Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

17 November 2014

Resensi Buku : Sepeda Merah #1 Yahwari - Kim Dong Hwa

Judul Buku : Sepeda Merah #1 Yahwari
Penulis : Kim Dong Hwa
Penerbit : Gramedia
Terbit : Oktober 2012
Tebal : 144 halm.
ISBN : 978-979-22-8776-9

“Telusurilah jalan-jalan pedesaan yang beraneka ragam itu untuk menemui para penduduk Yahwari. Anda pasti akan berpapasan dengan sepeda merah si tukang pos yang berkeliling pelan penuh keselarasan dengan alam sekitarnya.”

Melalui kisah-kisah pendeknya yang sarat dengan kelembutan, Kim Dong Hwa diperhitungkan sebagai salah satu penulis manhwa paling berbakat di hati orang-orang Korea. Ada 30 kisah dengan enam bagian yang merupakan isi buku bergenre novel grafis ini. Enam bagian itu adalah :
  • Kisah di desa Yahwari : di sana kita akan menemukan beberapa hal tentang kampung halaman
  • Kisah tentang bunga : tentang aroma bunga-bunga yang mengembalikan kenangan dari masa lalu kita.
  • Kisah tentang para ayah : sebuah nama yang tertulis di petak bajakan.
  • Kisah tentang para ibu : di mata para ibu berkilau air mata.
  • Pembawa kabar gembira yang merupakan nama lain si tukang pos.
  • Kisah penduduk seberang yang berisi kisah tambal sulam warna-warni penduduk Sedong dan Yetdong.
si tukang pos yang ramah 
Keindahan ilustrasi dan pilihan kata yang mewarnai buku ini menjadikan kisahnya dirindukan para penggemar. Di antara kisah itu saya paling suka kisah berjudul : rumah putih di jalan yang dijajari pohon poplar, rumah terpencil, duda dan janda, kodok-kodok, lalu musim gugur di Yahwari.

Di bagian rumah putih di jalan yang dijajari pohon poplar, pembaca disuguhi keindahan pemandangan ala pedesaan di Korea. Sepeda merah selalu mengirim surat ke rumah putih itu, namun suatu hari tak ada surat yang harus dia kirimkan. Akhirnya ia mengambil bunga liar yang ia rangkum menjadi buket bunga dan memasukannya ke kotak pos berwarna merah di depan rumah. Sang pemilik rumah pun tersenyum karena kebaikan hati tukang pos tersebut.

Rumah putih di jalan yang dijajari pohon poplar
Di bagian duda dan janda, pembaca bisa melihat cara kedua tokohnya menyatakan cinta dengan cara yang membuat pembaca ikut tersipu malu. Di bagian rumah terpencil, pembaca bisa melihat kesunyian dan rasa rindu yang digambarkan lewat sosok seorang lelaki tua yang setia menunggu kabar dari tukang pos. Si tukang pos selalu memberi kabar pada lelaki yang tinggal di rumah terpencil tentang hal-hal yang terjadi di kota. Ini membuat lelaki itu tak merasa sendiri. Dan setiap kali si tukang pos pulang, lelaki ini mengunjungi makam istrinya untuk bercerita apa saja yang dikisahkan tukang pos si sepeda merah. Romantis yang mengharukan ya?

Nah, inilah dialog si suami di pusara sang istri.

“Sayang, di kediaman walikota anak sapi baru lahir. Di rumah sakit, ada dokter baru datang. Kalau aku sakit punggung seperti sekarang aku mungkin bisa pergi mengunjunginya. Hi hi.”

Kisah berjudul Rumah Terpencil. Si kakek berkunjung ke pusara sang istri sambil bercerita.
Di bagian kodok-kodok, pembaca akan terkikik geli melihat tingkah si tukang pos yang usil. Karena bosan, ia sering menggunakan cara undian untuk menentukan ke arah mana ia akan memutar arah untuk mengirimkan pos.

“Kalau ini jatuh dalam posisi yang tepat aku akan ke kiri. Kalau ini jatuh ke arah yang sebaliknya aku akan ke kanan.Karena aku selalu melakukan perjalanan yang sama di jam yang sama aku terkadang menghibur diriku sendiri dengan dua kegiatan aneh untuk mengenyahkan kebosanan.”

Undian dengan sepatu di kisah berjudul : Kodok-kodok
Selain itu, ada kisah musim gugur di Yahwari di mana banyak penduduk yang menitipkan sesuatu untuk diberikan pada kenalan atau kerabat di kota lewat tangan si tukang pos. Jadilah sepeda merah menjadi pembawa kabar gembira. Buku ini pun memiliki sekuel berjudul Bunga-bunga Hollyhock. Empat bintang untuk novel ini. ;)

2 comments:

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^