24 March 2020

Resensi Buku Peter by Risa Saraswati




Judul Buku : Peter
Pengarang : Risa Saraswati
Penerbit : Bukune
Terbit : Cetakan Pertama, Juli 2016
Tebal : 176 hlm.
ISBN : 978-602-220-188-5
Genre : Horor 
Rating : 4/5 bintang
Baca via Google Play Book



Sinopsis Buku :


Apa kau tahu kalau ada juga hantu yang menyebalkan?
Ada, namanya Peter van Gils!
Anak hantu keturunan bangsawan Belanda itu paling bisa membuatku gemas, kesal, marah, bahkan terkadang takut.
Tidak hanya manusia, empat sahabat gaibku yang lain juga sering kewalahan menghadapi tangan jahat dan sifat “sok benar”-nya. Namun, suatu malam –kudapati dia murung dan sedih.

“Dia rindu mamanya, Risa...” Begitulah cerita yang kudengar.

Saat itu aku baru sadar, Peter sebenarnya begitu rapuh. Kehidupan di dunia dan kematian yang membuatnya seperti ini. Dibawa jauh dari negerinya, lalu kehilangan ayah yang diidolakan dan ibu yang sangat dicintainya.

Kini, dia mengizinkanku membagi kisah hidupnya dan mengenal dunia Peter lebih dalam...

 

Resensi Buku :


Peter Van Gils, hantu anak kecil yang sangat sok bossy pada empat sahabatnya. Mereka sering muncul di sekitar Risa Saraswati saat ia kecil. Para hantu itu membawa kisahnya sendiri, salah satunya adalah Peter Van Gils. Anak bangsawan itu saat hidup dulunya adalah seorang anak yang sangat disayangi oleh mamanya. Peter dicintai oleh mama Beatrice, dan sering dimarahi oleh ayahnya Albert. Ayahnya menganggap Peter sangat bodoh karena sulit belajar bahasa Belanda.

Selain itu, saat kecil, Peter kesulitan berbaur dengan anak-anak di sekolah HIS karena ia diolok-olok oleh anak-anak lain. Anak itu pendek dan tidak bisa berbahasa Belanda. Sebagai anak keturunan Belanda, hal itu memalukan karena Peter merupakan anak petinggi tentara Belanda. Di hari pertamanya sekolah, Peter justru sedih karena ia tidak diterima oleh lingkungannya. Ia berlari pada mamanya, lalu mengadukan hal itu. Mamanya pun marah pada teman Peter, hingga Peter kaget karena sikap mamanya sangat emosional demi melindungi anak kesayangannya.

“Ini adalah hari pertama anak saya sekolah. Dia belum tahu apa-apa, ja! Mungkin kalian memang lebih pintar daripada dia. Sekarang saya mau bertanya, “Sudah cukup merasa pintarkah kalian semua untuk membuat seseorang tidak betah di kelas ini? Jawab! Atau kalian semua memang tuli? Sudah merasa cukup pintar ya, kalian semua?” (hlm. 41) 
“Baiklah, ternyata kalian tak cukup pintar untuk menjawab pertanyaan sederhana saya. Kalian tahu, saya tak pernah mengajari anak saya untuk membeda-bedakan manusia! Tidak ada londo! Tidak ada inlander! Semua sama saja! Anak saya manusia seperti kamu, kamu, kamu, kamu semua! Tapi kalian begitu jahat kepadanya. Sampai-sampai anak saya tak mau kembali ke kelas ini! Kalian seperti manusia-manusia tak berpendidikan.” (hlm. 41)

Papanya heran kenapa Peter tidak mau kembali ke sekolah itu. Padahal sekolah HIS adalah sekolah terbaik yang ada di kota kecil itu. Sekolah itu memang berisi siswa campuran, bukan hanya orang Belanda saja melainkan sekolah anak bangsawan inlader dengan kekayaan di atas seratus ribu gulden.

“Mereka terus menertawakan aku, Papa. Terutama waktu Mama pergi meninggalkanku di kelas. Mereka membuatku semakin merasa tak berharga. Mereka menertawakanku saat mereka tahu aku tak bisa membaca, mereka tertawa karena aku tak pandai berbahasa Netherland. Mereka bilang seharusnya aku tak ada di kelas itu karena hanya akan menjadi badut di mata mereka. Aku benci sekali mereka, Papa. Aku tak ingin kembali ke sana.” (hlm. 44)

Sejak itu mamanya memutuskan untuk mengundang guru privat dari HIS untuk mengajar Peter di rumah. Namun, karena Peter tidak suka gurunya, ia terus menerus berulah. Peter sering membuat gurunya menyerah saat mengajarnya, bahkan saat pertemuan pertama. Mama Beatrice pun menyerah. Ia membuat keputusan untuk mengajar anaknya sendiri. Namun yang terjadi justru Peter menjadi anak yang semakin manja.

“Peter yang malang. Setidaknya sekarang aku paham mengapa dia selalu berlari dan membisu jika diungkit soal mama Beatrice. Tak ada yang bisa membelanya kini, yang dia andalkan hanyalah sahabat-sahabatnya, mungkin termasuk aku di dalamnya. Tapi, aku bisa apa? Saat itu aku hanyalah anak kecil yang tak tahu apa-apa tentang masa lalu Peter.” (hlm. 51)

Mereka sekeluarga hidup di sebuah kota kecil di sekitar Bandung. Selama hidupnya, Peter mengalami banyak hal-hal menakjubkan. Mulai dari perjalanannya ke Batavia, berkenalan dengan dua teman yang baik yaitu Suzana dan Renee, selain itu perseteruannya dengan Corrie. Gadis itu membuat ulah sehingga Peter ketakutan di kantor Gubernur Batavia. Ia sampai minta pulang pada mamanya, padahal sebelumnya ia tak apa-apa.

Corrie menakut-nakuti anak kecil itu dan mengoloknya dengan sebutan “Si Pendek”. Peter memang bertumbuh pendek dan perkembangan tingginya sangat lambat. Ia dikira anak 7 tahun padahal usianya saat itu 10 tahun. Itu membuat Peter rendah diri dan merasa tidak berharga. Selain itu anak itu juga ditakut-takuti hantu, padahal ia sangat penakut. Akibatnya, Peter pun mengadu pada mamanya agar ia segera pulang ke rumah.

Ada hal lain yang juga dialami Peter yaitu berkenalan dengan Pak Nafi, guru barunya yang sangat ia puja. Hingga tragedi yang membuatnya meninggal tak wajar dan menjadi hantu. Peter terbunuh oleh tentara Nippon yang merangsek masuk ke dalam rumahnya. Mamanya dibawa menjadi tahanan Nippon saat ikut pertemuan dengan bangsawan Belanda lainnya, sedangkan ayahnya justru bertarung menjadi tameng bagi pejabat tinggi Belanda yang ia lindungi.

“Selamanya aku akan menunggu Mama datang menjemputku.” (hlm. 169)

Kisah hantu anak kecil bernama Peter ini adalah buku pertama yang ditulis oleh Risa tentang sahabat dunia gaibnya. Risa Saraswati menuliskan novel Peter ini berdasarkan imajinasi dan kisah yang diceritakan padanya. Namun, ada satu hal yang Risa katakan bahwa ia ingin anak-anak itu bisa kembali ke alamnya dengan tenang, tidak lagi menjadi hantu gentayangan. Peter selalu menanti dijemput mamanya agar bisa menuju jalan pulang. Namun, hingga kini ia masih gentayangan, entah sampai kapan.

 “Entahlah, aku tak tahu apakah keinginannya itu akan terwujud. Jauh di lubuk hati, aku pun mengharapkan hal yang sama, seperti dirinya. Aku ingin sahabat-sahabat kecilku ini bisa berkumpul kembali dengan “Yang mereka tunggu” (hlm. 169) 

“Aku saja terkadang lelah melihat mereka terus-menerus seperti ini, bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Anak-anak sekecil itu harus menahan beban yang sangat berat, rasanya kadang terlihat tak adil. Tapi, kehidupan dan kematian sama-sama dipenuhi misteri. Manusia sepertiku hanya bisa mengikuti alurnya, tanpa bisa memecahkan misteri-misteri itu.” (hlm. 170)

Komentar saya :


Awalnya saya mengira novel Peter karya Risa Saraswati ini akan benar-benar menakutkan. Namun, Risa Saraswati menulis kisah ini untuk mengenang memori-memori baik tentang sahabatnya. Tujuannya agar mereka bisa kembali pada jalan pulangnya. Entahlah, apakah itu benar atau tidak ya. Tapi saat saya membaca novel ini memang aura hantunya tidak terlalu menakutkan.

Baca juga : 11 Ebook Gratis Risa Saraswati Buat Teman Baca #SantuyDiRumah


Saat membaca novel Peter ini, saya seperti membaca kisah anak-anak pada umumnya. Ingatan anak-anak yang digali dari kisah Peter. Kehidupan Peter sebelum ia meninggal dari kisah sekolahnya, mama yang dicintainya, ayah yang diidolakannya, juga persahabatannya dengan teman masa kecilnya. Saya pun penasaran dengan kota tempat Peter tinggal. Hmmm, apakah di kota Subang, Jawa Barat? Mengingat daerah itu berudara sejuk dan dikelilingi kebun teh yang indah. Hehe

Well ya, saya justru jatuh cinta dengan cara Risa Saraswati pengarang Danur berkisah tentang si hantu Peter ini. Ia menuliskan dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami, tapi dengan cara yang sangat halus dan manis. Bukan seperti kisah hantu-hantu pada umumnya, kisah ini justru membuat saya penasaran, apakah hantu bisa pulang? Apakah jika urusan mereka telah selesai mereka bisa kembali ke alamnya? Bukan dunia yang antara ada dan tiada.

“Semoga buku ini bisa menjadi sesuatu yang berarti untuk kalian, para pembaca buku-bukuku. Bukan untuk mengungkit sesuatu yang telah mati, tapi aku hanya ingin mengembalikan memori anak-anak tak berdosa ini, agar hal-hal baiknya senantiasa diingat dan dikenang. Siapa tahu pikiran-pikiran baik kalian terhadap mereka sedikit demi sedikit dapat membantu mereka untuk pulang.”

Novel Peter karya Risa Saraswati ini justru mengingatkan saya pada kisah hantu-hantu di drama korea Goblin. Para hantu yang berulah biasanya adalah hantu yang berasal dari roh orang meninggal yang mati tak wajar atau karena masih penasaran dengan kisah kematiannya. Jika urusannya sudah selesai, bisa saja hantu itu pulang dan melanjutkan perjalanan selanjutnya. Tapi jika tidak ia akan terjebak di dunia manusia dan memberi aura negatif.

Hmmm... tapi ya, memang percaya dengan kisah para hantu? Kata Risa Saraswati, ia sendiri bilang, jangan terlalu percaya dengan bualan para hantu. Baca saja sebagaimana kisah ini ingin diceritakan. Ya, sebagaimana novel lain pada umumnya, anggap saja hiburan. Begitu ya. Kalau kamu gimana kesannya? Sudah pernah baca novel Peter karya Risa Saraswati ini? Share dong di kolom komentar. :D

 Doc Pic by https://shopee.co.id/Novel-Peter-Risa-Saraswati-i.4541461.399568503

3 comments:

  1. Belum sempat baca padahal sudah download di Google Play Book. Jadi, novel ini hanya menceritakan saja bagaimana Peter bisa menjadi hantu dan mengulik kehidupan dia sewaktu masih hidup ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ceritanya dibikin lebih sederhana dibanding novel Danur. kalau di Danur ada hantu lainnya yang jadi sahabat Peter. Kalo di sini cuma diceritain sedikit aja bagian awal novel. Lebih fokus ke kisah Peternya.

      Delete
  2. Aku kagum sama Risa yang bisa menggambarkan alam lain dengan halus.
    Apakah ia benar-benar mengalaminya?

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^