6 April 2020

Resensi Buku : Ayana Journey to Islam - Ayana Moon




Judul Buku : Ayana Journey to Islam
Penulis : Ayana Moon
Penerbit : Gramedia Putaka Utama
Terbit : Cetakan Pertama, 2020
Tebal : 130 halaman
ISBN Digital : 978-602-06-3945-1
Rating : 4/5 bintang
Baca via Gramedia Digital


Sinopsis Buku :


Ayana lahir dari keluarga mapan dan begitu terpelajar di Korea. Sejak sekolah dasar, ia menjadi murid terpandai yang sangat kompetitif. Melalui kakeknya, ia pertama kali mendengar cerita tentang dunia Islam di Timur Tengah. Cerita itu begitu menarik hatinya sehingga Ayana berusaha mencari tahu lebih jauh tentang Islam.

Ketika mempelajari Islam, ia merasakan kedamaian yang selama ini tidak pernah ia rasakan sebagai remaja yang hidup penuh tuntutan. Ia pun memutuskan untuk menjadi mualaf. Keputusan besar ini mengejutkan keluarga dan teman-temannya. Saat Ayana ingin belajar lebih jauh tentang Islam di luar Korea, keluarganya memutus dukungan finansial. Ia pun harus bekerja di beberapa tempat sambil tetap sekolah untuk mewujudkan cita-citanya. Ayana akhirnya berhasil pergi ke Malaysia, namun keadaan begitu berbeda dari yang ia bayangkan. Ia hampir menyerah dan memutuskan akan kembali ke Korea. Sebelum pulang Ayana sempat singgah di Indonesia, dan di negeri inilah hidup Ayana berubah.

Ayana Journey to Islam kisah perjuangan mualaf Korea yang menemukan makna cinta, arti keluarga, dan jalan hidup dalam Islam.

Resensi Buku :

Ayana ‘Jihye’ Moon, mualaf asli Korea menjadi perhatian masyarakat Indonesia saat media memberitakan tentang dirinya. Gadis Korea ini telah mengalami banyak hal sebelum memutuskan untuk menjadi seorang mualaf di Korea. Saat ini Ayana Moon adalah seorang selebgram dan influencer asal Korea yang juga menjadi brand ambassador Wardah. Ayana Moon lahir 28 Desember 1995 kini usianya 24 tahun.

Setelah menjadi mualaf Korea pun, ia mengalami beberapa kejadian yang menyedihkan. Salah satunya adalah keterbatasan finansial yang dialaminya. Ayahnya tidak terima Ayana masuk Islam diam-diam sehingga menghentikan bantuan finansial untuknya. Selama satu tahun Ayana menyembunyikan kenyataan bahwa ia sudah menjadi seorang muslim.



Ayana Moon tumbuh dalam keluarga yang atheis. Selain itu, keluarga Ayana cukup mapan dan bergelut di dunia politik Korea. Selama ini, ia dibesarkan dalam keluarga demokratis. Jadi, ia kerap berdebat dan mempertanyakan hal-hal yang menarik minatnya. Ayana sudah lama menunjukkan ketertarikan tentang isu-isu Timur Tengah dan Islam.

“Kebiasaan untuk belajar dan cara belajar yang baik mungkin adalah hal terpenting yang diwariskan ayahku untukku.” (hlm. 11) 

“Orang tuaku menyuruhku untuk belajar dengan baik, maka aku menjadikan belajar sebagai caraku untuk melarikan diri dari kepenatan dan sesuatu yang tidak nyaman bagiku. Belajar menjadi caraku untuk menenangkan diri. Hanya itulah yang dikenal oleh orang-orang di sekitarku.” (hlm. 22)

Keputusan Ayana Moon untuk masuk Islam awalnya dimulai dari diskusinya dengan kakek dan pamannya yang sering bercerita tentang Islam. Selain itu, Ayana juga berdiskusi dengan seorang profesor bernama Professor Lee. Profesor ini sering mengisi materi kuliah tentang Timur Tengah dan menulis buku tentang Timur Tengah. Dari Profesor Lee-lah ilmu pengetahuan tentang Islam mulai terbentang di hadapan Ayana.

Ayana Jihye Moon Mualaf asal Korea Selatan

 “Sejak belia, aku sudah dibiasakan untuk tidak pernah takut menyuarakan pendapatku. Bagiku, ini kemampuan yang sangat berguna dalam hidup. I was stubborn, but with a good person.” (hlm. 29)

Ayana mulai rutin mencari informasi di internet, buku dan kuliah umum tentang Timur Tengah dan Islam. Ia rajin mencari di internet dengan keterbatasan bahasa inggris yang dikuasainya. Berbekal pencarian di internet, ia mulai mencari masjid yang bisa dijadikan pusat informasi tentang Islam.
 
“Cerita-cerita yang kudengar dari Kakek itu adalah kali pertama aku bersinggungan dengan konsep agama. Keluargaku bukan keluarga yang beragama. Namun, tiba-tiba aku diperkenalkan kepada dunia yang tidak pernah kuketahui sebelumnya. Ternyata ada sekelompok orag yang percaya pada suatu agama – sesuatu yang tidak bisa dilihat. Mereka bahkan mempraktikan hal-hal yang diajarkan dalam agama  itu – hal-hal yang sepertinya tidak begitu masuk akal. Pemikiran ini, bagiku pada saat itu, adalah hal yang sangat baru. Pemikiran ini membakar rasa penasaranku.” (hlm. 32)

Tak disangka, Islam telah membuatnya jatuh hati. Kedamaian dan ketenangan dalam Islam membuat Ayana Moon memutuskan bersyahadat di sebuah masjid dekat kotanya. Sebuah keputusan paling penting dalam hidupnya telah dimulai. Ia bertaruh dengan risiko yang besar ; penerimaan orang sekitar tentang keislaman dirinya.

Sejak saat itu Ayana Moon memahami bahwa dirinya telah menjadi orang yang berbeda. Sosok yang terlahir menjadi pribadi yang berbeda dibanding dirinya yang dulu. Ayana pun mengganti namanya menjadi Ayana Moon.  Dulu nama aslinya adalah Jihye, nama yang terlalu familiar bagi orang Korea. Ia ingin terlahir kembali menjadi pribadi yang lebih baik dan diingat banyak orang.

“Dengan nama Ayana, aku merasa bisa menjalani hidupku sesuai dengan apa yang aku percayai dan apa yang aku yakini. Mulai hari itu, aku bertekad untuk menjadi Ayana yang terbaik.” (hlm. 55)

Saat Ayana Moon ingin memperdalam tentang Islam, ia mulai sibuk dengan rencananya melanjutkan studi di Malaysia. Ia menabung selama 2 tahun untuk menopang hidupnya. Tapi, sesampainya di Malaysia, apa yang ia harapkan tidak terwujud. Ia kesepian dan kehilangan arah. Ia tidak tahu harus bagaimana mengatasi masalahnya. Studinya berantakan. Selain itu kondisi finansialnya memburuk. Setahun setelahnya, ibunya datang menengok Ayana. Ia meminta Ayana kembali ke Korea karena melihat Ayana tidak bahagia dan menderita. Tubuhnya lebih kurus dibanding sebelumnya.

Namun, perubahan terjadi saat Ayana memutuskan untuk mengunjungi Indonesia dulu sebelum kembali ke Korea. Saat itulah ia diwawancarai stasiun televisi sehingga ia mendapatkan bantuan untuk mencari pekerjaan di Indonesia. Sungguh sebuah keajaiban yang sangat langka.

Kini, Ayana menemukan keluarga baru dalam Islam. Orang-orang Indonesia yang dulu tidak mengenalnya kini membantunya menemukan ilmu-ilmu tentang Islam yang tidak bisa ia akses selama di Korea. Itulah salah satu alasan Ayana tidak tinggal di Korea. Lalu, bagaimana kisah Ayana Moon menemukan Tuhan dalam pencariannya? Baca saja di buku ini ya! ;)

Menurut saya :


Pertama kali melihat berita tentang Ayana Moon gadis mualaf asal Korea yang diliput oleh sebuah stasiun televisi, saya sudah merasa ia akan lama tinggal di Indonesia. Mengingat culture dan budaya Islam lebih dominan di Indonesia dan memudahkan dirinya untuk belajar lebih cepat sebagai seorang mualaf. Ayana yang dulu rencananya hanya singgah di Indonesia sebelum kembali ke Korea, ternyata justru menjadikan Indonesia sebagai tempat ia memulai hidupnya yang baru.

Kini Ayana Moon pun menjadi brand ambassador Wardah, sebuah merk produk kecantikan. Ia pun mendapat banyak tawaran kerjasama di Indonesia. Selain belajar Islam, ia bisa memenuhi kebutuhannya dengan bekerja di Indonesia.

Saya pikir Ayana Moon bukan hanya dikaruniai otak yang cerdas dan wajah yang cantik, namun juga pikiran yang sangat kritis. Hal ini terlihat dari bagaimana Ayana Moon mencari tahu tentang Islam dari berbagai sumber dan mendiskusikannya dengan orang yang lebih berkompeten. Ayana juga berusaha untuk mencari lingkungan yang kondusif untuk mengejar ketinggalannya belajar ilmu islam. Ia haus ilmu yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaannya tentang hidup.

“Aku merasa di Indonesia kisah hidupku lebih dihargai. People actually to listen to my story. Mereka memperhatikan apa yang kukatakan dan benar-benar mendengarkan.” (hlm. 93)

Selain itu, Ayana Moon juga berkesempatan untuk umrah ke tanah suci. Ya, umroh ini dilakukan setelah tujuh tahun menjadi mualaf. Sungguh sebuah pencapaian religius yang luar biasa, karena ia dikaruniai rezeki yang belum tentu didapat oleh orang lain, bahkan yang sudah lama menjadi muslim sejak lahir.

“Selama ini, aku hanya bisa melihat gambar Ka’bah di atas sajadahku. Namun akhirnya, segala sesuatu yang telah terjadi dalam hidupku telah membawaku untuk bisa memandang Ka’bah dengan mataku sendiri. It was so amazing. Allah sungguh Mata Tahu. Tiga tahun sejak percakapan santaiku dengan Farah mengenai umroh, aku sudah bisa berada di sana.” (hlm. 114) 
“Menjalani ibadah umroh telah mengubahku. Aku bisa merasakan setelah kembali dari ibadah umroh, aku menjadi lebih religius secara internal. Ibadah umroh memberikanku waktu untuk mengingat kembali mengapa aku memutuskan untuk masuk Islam sekian tahun yang lalu. Menghayati yang kualami di Mekkah pun membuatku semakin paham tentang apa yang aku yakini dalam Islam.” (hlm. 116)

Overall, buku Ayana Journey to Islam ini meskipun terbilang tipis, namun mampu memberi gambaran bagaimana perjalanan Ayana Moon sampai memutuskan berada di Indonesia dan menjadi seorang muslimah hingga kini.

Buku ini cocok untuk dibaca oleh orang yang penasaran dengan kisah hidup mualaf atau jika kamu ingin mengenal sosok Ayana Moon sebelum hijrah dan masuk Islam yang berbeda dari saat ini, kamu bisa melihat transformasinya di buku ini. Perubahan demi perubahan dialami oleh menjadi sosok yang lebih baik. Sama seperti namanya, ia ingin menjadi versi terbaik dari Ayana.  Ya, 4 bintang dari saya untuk buku Ayana Journey to Islam ini.



1 comment:

  1. Wow, sempat lihat beritanya dia mualaf dan sekarang adiknya baca resensi ini makin kepo dengan kehidupannya deh. Makasih ya sudah nulis ini, aku jadi makin pengen beli bukunya Ayana Journey to Islam.

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^