Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

27 October 2013

Resensi Yang Kedua-Riawani Elyta

Novel Yang Kedua-Riawani Elyta
Biodata Buku :
Judul : Yang Kedua
Penulis : Riawani Elyta
Penerbit : Bukune
Terbit : Desember 2012(cetakan keempat)
Tebal : vi + 250 hal
ISBN : 602-220-040-7

Sinopsis : 
Kau bagai lagu indah, yang membuatku jatuh cinta dalam cara yang sederhana. Menyusup cepat ke dalam dada, mengentakkan hati, lalu mengisi penuh ruang kosong jiwa. Kaulah lirik yang selalu bisa kugumamkan berulang-ulang dalam benakku, tanpa jemu.

Kau tahu, ketika aku menyerahkan hatiku—telah kuserahkan seluruhnya. Namun, mengapa kita tak bisa sekadar saling tatap. Mengapa kita tak bisa teriakkan bahwa cinta yang kita rasa membuat bahagia dalam diri luruh hingga ke ujung-ujung jari yang menghangat.

Tak ada yang salah dengan cinta antara kau dan aku.

Mungkin, yang salah hanyalah waktu. Kau dan aku, seharusnya sejak dulu bertemu…


Resensi : 

Dave, Vienna dan Haris. Ketiganya bertemu dan terjalin dalam takdir yang rumit. Vienna yang setelah menikah dengan Haris selama 5 tahun tak juga dikaruniai anak, mendapatkan takdir barunya. Ia mendapat kesempatan untuk diorbitkan menjadi penyanyi  duet ternama bersama pasangan duetnya, Dave. Kesempatan ini ada karena ia memenangi  festival menyanyi tingkat Asia.  Tak ada yang akan menyangka takdir kehidupan Vienna berubah drastis sejak rekaman album duetnya meluncur di pasaran. Segala tentang materi dengan mudah ia dapatkan berkat kerja kerasnya dalam menyanyi.



Dave lelaki yang hadir dalam hidupnya meski tahu bahwa Vienna telah menikah, tetap mencintai Vienna dalam diam. Ada kekaguman dalam diri Dave yang membuat ia jatuh cinta pada Vienna. Bahkan sejak sebelum mereka bertemu di ajang festival yang membuat namanya melambung. Tidak, justru mereka bertemu belasan tahun lalu di suatu tempat yang berbeda tanpa Vienna sadari. Gadis itu dengan sorot mata menunduk malu, tetap tenang menyanyikan lagu yang membuat seluruh penonton diam terpukau mendengar suara emasnya di acara pesta ulang tahun seorang sahabat keluarga Dave. Waktulah yang telah membawa kenangan itu muncul lagi di ingatan Dave, tapi datang di saat yang tak tepat. Dave tau bahwa mencintai perempuan yang sudah menikah adalah kesalahan, maka ia memilih diam.

Dilema muncul ketika Vienna dihadapkan pada pilihan tentang Haris suaminya. Akankah Vienna tetap mencintai Haris yang menuntut begitu banyak kebutuhan,  termasuk memenuhi ambisi membuat perusahaan? Akankah Vienna bertahan? Atau justru memilih mundur dari hidupnya karena tak sanggup dengan tekanan yang dilakukan Haris demi ambisinya?

Kisah domestik drama ini terbilang santun karena tiap adegan chemistry tokohnya tidak begitu kentara.  Tokoh Dave yang nyaris sempurna bisa membuat siapapun akan jatuh cinta, termasuk Vienna. Dave digambarkan tampan, mapan, dan perhatian. Siapa yang tak akan jatuh cinta? Tapi pesona Dave ditepis Vienna sedikit demi sedikit karena sadar ia tetaplah masih istri orang.

Saya merasa alur bergerak lambat di bagian awal. Beberapa kalimat yang saya baca terkesan panjang-panjang. Mungkin maksud penulis agar deskripsi tempat, kejadian dan penokohan lebih kuat. Tapi tanpa pecahan kalimat efektif, saya membacanya ngos-ngosan. Apakah itu yang membuat alur terasa lambat ya?

Misalnya saja di :

“Festival duet yang bakal mereka hadapi, disponsori oleh salah satu perusahaan korporat berskala raksasa di Singapura, perusahaan dengan puluhan anak cabang yang tersebar di mancanegara—termasuk Indonesia, dan salah satunya dikelola oleh Suta Widjaja. “(halm 67)

Sebagai novel bertema domestik drama, penulis berhasil membalut kisah pernikahan dengan banyak hikmah tentang cinta dan pernikahan. Bahwa cinta seharusnya memang diperjuangkan. Saya suka bagian tokoh Dave bertemu dengan Paman Goh Kee.  Ada kalimat yang saya suka yaitu “Biarkan kata cinta hanya  jadi milik mereka yang masih terus mencari, aku cukup menjalani apa yang sudah kumiliki. Bagiku, cinta tak lebih sekadar ucapan di bibir selama kau tak mampu memperjuangkan apa pun.”

Hanya saja, penyelesaian masalah serasa terlalu dipercepat dan dipaksakan lewat tokoh yang dimunculkan di akhir. Saya malah berharap kalau penyelesaian karena karakter tokohnya sendiri yang menciptakan solusi, bukan karena nasihat seseorang.

Overall, novel ini saya rekomendasikan bagi mereka yang ingin mencari makna cinta yang sesungguhnya. ;)

2 comments:

  1. Sepakat sama Mba Ila, kalimat yang panjang emang bikin ngos2an. :)

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^