5 January 2021

[Resensi Buku] Komik Detektif Conan Vol. 52 - Aoyama Gosho

 

detective conan vol 52 - aoyama gosho

Judul Buku : Detektif Conan Vol. 52

Pengarang : Aoyama Gosho

Alih Bahasa : M. Gunarsah

Penerbit : Elex Media Komputindo

Terbit : Cetakan Pertama, 2008

Tebal : 200 halaman

ISBN : 978-979-27-3674-8

Rating : 4,5/5 bintang

 

Sinopsis Komik Detektif Conan Vol. 52 :

 

Conan dan Ran ikut hunting maple karena diajak Sonoko. Di luar dugaan, gunung dipenuhi saputangan merah akibat populernya drama ‘Maple Musim Dingin’. Bahkan, staf AD drama tersebut ditemukan menjadi mayat!

 

Resensi Komik Detektif Conan Vol. 52 :
 

Cerita sebelumnya…

Detektif Conan Edogawa sebenarnya adalah detektif SMU yang bernama Shinichi Kudo. Sambil mengejar organisasi  hitam yang telah mengubahnya menjadi anak kecil, Conan memecahkan berbagai kasus sulit.

Suatu hari, ada telepon dari Heiji Hattori, detektif  SMU yang menjadi saingannya. Mereka berdua saling tukar kabar tapi Heiji  mulai bicara tentang kasus yang mereka tangani tiga tahun yang lalu. Itu terjadi ketika Heiji masih SMP pembunuhan actor terkenal yang terjadi di gunung salju! Di sana ada anak SMP misterius yang bertanding analisi dengan Heiji. Anak SMP itu sebenarnya adalah Shinichi.

 

Cerita selanjutnya di komik Detektif Conan Volume 52


Dalam komik Detektif Conan Vol. 52 ini, ada 4 kasus yang akan ditangani oleh Conan dan teman-temannya. Komik ini terbagi menjadi 11 file dengan 4 kasus utama. Di volume ini kasusnya sudah selesai. Jadi nggak bersambung ke volume lainnya ya.

 

Kasus pertama di file ‘Gerak-gerik yang Mencurigakan’ dan ‘Pemutaran Preview Takdir’ ada kasus tentang sosok laki-laki fans film Star Blade VI Final series yang mencurigakan. Ia mendekati orang yang berkerumun dalam antrian masuk ke bioskop.

 

Lelaki itu mengaku fotografer dan mengambil foto Conan dkk termasuk Prof Agasha. Bahkan ia meminta alamat professor agar ia bisa mengirim foto hasil cetaknya. Masalahnya, ia menghilang dengan meninggalkan tas berisi rol film yang ditandai dengan nomor setiap rolnya.

 

Lelaki yang mengaku fans berat film Start Blade sejak kecil itu, justru menghilang saat ia hendak bertemu dengan sahabatnya yang sesama fans film tersebut. Sebelumnya, terjadi sebuah kecelakaan tiga tahun sebelumnya, saat preview film seri sebelumnya. Hingga laki-laki itu tidak jadi menonton film. Ia, sahabatnya dan Ami, kekasihnya mengalami kecelakaan karena mobilnya ditabrak truk. Sedangkan, kekasihnya meninggal.

 

Kasus ini bikin saya mikir nih, kalau banyak kejahatan terjadi karena kesalahpahaman. Contohnya di kasus ini, yang awalnya dikira karena sengaja menabrakkan diri, tapi ternyata bukan. Kecelakaan itu terjadi karena kelalaian pengemudi saat mengantuk. Lalu, si laki-laki yang niatnya sengaja terjun bunuh diri untuk balas dendam, tapi dihalangi Conan. Pas Conan bilang triknya saya mikir, eh, iya juga ya. 

 

Hal kecil tapi penting, seperti ‘pertarungan dua tokoh di film’ yang mengacu pada fakta bahwa dua orang itu sama-sama belum menonton film seri sebelumnya, lalu ada sidik jari di tiket yang dipegang Genta karena membantu mengambilkannya saat terjatuh. Itu bisa jadi alibi untuk menunjukkan kalau orangnya memang berniat datang menonton dengan temannya.

 

Trus, soal sobekan tiket 3 th lalu yang masih menempel di pagar pengaman jalan raya. Kalo dipikir-pikir, kertas tiket film 3 tahun lalu masih nempel itu kayaknya mustahil banget ya. Ya, ada sih kemungkinannya, tapi mungkin udah koyak dan nggak kelihatan jelas tulisannya. Mirip stiker angkot yang udah ngeblur seiring waktu.

 

Kasus kedua yaitu kasus balas dendam dari pelaku perampokan yang gagal merampok. Perampok ini sudah pernah merampok 4 kali, dan membunuh 6 korban sebelumnya. Bahkan yang paling ekstrim yaitu sampai membakar rumah.

 

Malam itu, sang wanita berhasil lolos dari pelaku perampokan karena ditolong oleh kekasihnya. Masalah muncul saat mereka akan menikah, sang wanita mendapatkan terror dari perampok itu lewat surat.

 

“… Setelah mendapatkan uangnya, dia membakar rumah lalu kabur, cara yang sangat brutal. Dua malam lalu, di kotak pos rumah mempelai wanita, ada selembar surat yang bertuliskan ‘Selamat atas pernikahanmu… Kudoakan semoga makmur.’”

 

Gara-gara kasus ini, polisi sampai harus mengamankan wedding hall karena kedua pengantin ingin tetap melaksanakan pernikahannya. Padahal, pernikahan ini sangat berisiko, bisa saja pelaku perampokan menyamar dan masuk ke dalam ruangan saat pesta pernikahan berlangsung.

 

Namun, ada keganjilan yaitu ada korban yang meninggal dengan pakaian formal. Lelaki ini tidak dikenali, dan dianggap sebagai korban yang diincar perampok. Padahal ternyata, lelaki itulah perampoknya. Masalahnya, siapa yang membunuhnya?

 

Di kasus ini keren banget sih analisanya. Saya sampe mikir, eh, iya juga ya. Kok bisa sampe kaya gitu. Huwaa.

 

Pernah lihat orang berbohong? Sepintar-pintarnya kebohongan pasti akan terlihat. Well ya, di kasus Conan kali ini, kebohongan yang dilakukan pelaku kelihatan setelah dianalisa oleh Conan dan polisi yang mengurus kasusnya.

 

Si pelaku ternyata meninggalkan sidik jari di pisau yang ditemukan di rumah korban saat dirampok. Sidik jari inilah yang berbahaya karena menunjukkan identitas pelaku yaitu perampokan di 4 kasus sebelumnya. Bahkan lelaki ini sudah membunuh 6 orang.

 


Eh, analisa kasus ini cukup ringan dan bisa dilihat kalau teliti, cuma kadang pembaca agak terkecoh ya dengan para pelaku bayangan yang sebenarnya bertujuan untuk mengecoh alibi pelaku. Pas dicek di video baru ketahuan sebenarnya siapa pelaku perampokan itu.

 

“Jika sidik jari yang menempel di pisau adalah milik si perampok yang mengenakan sarung tangan pada saat melakukan aksinya, berarti sidik jari itu tertempel sebelum dia melakukan aksi kejahatan. Lagipula, biasanya pelaku tidak ingat sidik jari mana yang menempel, kanan atau kiri… mestinya dia sembunyikan kedua tangannya.”

“Lain halnya dengan kau yang punya kesempatan untuk menanyakan soal sidik jari itu pada polisi setelah kasus terjadi… Makanya, kau pura-pura patah tulang pergelangan dan jempok tangan kiri dan memakai gips agar sidik jarimu tidak tertinggal dan ketahuan polisi.”

 

Kalau dipikir-pikir ya, pelaku ini niat banget berbohong dengan cara mengelabui polisi. Dia sampe pura-pura ngegips tangannya hingga 6 bulan sejak kasus terjadi. Lama bener, kan? Bahkan gipsnya baru dibuka seminggu sebelum tanggal pesta pernikahan.

 

Jadi, yang bikin saya heran malah modus pelaku perampokan yang sebelumnya sampai membakar rumah korban setelah membunuhnya. Dipikir-pikir, seberapa besar sih harta yang dia rampok, sampai setega itu membakar rumah. Apa nggak sayang sama rumahnya? Padahal dia bisa aja menjual rumahnya, atau gimana gitu kek. Atau itu untuk menghilangkan barang bukti? Tapi nyatanya, sidik jarinya bisa ketemu di TKP. Jadi percuma juga dia bakar rumahnya sampe sebar-bar itu ya.  

 

Yang bikin saya gregetan di kasus ini adalah pas lihat Miwako nyamar jadi pengantin pengganti buat gantiin Yumi. Bikin gregetan banget karena dia jago bela diri tapi ribet bener pas mau meringkus penjahatnya karena make rok. Haha.

 

Trus, Miwako nyamar jadi Yumi gara-gara dia cemburu sama Yumi yang jadi partner Takagi, si polisi yang nyamar jadi pengantin pengganti. Soalnya muka Takagi dan Yumi mirip mempelai pengantin. Tapi kok ya, Miwako nyamar jadi Yumi nggak kelihatan mencurigakan? Wkwk. Apa segitu miripnya mereka? Kayaknya nggak mirip-mirip amat deh. Cuma mirip rambut dan bajunya aja. Haha

 

Kasus ketiga tentang lelaki bernama Haramoto yang meninggal dibunuh oleh partner menulisnya. Di sini kasusnya oleh pelaku tunggal, dan modusnya juga gampang ditebak. Yang bikin saya penasaran justru clue yang disebutkan oleh korban yaitu akhirnya dia ‘bisa melengkapi koleksinya’. Awalnya saya pikir koleksi apaan ya. Hahaha. Ternyata koleksi yang lain. Loh, hehe, Ga kepikiran sampe ke sana. Kalau diinget-inget, Aoyama Gosho nih suka iseng sama clue yang dikasih ke pembaca. Kayak yang ngasal gitu, tapi ya bener sih. hehe

 

Jadi, dalam kasus ini, korban bernama Haramoto ini punya naskah detektif dan dia ditemukan meninggal di rumah kecil di seberang rumah penulis Manda. Penulis Manda udah lama nggak bisa nulis, jadi dia menggunakan Haramoto sebagai penulis bayangan alias ghost writer. Masalah muncul saat Haramoto bilang ingin muncul di public dengan namanya sendiri, tapi dia malah dibunuh.

 

Yang agak membingungkan ya saat kejadian semua benda dibalik menghadap ke belakang. Benda-benda inilah koleksi Haramoto yaitu buku, mobil-mobilan, dan action figure. Kalau dianalisa sebenarnya bisa kelihatan kenapa pelaku melakukan hal ini. Kenapa dia harus membalikkan semua benda-bendanya secara acak. Yang jelas, modusnya untuk menghilangkan jejak sidik jari gagal gara-gara kedatangan Genta cs yang bikin bola baseball mereka masuk ke dalam rumah itu.

 

Anyway, kasus keempat di komik Detektif Conan Vol. 52 ini yang paling seru dan paling bucin sih. Haha. Kasus yang ditangani Conan, Ran dan Sonoko ini berhubungan dengan drama berjudul Maple Musim Dingin. Jadi, gara-gara ada drama berjudul Maple Musim Dingin yang punya adegan ikonik yaitu menggantungkan saputangan berwarna merah di pohon saat musim dingin sebagai penanda kedua tokoh yang sedang jatuh cinta, itu bikin dramanya jadi terkenal.

 

Ya… Padahal sebenarnya saputangan itu diikat untuk menandai suatu tempat yang sakral oleh seseorang. Tapi, tempat itu malah jadi ambigu karena semua dahan pohon diikat dengan saputangan merah. Wkwk. Semuanya! Iya, jadi semuanya dong, gara-gara orang-orang pada bucin sama dramanya. Ealah, pada naik-naik ke pohon buat ngegantungin saputangan sebagai penanda janjian sama pasangannya. Lol.

 


Kupikir kenapa kok pohon maple bisa berhubungan dengan kasus pembunuhan, ealah ternyata di bawah pohon maple itu ada sesuatu yang disembunyikan. Masalahnya adalah, siapa orang yang melakukan pembunuhan terhadap AD drama itu. Lalu, apa hubungannya dengan jurnal bertuliskan 1 April yang bernoda darah.

 

Di bagian jurnal bernoda darah ini saya mikir agak lama tentang motif dan trik pelaku, termasuk maksud kode di jurnal. Emang agak susah sih mentranslate istilah di bahasa Jepang ke bahasa Indonesia, terutama yang berhubungan dengan kata sandi atau kode-kode gitu. Nah, di kasus ini pun sama. Conan bilang begini,

 

“Kau merampas buku catatannya lalu lari, tapi membuangnya di tengah jalan karena tak mengerti arti tanggal 1 bulan empat, kan?”

 

Jadi ternyata, di dalam bahasa Jepang penyebutan namanya agak sedikit beda ya kalau pakai katakana. Misalnya saja di kasus ini.

 

“1 April… orang zaman dulu jika sudah bulan April, akan melepas pakaian karun (wata o nuku) dan menggantinya dengan pakaian musim panas. Karena itu jika ditulis tanggal 1 bulan 4, akan muncul nama keluarga aneh yang dibaca Watanuki. Dengan kata lain, April berarti namamu, tuan Watanuki.”

 

“Sedangkan nama Hozumi yang ditulis dengan Katakana karena nama keluarganya adalah tanggal 1 bulan delapan. Asal mula namanya pun adalah peristiwa memetik butir padi (Ho o Tsumu) dan mempersembahkannya pada dewa pada tanggal 1 bulan delapan. Kalau ditulis Hachigatsu Tsuitachi (tanggal 1 bulan delapan), tak akan bisa dibaca sebagai Hozumi karena itu dia pakai huruf katakana.”

 

Ribet bener ya kode jurnal kematian pakai katakana ini. Hahaha. Tapi, seru juga sih karena Jepang punya istilah-istilah yang unik dan bisa dipelajari dari komik semacam ini. Meskipun ini kasus yang ditangani detektif, tapi seru aja gitu belajar budaya Jepang dari komik Detektif Conan. Hehe.

 

Overall, saya suka dengan kasus-kasus di Komik Detektif Conan Vol. 52 ini. Meskipun mudah ditebak, tapi analisa Conan Edogawa masih detail dan asyik untuk diikuti. Nah, selamat membaca ya!


No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^