25 October 2021

[Resensi Buku] Mualaf : Meniti Jalan Lurus Penuh Gejolak

Mualaf indonesia




Judul Buku : Mualaf (Inspired by a true story)
Pengarang : John Michaelson
Penerjemah : Barokah Ruziati
Penerbit : Gramedia
Terbit : 2014
Tebal : 352 halaman
ISBN : 978-602-03-0417-5
Rating : 3,5/5 bintang


Sinopsis Buku Mualaf : 



‘Why did you decide to become a Muslim?’
This is a question often asked of me.
Whenever I visit a mosque or musholla,
whenever I avoid food and drink due to fasting,
whenever I say ‘Peace be upon you’ to
 a fellow brother or sister. 

And you know what? I have never
been able to offer a good enough answer. 

For I would need to talk of pain and heartache, of family and friendship, of laughter and longing. 
And ultimately, of finding love and acceptance in the heart of Indonesia. 
Which of course would mean travelling back to the very beginning…

Resensi Buku Mualaf : 



John menghabiskan masa-masa kanaknya dengan penuh masalah. Ayahnya selalu bertengkar dengan ibunya. Dengan posisi ibunya selalu takut dan ayahnya marah-marah. Selalu seperti itu, hingga keduanya bercerai pun, John masih sering melihat ibunya menyalahkan dirinya sendiri atas ketidakmampuannya menjaga pernikahan. Dulu perceraian adalah hal tabu bagi kalangannya di Inggris. Jadi semua mata tertuju pada sosok yang tak sempurna itu. Mencaci mengapa hal itu bisa terjadi, kadang juga menatap penuh rasa kasihan. 


Anak lelaki itu akhirnya harus menurut perintah ayahnya, bersekolah di sekolah asrama. Meski cerdas, sayangnya, ia justru membuat masalah. Menjadi pecandu dan bandar narkoboy, dikeluarkan dari sekolah, pindah ke sekolah  hingga melakukan zina. Tak banyak yang bisa John lakukan untuk memperbaiki keadaan. Amy yang ia cintai di masa remajanya menjadi pasangan yang penggerutu, dan mereka pun berpisah.


John memilih untuk bekerja keras untuk menghidupi dirinya dan anaknya. Tenggelam dalam kerasnya pekerjaan membuat ia memilih bekerja di Indonesia sebagai pengajar bahasa di sebuah kursus bahasa di Jakarta. Tsunami gegar budaya dialaminya tepat saat pertama kali datang ke ibukota. Klakson bergemuruh seperti orang marah. Padahal di negaranya, membunyikan klakson mobil menandakan hilangnya pengendalian diri dan biasanya mengisyaratkan awal perkelahian atau perselisihan.


Di Indonesia ia mengenal Nurul, sebelumnya pun ada Karim, sosok muslim yang mengajarkannya tentang ajaran kebaikan dalam Islam. Karim dan John sering berdiskusi tentang agama, juga kehidupan yang rumit.


“Minum-minum sepertinya cara yang mahal untuk kehilangan martabat.”


Kathryn, gadis yang menemaninya ke Jakarta, malah membuatnya berang dengan selalu mengungkit masa lalu. Menjadi pemicu hubungan mereka berjeda. John pindah ke pinggiran kota agar bisa tenang menjalani hidup baru, jauh dari Kathryn.


“Kau selalu bicara tentang apa yang seharusnya dan tidak seharusnya kulakukan di masa lalu. Tapi masa lalu telah lewat dan tak mungkin lagi mengubahnya. Yang dapat kita harapkan adalah berbuat sebaik mungkin untuk masa kini dan itulah yang berusaha kulakukan, dengan atau tanpa bantuanmu.” (hlm. 264)


Di rumah kontrakan yang ia huni, ia sering mendengar adzan bergema setiap hari, subuh buta orang-orang berjalan ke mushala sembari menyapanya. Ia juga mengkaji al qur’an yang tak sengaja ia temukan di ruangan rumahnya. Awal sebuah kehidupan baru, John ingin masuk Islam. Dimulailah kehidupannya yang tak mudah. Orang mengira bule sepertinya melakukan hubungan tanpa status dengan Nurul, padahal ia sudah menikah dengan gadis itu.


Menjawab pertanyaan “Mengapa kau memutuskan menjadi muslim?” hanya akan membuatnya menjadi seorang yang teringat pada masa lalu. Mengenang semua penderitaan dan sakit hati, keluarga, persahabatan, hingga menemukan penerimaan di Indonesia. Karena itu, buku Mualaf ini hadir, sebuah kisah yang terinspirasi dari kisah nyata dirinya. 

Ada banyak sergapan rasa takut dan kengerian yang ia jabarkan di novel ini, seolah memberikan sebuah gambaran jelas mengapa hidup damai sebagai muslim begitu ia dambakan, karena masa lalu yang kelam hanya membawanya melihat dunia sebagai sebuah neraka sebelum neraka.


Bagi John, penerimaan orang-orang seperti yang dilakukan pak Sulaeman, tanpa tendensi dan prasangka apa pun atas alasannya berpindah keyakinan, sungguh bukan sebuah metamorfosa yang sekejap. John menuangkan kekelamannya agar ia bisa berdamai dengan dirinya sendiri, perihal masa lalu dan kesalahan yang dibuatnya. Mencari jalan lurus dalam dunia yang penuh gejolak. 


Overall, novel Mualaf ini patut dibaca untuk mereka yang ingin melihat dunia dari mata seorang mualaf. Hijrah yang penuh pergolakan batin.