1 April 2020

Resensi Buku : Arah Langkah by Fiersa Besari




Judul Buku : Arah Langkah
Penulis : Fiersa Besari
Penerbit : Media Kita
Terbit : Cetakan Pertama, 2018
Tebal : 300 hlm.
ISBN : 978-979-794-561-9
Rating : 4/5 bintang



Sinopsis Buku :


Bulan April, Tahun 2013. Berawal dengan niat dan tujuan yang berbeda-beda – salah satunya karena hati yang terluka, tiga pengelana memulai sebuah perjalanan menyusuri daerah-daerah di Indonesia. Lewat cara yang seru tapi menantang, mereka tidak hanya menyaksikan langsung keindahan negeri ini, mereka juga harus menghadapi pertarungan dengan kegelisahan yang dibawa masing-masing.

Arah Langkah bukan sekadar catatan perjalanan yang melukiskan keindahan alam, budaya, dan manusia lewat teks dan foto. Tetapi juga memberikan cerita lain tentang kondisi negeri yang tidak selalu sebagus seperti di layar televisi. Meskipun begitu, semua daerah memang memiliki cerita yang berbeda-beda. Namun, di dalam perbedaan itu, cinta dan persahabatan selalu bisa ditemukan.

Resensi Buku :


Kisah dalam buku Arah Langkah karya Fiersa Besari ini merupakan catatan perjalanannya saat berpetualang menyusuri daerah-daerah di Indonesia. Bersama kedua temannya bernama Baduy dan Prem, ia pun nekat untuk mewujudkan mimpinya menjelajahi Indonesia dengan cara yang tak bisa dijangkau oleh nalar. Ia memilih untuk ngeteng alias hitchking dan menginap di rumah sahabat atau orang yang baru dikenalnya dari social media. Selain itu ia mulai mengenal beberapa komunitas yang menampungnya selama travelling nekat itu.

“Prem percaya bahwa angka ganjil berarti keputusan genap untuk mencapai sebuah mufakat. Dan musyawarah barang tentu akan menjadi langganan kami kelak di jalan untuk menuntut ke mana kaki ini akan melangkah. Jadi, kami mencari kandidat yang cukup gila untuk menggembel bersama kami.” (hlm. 9) 
“Prem dan Baduy tidak main-main jika berurusan dengan kata traveling. Kami bahkan harus beberapa kali bertemu untuk mempersiapkan apa saja yang mesti dibawa, mengatur anggaran, merancang skema perjalanan, hingga memproklamirkan hari keberangkatan. Beberapa bulan kemudian, tepatnya hari ini, petualangan kami pun dimulai.” (hlm. 10)

Tahun 2013, Fiersa Besari memilih untuk menghabiskan waktu menjelajahi Indonesia demi menghapus rasa sedihnya akibat patah hati. Ia tidak menyangka perjalanannya kali ini akan sedikit berbeda. Terbilang nekat karena bukan hanya durasi perjalanannya yang panjang namun juga orang dan budaya yang ditemuinya pun beragam.

“Kami bertiga memiliki agenda masing-masing. Ada Prem yang ingin melihat keindahan Indonesia sebelum dirinya mesti disibukkan dengan dunia kerja, ada Baduy yang ingin menjajal kemampuannya menyelam di berbagai lautan di negeri ini. Dan ada aku, seseorang yang berangkat tanpa kesiapan niat dan tujuan pasti. Entah mencari jati diri, entah melarikan diri. Apapun itu yang pasti, aku pergi karena tidak kuat bercengkerama dengan kenangan yang tersimpan di sudut-sudut kota Bandung, kota yang memperkenalkanku dengan dia yang menggoreskan luka yang paling dalam, dengan cara yang paling menyakitkan.” (hlm. 15)

Untuk menghemat biaya makan, Baduy pun mempersiapkan bekal setoples besar tempe kering yang bisa tahan berbulan-bulan. Ia bilang, “Kita bisa hidup kayak gembel, tapi jangan pernah membohongi perut sendiri.”

Perjalanan Fiersa Besari menjadi seorang pecinta alam dimulai dari perjalanan ke pelosok negeri ini. Ia memulainya dalam keterbatasan, namun ia menyerap banyak hal dan belajar bahwa hidup bukan hanya tentang dirinya, melainkan juga tentang orang lain, tentang negeri yang dicintainya, tentang mimpi-mimpi yang ingin ia gapai lebih tinggi.

“Kamu pengin keliling dunia, Bung?” 
“Siapa yang enggak mau keliling dunia?” 
“Kalau aku pengin keliling Indonesia sambil memotret sebelum keliling dunia. Supaya aku bisa menunjukkan ke orang luar kalau negeri kita juga enggak kalah keren. Apa enggak malu tahu banyak tentang Eropa dan Amerika, tapi enggak tahu ada apa aja di negeri sendiri?” (hlm. 49)

Sepotong percakapannya Fiersa Besari dengan Tama, seorang teman fotografer di tahun 2010 saat ia mengunjungi Krakatau adalah sepenggal episode yang membuat pikirannya berubah perihal perjalanan. Traveling baginya bukan hanya tentang mencintai alam, tapi juga mengenal lebh jauh sejarah, budaya dan apa saja yang ada dalam masyarakatnya. Ia ingin mengenalkan Indonesia lebih jauh pada orang-oran di luar sana, agar Indonesia makin dikenal dengan keindahan alamnya yang menawan.

“Indonesia adalah sepercik surga yang Tuhan turunkan di muka bumi. Akan sangat merugi diriku jika hanya bisa melihat pantai, gunung, keanekaragaman budaya dan nilai historinya hanya dari layar kaca. Sejak itu, kalimat Tama berhasil mengubahku dari anak kota yang apatis menjadi seorang pegiat alam.” (hlm. 49)

Pertemuan Fiersa Besari dengan Mia, gadis yang ia cintai dimulai saat gadis itu memesan CD lagunya. Ia pun mulai jatuh cinta dan hubungan itu berlangsung selama 2 tahun. Saat itu ia sudah mulai menabung untuk menikahi perempuan itu. Nabung sayang, pengkhianatan terjadi ketika ia mulai sibuk dengan mengurus studio, dunia fotografi dan traveling.
 “Cinta memang buta aksara, maka dari itu butuh komitmen dua anak manusia untuk menjadikannya mengeja. Dan bersama Mia, aku ingin mengeja.” (hlm. 32)

Tempat-tempat wisata Bandung yang ia kunjungi bersama temannya justru didatangi gadis itu bersama sahabatnya sendiri, Al. Ia tak sanggup menerima pengkhianatan yang dilakukan sahabat dan kekasihnya sendiri ketika tahu keduanya menjalani hubungan di belakangnya. Itu sebabnya, perjalanan menjelajah Indonesia bukan hanya tentang menemukan tempat baru, tapi juga memberi kenangan baru untuk melupakan masa lalu yang menyakitkan.

“Mulai sekarang aku harus mensyukuri realitas yang pernah aku miliki, daripada terus mengejar fiksi yang takkan pernah kumiliki.” (hlm. 70)

Perjalanan Fiersa Besari menyusuri Indonesia dimulai dari Bandar Lampung, Padang, Bukittinggi, Pulau Nias, Sibolga, Medan, Aceh, dan Pulau Weh. Ia terpaksa terpisah dengan Baduy yang harus membawa rombongan turis asing ke Papua. Sementara ia dan Prem masih berada di Pulau Weh di titik 0 kilometer sebelum akhirnya melanjutkan ke Makassar.

Tak disangka di Pulau Weh, Aceh, ia ditawari menghisap lintingan ganja oleh Kang Janes, pemilik pondok tempatnya menginap, sekaligus sahabat ayah Prem. Sampai ia sadar bahwa keberadaannya di sana akan membuatnya merasa terlalu nyaman dan lupa tujuan travelingnya. Pulau Weh memang menyenangkan, tapi ia kehilangan arah di sana. Sampai ia putuskan untuk berkeliling Aceh dan berisah sementara dari Prem yang masih ingin menjelajah keindahan wisata Pulau Weh.

“Aku takut dengan diriku sendiri yang tidak bisa menolak untuk terus mengisap ganja dan bermalas-malasan. Bukan salah tanamannya. Aku saja yang tidak bisa mengendalikan diri sendiri.” (hlm. 100)

Perjalanan Fiersa, Prem dan Baduy bukan hanya perihal kisah liburan semata, melainkan memberi sisi humanis yang tak bisa didapatkan jika kita hanya menjadi turis. Membaur bersama masyarakat lokal memberinya pemahaman baru tentang banyak hal dalam hidup. Begitu pun tentang arti perjalanan itu sendiri.

“Jika saja aku berwisata ala koper, apakah aku masih mendapatkan esensi humanis dan pertukaran wawasan dengan masyarakat lokal? Tentu saja liburan ala koper menyenangkan bagi kebanyakan orang tidak perlu lelah mengangkat jempol untuk menumpang mobil atau berpanas-panasan di bus ekonomi. Tetapi, cerita seru takkan hadir di hotel berbintang lima. Cerita seru juga takkan hadir jika kita memperlakukan masyarakat lokal sebagai objek untuk difoto. Cerita seru akan hadir tatkala kita memperlakukan mereka seperti sahabat. Membaurlah, maka mereka pun akan memperlakukan kita selayaknya sahabat.” (hlm. 113)



Quotes yang ada di buku Arah Langkah karya Fiersa Besari ini antara lain :

“Berkelana itu enggak gila. Yang gila itu kalau diam di rumah padahal hati memanggil kita untuk berkelana.” (hlm. 150) 
“Bukanlah kenangan terburuk yang akan membuat kita bersedih, tapi kenangan terindah yang takkan bisa terulang lagi.” (hlm. 246) 
“Karena perpisahan, semanis apapun, seindah apapun, tetaplah perpisahan. Ada cerita yang harus berubah menjadi kenangan.” (hlm. 292)

Ada banyak cerita perjalanan yang seru untuk dinikmati. Bukan hanya itu, komentar konyol dan cerita yang bikin ketawa pun menjadi bumbu yang asyik. Suatu hari Fiersa sakit hingga harus ke dokter, tapi selepas keluar dari klinik, ia bingung harus mencari di mana tempat untuk istirahat. Akhirnya ia menyewa kamar di sebuah rumah vintage yang ia sebut rumah mirip kakek beraroma parem kocok. Rumah itu mengingatkannya dengan flm horor Thailand. Hahaha.

Ada lagi pengalaman nekat lainnya saat Fiersa Besari ingin mendaki puncak Semeru demi bisa mewujudkan mimpi Prem, sahabatnya. Sampai Prem pun membantunya untuk prepare karena pendakian ke Gunung Semeru bukanlah pendakian main-main, apalagi untuk pendaki pemula tanpa track record pendakian sebelumnya. Pendakian itu berbahaya jika tanpa persiapan. Meskipun berat dan sempat meragu, pendakian ke puncak Mahameru tetap dilakukan. Di titik itulah Fiersa Besari sadar bahwa ia ingin mewujudkan mimpinya yang lain ; berkeliling Indonesia.




“Aku pernah bertanya pada Prem seperti apa rasanya berada di puncak gunung. Ia hanya menyuruhku untuk merasakannya sendiri. Ternyata seperti inilah rasanya. Di ketinggian, aku merasa kecil. Aku merasa tidak menaklukkan gunung, justru gununglah yang menaklukkan kesombonganku.” (hlm. 183)

Sampai di sini, cerita terus bergulir. Menurutku cerita Fiersa Besari bukan hanya tentang kisah anak muda yang ingin menaklukkan mimpi-mimpinya hingga bisa menuju Papua, tapi juga tentang menjelajahi negeri dan berbaur dengan lingkungan. Menikmati wisata alam dan juga mendapatkan pengalaman hidup yang tak terlupakan. Ia juga membuktikan bahwa musik adalah bahasa universal yang disukai oleh orang dari berbagai daerah. Dengan musik, ia mampu masuk ke dalam masyarakat lokal dan berbaur bersama mereka, menjadi sahabat dan teman seperjalanan yang menyenangkan.

Overall, saya suka cara Fiersa Besari menuliskan kisah perjalanannya keliling Indonesia ini. Meskipun buku ini baru ditulis tahun 2018, berjarak 4 tahun dari perjalanan itu, namun rasa petualangannya masih tetap kental. Buat yang suka travelling baik solo travelling maupun backpackeran, kamu wajib deh baca buku ini. Seru banget dan bikin iri! Selamat membaca buku Arah Langkah karya Fiersa Besari ini ya! See you next post! ;)

2 comments:

  1. Pernah ada keinginan menggebu-gebu untuk membeli buku Fiersa Besari yang katanya selalu ada cerita perjalanannya. Tapi selalu ada alasan yang bikin keinginan itu belum terwujud. Ibarat butuh minum, saya memang tengah kehausan dengan kenangan perjalanan. Yah, menjadi introvert itu berat, berat memutuskan bagaimana cara menyenangkan diri sendiri sesuai impian yang direka di kepala. Saya masih bermimpi mengenakan ransel dan sepatu boots untuk melintasi jalan yang panjang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, ayo jalan-jalan. Ditunggu cerita perjalanannya ya, mas. :D

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^