Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

3 November 2014

Resensi Buku : Ibuk, - Iwan Setyawan


Judul Buku : Ibuk,
Pengarang : Iwan Setyawan
Penerbit : Gramedia
Terbit : Cetakan pertama, Juni 2012
Tebal : 293 halm.
ISBN : 978-979-22-8568-0

“Seperti sepatumu ini, Nduk. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kamu mesti kuat. Buatlah pijakanmu kuat.”

Masih belia usia Tinah saat itu. Suatu pagi di Pasar Batu telah mengubah hidupnya. Sim, seorang kenek angkot, seorang playboy pasar yang berambut selalu klimis dan bersandal jepit, hadir dalam hidup Tinah lewat sebuah tatapan mata. Keduanya menikah, mereka pun menjadi Ibuk dan Bapak.

Lima anak terlahir sebagai buah cinta. Hidup yang semakin meriah juga semakin penuh perjuangan. Angkot yang sering rusak, rumah mungil yang bocor di kala hujan, biaya pendidikan anak-anak yang besar, dan pernak-pernik permasalahan kehidupan dihadapi Ibuk dengan tabah. Air matanya membuat garis-garis hidup semakin indah.

           Bayek, anak lelaki Ibuk satu-satunya telah mengubah banyak warna hidup mereka sekeluarga menjadi lebih berwarna. Warna suram yang seringkali membayangi Ibuk ketika mendidik anaknya sedari kecil hingga dewasa, membuat Ibuk selalu bertekad untuk mengusahakan pendidikan bagi kelima anaknya; Isa, Nani, Bayek, Rini dan Mira. Kerja keras Ibuk dan Bapak pada akhirnya menghadirkan pelangi yang mereka nanti selama ini. Sebuah kehidupan yang jauh lebih baik dibanding dulu.

           Berawal dari keinginan Bayek untuk kuliah dan tak hanya sekadar hidup sebagai anak sopir angkot yang akan meneruskan pekerjaan bapaknya, Bayek menempuh pendidikan di Bogor, menjadi mahasiswa berprestasi, hingga ia mendapat tawaran bekerja di Jakarta dan New York. Sepuluh tahun kehidupan di New York ia lalui lewat kehangatan kasih sayang dan nasihat ibuk via telepon. New York tak mengubahnya menjadi anak yang kehilangan jati diri. Rumah di gang buntu selalu mengingatkannya untuk berjuang mengangkat taraf hidup keluarganya tanpa meninggalkan pijakan yang telah ia bangun. Sebuah rumah yang selalu mengingatkannya untuk menjadi orang yang merindukan rumah sebagai tempat berpulang.

“Hidup adalah perjalanan untuk membangun rumah untuk hati. Mencari penutup lubang-lubang kekecewaan, penderitaan, ketidakpastian, dan keraguan. Akan penuh dengan perjuangan. Dan itu yang akan membuat sebuah rumah indah.” (halm. 79)

“Itulah hidup, Yek, memang mesti dijalani dengan kuat, tabah. Dengan perjuangan. Rasa enak itu baru terasa setelah kita melalui perjuangan itu.” (halm. 240)

      Bapak yang melewati masa hidupnya selama menjadi sopir angkot, akhirnya merasakan kehidupan yang lebih ‘nyaman’ setelah Bayek membantu keluarganya. Rumah dibangun, kakak dan adiknya kuliah, membiayai pernikahan saudaranya, hingga membangun kosan untuk Bapak. Bayek menggenggam dunia lewat pendidikan yang ia rasakan sedari kecil. Salut dengan ibu yang memiliki dedikasi penuh pada anak-anaknya, sembari memberikan visi hidup agar anaknya selalu menjadi orang yang lebih baik.

 Kisah di buku ini sekilas mirip dengan tema buku Laskar Pelangi yang ditulis Andrea Hirata, ya semacam from nothing to be something. Seseorang yang akhirnya menjadi ‘orang’ setelah melewati perjuangan panjang memecah jalur kemiskinan yang mengekang kehidupan. Meski temanya serupa, tapi menurut saya, buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang ingin meneladani semangat Bayek mengubah hidupnya. Penulisnya, Iwan Setyawan mengisahkan kisah hidupnya sendiri di buku ini, meski lewat fiksi, tapi saya merasakan semangatnya untuk berbagi pengalamannya agar anak-anak sopir angkot sepertinya tergugah untuk menjadi lebih baik. Anyway, 4 bintang untuk buku ini.

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^