Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

6 August 2014

Resensi Buku My Cup of Tea by Nia Nurdiansyah


Judul : My Cup of Tea ; ada cinta dalam secangkir teh
Pengarang : Nia Nurdiansyah
Penerbit : Gagasmedia
Terbit : 2013
Tebal : vi +354 hlm
ISBN : 979-780-632-4

         “People who are meant to be together will always find their way back to each other. They may take detours in life but they’re never lost.”

           Shereen dan Dipi bersahabat sejak remaja. Bagi keduanya, hubungan persahabatan jauh lebih penting dari apa pun. Ada kalanya Shereen menjadi murung dan sedih karena patah hati, dan Dipi menghiburnya dengan secangkir teh juga kue-kue yang dibuatnya. Saat itulah Shereen bisa bercerita dengan leluasa tentang kisah cintanya yang berantakan. Setiap kali patah hati, maka yang lebih dulu dihubungi adalah Dipi.

           Dipi seperti halnya lelaki lain, memiliki mantan yang membuatnya sulit melupakan gadis itu. Baginya, perempuan masa lalu itu tak akan terpisahkan dari SerendipiTea, kedai Teh yang dibuatnya. Namun, minat Dipi untuk fokus di dunia kuliner menghilang saat ia patah hati. Sejak itu pula ia menutup diri untuk cinta yang baru.  

          Shereen yang bersinar karena karir yang melesat sebenarnya menginginkan satu impian; rumah dengan anak-anak juga suami di dalamnya. Namun, Art, kekasihnya yang arsitek, justru makin sibuk dengan hidupnya sendiri. Sketsa rumah yang ditunjukannya pada Shereen hanyalah sebuah kamuflase untuk mengulur pertanyaan ‘Kapan kita menikah?’. Pada akhirnya, cinta membuat pertanyaan semu yang berujung klimaks. Art bukanlah jawaban dari keinginan Shereen. Ia pun patah hati lagi, menangis lagi dan bercerita lagi pada Dipi.

            “Aku benar-benar sudah berubah menjadi perempuan yang mengabaikan sahabatnya sendiri saat ia sedang merasa bahagia dengan pasangannya, lalu hanya kembali kepada sahabatnya pada saat sedang merasa sedih atau bertengkar dengan pasangannya. Aku benar-benar tidak menyangka telah berubah menjadi jenis perempuan yang tidak kusukai itu.” (hlm. 163)

      Perkenalan Shereen dengan Park Min Ho membuat impian Shereen kembali hadir. Ia masih membayangkan impiannya utuh dan menjadi nyata. Namun, apa jadinya jika ternyata Dipi menyimpan perasaan sejak lama pada gadis itu? Lalu, siapa yang akan dipilih oleh Shereen?

***
          Novel yang ditulis oleh Nia Nurdiansyah ini sebenarnya bertema romantis. Hanya saja terasa hambar di beberapa bagian terutama bagian di mana banyak narasi. Dituliskan dengan dua POV, bagian Shereen dan Dipi yang diperlihatkan dengan font berbeda membuat pembaca jadi tahu perasaan kedua tokoh itu.

           Penulis banyak membagi pandangannya tentang suatu hal. Misalnya : hidup ala sosialita yang ternyata tidak sebahagia yang dilihat di luar, juga keinginan-keinginan khas perempuan tentang pasangan dan masa depannya, juga impian yang perlu diperjuangkan.

          Banyaknya narasi dan kurangnya dialog membuat saya tidak merasakan kekuatan karakter satu pun tokoh di novel ini. Sehingga begitu menutup buku, selesai juga petualangannya. Padahal, saya berharap bisa jatuh cinta dengan karakter Dipi atau Shereen, sehingga kisah ini bisa melekat di ingatan.

           Saya suka quote di bagian ini :

          “Beberapa orang singgah untuk bersama dalam jangka waktu yang lama, sementara yang lain hanya lewat untuk menemani sesaat. Pada suatu waktu, ada dia yang mungkin tanpa kehadirannya kita sama sekali tidak dapat menahan sebuah penderitaan seorang diri.”

           Sketsa di bagian pergantian bab membuat suasana menjadi lebih istimewa. Ditambah ada lagu untuk setiap bab itu. Sayangnya, saya masih merasa novel ini nanggung. Ada rasa ‘too good to be true’ juga saat scene adegan di Korea. Overall, 2,5 bintang untuk novel ini. Semoga novel selanjutnya bisa lebih mengagumkan lagi ya. :)

6 comments:

  1. Wah nanti siapa ya yang dipilih shireen?? Hehehehe Musti baca nih biar tau :)

    ReplyDelete
  2. jadi menurut mbak Ila worth to buy atau nggak? ^ ^ *tergoda beli tapi nggak yakin*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo aku kurang suka sama buku ini. Tapi kalo mba mau beli, bisa dilihat dulu gaya menulis penulisnya di blog dia : www.brama-sole.com. Aku biasanya beli karena suka sama gaya bahasa penulis. Mungkin bisa jadi pertimbangan sebelum beli. :)

      Delete
  3. Judulnya My Cup of Tea, tapi kayaknya novel ini bukan My Cup of Tea deh. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha. Bukan seleranya berarti ya, Kang. :p

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^