3 December 2020

[Resensi Buku] Diary Chawrelia - Letters to Gallendra by @Chawrelia

Resensi buku Diary Chawrelia - Letters to Gallendra

Judul Buku : Diary Chawrelia – Letters to Gallendra

Penulis : Aurelia Carisa @Chawrelia

Penerbit : Elex Media Komputindo

Terbit : Cetakan Pertama, 2019

Tebal : 180 halaman

Genre : Non fiksi - Mom Story (Inspirational)

Harga buku : Rp 68.800

ISBN : 978-602-04-9829-4

Rating : 4/5 bintang

Download Buku Diary Chawrelia pdf Ebook di Gramedia Digital

 

Sinopsis Buku Diary Chawrelia – Aurelia Carisa :

Ini adalah sekelumit curhatan nyaris tak bertanggal dari seorang Aurelia Charisa aka Chawrelia. Sebagai seorang perempuan, ia mencurahkan apa yang ada di benaknya tentang menjalani hidup sebagai seorang istri sekaligus seorang ibu, serta menjalani semua peran tersebut dengan berbagai tuntutan yang ada di social media maupun kehidupan sehari-hari.

 

Dari tulisannya, ia merefleksikan diri dan mengungkapkan isi hatinya, sekaligus menuliskan harapan-harapannya untuk Gallendra, putranya, dalam bentuk surat.

 

Resensi Buku Diary Chawrelia – Aurelia Carisa :

 

Aurelia Carisa @chawrelia seorang ibu rumah tangga, make up artist, dan juga influencer. Awal pertama kenal cici ini pas liat story ig koh Alex @amrazing. Ternyata mereka sahabatan udah lama, dan yak saya penasaran gimana kisah Gallendra, anak cici Chawrelia yang sangat menggemaskan itu. Gallendra usianya masih sangat muda, jadi bisa dibilang buku Diary Chawrelia ini berisi surat—surat ungkapan hati seorang ibu untuk anaknya.

 

Nggak semua ibu harus selalu sempurna, kan? Cici Chawrelia pun begitu. Ia paham bahwa dengan segala kemampuan dan keterbatasannya, tentu ada hal-hal yang kadang ia lupakan saat menjalani kehidupan sebagai ibu dengan segala tuntutan perannya. Tapi, ia mau Gallendra saat dewasa bisa baca surat ini dan paham bahwa menjadi seorang ibu baginya adalah sebuah anugerah yang luar biasa.

 

Saat Chawrelia menjadi seorang ibu, ia yakin bahwa ada perubahan besar yang akan terjadi dalam ritme hidupnya. Tapi, ia tak menyangka bahwa kehidupan yang ia jalani akan mendapatkan tekanan yang besar dari lingkungannya sendiri, sesama ibu-ibu yang juga pernah melahirkan anak.

 

“Jadi, bagi kalian yang mungkin sewaktu gadis perutnya rata, jangan kaget kalau setelah melahirkan perut kalian gombyor. Ukuran baju berubah. Dan jangan kaget kalau kalian harus mempersiapkan diri, enggak cuma sekadar nyiapin baju baru dengan ukuran lebih besar dari sebelumnya. Ada hal yang lebih penting untuk kalian siapkan. Hal yang paling harus kalian persiapkan adalah hati kalian. Kenapa? Karena yang paling keras terhadap ibu-ibu adalah ibu-ibu. They judge you hard. (hlm. 24)

 

Sebagai seorang ibu yang memiliki anak dalam masa pertumbuhan, tak jarang ibu bisa mengalami burn out. Ya, saat orang tua begitu lelah mendidik anak, sedangkan mereka butuh berhenti sejenak karena beban yang ditanggung tidak mudah.

 

Waktu 24 jam bersama anak itu bukan hal yang baik. Karena anak akan terus mengekor pada ibu dan ayahnya. Apalagi di masa pandemi COVID-19 seperti sekarang ini. Kewarasan orang tua saat mendidik anak adalah hal yang harus diperhatikan juga, agar orang tua bahagia saat bersama anaknya.

 

Setiap hari, ibu mengalami berbagai hal dalam hidup yang nggak sempurna, selain itu ibu juga tetap harus melayani makan anak dan mengajari anak belajar online. Ini bisa menyebabkan orang tua merasa lelah, baik fisik maupun mental.

 

“Terkadang, gue butuh waktu untuk sendiri. Untuk berpikir. Untuk rehat sejenak dari kehidupan yang terus berputar tanpa henti. Dengan berhenti sejenak, gue bisa menarik napas dengan lebih lega, sekaligus berpikir lebih jernih.” (hlm. 90)

 

Ambil waktu sejenak untuk me time, menyingkirlah dari segala hiruk pikuk rutinitas yang melelahkan. Ibu bisa menitipkan anak pada orang tua, atau pasangan sejenak, lalu pergi me time atau berlibur sendiri maupun bersama teman. Ini bisa membantu ibu me-refresh dan me-reset kembali pikiran agar menjadi lebih jernih.

 

Kejenuhan karena melakukan rutinitas yang sama setiap hari akan membuat ibu merasa lelah dan akhirnya meledak dalam bentuk amarah jika kelak anak melakukan suatu kesalahan ringan yang berujung pada masalah baru. Inilah pentingnya menjeda dengan kesibukan mengurus anak. Karena ibu yang sehat dan bahagia, akan mampu mendidik anak dengan lebih menyenangkan.

 

We all have our own best mind therapy. Carilah sesuatu yang menolongmu untuk berpikir, untuk berhenti sejenak, because after all, we’re only human.” (hlm. 90)

 

Tapi ingatlah selalu bahwa kebahagiaanmu bukan ditentukan oleh kebahagiaan yang diciptakan orang lain. Melainkan dari diri kita sendiri. Kamulah yang bisa membuat dirimu bahagia. Jadi, jangan menggantungkan kebahagiaan dari pasangan ataupun anak. Karena begitu mereka berbuat salah atau melakukan sesuatu yang mengecewakan, ibu akan merasa perjuangannya selama ini sia-sia. Padahal bahagia bukanlah efek dari perbuatan orang lain, melainkan dari diri kita sendiri.

 

Isi tangki cintamu sendiri hingga penuh, agar kamu bisa memberi cinta bagi orang yang kamu sayangi, baik anak, orang tua, maupun pasanganmu.

 

“Because in the end, yang punya peranan paling penting dalam terciptanya kebahagiaan lo bukanlah orang lain, tapi diri lo sendiri.” (hlm. 93)

 

Cici Chawrelia juga bilang bahwa saat kita melihat hidup orang lain lebih baik dari kita, ngeliat rumput tetangga yang lebih hijau, kita perlu untuk berhenti lalu berkata pada diri sendiri bahwa ya, sudah cukup dan bersyukurlah untuk setiap anugerah yang diberikan padamu.

 

Achievement tiap orang itu berbeda-beda. Rasa syukur yang dia miliki pun berbeda dengan kita. Makanya setiap gue mulai berpikir “Ah, harusnya hidup gue bisa lebih dari ini”, gue duduk diem, nyalain lilin aromatherapy, dengerin lagu, dan bicara dengan diri sendiri: “You are good enough, at least for now. You’ve work hard, you do well.” Karena kalau bukan lo yang meng-encourage diri lo sendiri untuk merasa cukup dan bersyukur, siapa lagi?” (hlm. 98)

 

Ada juga pertanyaan self reflection yang dilakukan Cici Chawrelia. Ia mengatakan bahwa bisa jadi kita pernah melakukan blaming to other people atas kesalahan yang kita lakukan. Hanya agar diri kita terlihat lebih baik. Namun, di balik itu, sisi kedewasaan kita pun tumbuh karena masalah yang datang dalam hidup kita. Bukan berarti bertambah usia akan membuat kita makin dewasa, apalagi menjadi ibu bukanlah ukuran kedewasaan seseorang. Ibu pun bisa saja melakukan kesalahan yang kekanak-kanakan.

 

Seseorang dewasa bukan karena dia bertambah tua, tapi dari cara dia menyikapi masalah yang datang seiring bertambahnya usia. Bisa nggak kita menghadapi masalah dengan kepala dingin? Sudah bisakah kita menjadi pasangan yang baik dan pengertian? Karena untuk bisa pengertian dengan orang lain, menjadi orang yang sabar dan penyayang, bukan karena kita bertambah tua, tapi karena kita berproses dan memutuskan untuk bersikap lebih sabar, lebih pengertian, lebih bijak.” (hlm. 103)

 

Saat Cici Chawrelia membuat surat untuk Gallendra, anaknya, ia memuat beberapa surat dalam buku diary Chawrelia ini. Surat untuk Gallendra adalah ungkapan hatinya yang bisa jadi akan dibaca oleh anaknya kelak saat ia dewasa.

 

“Ingatlah, Nak, setiap perjuangan Mama, setiap keringat, setiap air mata rindu yang menetes, suatu hari akan berbuah manis, akan memiliki buah yang jauh lebih indah, yaitu kemudahan untukmu di masa depan. Mama yakin, jutaan mama di luar sana, memiliki perasaan yang sama dengan Mama, namun tidak banyak yang memiliki kesempatan untuk menceritakan perjuangan mereka.” (hlm. 113)

 

“Jadilah manusia dengan mulut yang berisi berkat. Teruslah berkata baik untuk orang lain dan hati yang tulus. Berkata baik dan berbuat baik terhadap orang lain adalah perbuatan yang sama sekali tidak sulit. Berbuat baiklah dari hati. Tapi, kalau orang lain enggak berbuat baik sama kamu wajar kok kalau kamu enggak baik sama dia. Enggak usah jadi jahat, jadi enggak baik aja udah cukup.” (hlm. 117)

 

“Mungkin kamu akan banyak merasakan usaha yang sia-sia perjuangan yang tidak kunjung usai, atau bahkan lebih sedihnya lagi, akan ada banyak usahamu yang diklaim orang lain sebagai ide mereka. Dunia tidak akan pernah adil, tidak akan pernah cukup, tidak akan pernah membuat kamu puas.

Sadarilah hal yang paling utama, yang akan selalu Mama tanamkan ke kamu, bahwa takut akan Tuhan, cinta kasih, belajar memberi, berbagi adalah beberapa upaya untuk menjauhkan kita dari perasaan iri, perasaan yang selalu ingin membandingkan satu dan lain hal.

Pahamilah tidak pernah ada kehidupan yang sempurna. Namun begitu, Mama akan selalu sayang Andra dengan segala kekurangan dan ketidaksempurnaan Mama.” (hlm. 121)

 

Membaca 12 surat untuk Gallendra dari mamanya serasa memiliki teman bercerita yang bisa berbagi rasa baik suka maupun duka. Baca buku Diary Chawrelia ini bikin perasaan saya menjadi hangat dan makin yakin bahwa kehidupan yang sempurna itu nggak ada.

 

Kita bisa saja melihat orang lain dengan segala citra yang ditampilkan baik di kehidupan social maupun di dunia maya. Tapi kita nggak akan pernah tahu apa yang mereka jalani, betapa strugglingnya mereka menjalani kehidupan mereka selama ini, yang tentu saja nggak mudah, tapi tetap harus dijalani, kan? Jadi, bersyukurlah, dan tetaplah berjalan sebagaimana mestinya.

 

Membaca buku Diary Chawrelia ini serasa membaca refleksi diri sendiri, bahwa ada banyak hal yang bisa kita lihat dari sisi lain, yang bisa kita syukuri karena membuat kita jadi lebih bijak menyikapi kehidupan.

 

Overall, saya merasa melihat hal-hal yang membuat saya jadi lebih merasa nyaman dan tenang. Sesuatu yang membuat saya jadi berpikir, “Ya hidup kaya gini, jalani aja semampunya kamu.”

 

Buat kamu yang senang ingin belajar memaknai hidup baik sebagai seorang perempuan maupun seorang ibu, kamu bisa baca buku Diary Charwelia karya Aurellia Carisa ini. Nah, selamat membaca ya! ;)

 

Quotes Bijak di Buku Diary Chawrelia :

Ada banyak quote bijak yang bisa kamu baca di buku Diary Chawrelia ini, antara lain :

 

“Memiliki satu atau lima atau delapan anak, bukan urusan kita. Urusan kita apa dong, kalau begitu? Urusan kita adalah membesarkan anak kita sendiri untuk jadi orang yang jauh lebih berguna bagi orang lain dan dirinya sendiri ketimbang kamu.” (hlm. 29)

 

“Karena kasih, perhatian, tawa, dan perasaan tidak dapat dibeli, melainkan tercipta dari kehangatan keluarga.” (hlm. 36)

 

“Pernikahan itu komitmen seumur hidup yang janjinya untuk sehidup semati aja dibuat di hadapan Tuhan. Begitu pun dengan komitmen punya anak.” (hlm. 44)

 

“Banyak pasangan yang fokus menjadi orangtua yang baik, tapi lupa menjadi pasangan yang baik. Lupa berusaha, lupa berupaya, dan sedihnya lagi, lupa kepentingan ini, merupakan kepentingan yang besar yang akan kamu bawa seumur hidup.” (hlm. 80)

 

“Selalu ingat ini: kunci kebahagiaan anak adalah pernikahan orang tuanya yang bahagia. Investasi kebahagiaan terbesar seorang anak, adalah keharmonisan keluarga.” (hlm. 83)


No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^