Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

18 November 2014

Resensi Buku : Pembalasan Sang Sphink - Janna Carioli dan Luisa Mattia


Judul Buku : Pembalasan Sang Sphink
Pengarang : Janna Carioli dan Luisa Mattia
Ilustrator : Barbara Bongini
Penerjemah : Fairlita Pangalila
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer(BIP)
Terbit : 2013
Tebal : 96 halaman
ISBN : 978-602-249-343-3


Petualangan Nefertina, Piramses dan musuh bebuyutan mereka Tengikaton di balik piramida agung serta tetumbuhan papirus ketika Mesir masih diperintah oleh para firaun tersaji cantik dalam novel ini. Novel anak yang dibentuk menjadi novel mini 2 in 1 ini, merupakan gabungan dua kisah utama yang saling berhubungan. Layaknya novel anak, kisah ini memiliki alur yang menghibur, lucu dan membuat anak-anak tertarik untuk mengenal budaya Mesir Kuno pada masa Firaun. Seperti mengenal apa itu Sphink, budak, tulisan hieroglif, tinta purpura, sungai nil, rubah fennec, dll.


Dua kisah dalam novel ini berjudul : pembalasan sang Sphink dan petarung misterius. Dalam kisah pembalasan sang sphink, Papirkamen yang merupakan juru tulis Firaun memberikan tinta merah untuk Piramses karena muridnya pandai menulis hieroglif. Namun sayangnya tinta dan kuas itu menghilang bersamaan dengan insiden yang terjadi di landasan Sphink. Sphink yang selama ini dianggap suci bagi warga Mesir kuno, ternyata dirusak kesuciannya dengan tulisan “Yang baca ini Unta.” Jelas ini perbuatan orang usil. Karena coretan itu dianggap berasal dari tinta merah milik Piramses, maka ia dihukum oleh gurunya untuk menulis permintaan maaf sebanyak 100 kali. Namun, Nefertina yang merupakan sahabat Piramses tahu bukan Piramses yang melakukan kesalahan itu. Lalu, bagaimana kecerdikan Nefertina untuk menyelesaikan kasus ini?

Di kisah petarung misterius, Firaun menggelar pertandingan bela diri bertongkat. Menjelang duel satu lawan satu antara Piramses dan Tengikaton, Piramses menghilang. Tengikaton hampir saja didaulat sebagai pemenang, andai saja tak ada petarung misterius yang menggantikan Piramses. Petarung itu menghajar Tengikaton tanpa ampun di arena pertandingan. Siapakah petarung itu? Lalu di mana Piramses sebenarnya?  


          Buku ini memberikan kesegaran baru bagi buku anak bertema sejarah. Anak-anak akan suka dengan kemasan buku ini yang dibuat berbahasa sederhana, lincah, lucu, ringan dan beraroma sains. Kasus dalam buku ini membuat pembaca anak belajar untuk mengenal sains dengan cara yang menyenangkan. Ditambah ilustrasinya yang cantik dan kuis tebak-tebakan sebagai gimmick, buku ini layak dijadikan koleksi bagi pembaca cilik. Selamat membaca! Lima bintang dari saya untuk buku ini. ;)

2 comments:

  1. Indonesia sangat kaya dengan dengan cerita-cerita dongeng yang bisa sanga menghibur anak-anak, tapi sepertinya masih sangat sedikit yang mau mengemasnya menjadi cerita yang lebih menarik, mungkin mbak ila bisa jadi salah satu pelopor cerita-cerita anak Indonesia dalam konsep kekinian... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, iya. Andai tema Indonesia bisa dibuat seperti ini pasti asyik. Doanya ya, kak. Lagi dikonsep. :D

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^