Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

23 October 2013

Resensi 52 Reflections of Life-Bunda Lily



Biodata Buku :
Judul : 52 Reflections of Life
Penulis : Bunda Lily
penerbit : Halaman Moeka Publishing
Terbit : 2012 (cetakan pertama)
ISBN : 978-602-9126-73-0

Resensi :
Buku ini saya dapat dari penulisnya langsung, Bunda Lily seorang blogger yang sudah menulis beberapa buku juga. Buku ini saya dapat karena menang kuis di grup webe. Makasih, Bunda. :) 52 Reflections of Life adalah sebuah buku yang berisi kumpulan kisah yang bertema seputar refleksi kehidupan. Seperti judulnya, penulis tentu ingin agar gabungan antara berbagai macam tema yang berputar dalam kehidupan kita selalu bisa kita ambil hikmahnya. Baik hikmah dari kejadian kecil maupun besar. Dari 52 kisah yang diangkat, masing-masing menjabarkan tentang makna kehidupan. Bahwa hidup memang memiliki beragam warna dan tentu setiap orang mempunyai pilihan hidup masing-masing. Apakah akan menerima refleksi kehidupan ataukah tetap membiarkan kejadian yang dialaminya menjadi selintas saja tanpa diambil hikmahnya?.

Beberapa hikmah tentang kehidupan bisa kita ambil dari mana saja, kisah tentang kebijaksanaan hidup yang diterima turun temurun dari cerita generasi sebelumnya, kisah yang bisa diambil hikmahnya dari cuplikan film, kisah saat kita mengunjungi seseorang teman, dll. Penulis menjabarkan hikmahnya agar bisa membuat pembaca lebih hati-hati terhadap kehidupan. Agar tak mengalami hal yang sama yang dialami pelaku di dalam kisah tersebut. Misalnya saja seperti kejadian di halaman 11: “Ada beberapa alasan yang dapat diselesaikan dengan menikah tetapi ada juga masalah yang justru baru muncul ketika menikah. Mengharapkan kebahagiaan ketika menikah, tetapi  tak pernah bersyukur ketika masih sendiri adalah sebuah kesalahan besar.”  Juga di bagian ini : “Sahabat, bila spion ukurannya kecil, karena memang dibuat agar kita tak terlalu jauh melihat ke belakang. Tak menyesali apa yang ada di masa lalu, dan tak terus-terusan terbeban karena kejadian yang sudah usai.”

Sayangnya, saya menemukan sesuatu yang membuat saya berhenti di suatu halaman. Jujur, hal ini membuat saya kurang sreg yaitu penggunaan kata bermesraan di kamar di kalimat ini, “Namun sayang, suatu hari ketika kapal Rob berlabuh di sebuah dermaga, Jean yang rindu padanya terpukul melihat Rob di kamarnya sedang bermesraan dengan wanita lain.” 

Juga di halaman yang membahas tentang bercumbu dan buaya darat. Di kalimat ini misalnya : “Namun begitu, cinta juga tak luput dari nafsu, karena sebagai manusia yang normal, adakalanya ketika kita mencintai seseorang kita sangat berhasrat untuk mencumbunya. Cumbu rayu, sebuah ciuman, dan segala hubungan fisik lainnya akan menyakitkan jika dilakukan tanpa komitmen.” 

Hmm, apakah jika membahas tema komitmen dengan pasangan, "komitmen akan menjaganya" harus seperti itu? :D

Hmm... jujur, menurut saya, ketika penulis ingin membahas tentang subtema “bagaimana menjadikan hidup ini lebih berharga” atau subtema “komitmen akan menjaganya” tak melulu harus membahas hal ekstrim berbau seks tersebut.

Bisa juga untuk tema “bagaimana menjadikan hidup ini lebih berharga” membahas hal lain semisal : putus sekolah, broken home, dll. Tapi kalau pun memang harus mengambil studi kasus tentang itu, seharusnya kata yang digunakan lebih diperhalus misalnya saja hanya kata “selingkuh” tanpa perlu dijelaskan secara detail bagaimana kejadian selingkuhnya.  

Menurut saya, ini bisa mengantisipasi pembaca yang awam tentang isi bukunya karena tertarik membeli hanya dengan melihat covernya saja. Karena saya pun belum tahu sebenarnya siapa yang akan disasar oleh penulis sebagai pembaca buku ini. Apakah pembaca remaja, dewasa ataukah umum? Jika umum tentu lebih baik jika memberi tulisan itu sehalus mungkin kejadian yang dialami sehingga hikmahnya sampai, kisahnya pun tak perlu dibahas detail atau bisa juga dengan mengambil kasus lain yang terpenting hikmahnya sama, bahwa hidup terlalu berharga untuk disia-siakan. Bukankah ada banyak sub kasus yang bisa diambil jika lebih jeli? Nah jika memang yang ingin disasar adalah pembaca dewasa, penulis bisa menuliskan label  kategori pembaca dewasa di belakang sampul untuk menghindari pembaca remaja membaca buku yang belum waktunya mereka cerna.  Sekian saja resensi dari saya, Bunda. Semoga karya Bunda Lily jadi lebih baik lagi kedepannya. Aamiin. :)

4 comments:

  1. Ulasan yang bagus La
    Semoga Bunda Lily terus menghasilkan karya ya :)

    ReplyDelete
  2. siiip, setuju banget dengan sarannya Ila:) semoga penulisnya is aterus menghasilkankarya yangbermanfaat ke depannya:)
    Akhirnya aku bisa buka blog ini *Alhamdulillah

    ReplyDelete
  3. sama mbak, aku juga kurang sreg sama yang terlalu romance :)

    ReplyDelete
  4. jadi pengen punya juga,,,, mungkin bunda Lily memiliki maksud tersendiri memaksikan sesuatu yng berbau seks

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^