali, bukan? Kami- Sebastien dan aku, maksudku – suka sekali musim gugur. Kau tahu bagian yang paling menyenangkan? Aku paling suka merasakan angin musim gugur di wajahku. Membuat ujung hidup dan kedua pipiku terasa dingin.” (hlm. 58)


Autumn in paris ilana tan
Autum in Paris
 (doc : https://wallpapersden.com/eiffel-tower-in-autumn-france-paris-fall-wallpaper/)


Meskipun gambaran musim gugur tidak terlalu banyak dipoles di novel Autumn in Paris ini, tapi saya cukup takjub dengan cara Ilana Tan menggambarkan bagaimana depresi dan putus asanya para tokoh di novel ini.

“Mendengar nama laki-laki itu sudah cukup buruk. Melihatnya secara langsung membuat hati dan pikirannya bertabrakan. Melihatnya bersama wanita lain membuat dadanya sesak. Membuatnya mati rasa.” (hlm. 225) 

“Satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang adalah keluar dari hidupnya. Aku tidak akan melupakan dirinya, tetapi aku harus melupakan perasaanku padanya walaupun itu berarti aku harus menghabiskan sisa hidupku mencoba melakukannya. Pasti butuh waktu lama sebelum aku bisa menatapnya tanpa merasakan apa yang kurasakan setiap kali aku melihatnya. Mungkn suatu hari nanti – aku tidak tahu kapan – rasa sakit ini akan hilang dan saat itu kami baru akan bertemu kembali.” (hlm. 235) 

“Sekarang... Saat ini saja... Untuk beberapa detik saja... aku ingin bersikap egois. Aku ingin melupakan semua orang, mengabaikan dunia, tuntutan, ataupun harapan, aku ingin mengaku, “Aku mencintainya.” (hlm. 236)

Yaa.... udah macem mau mati aja. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, mereka kan meski udah nggak saling jatuh cinta sebagai sepasang kekasih, masih bisa bertemu sebagai saudara. Tapi ya namanya juga novel ya, jadi bagian gimana patah hatinya Tatsuya dan Tara dibuat sedemikian rupa sehingga membuat pembaca ikut depresi juga. Huwaaaa~

Jujur, saya gregetan waktu liat endingnya. Eh, gimana sih ending yang sesungguhnya? Pas udah bagian si Tatsuya koma, trus mesin indikator detak jantungnya tiba-tiba membuat garis lurus tanda sang pasien meninggal, saya pikir ya udaaahh, Tatsuya mati gitu ajaaa. Trus udah dong sediiiih. :(

Uhmm.... Tapi penulis membuat klimaks yang sungguh bikin greget trus mikir, adegan sebelumnya itu bener ga sih? Hahaha. Apa jangan-jangan kaya sinetron Indonesia yang bisa direkayasa. Tapiiii, ini kan di Jepang? Masa sih dokter dan paramedisnya seabsurd itu. Weeyyy xD

Ealah, pas baca epilognya baru paham deh. Ternyata email yang ditulis di epilog itu adalah email-email Tatsuya pada Sebastien yang dikirim sebelum ia meninggal. Email yang sama yang dibaca oleh Tara setelah ia mendatangi apartemen Tatsuya dan menemukan banyak benda kenangannya bersama Tatsuya.

Fiiuhhh, rasanya lega sih. Lega akhirnya ending kisah cinta terlarang ini dibikin bener-bener close ending. Bukan model ending yang menggantung. Tapi tetep aja saya gregetan pas baca epilognya. Rasanya sakit Tatsuya itu bikin saya ngrasain sakit yang sama. Huhu  *pukpuk Tatsuya*

Anyway, jangan-jangan... Tatsuya bunuh diri dari lantai 3 di proyek? Bukan kecelakaan kerja? Hhmmm.... hanya penulis saja yang tahu sebenarnya gimana. Huhu. Soalnya yang bagian ini masih bikin saya curiga, jangan-jangan sedesperate itu Tatsuya sama kisah cintanya. Yaaahh :( Yaudahlah, segitu aja review novel Autumn in Paris – Ilana Tan. Bye! See you next book review yaa, temans! ;)


1 comment:

  1. Konfliknya rada sinetron nggak sih?

    Meski menurut saya demikian, selama penceritaannya manis dan bagus, layak sih dinikmati kisahnya. Cuma saya lupa, kayaknya pernah baca novel ini. Makanya rada-rada ingat gimana Tara harus menghadapi Tatsuya.

    Ini tuh ada adegan Tatsuya jatuh dari tangga dan Tara mesti merawatnya, bukan? Atau adegan itu ada di novel lain ya.

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^