Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

29 November 2013

Resensi Buku Mocha dan Mochi - Queen Aura



Judul        : Mocha dan Mochi  
Penulis        : Queen Aura 
Penerbit        : Zettu 
Terbit        : Oktober - 2013 
No. ISBN  : 9786027999626 
Tebal             : 120 halaman
Kategori        : Anak-Anak 
Rate               : 2/5

Sinopsis Buku : 
Mocha dan Mochi itu adalah dua ekor kodok yang bersaudara, mereka selalu berangkat sekolah bersama, bermain bersama dan ke mana-mana selalu bersama.

Mochi adalah katak berbadan kurus dan memiliki kaki yang panjang, Mochi bisa meloncat dengan jauh. Setiap hari jika pergi sekolah, Mochi selalu menyandang tas ransel merah yang lebih besar dari tubuh mungilnya itu. Mochi punya banyak teman di hutan itu, karena sifatnya yang sangat baik hati. Kala itu Mochi demam tinggi, teman- temannya membawa Mochi ke tempat Kasiru dan membawakan buah-buahan serta makanan kesukaan Mochi yang juga sangat disukai Mocha.  Melihat itu Mocha menjadi iri, dan punya ide yang licik. Apa ya ide Mocha itu?  Kasiru itu siapa sih, kok semua pada berobat ke tempat. Lalu kenapa teman-teman Mocha jadi marah ya?

Ayoo baca di novel ini yooo.

Resensi Buku : 
Pertama beli dan tertarik baca novel anak ini karena suka sama covernya. Ternyata ilustrasinya bagus dan smooth untuk anak-anak. Di dalamnya juga layoutnya ada gambar yang menunjang visualisasi anak-anak saat membacanya. 

Adalah Mocha dan Mochi kedua katak yang bersaudara. Mocha yang berkarakter egois, pemalas dan pembohong bersaudara sepupu dengan Mochi yang rajin sekolah, baik hati dan tak pendendam. Mocha iri dengan Mochi karena ketika Mochi sakit teman-teman menjenguknya dan memberinya banyak makanan. Mocha ingin seperti itu sehingga ia membuat rencana yang licik agar ia bisa diperhatikan teman-temannya. Nah, apa yang akan dilakukan oleh Mocha nanti? 

Sekilas membaca buku ini, saya membayangkan siapa penulisnya. Ada hal yang saya pertanyakan. Bila penulisnya anak-anak, sepertinya gaya bahasanya kelewat dewasa. Padahal penulisnya anak kelas 3 SD. Kenapa saya katakan begitu? Karena ada banyak kata-kata bernada negatif dalam kalimat yang saya baca. Seperti "gak, tidak" untuk mengakhiri kalimat tanya. Yang jika terlalu sering berulang maka anak akan menganggap bahwa kalimat negatif akan biasa saja, dan membekas di ingatan mereka.

Ada juga penggunaan bahasa daerah, padahal setau saya, alangkah baiknya jika pembaca anak-anak tidak dibingungkan dengan gaya bahasa yang bilingual, karena sedang dalam masa belajar bahasa ibu. Seperti misalnya saja di kalimat berikut : 

"Ehhh, ojo nesu-nesu thoo... tahu gak artinya ojo nesu-nesu? Hihihiii kalau orang Jawa pasti tahu tuh artinya hehe, tapi kalau kalian bukan suku Jawa baiklah aku akan kasih tahu apa itu arti ojo nesu-nesu, yaitu jangan marah-marah. "

Seketika membaca halaman pertama novel ini dan disuguhi kalimat itu, saya bingung. 

Anak-anak diajak berbahasa jawa? Iya jika mereka adalah anak dari pulau Jawa. Jika bukan?  Apa reaksinya? 

Dan penulisan ojo nesu-nesu hanya untuk pembuka tulisan. Tak ada korelasinya dengan isi buku. Baiknya sih diskip saja ketika menulis ini. Sehingga penulis fokus pada isi novel.

Dalam penulisan buku anak seharusnya juga melihat siapa yang akan membaca. Anak-anak cenderung mudah bosan jika penulisnya menulis dengan kalimat yang panjang-panjang. Anak lebih suka dengan kalimat pendek, efektif dan kosakata yang digunakan mudah dimengerti. 

Anak-anak akan menggeleng bingung. Mereka akan bertanya pada orang dewasa apa maksud dari kalimat yang dibaca di naskah novel. Adakah kamu pernah menemukan buku yang seperti ini? Share dong di sini. :)

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^