Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

28 April 2015

[Resensi Buku] The Wind Leading to Love - Ibuki Yuki


Judul Buku : The Wind Leading to Love
Pengarang : Ibuki Yuki
Penerbit : Haru
Terbit : Februari 2015
Tebal : 342 hlm.
ISBN : 978-602-7742-47-5
Rating : 4/5


Rasa sakit itu merupakan bukti kalau kita masih hidup.

Suga Tetsuji depresi. Menuruti saran dokter, dia mengasingkan diri di sebuah kota pesisir, di sebuah rumah peninggalan ibunya. Namun, yang menantinya bukanlah ketenangan, tapi seorang wanita yang banyak omong dan suka ikut campur bernama Fukui Kimiko.

Fukui Kimiko kehilangan anak dan suaminya, dan menyalahkan dirinya sendiri. Sebagai penyebab kematian mereka berdua. Dia meganggap dirinya tidak pantas untuk berbahagia.

Setelah menyelamatkan Tetsuji yang nyaris tenggelam, Kimiko menawarkan bantuan pada pria itu untuk membereskan rumah peninggalan iunya agar layak jual. Sebagai gantinya, wanita itu meminta Tetsuji mengajarinya musik klasik, dunia yang disukai anaknya. 

Mereka berdua semakin dekat, tapi…

***

Novel bergenre romance ini dilabeli J-lit atau Japan Literature. Selama ini saya mengira bahwa Penerbit Haru hanya menerbitkan novel Korea, ternyata kini sudah merambah ke novel Asia lainnya. Ini pertama kalinya saya membaca novel Jepang yang diterjemahkan oleh Penerbit Haru. Saya mendapatkan novel ini dari hadiah menang Giveaway Blog Tour di blog mba Dhyn. Thanks, mba Dhyn. ;)

Novel ini bermula dari kisah Peko-chan yang dianggap sebagai wanita keberuntungan. Setiap kali wanita itu menumpang di truk untuk sampai ke tempat tujuan, supir yang memberi tumpangan akan mendapatkan keberuntungan. Ada yang sampai menikah dengan pemilik truk, bahkan akhirnya punya truk dalam jumlah banyak. Peko-chan sebenarnya hanya sebutan untuk seorang wanita bernama Fukui Kimiko. Pada musim panas kali ini Kimiko berencana menghabiskannya di sebuah kota kecil bernama Miwashi. Siapa sangka saat ia menumpang di mobil yang dikendarai Tetsuji akhirnya membuat ia dan Tetsuji menjadi dekat?

Tetsuji didiagnosa menderita depresi. Ia hampir bercerai dengan istrinya, namun sang istri memintanya untuk menunggu putri mereka lulus ujian sekolah baru bercerai. Tetsuji yang baru saja kehilangan ibunya, semakin terpuruk. Depresinya membuat ia tidak bisa tidur setiap malam, bahkan hingga sakit leher dan tidak bisa menoleh ke kanan. Tetsuji hampir saja mati tenggelam di laut andai tidak ada Kimiko yang menolongnya.

Di rumah ibunya di Miwashi, Tetsuji ingin menenangkan diri. Namun ia malah bertemu dengan Fukui Kimiko, si Peko-chan yang telah menolongnya dari kecelakaan di laut. Kimiko ingin membantu Tetsuji membenahi rumah ibunya agar bisa layak jual. Sebagai gantinya, Tetsuji mengajari Kimiko tentang musik klasik yang sangat disukai anaknya. Anaknya meninggal di laut, di musim panas beberapa tahun lalu. Sudah bertahun-tahun berlalu tapi Kimiko masih menganggap bahwa kematian suami dan anaknya akibat dirinya. Sejak itu Kimiko selalu berpindah-pindah pekerjaan dan tempat tinggal. Ia hanya pulang ke Miwashi untuk melakukan obon, upacara mengingat kematian suami dan anaknya.

Kimiko dan Tetsuji, dua orang yang sama-sama terluka, saling membantu untuk menyembuhkan. Trauma keduanya berhubungan dengan orang yang sudah meninggal. Tidak mudah untuk menghapus rasa bersalah karena masa lalu. Karena itu, Kimiko dan Tetsuji menghabiskan banyak waktu bersama untuk saling berbagi cerita. Hingga kedekatan keduanya membuat orang-orang di Miwashi menggosipkan mereka. Apa yang akan dilakukan jika karena gosip itu istri Tetsuji mendadak datang ke Miwashi?

***

Novel ini banyak memberikan informasi yang baru bagi saya tentang budaya Jepang seperti obon, kuliner, musik klasik, hingga teater. Belajar memahami budaya suatu negara lewat sebuah novel berbeda dengan membaca buku traveling. Di novel ini saya jadi lebih merasakan suasana Jepang dengan dua sudut pandang yang berbeda. Dari sudut pandang orang kota seperti Tetsuji dan Rika, dan orang desa seperti Madam, Mai, Shun, dan Kimiko. Saat selesai membacanya pun saya merasakan suasana rumah semenanjung dan Miwashi yang memesona di mana Tetsuji akhirnya menemukan penyelesaian bagi dirinya. Di bagian musik klasik juga pembaca akan disuguhkan banyak informasi tentang musik klasik. Sehingga siapapun yang belum mengerti tentang musik klasik bisa mulai mencoba mendengarkan seperti Kimiko yang belajar memahami arti musik.

Di novel ini juga pembaca yang merasakan insomnia seperti Tetsuji akan mendapatkan cara untuk menyembuhkan insomnia, seperti menggunakan teknik akupuntur di kaki, juga meletakkan handuk panas di punggung agar sensasi panas membuat tubuh lebih rileks. Saya juga baru paham bahwa ada perbedaan luar biasa antara orang desa dan kota yang tampak terlalu jauh ketika melihat Tetsuji dan Kimiko bersama. Seperti Tetsuji yang dianggap sebagai melon kelas satu, dan Kimiko yang menganggap dirinya hanya seperti kinko-uri atau timun suri, buah murah yang tidak berharga.

Menggunakan POV 3 serba tahu, penulis membuat pembaca jadi mengerti ada beragam alasan mengapa seorang tokoh mengambil keputusan ini dan itu. Pembaca tentu saja setelah tahu sebabnya tidak bisa menjudge mengapa pilihan yang jatuh justru tidak seperti yang diharapkan. Meski ada yang mengganjal seperti cara Kimiko blak-blakan berbicara dengan Tetsuji tentang ‘rahasia-rahasia’nya, saya rasa itu karena karakternya yang blak-blakan. Kimiko selalu menganggap dirinya sebagai ‘bibi tua’ yang sudah hampir beranjak di usia matang menuju empat puluh tahun. Sehingga tidak merasa risih meski bahasan yang diungkapnya cenderung vulgar. Melihat hal ini, buku ini hanya cocok bagi pembaca berusia 21 ke atas.


Terlepas dari kisah cinta yang singkat antara Kimiko dan Tetsuji, pembaca akan menemukan sebuah penyelesaian yang berbeda. Pada akhirnya, cerita bersimpul pada prolog novel ini. Kekurangan novel ini ada pada bahasa yang digunakan. Kadang ada yang tidak baku seperti penggunaan kata “nggak” di beberapa kalimat(hlm. 292). Di kalimat, “Aku benci orang yang nggak sadar kalau dia nggak tahu apa-apa.” dan “Kau mengerti? Aku yakin kau nggak ngerti. Kau itu nggak ngerti apa-apa.” Seperti tidak konsisten dengan format terjemahan di awal cerita yang menggunakan kalimat baku. Ada juga penggunaan kata yang agak aneh seperti ‘sok pintar-pintaran’. Padahal saya kira menggunakan istilah ‘sok pintar’ saja sudah cukup menunjukkan karakter Kimiko, alih-alih memakai ‘sok pintar-pintaran’. Oiya, covernya sesuai dengan isi novel. Jadi saya suka dengan covernya yang berbicara. Well, 4 bintang untuk kisahnya.  

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^