27 December 2020

[Resensi Buku] Catatan Harian Menantu Sinting - Rosi L. Simamora

 

Resensi novel catatan harian menantu sinting

Judul Buku : Catatan Harian Menantu Sinting

Pengarang : Rosi L. Simamora

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Terbit : Cetakan Pertama, 2018

Tebal : 232 halaman

ISBN : 9786020380674

Genre : Novel Metropop

Harga Buku : Rp 63.000

Rating : 4/5 bintang

 

 

Sinopsis Buku Catatan Harian Menantu Sinting :

 

Aku Minar.

Ini cerita cinta versi aku dan Sahat (dan… Mamak Mertua)

Seru. Ngeselin. Gemesin.

Sekaligus sangat menantang.

Ditambah latar belakang keluarga besar Batak yang penuh drama dan asumsi, kisah-kisahku lebih sering berakhir konyol dan nyaris bikin aku frustasi.

Apalagi aku dan Mamak Mertua punya kepercayaan berbeda tentang cinta dan kebahagiaan, terutama kalau menyangkut Sahat, kesayangan kami berdua.

 

Dengan bahasa yang ringan, cerita ini sengaja dikemas untuk membuat pembacanya terbahak-bahak.

 

 

Resensi Buku Catatan Harian Menantu Sinting :

Pernikahan Minar dan Sahat baru saja dimulai, tapi ada hal-hal yang bikin Minar merasa keberatan ketika akhirnya Mamak Mertuanya, yaitu Ibunya Sahat ternyata punya tingkat kepo yang tinggi. Perempuan Batak asli itu sering mempertanyakan kenapa anak laki-lakinya mau menikah dengan Minar, perempuan biasa saja yang meskipun asli Batak tapi dipertanyakan keabsahan asal sukunya. Lol

 

Resep Seru Perkawinan

Ambil dua potong cinta buta, letakkan dalam mangkuk perkawinan, kocok sampai mengembang

Masukkan Mamak Mertua ke dalamnya, tambahkan delapan tahun usaha keras buat punya momongan

Aduk rata, lalu hidangkan panas-panas.

 

Minar yang bekerja sebagai penerjemah lebih memilih kerja di rumah karena pekerjaannya sangat fleksibel. Bisa dikerjakan di mana saja. Tapi, Mamak Mertuanya sangat kepo dan bikin mood Minar ambyar karena tingkahnya yang ajaib. Mamak Mertua selalu mempertanyakan kapan Minar kerja? Kok nggak kerja? Kok di rumah aja? Katanya sarjana?

 

“Tak paham aku, Eda… Macam kena tipunya kita dibuat. Waktu marhata sinamot kemarin itu, sarzana kata si Sahat kita ini yang zudah pesong kurasa, langsung disikutnya aku di depan orang itu, torus dibilangnya, “Kasih sazalah, Mak. Yah, tak tahunya beginilah, Eda. Di rumah torus dia itu. Pagi di rumah. Siang di rumah. Sore di rumah. Malam pun di rumah. Mana ada sarzana di rumah duduk-duduk dari pagi sampe pagi kok?” (hlm. 19)

 

Bahkan sampai urusan mahar nikah saja dibahas oleh Mamak Mertua. Katanya, dulu Mamak Mertua disuruh bayar uang mahar dengan harga yang tinggi, alasannya karena perempuan yang dinikahi Sahat itu seorang sarjana.

 

“Memangnya besar Sinamot berdasarkan jenjang pendidikan calon pengantin perempuan gitu? Yang benar aja! Tapi bukan merasa bangga, aku malah merasa selevel sapi yang diperjualbelikan di pasar ternak. Jadi malamnya si Sahat pun kena aku nyinyirin.” (hlm. 19)

 

Meskipun secara adat dan tradisi ini dilakukan untuk menaikkan harga diri perempuan yang akan dinikahi, tapi kalau urusan mahar saja sampai dibahas melulu, sebel juga ya.

 

Saat di rumah, Mamak Mertua akan terus mengurusi hidup anaknya karena ingin ia punya cucu dari semua anaknya. Inilah cita-cita mamak Sahat. Ia ingin meninggal dengan cara saur matua.

 

“Mamak Mertua itu kepingin waktu doski berpulang kelak, semua anaknya, laki maupun perempuan, udah nikah dan punya anak. Titik. Dan mencapai saur matua ini konon adalah cita-cita semua orang Batak di muka bumi.” (hlm. 39)

 

Masalahnya, ada dua orang yang belum memberikan cucu. Satu, bang Monang, si anak pertama yang jadi playboy cap abal-abal. Dia belum nikah sampai sekarang. Sedangkan Sahat belum punya anak sejak pernikahannya dengan Minar. Selama 8 tahun, mereka berusaha punya anak, bahkan Mamak Mertua sampai minta ikut ke dokter untuk periksa kesehatan. Maksudnya, pas si Sahat dan Minar konsultasi soal program kehamilan dan cek kualitas kesuburan pasangan ke dokter fertilitas, Mamak Mertua pengin ikutan sekalian. Wkwk. Akhirnya, mau gimana lagi. Mamak Mertua pun ikutan ke sana. :D

 

“Nah, berhubung kayaknya Mamak Mertua diam-diam sadar dia nggak bisa mengandalkan Bang Monang, dia pun mulai memindahkan obsesinya untuk menghadirkan penerus marga itu ke aku sama Sahat. Dan dia terang-terangan banget soal ambisi tunggalnya itu, nggak ada tuh yang namanya gerilya-gerilyaan atau malu-malu kucing. Semuanya tembak langsung bahkan nun jauh di zaman dahulu kala tepat di hari perkawinan kami dulu.” (hlm. 93)

 

Novel metropop Rosi L. Simamora

Percakapan tentang betapa pentingnya garis keturunan di keluarga Batak malah dilakukan Mamak Mertua di hari pernikahan Minar dan Sahat. Minar ditanya langsung tentang pendapatnya untuk punya anak sebanyak-banyaknya. Bagi orang Batak, punya anak laki-laki dari setiap anaknya akan membuat dia bangga, karena bisa menjadi penerus keturunan Batak. Memang beda ya, patrilineal itu.

 

Di suku Batak, ada beberapa kultur yang sangat berbeda jauh dengan suku lain. Ini yang bikin Mamak dan Minar selalu debat tentang banyak hal, padahal mereka ya sama-sama orang Batak juga. Bedanya, Minar Batak campuran, dan Mamak Batak Tulen dari garis keturunan keluarganya. Inilah yang bikin keduanya sering cekcok dan debat bahkan di depan Sahat. Bahkan Mamak mempertanyakan cinta Minar pada Sahat.

 

“Dulu itu, cinta sama sekali tak pentingnya, Minar. Yang penting melahirkan anak laki-laki sebanyak-banyaknya. Setelah itu cinta tumbuh sendiri sih. Kayak rumput. Begitu…”

“Ya, zaman berubahlah, Inang. Sekarang cinta itu penting.”

“Tidak sepenting penerus marga, Minar!”

“Ah, siapa bilang!  Soal anak sih gimana nanti aja.”

“Ya tak bisa begitulah, Minar. Buatku perkawinan klian ini sangat penting.”

“Buatku juga. Meskipun jelas yang penting menurutku ini beda dengan pentingnya Inang.”

“Dengar ya, pokoknya klian harus kasih aku penerus marga! HABIS PERKARA! Ingat, akulah yang mangongkosi pesta adat klian ini!” (hlm. 96)

 

Astaga, Mamak Mertua ini ngeselin, tapi ya gimana ya. Hahaha. Mamak Mertua ini punya sense yang agak gimana gitu soal menantunya, bahkan di hari pertama pernikahan Sahat dan Minar. Selain terobsesi ingin punya cucu banyak, Mamak Mertua juga suka ngurusin hidup orang lain. Seperti orang tua pada umumnya yang senang mengurusi hidup anak dan menantunya. Kali ini Mamak pun selalu berusaha mengurus semua hal, termasuk percintaan Bang Monang yang gagal maning gagal maning, son. :p

 

Saat bang Monang akan menikah dengan Ajeng, gadis jawa, Mamak Mertua tidak setuju. Alasannya karena boru Batak di keluarga mereka itu masih keturunan asli Batak. Bukan keluarga kawin campur antara dua suku. Jadi, bisa dibilang keturunan asli Batak itu bangga kalau mereka masih memiliki darah asli Batak. Itu sebabnya, Minar merasa Mamak Mertuanya mirip dengan Voldemort. Hahaha. Alasannya, ya apalagi coba? Voldemort nggak suka darah campuran. Lebih suka darah murni.

 

Di bab Mamak Mertuaku, Voldemortku. Di situ Minar curhat soal Mamak Mertua yang belum mau ngasih ijin nikah buat Ajeng dan Monang. Padahal Monang udah tua dan susah buat serius sama seseorang.

 

“Botul do i yang kaubilang itu. Tapi… tak adanya kami Pomparan Ompung Monang Purba yang apa sama boru Zawa deh. Begitu… Kalok masih ada boru Batak, kenafanya harus dengan boru Zawa…” (hlm. 55)

“Ya daripada Bang Monang nggak kawin sama sekali? Emangnya Inang mau ambil risiko itu?”

“Ehem… Ya zangan sampai tak kawinlah. Amang oi, Amang. Pokoknya harus kawin si Monang itu. Harus!” (hlm. 56)

 

Yang bikin Minar sebel, Mamak Mertua mulai rutin ikut ke dokter pas cek kesuburan. Amboi, berasa anak TK diajakin mamaknya. xD Hasilnya, Minar pun kekeuh pengin Sahat ngasi tahu mamaknya untuk nggak ikutan ke dokter. Malu kan kalau urusan ranjang saja, Mamak harus ikut campur. Wkwk. Akhirnya, Minar pun complain soal itu ke Sahat. Biar Mamak Mertua nggak ikutan membuntuti mereka.

 

Bahkan, saat ada kejadian yang nyebelin terjadi yaitu insiden kado ‘senter pink’ yang diambil Mamak Mertua karena mengira itu beneran senter pink, Mamak menyimpan barang itu. Minar khawatir itu bikin masalah suatu hari nanti dan bikin malu di acara adat keluarga Batak.

 

Orang Batak itu senang pesta, bahkan pesta kecil maupun besar, mereka selalu mengadakan pesta dengan para keluarga besarnya. Inilah yang bikin Minar ngomel dan Sahat pun komentar soal ini.

 

“Ampuuuun, Nar… nggak mau aku… bisa mandi madu, eh mandi malu aku kalau diomongin soal nggak pintar ngitung hari subur lagi ke semua orang yang ada dalam tarombo. Kapok!” (Hlm. 182)

 

Yang bikin saya ngakak waktu penulis membahas soal suara orang Batak. Iya, orang Batak kalo ngomong kan kenceng. Nah, Minar khawatir kalau ditertawakan oleh sekeluarga Batak di acara adat dan pesta-pesta Batak lainnya. Masalahnya, suara mereka itu lho…. Yang ummm… bikin keki.

 

“Gimana nggak histeris, hampir setiap malam aku bermimpi buruk hal ini betul-betul terjadi. Dan nggak ada lucu-lucunya jadi bahan ketawaan orang Batak, tahu nggak? Satu orang Batak ketawa aja udah bikin nyali rontok, apalagi kalau yang ketawa seruangan gedung pertemuan. Belum lagi gosip di antara orang Batak itu nyebarnya lima ratus kali kecepatan cahaya, maaan! Ngerinya amit-amit!” (hlm. 183)

 

Ada banyak kejadian konyol bin ngeselin tapi juga lucu yang bikin kisah cinta Minar dan Sahat plus Mamak Mertua ini jadi makin seru buat diikuti. Pasalnya, Minar yang Batak tapi nggak terlalu keliatan Bataknya ini selalu berbeda arah dan pendapat dengan Mamak yang kolot dan cenderung mengikuti adat dan culture Batak pada umumnya.

 

Perbedaan pendapat tentang budaya inilah yang bikin suasana jadi makin rumit. Tapi di antara semua kejadian itu, ada beberapa kejadian yang bikin ngakak. Apalagi pas Mamak Mertua bawain makanan yang mengandung bahan cacing buat obat Minar pas sakit tipes. Itu bikin ngakak banget sih.

 

Menantu sinting mamak mertua batak

Trus, ada juga kejadian pas Minar kecele karena Sahat, Bang Monang dan kedua kakak perempuannya janjian buat blokir nomor Mamak. Jadi, Mamak nggak bisa ganggu mereka all day long dengan telefon nggak pentingnya.

 

Misalnya aja pas nanya gimana cara bikin status di fb, bahkan gimana caranya melakukan hal-hal yang sederhana tapi ditanyain lewat telfon di saat anak-anak dan menantunya lagi pada kerja di kantor. Bikin pusing, kan? Hahaha.

 

Masalahnya, Si Sahat nggak ngajakin buat blokir nomor Mamak. Hasilnya, Minar seharian ditelfonin terus sama Mamak buat ditanyain ini dan itu.

 

Trus, pernah suatu hari Mamak Mertua membuat sebuah kekonyolan karena salah nama. Jadi, waktu Mamak Mertua dapat kabar bahwa ada temannya yang meninggal, dia langsung minta diantar ke rumah orang itu. Masalahnya, namanya sama. Ada dua orang dengan nama yang sama, plus Mamak udah lupa rumahnya seperti apa, bahkan orangnya seperti apa aja dia udah rada lupa. Maklum, dia ketemu terakhir kali itu ya pas 30 tahun kerja di Timika.

 

Novel metropop lucu dan konyol

Masalahnya, Mamak ngeyel bilang kalau betul itu rumah orang yang sedang berkabung. Begitu masuk ke rumahnya, mamak mertua belagak sedih dengan menangis sambil meratap dan membawa fotonya. Mamak punya bakat meratap sampai bikin orang ikutan nangis juga. Abis itu, baru kejadian konyol terjadi. Ternyata… itu rumah salah alamat woy. Wkwk. Makanya, kalau salah nama tuh ya jangan ngeyelan. :p

 

“Dan bener aja, begitu dari depan terdengar suara mobil dan si mbak ART tergopoh-gopoh keluar membukakan gerbang, Mamak Mertua sudah siap menyambut dengan andung-annya, lengkap sambil bawa-bawa potret Drs. S. Sihite segala, yang dicomotnya dari atas buffet. “

“Tepat ketika nyonya rumah muncul di depan pintu, tanpa ba-bi-bu Mamak Mertua langsung action : Tampang disetel galau, suara melolong-lolong, satu tangan memeluk  foto, tangan yang lain menyentuh-nyentuh sambil sesekali mengguncang-guncang nyonya rumah yang hanya bisa berdiri mematung. Terpana.” (hlm. 194)

Yang bikin geleng-geleng adalah karena sikap Mamak Mertua yang santai sekali menanggapi insiden itu. Dia bilang begini.

 

“Zudah bagus suaminya masih hidup, tak porlulah dia tersinggung begitu. Manusia biasa kita ini, ya kan? Sekali-kali bisa khilap zugak salah alamat!” (hlm. 196)

 

Ada banyak lagi kejadian aneh bin ngeselin ala Mamak Mertua dan dua sejoli Minar dan Sahat. Yang bikin saya ngakak malah pas bagian Mamak Mertua hobi banget makan guguk. Masalahnya, dia complain soal Minar nggak suka guguk itu di facebook. Seluruh dunia sampai tahu soal ini. Padahal, Minar dikenal sebagai pecinta guguk dan bahkan melihara hewan itu di rumahnya sebagai hewan kesayangan. Bisa-bisanya dia berurusan dengan Mamak Mertua yang mirip Devil di film Dalmatian. Wkwk.

 

Plus, kejadian terakhir di ending novelnya ini bikin ngakak banget sih, buat tahu endingnya baca aja keseruannya di novel ini.

 

Buat saya, novel Catatan Harian Menantu Sinting ini memberi penyegaran hubungan antara Mamak Mertua dan menantu Batak yang meskipun rumit tapi kisahnya bikin ngakak dan seru. Ada berbagai insiden di antara ketiganya di masa-masa perkawinan Minar dan Sahat selama 8 tahun.

 

Buat Minar, punya mamak mertua yang kepo akut itu ujian. Tapi di satu sisi dia tahu, sebenarnya Mamak Mertuanya baik dan penyayang, tapi cara mengekspresikannya beda jauh dengan orang tua pada umumnya. Lebih tepatnya, kadar kepo dan nyebelinnya melebihi orang lain. Ini yang bikin Minar pusing dan frustasi ngurusin mamak mertua itu bareng Sahat.

 

Kisah cinta antara dua orang seringkali berujung pada pernikahan. Tapi, punya Mamak Mertua itu nggak bisa milih, kan? Nah, inilah yang ingin ditampilkan dalam novel Catatan Harian Menantu Sinting. Karena, menikah itu nggak sama seperti membeli kucing dalam karung. Iya, kalau kucingnya itu mamaknya, si menantu bisa apa? Kan cintanya sama si suami, bukan sama mertuanya. Maka, terima nasib saza dah. :p

 

Novel karya mba Rosi L Simamora ini memiliki pace yang cepat, dengan alur cerita yang seru dan kocak. Format ceritanya juga seperti catatan harian pada umumnya yang lebih blak-blakan dan tanpa sensor. Selain itu, ceritanya dibuat konyol memang disengaja, jadi nggak usah kaget kalau banyak scene yang bikin keki tapi juga lucu kalau diingat-ingat. Meskipun cara menanggapinya sedikit menyebalkan dan bikin Minar kapok, tapi sebab cintanya pada Sahat sudah telanjur dalam, dia pun nggak kepikiran buat tukar tambah Mamak Mertua. Ya, mau gimana lagi, kan? Hahaha :p

 

Overall, saya sudah cerita di novel Catatan Harian Menanti Sinting ini. Illustrasinya juga menggambarkan isi cerita tiap bab. Jadi meskipun ceritanya dibuat mature alias genre cerita ala umur 21+ saja yang boleh baca, tapi tetap seru buat dibaca. Nah, udah pernah baca novel ini? Atau kamu punya pengalaman kenal dengan orang Batak seperti Mamak yang kepo dan selalu penuh asumsi? Share dong di komentar. :D

 

2 comments:

  1. saya juga baru baca buku ini di Ipusnas. lucu dan sabar banget si Minar ngadepin mertuanya. kalau saya kayaknya udah kabur sejauh-jauhnya deh, wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwk iya, mertua Minar nih ajib banget. Se-excited itu sama anak mantunya, sampe ikutan nginep di rumah dan ngerusuhin isi rumah segala. xD

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^